Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Serena
Bab 17 – Jebakan Serena
Serena tersenyum lebar di bawah cahaya lilin yang redup dan bergoyang.
Gaun merah malamnya bergerak pelan tertiup angin malam yang masuk lewat celah-celah jendela gereja yang sudah retak dan tua. Penampilannya cantik, tapi tatapannya tajam seperti duri.
Alya langsung berhenti melangkah, kakinya terasa berat.
“Kamu?!”
Kael berdiri kokoh di samping Alya. Wajahnya yang tadi sedikit lelah langsung berubah mengeras dan dingin kembali.
“Aku sudah menduga sejak awal.”
Serena mengangkat alisnya yang terawat rapi.
“Kalau begitu kenapa kalian tetap bodoh datang ke sini?”
Kael menjawab tanpa ragu, suaranya rendah dan berat.
“Karena dia datang. Selama dia mau ke sini, neraka sekalipun aku akan temani.”
Tatapan Serena beralih tajam ke arah Alya. Matanya memancarkan iri hati yang membara, bercampur dengan kebencian yang sudah dipendam lama.
“Luar biasa. Kael Lorenzo, pria paling dingin dan kejam di kota ini, rela masuk ke dalam jebakan mati cuma demi gadis rendahan seperti dia.”
Alya mendelik kesal, tangannya mengepal di samping badan.
“Kamu capek apa sih nyebut aku ‘gadis biasa’ atau ‘rendahan’ terus? Mulutmu asem banget deh!”
Serena tertawa tipis, sinis sekali.
“Tidak capek. Karena itu memang fakta. Kau tidak pantas berdiri di sisinya.”
Kael maju setengah langkah secara otomatis, menempatkan tubuh besarnya di depan tubuh Alya, menjadi tameng hidup.
“Jangan banyak omong. Di mana ibunya?” tanyanya ketus.
Serena berjalan mondar-mandir pelan di depan altar yang gelap, suaranya terdengar menggema di ruangan kosong itu.
“Tenang saja. Wanita tua itu masih bernapas. Masih berguna.”
Alya langsung panik bukan main.
“HEI! Kalau kamu berani menyakiti ibuku sedikit saja—”
“Kalau aku sentuh?” potong Serena cepat sambil menatap sinis. “Apa yang bisa kau lakukan? Menangis? Memukul?”
“Aku bisa jambak rambutmu sampai copot!” ancam Alya dengan berani.
Di sampingnya, Kael sempat melirik sekilas ke arah gadis itu.
Dalam situasi seberbahaya ini… dia masih sempat-sempatnya mengancam pakai cara kampung kayak gini. batin Kael.
Anehnya… justru itu yang membuatnya makin menyukainya. Dia nyata.
“Sudah cukup aku mendengar omong kosong kalian,” ucap Serena bosan.
Ia bertepuk tangan dua kali dengan cepat.
Tep! Tep!
Seketika, dari balik bangku-bangku kayu gereja yang gelap, belasan pria bertubuh kekar dan membawa senjata lengkap muncul serentak. Mereka mengepung pintu masuk dan keluar.
Wajah Alya pucat pasi.
“Kamu serius banget bawa preman bersenjata masuk ke dalam gereja?! Nggak takut dosa apa?!” serunya kaget.
Serena tersenyum miring.
“Aku membawa solusi. Solusi untuk menghapus masalah bernama dirimu.”
Kael mengeluarkan pistolnya dari balik jas perlahan-lahan. Gerakannya tenang tapi mematikan.
“Kesalahanmu selalu sama, Serena. Kau terlalu percaya diri dan meremehkan lawan.”
“Turunkan senjatamu sekarang!” teriak Serena sambil menunjuk Alya. “Atau anak buahku akan tembak kepala gadis ini duluan sebelum kau sempat menarik pelatuk!”
Salah satu pria besar langsung melangkah maju dan menodongkan laras pistol tepat ke pelipis Alya.
