NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Kenapa?

​Malam di kawasan hutan pinus Lembang merangkak semakin larut, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di dekat sisa-sisa api unggun yang mulai meredup, Sinta baru saja selesai mengikat simpul terakhir pada perban putih yang melilit lengan Angga Raditya. Tangan gadis berlesung pipi itu bergerak dengan sangat hati-hati, seolah ia sedang menangani sebuah artefak kaca yang sangat rapuh dan berharga.

​Setelah memastikan perban itu cukup kencang untuk menahan pendarahan namun tidak terlalu ketat hingga menghambat aliran darah, Sinta perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang masih sedikit sembab karena menangis tadi sore menatap langsung ke arah bahu kanan Angga.

​Gadis itu menggigit bibir bawahnya, raut kekhawatiran yang sangat murni dan tulus tercetak jelas di wajah cantiknya. Ia mengingat kembali bagaimana suara benturan keras terdengar saat Angga menjadikan punggung dan bahunya sebagai tameng untuk tubuh Anandara yang menghantam batu raksasa di dasar jurang.

​"Gimana bahunya, Ngga?" tanya Sinta dengan suara lembut yang bergetar samar, sarat akan kecemasan yang mendalam. Ia bahkan tidak berani menyentuh area bahu pemuda itu, takut jika sentuhannya justru akan menambah rasa sakit yang sedang ditahan oleh Angga.

​Mendengar pertanyaan penuh perhatian itu, Angga menarik napas pelan. Pemuda bermata elang itu mengalihkan pandangannya dari arah tenda medis yang telah tertutup rapat, lalu menatap Sinta. Ia melihat bagaimana gadis di depannya ini menumpahkan seluruh kasih sayangnya melalui tindakan-tindakan kecil. Sinta adalah wujud nyata dari kebaikan hati seorang perempuan.

​Namun, sebaik apa pun Sinta, selembut apa pun gadis itu merawat lukanya, dada Angga tidak memberikan respons apa pun selain rasa terima kasih yang datar.

​Angga memaksakan sebuah senyum tipis, sangat tipis, untuk menghargai usaha gadis itu. Ia menggerakkan bahu kanannya sedikit, membiarkan rasa ngilu menyengat sarafnya, lalu menghentikannya.

​"Cuma memar kebentur aja, nggak ada yang serius, Sin," jawab Angga dengan nada baritonnya yang tenang, berusaha menutupi fakta bahwa bahunya terasa seperti baru saja dihantam palu godam berulang kali. "Makasih ya udah ngerawat gue."

​Sinta mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang hingga bahunya sedikit merosot. "Syukurlah kalau cuma memar. Gue takut banget bahu lo retak atau geser, Ngga. Lo bener-bener nekat tadi siang. Sekali lagi, makasih banyak ya udah bawa Nanda kembali dengan selamat."

​"Iya. Sama-sama," balas Angga singkat.

​Sinta tersenyum manis, memungut kotak P3K-nya, lalu berpamitan untuk kembali ke tenda medis guna menemani Anandara tidur. Sepeninggal Sinta, keheningan kembali mengambil alih. Api unggun di depan Angga hanya menyisakan bara merah yang perlahan tertiup angin malam.

​Pemuda itu kembali menatap kosong ke arah kegelapan. Tangan kirinya tanpa sadar naik meremas dada kirinya sendiri, tepat di atas jantungnya. Rasa ngilu di bahu kanan dan perih di kedua lengannya yang tergores duri mendadak terasa kebas, tidak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan denyutan menyiksa yang berpusat di dalam dadanya.

​Luka fisiknya telah dibalut dengan rapi oleh Sinta, namun luka di jiwanya menganga semakin lebar, berdarah, dan membusuk akibat tatapan kosong yang dilemparkan oleh Anandara dari ambang pintu tenda tadi.

​Yang sakit itu hati, bukan badan gue, Sin, batin Angga merintih dalam kebisuan malam yang pekat.

​Angga merasa dirinya sedang dipermainkan dalam sebuah labirin yang tak memiliki jalan keluar. Ia rela menghancurkan tubuhnya sendiri, rela mempertaruhkan nyawanya, melompat ke dasar jurang maut hanya untuk memastikan Nyonya Es itu tetap bernapas. Namun, apa yang ia dapatkan? Bukan ucapan terima kasih. Bukan pelukan. Bukan sebersit kehangatan. Melainkan tatapan yang menyuruhnya pergi untuk selamanya.

