Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
"Kakak Jian, apa yang kau lakukan di sini..?" Song Aran tidak menyangka akan bertemu calon suaminya di kota.
"Aku akan segera menikah, aku perlu membeli beberapa barang. Kebetulan aku melihatmu, jadi memutuskan untuk menyapa."
Xiao Jian gegas membayar, lalu menyerahkan jepit rambut itu kepada Song Aran sambil berkata "karena kau menyukainya, aku akan membelinya untukmu."
"Terima kasih, kalau begitu aku tidak akan bersikap sopan." kata riang Song Aran.
Setelah menjalani kehidupan kedua di abad serta negeri berbeda, Song Aran tidak akan merubah dirinya menjadi orang lain.
Aran ingin menjadi dirinya sendiri, manja jika bersama orang yang ia cintai, meledak-ledak saat marah, tegas dalam bersikap, dan akan memberi pejaran pada siapa pun yang berani menindasnya.
Sepertinya Xiao Jian memiliki beberapa rahasia. Jika tidak, mana mungkin pemuda itu akan dengan mudah memberikan sepuluh tahil sebagai hadiah pertunangan, lalu membeli jepit rambut perak. Padahal ia amat tidak disukai oleh ibunya.
Tentu saja Song Aran tak akan menyelidikinya, karena ia memiliki lebih banyak rahasia dari pada Xiao Jian.
Melihat calon istrinya menerima jepit rambut perak itu sembari tersenyum ranum, suasana hati Xiao Jian makin berbunga-bunga.
"Pelayan, bawakan aku gelang perak yang seharga satu tahil." seru Song Qing Bao, sebelum beralih kecalon adik iparnya.
"Karena kau sudah membayar jepit rambut itu, maka aku akan membelikan gelangnya."
Melihat betapa royalnya Xiao Jian pada sang adik, Song Qing Bao merasa semakin bahagia.
"Ayo, ikut pulang bersama kami..!" ajak Song Qing Bao kemudian.
"Aku masih ada urusan. Jadi maaf, tidak bisa ikut pulang bersama." Xiao Jian menolak sambil tersenyum.
Sebenarnya Xiao Jian tidak ada urusan lain, tapi ia hanya datang karena melihat Song Aran dan Song Qing Bao saja.
Setelah Xiao Jian pergi, Song Qing Bao berbisik di telinga sang adik "calon suamimu itu orang yang sangat baik."
"Hanya karena memberiku jepit rambut, dia sudah cukup baik..? kalau begitu kakak bahkan jauh lebih baik. Aku sangat menyukai gelang perak ini."
Song Aran mengangkat tangannya untuk memamerkan gelang perak yang dipilihkan Qing Bao untuknya.
Kualitas pembuatan gelang itu biasa saja, tapi beratnya membuat perhiasan itu berharga.
Jika dia membutuhkan perak di masa depan, Aran bisa memotongnya menjadi dua dan menggunakannya sebagai uang tanpa merasa bersalah.
Song Qing Bao menggeleng "bukan karena jepit rambut, tapi untuk perhatiannya padamu. Aku bisa melihat dari cara dia memandangmu. Selain itu, Xiao Jian mau memanjakanmu dengan membeli perhiasaan tanpa perhitungan."
“Tapi bagaimana dia bisa kaya ya..?" ucap bingung Qing Bao, sembari menggaruk dagunya.
"Ah, nanti aku akan bertanya setelah kau menikah dengannya. Dia pasti mau juga membantu saudara iparnya menjadi kaya, kan..?” Qing Bao terus mengoceh seperti nenek tua kehilangan sirihnya.
“Aku sudah menyelediki keluarga Xiao. Nyonya Xiao tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu."
“Kakak, kau sepertinya sangat terobsesi dengan uang..?” balas Song Aran menggoda.
“Siapa orang didunia ini yang tidak suka uang..?” sungut Song Qing Bao.
Mereka melangkah meninggalkan toko perhiasaan setelah berpamitan dengan pelayannya.
"Kita mau berbelanja apa lagi..?" tanya Qing Bao.
"Aku ingin membeli perona pipi dan bedak."
Tubuh Song Aran sekarang di tempati jiwa wanita modern yang suka dan pandai bersolek. Maka wajar jika ia ingin membeli make up untuk menyenangkan suaminya nanti.
Mereka berpindah ke toko kosmetik di sebelah.
Song Qing Bao mendekat, lalu berbisik lirih "tapi sekarang uangku tinggal sedikit, entah cukup atau tidak untuk membeli bedakmu."
"Kakak, aku bisa membayar dengan uangku sendiri. Jangan cemas, apa lagi sampai merasa bersalah." Song Aran mengusap lelang kekar kakaknya, menghibur pemuda itu yang sudah berwajah suram.
