Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Bayangan di Pelabuhan
Pelabuhan Tanjung Priok pukul 23.00 adalah dunia lain. Lampu-lampu kontainer raksasa berkelap-kelip. Suara mesin kapal dan klakson truk bercampur dengan angin laut yang asin. Bau solar, karat, dan ikan asin menyeruak dari setiap sudut.
Aditya, Maya, dan Alesha berhenti di depan gerbang gudang nomor 47—bangunan tua beratap seng yang tampak terbengkalai dari luar, tapi terlalu rapi untuk gudang tak terpakai.
"Gerbangnya dijaga kamera," bisik Maya, menunjuk tiga titik merah di sudut atap. "Sudut mati mereka di sisi timur, dekat tumpukan drum bekas."
"Kau sudah mengintai tempat ini sebelumnya?" tanya Aditya.
"Pernah. Dulu ada kasus penyelundupan senjata. Tapi waktu itu gudang ini kosong." Maya mengokang senapan serbunya. "Rupanya mereka baru pindah."
Alesha mengecek Belati Surya di pinggangnya. Wajahnya tenang, tapi Aditya bisa melihat angka "Tegang: 78%" di panel statusnya.
"Aku akan masuk duluan," kata Aditya.
"Kau?" Alesha mengernit. "Kau yang paling lemah di sini."
"Justru karena itu. Kalau ketahuan, kalian masih bisa menyerang dari luar. Kalau Maya yang ketahuan duluan, kita kehilangan penembak jitu. Kalau kau yang ketahuan..." Aditya menatap belati itu, "...kita kehilangan satu-satunya senjata yang bisa melukai kultivator."
Maya dan Alesha bertukar pandang.
"Lagipula," Aditya melanjutkan, "aku punya Silent Step."
---
Silent Step diaktifkan.
Aditya merangkak melewati celah pagar kawat yang sudah berkarat. Drum-drum bekas menjadi bayangan sempurna. Langkahnya tidak bersuara—70% peredaman suara membuatnya lebih senyap dari kucing.
All-Seeing Eye memindai area.
Gudang 47—Divisi Eksekusi Kartel Lotus.
· Penjaga depan: 2 orang (Level 0—manusia biasa, bersenjata api).
· Penjaga dalam: 3 orang (Level 3-4, kultivator tingkat rendah).
· Ruang utama: 7 orang (Level 3-6).
· Pemimpin: Level 9—Alam Bela Diri Tingkat Atas. Lokasi: Kantor lantai 2, sisi barat.
Aditya menyusup ke pintu samping. Dua penjaga depan berdiri dengan senapan, merokok, mengeluh soal gaji—manusia biasa yang bahkan tidak tahu mereka bekerja untuk organisasi kultivator.
Mereka bukan ancaman utama.
Ia memberi isyarat ke arah Maya: dua jari ke depan, lalu mengepal. Dua target, matikan non-letal.
Suara peluit angin. Dua tembakan teredam. Kedua penjaga jatuh pingsan—peluru bius, bukan peluru tajam.
Maya muncul dari kegelapan, senapannya masih mengepul. Alesha di belakangnya, belati sudah terhunus.
"Lantai satu ada tiga kultivator level rendah," bisik Aditya. "Mereka menyebar. Satu di koridor tengah, dua di ruang penyimpanan. Lantai dua ada pemimpinnya—level 9. Dia sendirian."
"Level 9," Maya mengulang. "Seberapa kuat?"
"Levelku saja masih 0. Jaka yang di basement kemarin level 5. Kresna level 6." Aditya menelan ludah. "Level 9 bisa menghancurkan kita bertiga dalam hitungan detik."
"Kalau begitu kita bunuh yang lain dulu," Alesha memotong. "Diam-diam. Lalu pemimpinnya kita keroyok."
"Strategi bagus." Maya memasang peredam di pistol keduanya. "Tapi kalau pemimpinnya sadar sebelum kita selesai?"
"Kita lari," Aditya menjawab jujur. "Misi ini tidak mengharuskan kita membunuh dia. Hanya menghancurkan markasnya."
Mereka masuk.
---
Koridor gudang itu gelap dan pengap. Lampu neon di langit-langit hanya menyala separuh, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding beton yang mengelupas.
Aditya memimpin. All-Seeing Eye memberinya peta mental ruangan: penjaga pertama berdiri dua meter di depan, di balik tikungan, sedang mengunyah sesuatu dan menatap ponselnya.