​Apa kesalahan fatal yang gue perbuat sampai dia mengunci pintu hatinya serapat ini? tanya Angga pada udara malam yang membeku. Ia tahu Anandara memendam perasaan yang sama. Matanya di kantin tempo hari tidak mungkin berbohong. Tapi teka-teki tentang mengapa gadis itu lebih memilih menelan pecahan kaca daripada mengakui perasaannya, membuat Angga nyaris gila malam itu.

​Keesokan harinya, kabut tebal berwarna putih susu masih menyelimuti kawasan perkemahan Lembang saat fajar mulai menyingsing. Udara pagi terasa sangat menusuk tulang, memicu uap putih keluar dari mulut setiap kali seseorang berbicara. Para mahasiswa mulai terbangun dengan tubuh yang pegal-pegal, bersiap mengemas barang-barang mereka untuk acara penutupan makrab sebelum bus menjemput mereka kembali ke kampus.

​Di sudut perkemahan yang agak jauh dari kerumunan, Angga Raditya duduk sendirian di atas sebuah batang pohon tumbang yang sama seperti malam tadi. Ia mengenakan jaket parkanya dengan tudung yang dinaikkan, menyembunyikan sebagian wajahnya. Kedua tangannya yang masih terbalut perban dimasukkan ke dalam saku jaket.

​Pemuda itu sedang melamun. Matanya menatap kosong ke arah kabut yang bergerak turun menyelimuti tenda-tenda. Pikirannya masih terjebak pada kejadian di tepi jurang, pada suara jeritan Anandara yang menyuruhnya melepaskan genggaman, dan pada kebisuan gadis itu tadi malam. Ia kurang tidur, matanya sedikit memerah, dan bahunya terasa semakin kaku akibat udara dingin.

​Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang ringan namun tegas terdengar memecah keheningan embun pagi, mematahkan ranting-ranting kering yang berserakan di atas tanah.

​Angga tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma parfum yang sangat samar, bercampur dengan hawa dingin yang mengintimidasi, sudah cukup menjadi identitas yang tak terbantahkan.

​Pemuda itu menoleh perlahan.

​Anandara berdiri sekitar dua meter di depannya. Gadis itu mengenakan jaket tebal berwarna hitam, rambut panjangnya diikat ekor kuda yang rapi, dan sebuah plester luka menempel di pelipis kanannya, kontras dengan kulit wajahnya yang pucat pasi.

​Jantung Angga seketika berdetak satu ketukan lebih cepat. Sebuah percikan harapan kecil mendadak menyala di dadanya. Apakah gadis ini akhirnya menurunkan egonya? Apakah Nyonya Es ini datang untuk berterima kasih? Ataukah dinding kebisuan itu akhirnya akan runtuh pagi ini?

​Namun, percikan harapan itu disiram dengan air es yang mematikan tepat pada detik berikutnya.

​Anandara berdiri tegak. Postur tubuhnya memancarkan keangkuhan absolut. Mata hitam legamnya yang kemarin malam menyiratkan kepedihan yang sangat dalam, kini telah dibekukan kembali secara sempurna. Tidak ada satu pun celah kerentanan yang tersisa. Wajah pualam itu mengeras, seolah dipahat dari bongkahan es abadi di kutub utara.

​Di dalam dadanya, jantung Anandara sebenarnya sedang berontak, memompa darah dengan kecepatan yang menyakitkan. Setiap sel di tubuhnya berteriak memohon untuk memeluk pemuda yang sedang duduk di depannya ini. Ia melihat perban di lengan Angga, dan rasanya ia ingin menangis saat itu juga, menciumi luka-luka yang diakibatkan oleh keegoisannya.

​Tapi logikanya mengikatnya dengan rantai baja. Ia telah bersumpah pada dirinya sendiri. Sinta mencintai Angga. Jika ia membiarkan Angga mendekat, jika ia memberikan sedikit saja ruang, maka pengorbanan berdarah yang ia lakukan di tepi jurang kemarin akan sia-sia. Ia harus menyelesaikan apa yang telah ia mulai. Ia harus membuat Angga benar-benar membencinya hingga tak tersisa sedikit pun celah untuk cinta.

​Dengan sekuat tenaga, Anandara menekan seluruh perasaannya ke dasar palung jiwanya. Ia menatap Angga dengan sorot mata yang luar biasa dingin, meremehkan, dan penuh permusuhan.

​"Lain kali," desis Anandara memecah keheningan, suaranya sangat ketus, tajam, dan memotong udara pagi bagai sebilah belati es. "Jangan sok jadi pahlawan di hadapan gue!"

​Kata-kata itu meluncur tanpa ampun, menghantam ulu hati Angga dengan telak.

