Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4—Kebangkitan Lahan Tandus 50% Bersih
PROSES pembersihan yang dilakukan hanya oleh dua orang tentu memakan waktu, hari sudah subuh. Sampah 10 kg sudah mereka bersihkan, tertata rapi dengan beberapa plastik yang ditata oleh Aris.
Emi adiknya itu terlihat kelelahan, dia berjongkok dan napasnya terengah-engah. “Hah,”
“Kamu capek emi?”
“Maaf, kak. Aku bilang gitu, tapi heheh Emi gak biasa kerja fisik begini.”
“Kalau begitu kamu boleh pulang dulu, biar kakak yang urus sisanya.”
Emilia melihat kakaknya serius, lalu tersenyum dan menganggukan kepala. Hari sudah subuh juga sebentar lagi dua anak buat pentolan dari bos malik bakal datang, mereka memang sudah membersihkan, tapi melawan preman itu gak ada habisnya.
“Kakak juga harus segera pulang, jangan sampai ketemu sama mereka.”
“Santai, adik cantikku. Serahin ke kakak.”
Emi terkekeh dan berbail untuk pulang. Sementara aris matanya sudah terfokus ke layar notifikasi sistemnya.
[DING!]
[Misi pemula berhasil diselesaikan!]
[Langkah Pertama Sang Sultan Berhasil Diselesaikan!]
[Kumpulkan 10 kg Sampah Plastik (Botol, kantong, atau limbah industri).]
[Menghitung Kontribusi Inang… Evaluasi sangat baik!]
[Bonus Kerja Sama Terdeteksi: Kecepatan pemurnian meningkat!]
[Selamat! Anda mendapatkan hadiah:]
1. Alat Penyuling Esensi Emas Lv.1 (Telah dimanifestasikan)
2. Bonus 50ml "Cairan Dewa - Nutrisi Purifikasi" Lv.1
3. Transfer Pengetahuan: Kemampuan Bela Diri Tingkat Tinggi (Prajurit)
Seketika, sebuah sensasi aneh menjalar dari tulang belakang Aris. Kepalanya terasa panas sejenak saat ribuan teknik bertarung, refleks tempur, dan pengetahuan tentang titik vital manusia tertanam permanen di otaknya.
Otot-otot lengannya yang tadi pegal mendadak terasa padat dan bertenaga. Aris mengepalkan tangan; ia merasa seolah tubuhnya telah ditempa selama belasan tahun di kamp militer.
Ia mendadak jadi memiliki tenaga yang kuat. Bagus dengan bonus kemampuan ini dia bisa memukul mundur para bawahan Malik!
"Luar biasa..." gumam Aris sambil menatap telapak tangannya.
Ia kemudian menoleh ke arah Alat Penyuling Esensi Emas yang muncul di hadapannya—sebuah tabung logam hitam dengan ukiran emas yang berpendar elegan.
Kata sistem mekanis dari penyuling emas ini simpel, setiap 1 kg sampah yang dia masukan disini akan diubah jadi 10 ml cairan dewa tingkat 1.
Aris segera memasukkan 10 kg plastik yang sudah tertata rapi tadi ke dalam corong penyulingan.
*Zuuunnggg...*
Mesin itu mendengung halus, mengolah limbah kotor menjadi setetes demi setetes cairan murni keemasan.
Kemudian dia mendapatkan 100 ml dari kompresasi sampah menjadi cairan, dan bonus 50 ml cairan dewa. Itu artinya dia punya total 150 ml.
“Mari kita coba hasil dari cairan ini!”
Aris mengambil botol bonus Cairan Dewa dan meneteskan sejumlah 150 ml semua cairan ke atas tanah hitam berminyak tepat di bawah kakinya.
Ssssssss!
Hasilnya luar biasa malah bisa dibilang ini diluar logika manusia. Reaksi yang terjadi sungguh di luar nalar. Tanah yang hitam berminyak itu mendidih pelan, mengeluarkan uap putih yang tidak berbau. Dalam hitungan detik, warna hitam itu memudar, berganti menjadi warna cokelat tua yang lembap dan sangat gembur.
Yang lebih gila lagi, tumpukan sampah plastik di area tersebut seolah "terhisap" ke dalam tanah, 50% dari total sampah lenyap tak berbekas, dan tanah juga terlihat tampak lebih bugar dan subur.
"Wow amazing!" Aris jatuh terduduk, menyentuh tanah yang kini terasa sangat dingin dan hidup. "Ini bukan sekadar pertanian ... ini sihir."
Ia menatap sisa gunung sampah yang menjulang di depannya. Jika 150 ml alias setara dengan 15 kg sampah hasilnya gini, maka sisa sampah disini gak terlalu berpengaruh.
Di mata Aris, itu bukan lagi tumpukan masalah, melainkan tumpukan emas yang menunggu untuk ia suling.
Tepat saat itu, dua pentolan desa suka cita muncul. Preman yang beringas si mafia sampah melihat lahan tempat mereka dan terkejut. Ini adalah shift mereka berjaga.
“Buset! Kok sampahnya jadi sedikit gini!”
“Mustahil, bahkan tanahnya jadi tampak lebih segar!”
Dua preman itu, Gito dan Dullah, berdiri mematung di pinggir lahan. Mata mereka melotot, hampir keluar dari kelopaknya melihat pemandangan di depan mereka.
Sebagian area yang tadinya merupakan tumpukan plastik yang menggunung kini rata dengan tanah cokelat yang tampak begitu subur, seolah-olah baru saja disiram air hujan yang paling murni.
"Woi! Gembel! Apa yang kamu lakukan pada tempat sampah kami?!" teriak Gito sambil menghunuskan sebilah parang karatan yang terselip di pinggangnya.
Aris bangkit berdiri perlahan. Ia membersihkan debu di celananya dengan tenang. Sensasi kekuatan dari
*Transfer Pengetahuan: Bela diri Tingkat tinggi masih ada
masih berdenyut di nadinya. Ia merasa seolah bisa melihat setiap aliran udara dan celah gerakan dari dua orang di depannya.
Dua preman ini kemarin membuat dia babak belur sekarang mari lihat siapa yang akan babak belur kali ini.
"Tempat sampah milik kami? Goblok juga ada batasnya, anjing," suara Aris terdengar berat dan penuh wibawa. "Ini tanah kakekku. Dan aku baru saja mulai membersihkan kotoran yang kalian bawa ke sini."
Dullah, yang memiliki tubuh sebesar pintu jati, tertawa mengejek hingga perutnya berguncang. "Membersihkan? Kamu pakai sihir apa, hah? Matane! Gak mungkin semalam 50% lahan udah bersih kinclong gini! Lo nyewa pandawara group apa gimana?!Atau kamu memakan semua plastik itu sampai perutmu buncit?"
Dullah melangkah maju, tangannya yang kasar mencoba mencengkram kerah kemeja usang Aris.
"Jangan banyak bacot. Boss Malik bakal marah besar kalau tahu aset limbahnya berkurang. Kamu mau ganti rugi pakai nyawamu?!"
***