Target: Level 3. Kekuatan: 22. Skill: Pukulan Batu.
Satu isyarat ke Maya. Satu tembakan teredam. Penjaga itu terhuyung, memegang lehernya—bius bekerja dalam tiga detik.
Mereka melanjutkan. Dua penjaga di ruang penyimpanan sedang bermain kartu di atas peti kayu. Aditya menghitung jarak: empat meter, tanpa penghalang.
"Aku yang urus satu," bisiknya. "Maya, kau yang satunya."
"Kau?"
"Percaya."
Aditya mengaktifkan Silent Step. Ia berjalan mendekat—satu meter, dua meter. Penjaga di sebelah kiri tidak menyadari sampai Aditya sudah di belakangnya.
Tinju bersarung karbon menghantam pelipisnya. Duk! Satu tumbang.
Di saat yang sama, Maya menembak penjaga kedua dari pintu. Dua sasaran, dua detik.
"Tiga tumbang," Maya berbisik. "Tujuh lagi."
Mereka bergerak ke aula utama gudang—ruangan luas yang dulunya digunakan untuk menyimpan kontainer. Kini, ruangan itu dipenuhi meja-meja logam, monitor, dan papan target bergambar wajah Alesha. Di dinding, peta kota dengan tanda silang di gedung Pradipa.
Di tengahnya, tujuh orang sedang berkumpul. Tiga di antaranya level 6, empat lainnya level 3-5.
"Terlalu banyak untuk diserang diam-diam," bisik Alesha.
Aditya mengamati ruangan. Matanya tertuju pada panel listrik di sudut, dekat tumpukan jerigen bertuliskan "BAHAN BAKAR".
Sama seperti di basement.
"Maya," Aditya tersenyum tipis. "Kau ingat basement?"
Maya mendengus. "Jangan bilang kau mau meledakkan tempat ini juga."
"Bukan seluruhnya. Hanya untuk mengalihkan."
Aditya merangkak ke panel listrik. Tangannya membuka kotak sekering, lalu menusukkan kabel yang ia bawa dari luar—kabel tembaga kecil yang tersambung ke baterai ponsel modifikasi.
Kresek!
Seluruh lampu di gudang mati. Gelap total.
"APA INI?!" teriak salah satu kultivator. "SIAPA YANG MATIKAN—"
Maya mulai menembak dalam gelap. Setiap tembakan tepat sasaran—bius bekerja cepat. Suara tubuh berjatuhan bercampur dengan umpatan dan teriakan panik.
Aditya mengaktifkan All-Seeing Eye. Dalam mode gelap, penglihatannya beralih ke thermal—tubuh para musuh bercahaya merah.
"Mereka berlindung di balik meja," lapornya. "Yang level 6 mulai pakai skill."
Satu kultivator mengaktifkan sesuatu—cahaya hijau dari tangannya menerangi sebagian ruangan. Tapi itu justru membuatnya jadi target sempurna. Satu tembakan Maya. Tumbang.
"EMPAT TERSISA," teriak Maya. "Mereka mulai mengepung!"
"Tidak lama."
Aditya melempar satu jerigen bahan bakar ke arah kerumunan. Tidak meledak—hanya tumpah, membuat lantai licin dan berbau bensin.
"Apa itu?!"
"Peringatan untuk kalian," Aditya berdiri, suaranya menggelegar. "Markas ini sudah dikepung. Pemimpin kalian tidak akan menyelamatkan kalian. Menyerahlah, atau—"
BRAK!
Pintu kantor lantai dua terbuka.
Sosok tinggi berjubah hitam muncul di balkon. Wajahnya setengah tertutup topeng logam, tapi matanya—merah menyala dalam gelap—menatap langsung ke arah Aditya.
Pemimpin Divisi Eksekusi, Level 9.
Nama: Tidak terdeteksi.
Kekuatan: 115.
Kecepatan: 89.
Skill: ??? (Level terlalu tinggi untuk dideteksi).
"Jadi ini yang membuat Kartel Lotus repot," suaranya bergema—dalam, metalik, tidak manusiawi. "Seorang bocah dengan mata ajaib, seorang tentara wanita, dan CEO sombong dengan pisau pusaka."
Ia melompat dari balkon. Mendarat tanpa suara di tengah ruangan—tepat di depan Aditya.
"Menarik. Tapi permainan sudah berakhir."