NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.

Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Di dalam ruang yang hanya diterangi nyala lilin yang berkedap-kedip di atas meja bundar, dua orang duduk bersebrangan di sofa. Wajah mereka tersembunyi di balik bayang-bayang cahaya remang, hanya pakaian khas bangsawan yang tampak karena pancaran dari cahaya lilin.

Mereka duduk dengan angkuh, salah satu dari mereka yang lebih berkuasa mengepulkan asap cerutu dari pipa tulang yang baru dihisap.

"Kebal terhadap racun dan menjadi petugas kebersihan di lantai khusus makhluk magis mengesankan. Bagaimana pun dia adalah keturunan Valgard, tidak seharusnya diremehkan. Dia bisa jadi halangan besar jika tidak segera disingkirkan," kata sosok itu.

"Anda tidak perlu khawatir. Saya telah menempatkan seseorang untuk membereskannya."

"Yah, kuharap kali ini tidak gagal karena Solomon telah kembali. Hal-hal kotor dari luar tidak akan mudah masuk lagi jika dia sudah di sana. Itu kesempatan terakhir."

"Kamu yakin orang itu bisa melakukannya?"

Tanyanya lagi, memastikan.

Seringai tercetak jelas pada sosok yang lebih muda. "Tentu saja. Dia adalah orang paling berbahaya di Tyraven. Entah sudah berapa nyawa melayang di tangannya. Dia brutal dan tidak kenal belas kasih," ujarnya.

Perkataan itu tuntas bersamaan sesosok pria bertubuh besar dan berotot baru saja memasuki Dakrossa tiga hari lalu. Dia adalah pembunuh berantai paling dicari. Memiliki tinggi tubuh mencapai dua meter, kulit gelap terbakar matahari, serta wajah bengis yang dihias luka sayatan panjang. Namanya adalah Morvak.

Bagaimana sosok itu pada akhirnya bisa tertangkap? Pertanyaan tersebut muncul dalam kepala para penjaga setiap kali memandangi punggung kekar bertumpuk otot milik Morvak. Mereka membutuhkan borgol lebih besar dari biasanya untuk menjerat sepasang kaki dan tangan penjahat tersebut. Kendati demikian, dia masuk ke dalam tahanan tingkat tinggi, bukan berbahaya.

Morvak tertawa pelan ketika didorong masuk ke ruang tahanan yang hanya diisi olehnya. Perlakukan khusus? Tentu saja. Bisa dibilang dia adalah tahanan yang dititipkan oleh seorang bangsawan. Entah berapa petugas Dakrossa yang menerima suap untuk itu.

Alasan mengapa dia menerima tawaran itu sepenuhnya bukan karena bayaran yang fantastis, melainkan rasa bosan menumpuk dalam menghabisi orang-orang lemah. Katanya, di Dakrossa banyak orang kuat dan membunuh sesama tahanan sudah umum terjadi. Mereka hanya akan menerima hukuman di ruang khusus selama beberapa hari atau penyiksaan sebagai bentuk perenungan sehingga tudak mengulangi perbuatan sebelumnya.

Bagi Morvak, sanksi semacam itu sanggup dia terima berkali-kali setiap membunuh seorang tahanan. Maka dari itu, dia akan memulainya dari gadis bernama Ilyar Justina Valgard.

Jika dia berhasil membunuh bocah itu, eksekusi yang akan diterimanya bulan depan hanya omong kosong karena orang itu akan membebaskannya. Jadi, dia tidak perlu khawatir membunuh secara brutal.

"Bocah macam apa dia sampe harus ditangani sejauh ini? Apa dia salah satu bajingan gila di keluarga itu?" Morvak menerka-nerka.

Sampai keesokan harinya ketika mereka melakukan aktivitas bebas di lapangan. Morvak melihat gadis bertubuh ramping dengan raut wajah lugu berdiri di antara tiga wanita dewasa.

"Bocah itu yang harus kuhabisi?" Morvak mengangkat sebelah alis tak percaya setelah melihat seperti apa sosok Ilyar Justina. Dia yakin, hanya perlu satu tinju untuk membinasakannya.

Bukankah ini terlalu mudah? Morvak merasa kecewa karena target utamanya tidak sesuai ekspetasi.