Kali ini Song Qing Bao tidak membantah, ia sungguh tidak punya uang lagi. Walau dihati kecilnya amat sedih, sebab tidak bisa memberikan yang terbaik untuk adiknya.
Keduanya mengobrol dan tertawa saat memasuki toko kosmetik.
Bedak wajah, perona pipi, gincu dan pensil alis, barang yang Aran beli sebelum kembali ke toko kain.
"Cobalah terlebih dulu, jika ada yang kurang pas katakan padaku."
Pemilik toko dengan ramah menyerahkan mantel merah kepada Song Aran, lalu membantu memindahkan barang yang dibeli digerainya ke gerobak sapi.
"Peti ini tidak murah, ya..? bahkan ada ukirannya." pemilik toko takjub melihat kedua kotak didalam gerobak.
"Semua berkat kebaikan dari keluarga, kami mendapat harga cuma lima ratus koin, sama dengan yang polos."
Song Qing Bao menjawab dengan riang, mengabaikan fakta ekspresi Zhao Chang Dong saat ia datang memalak tadi.
"Ah, beruntung sekali jika memiliki keluarga yang saling menyayangi begitu." balas pemilik toko, menyerahkan sebuah buntelan.
"Ini ada sepasang pita merah dan bundel kain perca, kau bisa menggunakannya untuk membuat sol sepatu."
Pemilik toko sengaja memberi bonus, sebab ia sangat beruntung dagangannya diborong.
Song Aran yang mendengar ucapan pemilik toko saat ia keluar setelah mencoba pakaian, membalas dengan ramah.
"Terima kasih nyonya, ukurannya pas sekali. Semoga bisnismu semakin makmur, memberikan keluargamu kekayaan yang melimpah."
"Sama-sama nona, semoga pernikahanmu berjalan lancar, dan kehidupan rumah tanggamu selalu bahagia."
Kakak beradik berpamitan, mengendarai gerobak sapi untuk pulang kedesa.
"Kakak, apa kau tahu sesuatu tentang keluarga Xiao..?"
"Keluarga Xiao memiliki empat putra dan dua putri. Kedua putrinya, putra kedua dan ketiga sudah menikah. Calon mertuamu itu kepala keluarga, tidak banyak melakukan pekerjaan rumah tangga, hanya berbicara dalam hal-hal penting."
"Mertuamu itu sangat aneh..!"
Dahi Song Aran mengernyit kasar, ia memiringkan kepala guna memandang wajah sang kakak.
"Umumnya, orangtua akan dirawat oleh putra sulungnya yang pasti menjadi kebanggaan. Tapi mertuamu sangat tidak menyukai Xiao Jian, sering menyebutnya pembawa sial."
"Jika bukan karena kemampuan Xiao Jian dalam berburu untuk menambah penghasilan keluarga, dia mungkin tidak akan punya tempat lagi di keluarga itu. Bekas luka di wajah Xiao Jian konon disebabkan oleh ibunya."
"Jika nanti setelah kalian menikah, nenek tua itu pasti tidak akan memperlakukanmu dengan baik. Tapi jangan khawatir, aku akan selalu mendukungmu."
Song Qing Bao berkata dengan sedikit kesal. kalau bukan karena adiknya yang sudah membuat keputusan, ia tidak akan setuju Song Aran menjadi bagian keluarga gila seperti itu.
"Xiao Jian sama seperti kita. Tapi kakak jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan siapa pun menindasku."
Song Aran merasa sedikit simpati pada calon suaminya setelah mendengar cerita Qing Bao.
Kalau nanti setelah menikah ibu mertuanya itu sulit dihadapi, Song Aran akan mengajak suaminya pindah rumah, berikut juga sang kakak.
Tidak sulit menghidupi tiga orang, apa lagi Song Aran memiliki ruang saji. Xiao Jian dan Song Qing Bao juga tidak mungkin berpangku tangan saja.
Kalau ayahnya mau bercerai dengan si ibu tiri, akan Aran angkut sekalian.
"Kau dulu terlalu lembut, itu sebabnya Kang Yance dan Zhao Jiao memanfaatkanmu. Sekarang kau akan menikah, kau harus lebih tegas. Jangan biarkan siapa pun mempermainkanmu."
Keduanya mengobrol disepanjang jalan pulang ke desa, gerobak sapi yang sarat dengan mas kawin langsung menarik perhatian begitu melewati gerbang desa.
Para bibi dan ipar perempuan yang suka bergosip, langsung berkumpul menebar bisa beracun.
Makin panas saja rumor tentang pertunangan Song Aran dan Xiao Jian,
Si pembawa sial dan gadis gemuk jelek.