Tubuh Alya membeku kaku. Jantungnya rasanya mau berhenti berdetak.
Kael berhenti bergerak. Tangannya yang memegang pistol tetap terangkat, tapi ia tidak menembak. Wajahnya sedingin es, aura membunuhnya begitu pekat hingga membuat udara di ruangan itu terasa berat.
“Aku memberi kau tiga detik untuk menyesali semua perbuatan bodohmu ini,” ucap Kael pelan namun terdengar sangat mengerikan.
Serena tertawa mengejek.
“Masih saja sombong di situasi mati begini.”
“Satu.”
“KAEL—!” bisik Alya panik, matanya terbelalak takut.
“Dua.”
Kening Serena berkerut, mulai merasa tidak enak hati.
“Tiga.”
SYUT!
Tiba-tiba seluruh lampu di dalam gereja itu padam total! Gelap gulita!
BRAAAAKK!!!
Suara kaca jendela besar pecah berkeping-keping dari sisi kanan dan kiri.
Teriakan kaget terdengar di mana-mana.
“SERBUUUU!”
Puluhan bodyguard andalan Kael menyerbu masuk dari segala arah! Mereka sudah bersiap dari luar sejak tadi!
Suara tembakan meledak keras memecah keheningan malam.
DOR! DOR! DOR! DORRR!!!
“AAAAAA!!!” Alya menjerit ketakutan dan langsung menunduk memeluk kepalanya.
Tiba-tiba sebuah tangan kuat menarik pinggangnya dengan cepat.
Kael!
Pria itu langsung memeluk tubuh Alya erat-erat ke dadanya, lalu berlari kecil membawa gadis itu berlindung di balik pilar batu besar yang kokoh.
“Pegang aku!” perintah Kael cepat.
“AKU SUDAH PEGANG! PEGANG BAJUMU!” teriak Alya panik sambil mencengkeram kain jas hitam itu kuat-kuat.
“LEBIH ERAT! JANGAN LEPAS!”
“APA?! KENAPA—”
DOR!
Sebuah peluru menghantam batu tepat di samping kepala mereka, membuat serpihan batu beterbangan.
Alya menjerit lagi dan makin erat memeluk pinggang Kael, membenamkan wajahnya di dada bidang itu.
Dengan satu tangan Kael memeluk lindungi Alya, tangan satunya lagi menembak dengan sangat akurat ke arah musuh-musuhnya di kegelapan.
DOR!
Satu pria roboh.
Alya gemetar hebat di pelukannya.
“Kamu… kamu bawa pasukan banyak dari tadi?!” tanyanya terengah-engah.
“Aku mafia, Alya. Bukan orang bodoh yang datang sendirian ke jebakan,” jawab Kael santai di sela-sela tembakan.
“Kadang aku ragu soal itu…” gumam Alya.
Kael hampir tersenyum mendengarnya, tapi situasi terlalu genting.
Di tengah kekacauan itu, Kael melihat Serena yang mulai mundur perlahan menuju pintu belakang yang gelap, berniat kabur.
“Sial.”
Dengan cepat, Kael mengambil pistol cadangan dari pinggangnya dan menyerahkannya ke tangan gemetar Alya.
Alya menatap benda logam berat itu dengan wajah ngeri.
“Kamu mau aku ngapain pakai ini?! Aku nggak bisa!”
“Pegang saja untuk berjaga-jaga!”
“Aku nggak berani nembak orang!”
“Kalau ada yang mendekat dan mau menyakiti mu… tekan saja bagian ini!” Kael menunjuk pelatuk dengan jarinya cepat.
“YANG MANA SIH?! BANYAK TOMBOLNYA!”
Tiba-tiba Kael menarik wajah Alya mendekat sangat cepat.
Sebelum Alya sempat bereaksi, Kael menempelkan bibirnya sekilas saja… tepat di kening gadis itu.