Haruskah aku bertindak sekarang?

Morvak menimbang keputusan sambil memperhatikan para penjaga berkeliaran di sekitar lapangan. Ini baru tiga hari sejak dia berada di Dakrossa, lebih dari itu lokasinya sangat terbuka dan lebar. Morvak menahan diri dan hanya memperhatikan Ilyar dari kejauhan.

Huh? Morvak mengangkat sebelah alis tatkala tatapanya bertemu Ilyar.

"Ada apa, Ilyar?" tanya Adrene.

Ilyar mengusap tengkuk agak canggung dan buru-buru memutuskan kontak mata dari Morvak yang lama kelamaan makin seram jika ditatap.

"Tidak apa-apa, Bibi."

"Oh, ya, tidak lama lagi kita akan diminta membersihkan lantai sembilan. Di mana hewan magis tingkat tinggi berada," ucap Valeris seraya merenggangkan otot di bawah teriknya matahari.

Senyum Ilyar merekah. "Aku tidak sabar!"

"Oho- lihatlah bocah ini! Dia jadi bersemangat dengan hal-hal mengerikan!" Adrene tergelak dan memiting pelan leher Ilyar dengan lengannya sebelum menggosok puncak kepala gadis itu sedikit gemas.

"Kita akan berlatih untuk tingkat yang lebih serius. Bersiaplah, Ilyar." Valeris mengedipkan sebelah mata dan Ilyar mengangguk mantap.

***

Wah, jadi ini lantai sembilan.

Ilyar berdecak kagum melihat permukaan sel-sel tahanan yang terbuat dari logam gelap diukir rune-rune kuno. Rune tersebut memiliki cahaya samar yang berdenyut seperti jantung lemah dan di balik sel tersebut makhluk magis beristirahat, beberapa di antaranya terjaga dan memperhatikan kehadiran mereka.

Makhluk itu sangat berbeda dengan lantai sebelumnya. Mereka tidak memiliki tubuh raksasa dengan kulit gelap dan tampilan agresif atau kasar. Tampak lebih halus dibalik bulu-bulu cerah. Hanya saja, aura yang menguar di sekitar mereka jauh lebih kuat di banding hewan magis di lantai delapan.

"Mereka lebih sensitif dari yang kamu kira jadi berhati-hatilah," ucap Valeris seraya melempar sapu ke Ilyar.

"Tangkapan yang bagus," puji Valeris tatkala Ilyar menangkap sapu.

"Apa kita juga harus masuk ke dalam?

Membersihkan kotorannya?"

"Tentu saja. Setelah menyapu, kita harus menyikat lantainya. Itu dilakukan seminggu sekali karena kotoran mereka sudah dibersihkan oleh Warden sebelumnya," jelas Valeris.

Ilyar menelan ludah gugup sembari mengikuti sipir yang membawa gerombolan kunci kerangkeng tersemat pada ikat pinggang tebal. Dia membuka salah satu dan meminta Ilyar masuk ke dalam sel yang dihuni seekor ular putih dengan sisik bercorak kemerahan. Ular itu memiliki panjang tubuh sekitar 5 sampai 6 meter dengan berat yang Ilyar perkirakan lebih dari 100 kilogram.

Valeris sendiri berada di dalam kerangkeng makhluk magis lain, memperhatikan Ilyar sambil menggosok lantai. Tatapannya tak lekang pada setiap gerak-gerik gadis itu kala membersihkan area di dekat ular.

Tshaah!

Ilyar!

Sepasang mata Valeris melebar ketika ular bergerak dan membelit tubuh Ilyar secara mendadak. Sipir yang masih berkeliaran memastikan keamanan para Warden yang bertugas segera memanggil kawanan untuk menyelamatkan Ilyar.

"Biar saya!" Valeris keluar dari kerangkeng, menyela pergerakan para sipir karena hal itu hanya akan menambah ketegangan, ular merasa keadaan sekitar memusuhinya.

Argh!

Ilyar berteriak nyaring dan Valeris membeku di depan pintu kerangkeng ketika ular itu memuntahkan bisa, mengguyurnya dari puncak kepala.

"Ya ampun. Apa yang harus kulakukan?!"

