Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerakan di Balik Layar
Pagi hari.
Kampung tempat Raka tinggal masih tenang. Udara pagi segar menyegarkan, suara ayam berkokok dari kejauhan.
Raka bangun seperti biasa, mandi cepat lalu siap menghadapi hari. Hari ini dia dapet pekerjaan baru – bantu bongkar muatan di gudang kecil dekat terminal. Cukup buat makan sehari-hari.
“Raka, ada orang cari kamu nih!”
Suara tetangga bapak Joni membuatnya berhenti di tengah jalan.
Di depan gerbang kampung, ada dua pria berpakaian resmi, berdiri dengan sikap yang kaku. Mereka tidak tersenyum.
“Kamu Raka?” salah satunya bertanya dengan nada yang tidak ramah.
“Iya. Ada apa?”
“Kita dari perusahaan Valen Group. Mau nanya beberapa hal tentang hubungan kamu sama Nona Arsenia Valen.”
Raka mengerutkan kening. Valen Group? Dia bahkan tidak tahu nama perusahaan tempat Arsenia bekerja.
“Hubungan? Cuma kenalan aja. Ketemu di warung dekat situ.”
Pria itu mencatat sesuatu di buku catatannya. “Kalau begitu, harap hati-hati ya. Jangan terlalu dekat dengan orang yang tidak sesuai dengan tingkat kamu. Bisa jadi masalah.”
Kata-kata itu seperti batu yang dilempar ke dalam kolam tenang. Raka tidak mengerti, tapi rasanya tidak nyaman.
“Kalau cuma itu, saya harus pergi kerja.”
Sebelum dia berjalan, pria kedua menyela. “Oh, satu lagi – gudang tempat kamu mau kerja hari ini? Mereka baru saja bilang butuh orang lebih sedikit. Mungkin kamu harus cari yang lain.”
Raka membeku. Bagaimana mereka bisa tahu tempat dia kerja?
Sementara itu, di kantor Valen Group.
Daniel duduk di mejanya, melihat laporan yang baru saja masuk. Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Bagus. Langkah pertama berhasil,” gumamnya.
Dia sudah mengirim timnya untuk "memberi peringatan" pada Raka, bahkan menyuruh beberapa mitra bisnis kecil untuk tidak menyewa jasa Raka. Bukan cara yang paling mulia, tapi bagi Daniel, tujuan lebih penting dari cara – dia harus memastikan Arsenia tetap fokus pada perusahaan, bukan pada pria tak dikenal yang bisa merusak segalanya.
“Pak Daniel, ada surat dari investor. Mereka ingin bertemu dengan Nona Arsenia tentang keputusan ekspansi kemarin,” ujar asistennya.
Daniel tersenyum lebih lebar. “Baik. Ajak mereka datang sore ini. Saya akan pastikan pertemuan itu menjadi titik balik.”
Siang hari.
Arsenia sedang meninjau data proyek baru ketika ponselnya berdering. Nomor yang tidak dikenal.
“Hello?”
“Nona Arsenia? Saya bapak Joni, tetangga Raka. Dia… dia kesusahan nih cari kerja hari ini. Ada beberapa orang yang bilang kalau tidak boleh nyewa dia. Katanya karena hubungan dia sama Anda.”
Arsenia langsung berdiri. Darahnya mendidih.
“Siapa saja orang itu?”
“Mereka bilang dari perusahaan Anda, Nona. Katanya ini untuk kebaikan semua orang.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arsenia mematikan ponsel dan langsung keluar dari kantornya. Asistennya terkejut melihatnya berjalan dengan langkah yang cepat dan penuh amarah.
Di jalan, dia mencoba menghubungi Raka tapi tidak bisa dihubungi. Dia langsung mengemudi ke arah warung kecil tempat mereka biasa bertemu.
Dan seperti biasa – Raka ada di sana. Tapi kali ini, wajahnya tidak seperti biasanya. Dia duduk sendirian, menyendok mie panas tanpa banyak makan.
“Raka.”
Dia menoleh, lalu segera berdiri. “Nona Arsenia. Saya tidak mau membuat Anda kesusahan.”
“Kesusahan? Apa kamu tahu siapa yang melakukan ini?”
Raka menggeleng. “Mereka bilang dari perusahaan Anda. Saya sudah bilang kan, kalau orang kantor Anda lihat akan heran. Sekarang malah jadi masalah.”
Arsenia mendekat, matanya terbakar api. “Ini bukan kesalahanmu. Jangan pernah berpikir begitu.”
Sebelum mereka bisa bicara lebih jauh, suara mobil mendekat. Daniel keluar dari mobilnya dengan wajah yang tenang.
“Nona Arsenia. Saya sudah mencari Anda. Investor sedang menunggu di kantor untuk membahas ekspansi.”
“Kamu tahu tentang yang terjadi pada Raka?” tanya Arsenia dengan nada yang dingin tapi penuh kemarahan.
Daniel mengangkat bahu. “Saya hanya melakukan tugas saya – melindungi perusahaan dan reputasi Anda. Pria ini tidak cocok untuk dunia kita.”
“Siapa kamu untuk memutuskan itu?” Arsenia melangkah ke depan, menghadang Daniel dari Raka. “Jangan pernah lagi mengganggunya. Kalau tidak, saya akan pastikan kamu tidak punya tempat lagi di perusahaan ini.”
Itu adalah kalimat pertama yang jelas menunjukkan bahwa Arsenia akan melindungi Raka. Daniel melihatnya dengan mata yang menyipit, menyadari bahwa perang yang akan terjadi jauh lebih besar dari yang dia bayangkan.
Malam hari.
Raka duduk di teras rumahnya, memikirkan semua yang terjadi. Arsenia datang padanya, bahkan berselisih dengan orang dari kantornya hanya untuk membela dia. Dia tidak tahu harus merasa senang atau khawatir.
Ponselnya berdering. Nomor Arsenia.
“Hello?”
“Kamu baik saja?” suara Arsenia terdengar lebih lembut dari biasanya.
“Iya. Terima kasih tadi.”
“Hari ini hanya permulaan. Dia tidak akan berhenti begitu saja. Kalau ada apa-apa, hubungi saya ya.”
Raka terdiam sejenak. “Kenapa Anda melakukan ini untuk saya, Nona? Kita kan cuma kenalan.”
Ada jeda sebentar di ujung lain jalur.
“Karena…” Arsenia berhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat. “Karena kamu menunjukkan padaku sesuatu yang sudah lama aku lupakan. Dan tidak ada yang punya hak untuk menyakitimu karena itu.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Raka mengangguk meskipun Arsenia tidak bisa melihatnya. Dia mulai menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dan entah kenapa, dia tidak terlalu keberatan dengan itu.
Di dalam kamarnya.
Arsenia menatap ke luar jendela. Dia tahu bahwa dengan membela Raka, dia telah membuat musuh yang berbahaya di dalam perusahaan sendiri. Daniel akan mencari cara lain untuk menghilangkan Raka dari kehidupannya.
Tapi dia tidak peduli.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia menemukan sesuatu yang lebih penting dari keuntungan dan kekuasaan. Dan dia akan melindunginya dengan segala cara.
Daniel sudah bergerak. Raka sudah merasakan dampaknya. Dan sekarang – Arsenia siap untuk bertempur.