Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Yang Tidak Diakui
POV Zayn
Zayn Devandra bukan tipe pria yang mudah terusik.
Di tengah ballroom yang dipenuhi cahaya kristal dan percakapan berkelas, ia berdiri tegap dengan segelas minuman di tangan, dikelilingi oleh para kolega bisnis yang berbicara tentang angka, proyek, dan peluang investasi.
Dunia yang ia kuasai.
Dunia yang ia pahami.
Dan biasanya dunia yang sepenuhnya ia kendalikan.
Namun malam ini… ada satu hal kecil yang mengganggu ritmenya.
Sesuatu yang seharusnya tidak penting.
Sesuatu yang seharusnya bisa ia abaikan.
Aluna.
Tatapannya kembali bergeser, hampir tanpa sadar.
Ke sudut ruangan.
Ke tempat di mana gadis itu kini duduk bersama Arga.
Rahangnya mengeras.
Arga.
Dari sekian banyak orang di ruangan ini, kenapa harus pria itu?
“Zayn, bagaimana menurutmu proposal ini?”
Suara salah satu koleganya menarik perhatian kembali. Zayn mengalihkan pandangan, memaksakan fokusnya pada pembicaraan di depannya.
“Menarik,” jawabnya singkat, nada suaranya tetap datar dan profesional. “Tapi perlu revisi di bagian distribusi.”
Ia berbicara lancar. Tepat. Tidak ada celah.
Seolah pikirannya sepenuhnya ada di sini.
Padahal tidak.
Sebagian dari dirinya… masih tertinggal di sudut ruangan itu.
Arga tertawa.
Zayn bisa melihatnya dari kejauhan.
Pria itu duduk santai, tubuhnya sedikit condong ke arah Aluna. Terlalu dekat. Terlalu nyaman.
Dan Aluna…
Zayn memperhatikan lebih tajam.
Gadis itu tidak terlihat canggung seperti saat pertama kali ia membawanya masuk ke ruangan ini. Tidak kaku. Tidak kikuk.
Bahkan
Dia tersenyum.
Senyum kecil, tapi cukup jelas untuk membuat sesuatu di dalam dada Zayn terasa… tidak pada tempatnya.
Sial.
Tangannya mengencang di sekitar gelas.
Seharusnya tadi dia menolak.
Seharusnya dia tidak membiarkan Arga membawanya pergi begitu saja.
Apa yang dia pikirkan?
Atau… memang dia tidak berpikir?
Zayn menghembuskan napas pelan, mencoba meredam sesuatu yang mulai mengganggu ketenangannya.
Gadis itu tidak mengerti apa-apa.
Polos. Terlalu polos untuk dunia seperti ini.
Kalau seseorang seperti Arga mendekatinya
Pikirannya terhenti.
“pak Zayn?”
Ia tersadar.
“Ya?”
“Kamu yakin baik-baik saja?” tanya koleganya, memperhatikan ekspresi wajahnya yang sedikit berubah.
Zayn mengangguk singkat.
“Tentu.”
Jawaban otomatis.
Jawaban yang sudah terlalu sering ia gunakan.
Namun saat ia kembali melirik
Arga kini berbicara lebih dekat.
Terlalu dekat.
Zayn bisa melihat jelas bagaimana pria itu mencondongkan tubuhnya, mengatakan sesuatu yang membuat Aluna tertawa kecil.
Tertawa.
Bukan senyum sopan.
Bukan ekspresi terpaksa.
Tapi… tawa yang benar-benar lepas.
Rahang Zayn mengeras.
Sial.
Seharusnya tadi dia melarang.
Apa pun alasannya.
Apa pun konsekuensinya.
Dia seharusnya tidak mengizinkan itu terjadi.
Gadis itu pasti hanya mengangguk saja.
Tidak tahu harus menolak.
Tidak tahu bagaimana menghadapi orang seperti Arga.
Dan sekarang
Zayn mengalihkan pandangannya dengan tajam.
Terlambat.
“Kamu terlihat tidak fokus.”
Suara lain menyela.
Seorang rekan bisnis berdiri di sampingnya, membawa topik baru yang jelas membutuhkan perhatian.
“Kita belum membahas soal kerja sama dengan pihak luar negeri itu,” lanjut pria tersebut.
