NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Langkah Pelan & Teman Lama di Pasar

Pagi itu, udara segar menyapu wajahku saat aku melangkah pelan menuju pasar tradisional dekat rumah. Setiap langkah terasa berat, kakiku masih lemah pasca-stroke, tapi aku paksa diri untuk terus bergerak. Di sampingku, Balqis berjalan sambil memegang erat tanganku, matanya berbinar-binar melihat warna-warni sayuran dan buah-buahan yang dipajang rapi.

“Ayah, lihat! Itu mangga kuning besar!” teriak Balqis sambil menunjuk ke arah gerobak penjual buah.

Aku tersenyum, napasku sedikit tersengal. “Iya, Nak. Nanti kita beli ya, kalau ada uang cukup.”

Kami berhenti di depan warung sembako milik Pak Hendra — teman lamaku sejak masa kuliah dulu. Ia terkejut melihatku datang, lalu segera berlari keluar, wajahnya penuh haru.

“Rudini? Astaga… kamu masih ingat aku?” suaranya gemetar.

Aku mengangguk pelan, tangan kananku masih gemetar menahan beban tubuh. “Bagaimana bisa lupa, Hen? Kamu satu-satunya teman yang nggak pernah ninggalin aku waktu aku sakit.”

Pak Hendra memelukku erat, lalu menatap Balqis dengan senyum lebar. “Ini anakmu? Cantik sekali! Mirip istrimu…”

Air mataku hampir jatuh. Tapi aku tahan. Aku tidak ingin Balqis melihat ayahya lemah lagi.

“Iya, ini Balqis. Anakku, satu-satunya harta yang aku punya sekarang,” jawabku pelan.

Pak Hendra mengusap kepala Balqis, lalu berbalik kepadaku. “Dengar, Rudini. Aku tahu kamu susah. Tapi jangan pernah menyerah. Aku punya sedikit rezeki untukmu — bukan sedekah, tapi bantuan dari teman lama.”

Dia memasukkan amplop cokelat ke tas belanjaanku. “Isinya cukup buat susu, beras, dan mainan buat Balqis. Jangan ditolak. Ini hakmu.”

Aku ingin menolak, tapi Balqis sudah duluan bersorak gembira. “Terima kasih, Om Hendra! Ayah bilang Om baik banget!”

Pak Hendra tertawa lepas. “Anak pintar! Nanti kalau Ayahmu udah jadi penulis terkenal, jangan lupa ajak aku makan enak ya!”

Aku hanya bisa tersenyum haru. Dalam keheningan pasar yang ramai, aku merasa seperti mendapat pelukan hangat dari alam semesta.

Malam itu, setelah Balqis tidur, aku membuka amplop itu. Isinya bukan cuma uang — tapi juga surat kecil dari Pak Hendra:

> “Rudini, hidup memang kadang keras. Tapi jangan lupa, kamu punya Balqis — dan dia punya kamu. Teruslah menulis. Ceritamu bisa jadi obat bagi banyak orang. Aku percaya padamu.”

Air mataku jatuh lagi. Tapi kali ini, air mata kebahagiaan.

Saya harus menulis bab ini.

Saya harus menceritakan tentang kebaikan hati manusia yang tak pernah punah.

Supaya dunia tahu, bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada tangan-tangan siap membantu.

Satu bab lagi selesai.

Delapan bab sudah tayang (atau segera tayang).

Target 20 bab semakin dekat.

Aku tidak sendirian.

Kita tidak sendirian.Pagi besoknya, aku membawa Balqis ke taman kecil dekat rumah. Dia berlari-lari kecil sambil tertawa, rambutnya berkibar diterpa angin pagi. Aku duduk di bangku kayu, memandangnya dengan hati yang lapang.

Di saku celanaku, amplop dari Pak Hendra masih tersimpan rapi. Bukan karena uangnya, tapi karena kata-katanya yang terus bergema di kepala: “Teruslah menulis.”

Aku membuka notes kecil di sakuku, lalu mulai mencoret-coret ide untuk Bab 9. Mungkin tentang Balqis yang pertama kali ikut lomba menggambar di sekolah. Atau mungkin tentang malam ketika hujan deras turun, dan kami berdua duduk di teras, mendengarkan suara air sambil bercerita tentang Ibu.

Tidak penting apa ceritanya nanti. Yang penting, aku tetap menulis. Untuk Balqis. Untuk diriku sendiri. Dan untuk siapa saja yang butuh alasan untuk tidak menyerah.

Langkahku mungkin pelan. Tapi selama masih ada napas, aku akan terus melangkah. Karena di ujung jalan, ada senyum Balqis yang menunggu. Dan itu cukup untuk membuatku bangkit setiap hari.

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!