NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:874
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Bimo Masuk, Tekanan Berlipat.

Bimo datang tanpa bilang-bilang.

Tiba-tiba ada koper besar di ruang tengah dan Nirmala bilang, "Adik gue mau tinggal di sini dulu," dengan nada yang tidak mengajak diskusi, tidak menunggu responsiku, seolah ini rumahnya dan keputusannya dan aku tidak punya suara di dalamnya.

Yang terakhir itu mungkin memang benar.

Bimo. Dua tahun lebih tua dari aku. Tubuhnya besar, bahu lebar, cara duduknya mengisi ruangan dengan cara yang tidak semua orang bisa lakukan. Rambutnya selalu rapi ke belakang. Mukanya dingin, tidak banyak ekspresi, jarang bicara.

Tapi waktu dia bicara, tidak ada yang mengira isi kalimatnya.

Sejak hari pertama dia di sini, ada sesuatu yang berubah di rumah ini. Bukan langsung kelihatan, tapi terasa. Seperti tekanan udara yang naik dua tingkat tapi tidak ada yang bisa ditunjuk sebagai penyebabnya.

Bimo dan Wida langsung klik.

Aku tidak tahu kapan persisnya, tapi dalam tiga hari pertama mereka sudah sering di kamar Bimo, suara tawa mereka keluar dari balik pintu, tawa yang berbeda dari tawa biasa, tawa yang ada nada tertentu di dalamnya yang tidak bisa aku jelaskan dengan tepat tapi membuat punggungku terasa tidak nyaman.

Aku tidak bertanya.

Aku ke gerobak pagi, pulang sore, coba tidak ada di tempat yang sama dengan Bimo terlalu lama, dan terus jalan.

Sampai sore itu.

Aku baru pulang dari lapak, baju masih bau asap kompor, tas di bahu, waktu masuk rumah langsung dengar suara Aini.

Bukan suara biasa.

Suara yang membuat kakiku berhenti sebelum pikiranku sempat memproses kenapa.

Aku masuk ke ruang tengah.

Yang aku lihat pertama bukan Aini.

Yang aku lihat adalah tangan Wida.

Dua tangan Wida yang melingkar di leher Aini, mencekik, dengan wajah yang marah dan boneka kain di sampingnya yang direbut dari tangan Aini yang kecil itu.

Dan Aini.

Aini tidak menangis.

Mulutnya terbuka. Terbuka lebar seperti ikan yang diangkat dari air, megap-megap, mencari udara yang tidak bisa masuk karena lehernya ditekan, wajahnya merah gelap, matanya sudah setengah tertutup.

"WIDA LEPAS!"

Aku tidak ingat kapan aku berlari. Tahu-tahu aku sudah di sana, tangan Wida aku cabut dari leher Aini, aku angkat Aini ke dadaku dan tubuhnya lunglai, tidak bereaksi, kepalanya jatuh ke bahuku dengan berat yang salah.

"Aini. Aini!"

Tidak ada respons.

Aku usap pipinya. Tepuk pipinya pelan. "Aini, bangun. Ini Ayah."

Beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

Lalu Aini menarik napas satu kali, panjang dan kasar, seperti seseorang yang baru saja hampir tenggelam, dan mulai menangis.

Aku hampir ikut menangis waktu itu.

Hampir.

"Wida." Suaraku gemetar menahan sesuatu yang sangat besar. "Jangan pernah lakukan itu lagi ke adikmu."

Itu saja yang aku bilang. Tidak lebih. Karena Wida masih anak-anak, karena aku tidak mau situasi ini lebih panas, karena yang penting Aini aman sekarang.

"SATRIA."

Suara itu dari belakang.

Aku berbalik.

Bimo berdiri di ambang pintu kamarnya. Wajahnya yang biasanya datar sekarang berbeda, ada sesuatu yang menyala di balik matanya.

"Lo ngapain sama ponakan gue?"

"Aku tidak melakukan apa-apa. Wida yang mencekik Aini sampai tidak sadar, aku cuma—"

"Jadi lo nyalahin anak kecil sekarang? Ponakan gue?"

"Bim, Aini hampir tidak bisa bernapas tadi. Aku lihat sendiri, tangannya di leher Aini, Aini sudah tidak—"

"TUTUP MULUT LO." Suaranya meledak. "Wida itu anak kecil. Wajar berantem sama adiknya. Lo yang lebay. Lo yang masalah. Dari dulu lo yang bikin susah di rumah ini."

"Ini bukan soal berantem biasa, Bim. Aini pingsan. Dia hampir—"

"Siapa yang minta pendapat lo?" Dia melangkah maju. "Wida bela diri. Aini yang duluan ambil barangnya. Salah sendiri."

Aku menatapnya.

Dia baru saja bilang Wida membela diri dengan mencekik bayi dua tahun sampai tidak sadarkan diri adalah hal yang wajar.

Aku tidak menjawab lagi.

Tinjunya mendarat di pipiku sebelum kalimat itu selesai.