Zayn mengangguk, memaksa dirinya kembali ke percakapan.
“Ya, kita bisa,,”
Namun kalimatnya terpotong.
Karena tanpa sadar
Matanya kembali bergerak.
Mencari.
Menemukan.
Aluna.
Masih di sana.
Masih bersama Arga.
Dan yang lebih mengganggu—
Dia terlihat… nyaman.
Perasaan itu datang lagi.
Tipis. Halus. Tapi cukup untuk mengusik.
Zayn tidak menyukainya.
Ia tidak terbiasa dengan hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan Aluna
Entah sejak kapan gadis itu menjadi salah satu di antaranya.
“Permisi.”
Zayn akhirnya angkat bicara, memotong percakapan dengan tenang.
“Ada yang harus saya urus sebentar.”
Ia tidak menunggu jawaban.
Langkahnya sudah bergerak.
Satu langkah.
Dua langkah.
Fokusnya hanya satu
Sudut ruangan itu.
Namun
“Pak Zayn, tunggu.”
Langkahnya terhenti.
Sial
Ia menutup mata sesaat, lalu berbalik.
Rekan bisnisnya yang lain kini berdiri di belakangnya, jelas tidak berniat membiarkannya pergi begitu saja.
“Kita belum selesai bicara soal proyek itu,” ucap pria tersebut.
Zayn menahan napas.
Untuk sesaat
Ia benar-benar ingin mengabaikannya.
Berjalan pergi.
Menghampiri Aluna.
Menghentikan apa pun yang sedang terjadi di sana.
Tapi
Itu bukan dirinya.
Bukan Zayn yang dikenal semua orang.
“Ini penting,” lanjut pria itu.
Tentu saja penting.
Semua hal di dunia Zayn selalu penting.
Bisnis. Relasi. Reputasi.
Semua tersusun rapi dalam prioritas yang tidak pernah ia langgar.
Tapi malam ini
Ada satu hal yang mencoba keluar dari urutan itu.
Dan Zayn… tidak menyukainya.
Ia melirik sekali lagi.
Ke arah Aluna.
Gadis itu masih duduk di sana.
Masih berbicara dengan Arga.
Masih… terlihat baik-baik saja.
Dan itu seharusnya cukup.
Seharusnya itu berarti tidak ada masalah.
Tapi
Kenapa rasanya justru sebaliknya?
“Sial.”
Kali ini, kata itu benar-benar lolos dari bibirnya. Pelan, nyaris tak terdengar.
Namun cukup untuk membuat dirinya sendiri menyadari
Ia sudah melangkah terlalu jauh.
Bukan secara fisik.
Tapi… dalam pikirannya.
Seharusnya tadi dia melarang.
Seharusnya dia tidak memberi izin.
Seharusnya,,,,
Zayn mengatupkan rahangnya.
Tidak ada gunanya memikirkan hal yang sudah terjadi.
Ia bukan tipe pria yang menyesali keputusan.
Tapi untuk pertama kalinya
Keputusan kecil itu terasa… salah.
“Baik,” akhirnya ia berkata, kembali menatap rekan bisnisnya. “Kita lanjutkan.”
Nada suaranya kembali dingin.
Terkontrol.
Seperti biasa.
Namun matanya
Masih sesekali bergerak.
Masih mencari.
Masih memastikan.
Karena meskipun ia berdiri di tengah dunianya—
Ada satu hal yang tidak bisa ia lepaskan sepenuhnya malam ini.
Seorang gadis polos…
Yang dengan mudah mengangguk saat diminta ikut orang lain.
Dan seorang pria
Yang terlalu pandai membuat suasana terasa nyaman.
Zayn tidak menyukai kombinasi itu.
Sama sekali tidak.
Dan lebih dari itu
Ia mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada sekadar rasa tidak nyaman.
Ia… tidak suka melihat Aluna bersama pria lain.
Kesadaran itu datang pelan.
Tapi begitu jelas.
Begitu tajam.
Dan begitu… berbahaya.
Karena Zayn Devandra tidak pernah bereaksi tanpa alasan.
Dan jika ia mulai bereaksi
Artinya, sesuatu telah berubah.
Dan perubahan…
Adalah hal terakhir yang ia inginkan.
Menurut Kalian Zayn Cemburu atau Egonya terusik saja?????