Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 – Cemburu pada Hal Kecil
Alya segera menyadari perubahan ekspresi Raka.
Sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Namun, setelah sekian lama bersama, Alya sudah terlalu paham membaca gelagat pria itu.
Dan benar saja—
Raka sedang cemburu.
Lagi.
Padahal kali ini yang jadi penyebabnya adalah Arga, kakak tirinya sendiri.
“Astaga…” gumam Alya pelan seraya menahan senyum tipis.
“Apa?” tanya Arga bingung.
“Tidak apa-apa.”
Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut, suara ayah mereka sudah terdengar memanggil Arga dari ruang tamu.
Arga pun segera beranjak sambil terus menggerutu pelan soal obat dan jadwal makan.
Alya memperhatikannya beberapa detik dengan perasaan hangat aneh di dada.
Mungkin hubungan mereka tidaklah sempurna.
Namun, bagaimanapun juga, Arga tetaplah keluarganya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
Alya merasa rumah ini masih memiliki tempat untuknya.
Ia menarik napas perlahan lalu melangkah keluar dari dapur.
Namun, begitu memasuki ruang tamu—
Tatapan Raka langsung mengarah padanya.
Dan oh ya.
Pria itu tampaknya masih diliputi rasa cemburu.
“Kau kenapa?” tanya Alya pelan saat berdiri di dekat sofa.
“Tidak apa-apa.”
Jawaban otomatis.
Dan Alya langsung ingin tertawa.
“Kau tahu,” bisiknya pelan seraya duduk di samping pria itu, “kau semakin payah dalam berbohong.”
Tatapan Raka turun lurus padanya.
“Saya tidak berbohong.”
“Kau cemburu pada Arga?”
Hening sepersekian detik.
Lalu—
“Mungkin.”
Alya langsung menatapnya tak percaya.
“Kau serius?”
Raka terlihat benar-benar tenang.
“Dia terlalu dekat dengan Anda.”
“Itu kakak tiriku!”
“Tetap saja.”
Alya spontan tertawa kecil.
Dan sayangnya—
Raka justru tampak semakin tidak suka melihatnya tertawa.
“Kau lucu.”
“Saya tidak sedang bercanda.”
“Aku tahu.” Alya masih menahan senyumnya. “Itu sebabnya lucu.”
Tatapan Raka berubah sedikit lebih tajam.
Dan sebelum Alya sempat bereaksi—
Tangan pria itu tiba-tiba menarik kursinya lebih dekat.
Jantung Alya langsung berdebar kecil.
“Kau menikmati membuat saya cemburu ya?” tanya Raka rendah.
Napas Alya sedikit goyah.
“Sedikit.”
“Bahaya.”
Nada suaranya terlalu tenang.
Dan Alya langsung tahu—
Pria ini kembali masuk mode berbahaya.
Untungnya, sebelum suasana menjadi terlalu canggung di rumah orang tua—
Ayah tirinya kembali muncul dari kamar.
“Apa kalian mau makan malam di sini?”
Alya langsung sedikit menjauh secara refleks dari Raka.
“Ya, kalau tidak merepotkan.”
“Tidak merepotkan sama sekali.” Pria itu tersenyum tipis lalu menatap Raka. “Kau juga bisa ikut makan.”
Raka mengangguk sopan.
“Terima kasih.”
Dan Alya sedikit terkejut melihat betapa tenangnya Raka sekarang.
Pria yang biasanya dingin dan menjaga jarak ternyata bisa sangat sopan saat benar-benar berusaha.
---
Makan malam berlangsung jauh lebih nyaman dari yang Alya bayangkan.
Arga masih sesekali menunjukkan ekspresi tidak suka pada Raka.
Namun, setidaknya ia tidak lagi menyerang terang-terangan.
Sementara ayah mereka tampak cukup senang melihat Alya kembali.
“Dulu Alya paling susah disuruh makan sayur.”
Alya langsung menutup wajah.
“Ayah…”
Arga langsung tertawa kecil.
“Itu benar.” Tatapannya beralih pada Raka. “Dia bahkan pernah menyembunyikan wortel di bawah meja.”
“Astaga, kenapa cerita itu keluar sekarang?”
Namun yang membuat Alya semakin malu—
Raka justru terlihat tertarik.
“Benarkah?”
“Jangan percaya mereka.”
“Terlambat.”
Sudut bibir Raka tersungging tipis.
Dan Alya langsung ingin menghilang.
