NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23. Siasat Ketiga

Lampu ruang tengah Unit 402 masih menyala terang hingga pukul dua pagi, memantul di permukaan meja marmer yang biasanya bersih namun kini tertutup "sampah" rencana pernikahan.

Setelah deklarasi Saga beberapa hari lalu tentang "membangun jalan sendiri", suasana di apartemen itu tidak lantas berubah menjadi panggung romantis yang manis. Sebaliknya, meja makan mereka kini resmi berubah menjadi pusat komando perang.

Sketsa arsitektur Saga yang biasanya tertata rapi kini tersingkir secara kasar oleh tumpukan kontrak vendor, brosur suvenir yang tampak norak, dan daftar tamu undangan yang panjangnya mirip antrean bantuan sosial. Saga duduk tegak dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang menegang saat ia menatap tajam ke arah layar laptop.

Di seberangnya, Nala tampak seperti kontras yang sangat nyata. Dengan daster gambar beruang kutub yang sudah pudar warnanya dan rambut yang dicepol asal-asalan menggunakan pensil kayu, ia duduk bersila di atas kursi. Tangannya sibuk merogoh kantong keripik pedas, menimbulkan suara kriuk yang sangat konsisten dan sangat mengganggu.

"Bisa berhenti makan itu? Suaranya benar-benar merusak konsentrasi saya," cetus Saga tanpa menoleh. Suaranya datar, kaku, dan penuh aura jutek yang sudah menjadi ciri khasnya.

Nala berhenti mengunyah sebentar, menelan keripiknya dengan suara berisik yang disengaja, lalu menunjuk Saga menggunakan potongan keripik yang tersisa.

"Aku butuh micin supaya otak aku jalan, Mas! Mas Saga pikir gampang mikirin cara batalin nikahan tanpa bikin Mama pingsan? Lagian, ide 'Siasat Ketiga' Mas itu masih terlalu abstrak. Kayak desain-desain gedung Mas itu lho, estetik sih, tapi nggak jelas pintu masuknya di mana."

Saga menutup laptopnya dengan suara brak yang cukup keras. Ia memutar kursinya, menatap Nala dengan tatapan dingin.

"Pintu masuknya adalah kejujuran yang brutal, Nala. Kita akan mendatangi mereka satu per satu. Dan perjalanan ke Solo besok adalah pembukanya. Eyang sudah memberikan 'titah' untuk bertemu, dan saya tidak bisa menolaknya lebih lama lagi."

Nala langsung lemas, bahunya merosot.

"Solo? Mas, jauh-jauh ke sana cuma buat disidang? Aku belum siap mental ketemu Eyang yang kalau bicara saja sudah berasa kayak dapet kuliah moral."

"Bukan disidang. Tapi menyerang," sahut Saga dingin.

"Saya mau kita punya daftar

'Dosa Pernikahan'. Hal-hal yang akan membuat Eyang berpikir kalau kita disatukan, Jawa Tengah bisa gempa. Kita harus menunjukkan bahwa kita adalah pasangan paling tidak cocok dalam sejarah silsilah keluarga kita."

Nala meletakkan bungkus keripiknya. Matanya tiba-tiba berbinar nakal. "Oh, kalau itu sih aku jago. Kita harus bikin mereka mikir kalau kita ini pasangan paling toxic di muka bumi. Mas harus jadi si jutek yang pelit, dan aku jadi cewek matre yang nggak tahu adat. Gimana?"

Saga menatap Nala datar, meneliti penampilan Nala dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kamu tidak perlu akting untuk jadi cewek yang tidak tahu adat. Itu sudah bakat alami kamu sejak lahir."

"Heh! Ngajak berantem ya?!" Nala melotot, tangannya sudah siap melempar bantal kursi ke arah wajah tampan nan menyebalkan itu.

"Simpan tenaga kamu, Nala. H-20," potong Saga cepat, suaranya sedikit merendah. "Besok kita akan menghadapi ujian yang sebenarnya."

Keesokan harinya, Solo menyambut mereka dengan udara yang terasa lebih berat namun penuh ketenangan yang mengancam. Mereka memenuhi undangan Eyang di rumah joglo besarnya yang asri, sebuah kediaman yang seolah-olah waktu berhenti berputar di sana.