Sentuhan singkat, hangat, dan penuh makna.
“Untuk keberanian,” bisiknya pelan.
Alya membeku total. Seluruh dunia seakan berhenti berputar.
“Apa—?!”
Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Kael sudah berdiri tegak kembali dan siap bertempur.
“Tunggu di sini diam-diam. Jangan kemana-mana!”
Ia pun berlari kencang mengejar Serena yang hampir kabur.
Jantung Alya berdegup kacau balau… dan itu sama sekali bukan karena suara tembakan, tapi karena ciuman singkat di keningnya tadi.
“Pria gila… bikin baper di saat yang salah…” gumamnya malu-malu.
Beberapa menit kemudian, suara tembakan dan kegaduhan perlahan mereda.
Lampu darurat menyala redup, menerangi ruangan yang kini berantakan.
Para penyerang sudah tumbang tertembak atau ditangkap oleh pasukan Kael.
Alya berdiri dengan lutut yang masih lemas dan gemetar.
“Nona Alya!”
Riko berlari tergesa mendekatinya dengan wajah waspada.
“Anda tidak apa-apa, Nona? Tidak ada luka kan?”
“Aku… aku baik-baik saja, Ko. Terima kasih.”
“Syukurlah.”
“Mana Kael? Dia gimana?!” tanya Alya cepat, matanya mencari-cari.
Riko menoleh ke arah pintu belakang yang terbuka lebar.
“Tuan mengejar Nona Serena ke arah belakang tadi.”
Alya menelan ludah dengan susah payah, dadanya sesak menunggu.
Tiba-tiba terdengar suara deru mesin mobil melaju kencang dari arah luar, lalu perlahan menghilang.
Kemudian sunyi.
Beberapa detik kemudian, sosok tinggi besar itu muncul kembali melangkah masuk dari pintu belakang.
Wajah Kael tampak sangat dingin dan murka. Tangannya kanannya berlumuran darah segar.
Alya langsung berlari kecil mendekat.
“KAMU TERLUKA LAGI?! DARAH BANYAK BANGET INI!” serunya panik mau memegang tangannya.
Kael menggeleng.
“Itu bukan darahku.”
Jawaban singkat itu membuat bulu kuduk Alya meremang. Dingin sekali.
“Serena?”
“Lolos. Dia kabur naik mobil,” jawab Kael ketus, rahangnya terlihat sangat tegang menahan amarah.
Alya hendak bertanya lagi soal ibunya, tapi tiba-tiba Kael mengulurkan tangannya dan menyerahkan sesuatu.
Sebuah kalung perak kecil dengan liontin berbentuk bunga.
Alya membeku melihatnya.
“Itu… itu kalung ibuku! Aku kenal betul liontin ini! Dia selalu pakai sejak aku kecil!” serunya terkejut.
Kael menatapnya tajam.
“Aku menemukan ini terjatuh di dalam mobil Serena saat aku kejar tadi.”
Tangan Alya gemetar hebat menerima kalung itu.
“Berarti… berarti ibuku benar-benar ada sama dia?! Dia bawa Ibu?!”
Kael mengangguk pelan.
“Kemungkinan besar. Dan ada satu hal lagi yang harus kau lihat.”
“Apa itu?”
Kael membuka telapak tangannya yang lain. Di sana terdapat sebuah foto lama yang sudah kusut, robek, dan kotor terkena debu.
Alya mengambilnya dan memperhatikan dengan saksama.
Di foto itu terlihat seorang wanita muda yang sangat mirip dengan ibunya saat muda, sedang menggendong seorang bayi kecil.
Mereka berdiri di samping seorang pria tinggi besar.
Namun… bagian wajah pria itu robek separuh, tidak terlihat utuh.
Tapi… dari bagian wajah yang masih tersisa, dari bentuk alis, hidung, dan rahangnya…
Alya menahan napas.
Wajah itu… sangat mirip dengan Kael.