​Angga terkesiap. Matanya sedikit melebar, tak percaya dengan apa yang baru saja menyapa indera pendengarannya. Pagi ini, setelah ia mempertaruhkan nyawanya, setelah ia menghancurkan bahunya sendiri demi gadis ini, kalimat pertama yang keluar dari bibir gadis itu adalah sebuah hinaan. Bukan sekadar penolakan, melainkan sebuah serangan yang menginjak-injak harga dirinya hingga rata dengan tanah.

​Keheningan yang mematikan membekap mereka berdua selama beberapa detik. Hanya suara angin pegunungan yang berdesir melewati ranting pohon pinus yang terdengar.

​Di dalam dada Angga, kesabaran yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah akhirnya hancur berkeping-keping. Rasa penasaran, harga diri yang terkoyak, dan amarah akibat merasa dipermainkan meledak menjadi satu kesatuan yang tak bisa lagi dibendung.

​Angga bangkit berdiri dengan gerakan yang tiba-tiba. Ia mengabaikan rasa ngilu yang menusuk bahu kanannya. Posturnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan yang menutupi tubuh Anandara. Matanya yang tajam bak elang kini menyalang, menatap lurus menembus dinding pertahanan Nyonya Es di depannya.

​"Mau sampai kapan lo kaya gini?!" bentak Angga. Suara baritonnya menggelegar, bergetar oleh amarah dan frustrasi yang sangat mendalam. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga hanya tersisa satu jengkal. "Mau sampai kapan lo pura-pura kaya gini, Nanda?!"

​Pertanyaan retoris itu menghantam wajah Anandara layaknya badai.

​"Lo pikir gue bodoh?!" lanjut Angga dengan napas memburu, menatap tepat ke dalam bola mata hitam legam gadis itu. "Lo pikir gue nggak bisa lihat kebohongan di mata lo?! Lo teriak benci sama gue, lo ngusir gue, lo lebih milih mati jatuh ke jurang daripada nerima tangan gue! Tapi mata lo... sorot mata lo setiap kali lo natap gue itu berteriak minta tolong! Apa susahnya lo jujur?! Kenapa lo harus nyiksa diri lo sendiri dan nyiksa gue dengan semua sandiwara sialan ini?!"

​DEG!

​Dunia Anandara berhenti berputar. Udara di sekelilingnya seketika tersedot habis.

​Serangan verbal Angga yang begitu tepat sasaran itu menelanjangi seluruh rahasianya dalam satu tarikan napas. Dinding titanium yang ia bangun dengan air mata dan darah itu retak parah.

​Angga tahu. Laki-laki ini tahu bahwa ia sedang berpura-pura. Laki-laki ini bisa membaca jeritan hatinya yang paling sunyi.

​Anandara diam mematung. Seluruh persendian di tubuhnya kaku. Bibirnya sedikit bergetar, terbuka namun tak ada satu pun suara yang mampu keluar dari tenggorokannya.

​Di detik itu juga, pertahanan Nyonya Es itu runtuh sepenuhnya dari dalam. Topeng keangkuhan dan kebencian yang ia pasang dengan susah payah menguap tak berbekas. Matanya yang tadi memancarkan es abadi, kini meleleh dengan sangat cepat.

​Sorot mata hitam legam itu perlahan berubah, menampilkan sebuah pemandangan yang menghancurkan hati siapa pun yang melihatnya.

​Mata itu memancarkan sebuah kesedihan yang luar biasa absolut. Sebuah penderitaan yang tak berujung, keputusasaan seorang martir, dan cinta yang menangis darah di dalam sangkar pengorbanan. Anandara menatap Angga dengan sorot mata yang seolah merintih: Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu hingga rasanya ingin mati. Tapi aku tidak bisa. Ibuku adalah pengkhianat, dan aku tidak akan mengkhianati Sinta. Tolong, jangan memaksaku untuk membongkar lukaku. Biarkan aku berbohong. Biarkan aku berdarah sendirian.

​Melihat perubahan drastis pada mata gadis itu, amarah di dada Angga mendadak sirna, seolah disiram oleh air terjun es. Pemuda itu terbungkam. Rahangnya mengendur. Ia baru saja melihat sebuah jiwa yang sedang menjerit kesakitan, terperangkap di balik sepasang mata obsidian itu.

​Angga ingin mengulurkan tangannya, ingin menarik gadis ini ke dalam pelukannya dan menyuruhnya berhenti berbohong, berhenti menyiksa dirinya sendiri. Ia melangkah selangkah lebih maju, tangannya sedikit terangkat.

​Namun, sebelum jemari Angga sempat menyentuh lengannya, logika Anandara kembali membajak sistem kesadarannya dengan sangat brutal.