Wangi kayu jati tua yang lembap, aroma dupa yang tipis, dan suara gamelan lamat-lamat dari kejauhan menyapa indra penciuman begitu mereka memasuki pendopo.

Eyang duduk di kursi ukiran kayu jati yang sangat besar, tampak begitu berwibawa dengan kain batik motif parang yang tersampir rapi.

Di sampingnya, Mama Saga sudah duduk lebih dulu, memberikan senyum yang sebenarnya lebih merupakan perintah untuk segera duduk dan bersikap manis.

"Eyang, aku rasa kain beludru untuk dekorasi di Jakarta nanti benar-benar tidak cocok," ujar Saga memulai serangan pertama setelah basa-basi yang sangat kaku.

Suaranya melembut secara drastis, menggunakan kata ganti 'aku' yang membuat Nala harus menahan diri agar tidak mendelik heran.

"Aku punya alergi debu yang parah kalau dekat-dekat kain seperti itu. Aku khawatir nanti di hari-H justru akan bersin-bersin di depan tamu. Nala juga setuju, kan?"

Nala yang sedang memegang gelas wedang jahe yang panas hampir saja menjatuhkannya karena kaget mendengar akting Saga. Ia buru-buru mengangguk, mencoba terlihat menyebalkan dan tidak punya tata krama dengan menyeruput wedangnya hingga berbunyi sruuup.

"Iya, Eyang. Beludru itu... berat, berasa kayak mau nikah di dalam peti mati," ujar Nala asal-asalan.

"Aku maunya yang temanya Industrial. Banyak besi karatan, kabel-kabel melilit, dan kalau bisa pakai seng-seng bekas sebagai latar belakangnya. Biar keren, Eyang."

Eyang terdiam sebentar, menatap mereka berdua dari balik kacamata emasnya yang melorot di hidung. Beliau tidak langsung marah, melainkan mengetukkan tongkat kayunya ke lantai kayu jati itu sebanyak satu kali. Suaranya tenang namun dalam.

"Seng bekas? Nala, kamu mau pengantinnya terlihat seperti sedang mengungsi dari banjir di bantaran Bengawan Solo?"

Mama yang ikut mendampingi di sana sudah mulai memijat pelipisnya, wajahnya menunjukkan tanda-tanda migrain.

"Saga, jangan aneh-aneh. Persiapan di Jakarta sudah hampir matang delapan puluh persen. Semuanya sudah sesuai tradisi keluarga."

"Tapi ini soal kenyamanan aku, Ma," balas Saga tetap tenang, suaranya tetap lembut namun ada nada keras yang tidak bisa diganggu gugat.

"Aku yang akan berdiri di sana, bukan vendor dekorasi. Aku ingin sesuatu yang... jujur."

Eyang menghela napas, sebuah suara yang terdengar lebih berat daripada omelan mana pun.

"Kalian berdua ini... sedang merencanakan sesuatu?"

Nala membeku. Apakah Eyang setajam itu?

Malam harinya, setelah sesi perdebatan yang berakhir buntu, mereka berdua duduk di tepi pendopo rumah Solo. Udara malam di kota ini terasa jauh lebih menusuk daripada Jakarta, membawa aroma tanah basah dan ketenangan yang justru membuat Nala merasa makin gelisah.

"Gagal, kan? Ide 'alergi beludru' Mas itu cupu banget buat lawan Eyang. Beliau bahkan nggak kedip waktu Mas bilang mau bersin!" ejek Nala sambil memeluk lututnya di atas daster tipis yang ia lapisi dengan kardigan rajut.

"Setidaknya saya mencoba mencari alasan medis. Ide 'dekorasi seng' kamu itu yang jauh lebih tidak masuk akal. Saya bahkan tidak sanggup membela kamu saat Eyang menyindir soal banjir tadi," balas Saga kepada Nala.

Di tempat sepi ini, ia kembali menggunakan kata ganti 'saya' dan 'kamu' yang menjaga jarak, seolah-olah kedekatan di depan Eyang tadi hanyalah sebuah kostum yang baru saja ia lepas.

Nala menghela napas panjang, kepalanya mendongak menatap rembulan Solo yang tampak sangat terang.