Keras.

Kepala ku terpental ke kanan. Ada yang terasa lepas di mulutku sedetik kemudian, rasa logam langsung menyebar, dan aku tahu tanpa harus mengecek bahwa itu gigi.

Aku tidak jatuh karena Aini masih di dadaku dan tubuhku menolak untuk jatuh dengan dia di sana.

Aku berdiri.

Tangan kiri memegang Aini sekuat mungkin. Tangan kanan ke pipi. Darah tipis di sudut bibir.

Aini menangis keras. Kaget. Takut.

"Shh. Shh." Aku usap punggungnya. "Aman. Aman ya."

Bimo masih berdiri di depanku. Tangannya masih terkepal. Napasnya naik turun.

"Goblog lo," dia bilang pelan. "Pergi dari sini."

Aku tidak pergi.

Bukan karena berani menghadapinya. Bukan karena mau lawan balik. Tapi karena di dalam gendonganku ada Aini yang masih menangis dan gemetar dan aku tidak akan menaruh dia di lantai rumah ini di momen seperti ini untuk alasan apapun.

Aku berbalik. Masuk ke kamar. Tutup pintu.

Duduk di lantai kamar dengan punggung di kasur dan Aini masih di dadaku, tangannya menggenggam kaosku dengan cara yang tidak mau lepas.

Pipi kiriku berdenyut keras.

Ada darah di sudut bibirku yang aku lap dengan lengan baju.

Aini lama-lama berhenti menangis. Kelelahan menangis, mungkin. Tubuh kecilnya yang hangat itu perlahan mengendur di dadaku, napasnya mulai teratur, matanya berat.

Aku duduk di sana sampai dia benar-benar tertidur.

Lalu aku taruh dia di kasur dengan sangat pelan. Selimut kecilnya aku tarik sampai bahunya. Rambutnya yang tipis aku sisir pelan dengan jari.

Tidur.

Tidak tahu apa yang terjadi tadi. Tidak akan ingat besok. Semoga tidak ingat besok.

Aku keluar dari kamar, duduk di sofa kempes itu lagi. Lampu ruang tengah sudah dimatikan, Bimo sudah masuk kamarnya, Nirmala entah di mana dan aku tidak mau mencari tahu.

Sepi.

Pipi kiriku masih berdenyut. Aku pegang pelan dengan tangan. Sudah pasti membiru besok. Sudah pasti ada yang akan lihat dan entah apa yang akan mereka pikir.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di sana.

Lama. Cukup lama.

Sampai ada bunyi kecil dari arah kamar.

Langkah kaki pelan. Sangat pelan. Langkah kaki yang masih tidak sempurna, yang masih agak gontai karena kakinya baru dua tahun belajar berjalan.

Aini keluar dari kamar.

Matanya setengah tertutup. Rambutnya berantakan ke satu sisi karena tidur miring. Tangannya di udara untuk keseimbangan, cara jalannya yang masih agak oleng ke kiri ke kanan.

Dia berjalan ke arahku.

Aku tidak bergerak. Tidak tahu dia mau apa, tidak tahu dia sadar atau masih setengah tidur.

Aini berhenti di depan kakiku.

Duduk di lantai.

Memeluk kakiku dengan kedua tangannya yang kecil. Menempelkan pipinya ke tulang kering kakiku.

Aku membeku.

Lalu dengan lidah cadelnya yang belum bisa mengucapkan semua huruf dengan benar, dengan suara yang serak sedikit karena baru bangun, dia berbisik,

"Aini sayang Ayah. Jangan sedih."

Aku tidak bisa bernapas selama beberapa detik.

Tidak bisa.

Ada sesuatu yang runtuh di dalam dadaku. Bukan runtuh yang destruktif. Tapi runtuh seperti tembok yang sudah terlalu lama berdiri dan akhirnya tidak bisa lagi menahan semuanya sendiri.

Aku turun dari sofa. Berlutut di lantai. Mengangkat Aini ke dadaku.

Dia tidak protes. Melingkarkan tangannya di leherku. Kepalanya di bahuku. Sudah mau tidur lagi mungkin, tapi masih ada, masih di sini, masih hangat dengan bau bedak bayinya yang sama setiap malam.

Dan di bahu anak dua tahun itu, aku menangis.

Diam-diam. Tanpa suara. Tanpa sedu.

Air mata yang mengalir sendiri di pipi yang satu sedang biru dan denyut karena tinjuan tadi, air mata yang jatuh ke rambut tipisnya, air mata dari laki-laki dua puluh lima tahun yang sudah bertahun-tahun mencoba kuat dan malam ini tidak bisa lagi.

Tidak di sini. Tidak di bahu ini.

Tidak apa-apa.

Ini satu-satunya tempat yang tersisa untuk ia jatuh.

Dan tempat itu, selebar bahu bayi dua tahun yang bau bedak dan masih menggenggam kaosku bahkan dalam setengah tidurnya, cukup.

Untuk malam ini, cukup.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!