Valeris panik bukan main karena tubuh Ilyar mengejang dan sarafnya berkedut, tercetak jelas dari luar.

"Adrene! Tolong bawa Adrene secepat mungkin kemari!" seru Valeris pada sipir.

Para Warden yang bertugas di sana menahan napas menyaksikan kondisi Ilyar, sementara Valeris berusaha menenangkan si ular agar melepaskan gadis tersebut.

"Ya, benar seperti itu," ucap Valeris lembut ketika ular mulai mengendurkan belitan pada tubuh Ilyar.

Ilyar langsung tergeletak di lantai. Tubuhnya melengkung ke atas; sepasang kaki mengejang dan menggesek lantai dengan keras; bola matanya bergulir ke atas, nyaris menyisakan bagian putih saja; urat leher mengencang dan agak timbul seiring sarafnya menghitam dan tubuh jadi agak keunguan.

Menyaksikan pemandangan itu sekujur tubuh Valeris merinding bukan main, namun dia tidak bisa mendekat karena bisa itu menggenang di lantai dan membasahi tubuh Ilyar. Dia tidak kebal racun seperti Adrene sehingga jika mendekat hanya akan menambah beban atau mengantarkan diri sendiri pada kematian.

"Dimana Adrene?! Kenapa lama sekali kalian membawanya!" Valeris berseru pada para sipir.

"Mungkin sebentar lagi. Tidak bisakah kamu melakukan sesuatu?!" Para sipir juga panik.

Hah... hah... hah..

Napas Ilyar terdengar jelas. Dari posisi telentang, kini gadis itu tengkurap, menatap Valeris di luar kerangkeng dari balik rambut merah yang basah kuyup oleh bisa ular.

"Bibi ... kurasa aku bisa melewatinya. Jangan menunjukkan raut wajah seolah aku akan mati." Ilyar mengatakannya dengam sangat lemah.

Ular itu dikurung di Dakrossa pada penjara level tinggi bukan tanpa sebab. Dia memiliki bisa mematikan dan ukuran tubuh saat ini bukanlah ukuran sesungguhnya. Dia bisa menjadi lebih besar dan menghancurkan satu desa dengan semburan bisa mematikan.

Bagaimana mungkin Ilyar mampu menangani bisa ular itu yang bahkan katanya satu tetes bisanya saja mampu menghancurkan kehidupan dalam danau besar.

"Aku bisa menanganinya. Aku tidak akan mati dengan mudah!" Ilyar mengepalkan tangan ketika bagian dalam tubuhnya terasa terbakar dan dihunjam ribuan jarum tak kasat mata. Sepasang mata abu-abunya menitikkan air mata kesakitan, tapi tidak ada suara tangis lolos karena dia merapatkan bibir rapat-rapat, berusaha meredam suara kesakitan.

Sekarang, semua orang di sana tegang karena melihat betapa mengerikannya Ilyar berusaha melawan bisa ular tersebut.

"Dia... benar-benar monster dari keluarga Valgard," komentar Valeris dengan suara agak bergetar.

1
Mila Sari
Thor upnya yg banyak donk,,
Iry: malam ya beb
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Diam...mengamati...berakhir EKSEKUSI😐😐😐
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya tambah seru aja thor..
Iry: hehehe iya beb
total 1 replies
Firniawati
ayo kak up lagi yg banyak 😍
Iry: sabar yahhhh, mungkin malam
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
intrik..ambisius & haus akan valisldasi disebuah kerajaan..memang sangat membagongkan..baik didunia nyata maupun cerita❤️❤️❤️❤️
Gesang
seruuuuu👍👍👍
Firniawati
sangat bagus ceritanya seru tidak monoton dan membosanka,,terus semangat ya kk othor 🥰
Iry: waaaahhh makasih banyak❤
total 1 replies
Firniawati
kak kapan update lagi?
Iry: aku update hari ini
total 1 replies
EL MARIA
kok sama kaya yg di fizo yaa.... yg di fizo udh tamat dari lama ini autor nya sama kah
CaH KangKung,
👣👣
𝐀⃝🥀Weny
lanjut lagi thor.. ceritamu yang ini tambah seru dan penuh tantangan😊
𝐀⃝🥀Weny: yeeey.. thanks thor❤️❤️❤️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!