“Dia juga dulu mudah menangis,” lanjut Arga tanpa merasa bersalah.
“ARGA!”
“Kena tegur sedikit saja langsung merajuk seharian.”
Raka kini benar-benar terlihat menahan senyum.
Tatapannya kembali pada Alya.
“Saya bisa membayangkannya.”
“Aku benci kalian semua.”
Ayah dan Arga langsung tertawa.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
Rumah itu terasa hangat lagi.
Alya diam-diam memperhatikan Raka yang kini duduk bersama keluarganya tanpa terlihat tidak nyaman.
Pria itu bahkan membantu mengambilkan minum untuk ayahnya tanpa diminta.
Hal kecil.
Namun cukup membuat dada Alya terasa penuh.
Karena pria ini selalu terlihat dingin di luar.
Padahal diam-diam perhatian pada banyak hal.
Dan mungkin—
Hanya orang tertentu yang bisa melihat sisi itu.
Tatapan Raka tiba-tiba bertemu dengannya.
“Ada apa?”
Alya langsung sedikit salah tingkah.
“Aku hanya melihat.”
“Anda menatap saya sejak tadi.”
“Kau semakin percaya diri ya sekarang.”
“Karena memang Anda menatap saya.”
Arga langsung mengernyit melihat mereka.
“Astaga.” Ia menggeleng geli. “Kalian benar-benar mesra sekarang.”
Kalimat itu membuat Alya langsung tersedak minumannya sendiri.
Sementara Raka justru terlihat santai.
“Kami memang suami istri.”
Dan oh Tuhan.
Kenapa pria ini sekarang suka sekali mengatakan hal memalukan dengan wajah setenang itu?
---
Malam sudah cukup larut ketika mereka akhirnya berpamitan pulang.
Sebelum masuk mobil, ayah tirinya sempat memegang tangan Alya perlahan.
“Jangan terlalu lama menghilang lagi.”
Mata Alya langsung sedikit berkaca-kaca.
“Ya.”
Pria itu lalu melirik Raka.
“Jaga dia baik-baik.”
Dan tanpa ragu sedikit pun—
Raka menjawab tenang,
“Saya akan selalu menjaganya.”
Jantung Alya langsung kembali tidak tenang.
Pria ini benar-benar tidak memberi kesempatan dirinya bernapas normal.
---
Perjalanan pulang terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Alya menyandarkan kepala ke kursi seraya tersenyum tipis sendiri.
“Ada apa?” tanya Raka akhirnya.
“Aku senang.”
Tatapan pria itu sedikit melunak.
“Karena apa?”
“Aku pikir semuanya akan jadi buruk hari ini.”
“Tapi?”
“Ternyata tidak seburuk itu.”
Hening nyaman memenuhi mobil beberapa saat.
Lalu Alya menoleh pelan pada Raka.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena ikut denganku.”
Tatapan Raka tetap lurus ke jalan.
Namun, suaranya terdengar lebih lembut sekarang.
“Saya bilang saya tidak akan membiarkan Anda sendirian.”
Dada Alya terasa hangat kembali.
Dan sebelum ia sempat menahan diri—
“Aku suka saat kau seperti tadi.”
“Hm?”
“Waktu bersama keluargaku.” Alya tersenyum tipis. “Kau terlihat… hangat.”
Sudut bibir Raka tersungging tipis.
“Hanya untuk orang tertentu.”
Jantung Alya langsung berdetak sedikit lebih cepat.
“Kau sadar tidak,” gumamnya pelan, “kalau akhir-akhir ini kau terlalu sering membuatku malu sendiri?”
“Kau juga.”
“Aku apa?”
“Kau membuat saya ingin terus di dekat Anda.”
Napas Alya langsung tertahan.
Dan suasana mobil kembali berubah.
Lebih dekat.
Lebih lembut.
Lampu jalan malam memantulkan cahaya samar di wajah Raka saat pria itu akhirnya menoleh padanya beberapa detik.
Tatapan mereka bertemu.
Dan lagi-lagi—
Dunia Alya terasa mengecil hanya menjadi mereka berdua.
Namun tepat ketika suasana mulai terlalu tenang dan romantis—
Ponsel Raka tiba-tiba berdering.
Pria itu mengernyit kecil saat melihat layar.
Wajahnya langsung berubah dingin.
Alya perlahan menegang.
“Siapa?”
Raka diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab rendah—
“Vanessa.”
Dan entah kenapa—
Firasat buruk langsung muncul kembali di dada Alya.