"H-20, Mas. Dan kita malah terjebak di Solo dengan rencana yang gagal total. Kalau kita nggak bisa batalin ini, aku beneran bakal jadi manekin porselen yang cuma bisa senyum palsu di pesta nanti."

Saga menoleh ke arah Nala. Dalam temaram lampu taman, wajah Nala yang biasanya ceria tampak sedikit lebih rapuh. Ada garis kelelahan di matanya yang selama ini ia sembunyikan di balik candaan keripik micinnya.

"Nala," panggil Saga pelan. Suaranya tidak lagi sekaku biasanya.

"Apa?"

"Kalau... seandainya semua sabotase ini benar-benar gagal. Dan kita benar-benar harus berdiri di pelaminan dua puluh hari lagi. Apa yang akan kamu lakukan?"

Nala diam sejenak, membiarkan keheningan malam menyerap pertanyaan itu.

"Aku bakal bikin Mas nyesel sesumur hidup. Aku bakal jadi istri yang paling berisik, yang kerjaannya cuma makan keripik micin di atas kasur mahal Mas, dan yang bakal ngerusak semua tatanan hidup Mas yang perfeksionis itu."

Saga terkekeh. Tipis, hampir tak terdengar, namun itu adalah tawa paling tulus yang pernah Nala dengar dari mulut pria itu.

"Saya rasa saya sudah mulai menyesal sekarang."

"Tuh kan! Jutek lagi!" Nala memukul lengan Saga dengan refleks.

Saga tidak menghindar. Ia membiarkan pukulan itu mendarat, lalu ia menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan kebun belakang rumah Eyang.

"Saya rasa kita masih punya waktu untuk membuat satu kekacauan besar lagi saat fitting di Bandung lusa nanti. Tapi Nala... kalaupun kita harus 'kalah' dari mereka, pastikan kita kalah bersama-sama."

Nala tertegun.

Kalimat Saga barusan tidak terdengar seperti instruksi dari seorang atasan dalam sebuah misi sabotase. Itu terdengar seperti sebuah pengakuan, atau mungkin, sebuah janji tersirat bahwa di tengah tekanan keluarga besar di Solo ini, Nala tidak benar-benar sendirian dalam kegilaannya.

"Janji ya, Mas? Kalau gagal, jangan tinggalin aku sendirian di pelaminan?" gumam Nala pelan.

Saga tidak menjawab dengan kata-kata, namun ia mengangguk sangat pelan. Dan bagi Nala, itu sudah cukup untuk malam ini.

Besok, mereka akan kembali ke perjalanan darat menuju Bandung. Satu lagi benteng pertahanan yang harus mereka hancurkan: Mama dan egonya soal keanggunan.

1
Calisa
alurnya berubah drastis banget ya untuk bab ini. tiba2 muncul papanya saga yg dari awal bab nggak pernah dibahas. ibu Sofia sama eyang Utari malah hilang
Calisa
sweet banget sagaaa 🤧♥️
Calisa
agak aneh ya. tadi kan Nala udah ngobrol sama saga di dapur, kenapa jadi baru keluar kamar
Calisa: oohh gitu ya kak. pantes ceritanya agak2 gak sinkron antara 1 adegan sama yg lain..
semangat ya kaa. aku suka sama tulisanmu, gaya bahasanya. sayang banget cerita ini belum banyak yg baca. padahal dari segi penulisan, beda sama yg lain.
total 2 replies
Calisa
loh bukannya eyang Utari udah pernah ketemu Nala ya pas makan di rumah saga?
kok kalimatnya seolah2 baru ketemu sih, apalagi sampai bandingin dengan di foto.
Senja_Puan: terima kasih banyak kakak sayang... Auto langsung revisi
total 1 replies
Calisa
wkwkwk.. pengangguran nya harus elit dong mas 🤣🤣
Calisa
nah bener ini. jadi diri sendiri aja.. good Nala
Calisa
kalau bohongnya totalitas begini pas ketahuan malu banget
Calisa
walah walaah.. jangan2 ibunya saga nih
Calisa
😂😂😂
Calisa
wkwk.. pertemuan pertamanya epic banget ya 🤣
Calisa
bisa langsung switch mode 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!