​Bayangan Sinta yang menangis meraung-raung di atas tebing, bayangan Sinta yang dengan penuh cinta membalut luka Angga tadi malam, menghantam otak Anandara layaknya palu godam. Sadarlah, Nanda! Jika kau menyerah sekarang, kau adalah monster pengkhianat!

​Dengan gerakan yang kasar dan sangat tiba-tiba, Anandara mundur selangkah, menepis jarak yang nyaris memudar di antara mereka.

​Ia memalingkan wajahnya yang memucat dan penuh dengan sorot kesedihan itu, menolak untuk memberikan satu patah kata pun, menolak untuk menjawab pertanyaan Angga, karena satu saja kata jujur yang keluar dari mulutnya akan menghancurkan persahabatannya dengan Sinta.

​Tanpa mengatakan apa-apa, tanpa menoleh lagi, Anandara berbalik. Gadis itu berjalan cepat meninggalkan Angga, langkahnya sedikit gontai dan tak beraturan, melarikan diri dari pemuda yang berhasil menguliti jiwanya hingga ke dasar. Ia lari membawa serta rahasianya yang semakin berat dan menyiksanya.

​Di tempatnya berdiri, Angga hanya bisa menatap punggung gadis yang perlahan menghilang di balik kabut tebal itu. Pemuda itu mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Frustrasi, rasa sakit, dan sebuah rasa ingin melindungi yang luar biasa besar berbaur menjadi satu di dalam dadanya. Ia tidak pernah merasa segagal ini dalam memahami seseorang.

​Namun, tanpa sepengetahuan Angga maupun Anandara, adegan konfrontasi emosional yang luar biasa dramatis dan menyayat hati itu tidak terjadi dalam ruang hampa. Ada sebuah pasang mata lain yang menyaksikannya sejak awal hingga akhir.

​Di balik batang pohon pinus raksasa yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat Angga berdiri, tersembunyi oleh bayang-bayang kabut pagi, sosok Dimas berdiri dengan tenang.

​Pemuda berkacamata itu mengenakan jaket hoodie abu-abunya, menyandarkan sebelah bahunya pada batang pohon yang kasar. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Dari posisinya yang strategis, ia bisa mendengar dengan jelas bentakan Angga, dan ia bisa melihat dengan sangat detail bagaimana topeng Anandara runtuh menjadi sorot kesedihan yang absolut sebelum gadis itu melarikan diri.

​Dimas menghela napas panjang, uap putih keluar dari bibirnya yang menyunggingkan sebuah senyum sinis namun getir.

​Ia kembali menggelengkan kepalanya dengan lambat, sebuah kebiasaan yang kini seolah menjadi refleks otomatis setiap kali ia menyaksikan dinamika hubungan keempat orang di dalam lingkaran setan ini.

​"Sungguh drama yang irasional," gumam Dimas pelan, mengutuk kebodohan manusia yang diakibatkan oleh cinta.

​Di dalam kepala jenius Dimas, sebuah kalkulasi rasionalitas sedang membedah adegan tadi. Kalian berdua saling mencintai, batin Dimas mengamati Angga yang masih mematung menatap kepergian Anandara. Angga, lo udah tahu dia pura-pura, tapi lo maksa dia buat jujur dengan cara ngebentak. Lo lupa kalau Nyonya Es itu memegang prinsip pengorbanannya lebih erat dari nyawanya sendiri. Semakin lo desak, semakin dia bakal ngelukain dirinya sendiri buat nepatin janjinya ke Sinta.

​Dimas menatap ke arah jalur di mana Anandara menghilang. Dan lo, Nanda... lo itu cewek paling jenius di angkatan kita. Otak lo bisa mecahin soal akuntansi paling rumit dalam hitungan menit. Tapi soal hati, lo bertingkah layaknya orang paling tolol di dunia ini. Lo ngebakar hati lo sendiri, lo bunuh perasaan lo, lo hancurin harga diri cowok yang lo cintai, cuma demi sebuah hutang budi persahabatan? Lo pikir dengan bikin Angga benci sama lo, Sinta bakal otomatis bahagia sama Angga? Nggak, Nanda. Cinta nggak bekerja dengan sistem transfer kayak gitu.

​Rasa frustrasi Dimas tidak hanya diarahkan pada kebodohan Angga dan Anandara, tetapi juga pada dirinya sendiri. Ia terjebak dalam ironi yang sama. Ia mengutuk Nanda karena merelakan Angga demi Sinta, padahal ia sendiri merelakan Sinta demi kebahagiaan gadis itu.

​Kita berempat sama-sama bodoh, batin Dimas pahit, membenarkan letak kacamatanya. Cinta benar-benar mencabut akar logika dari kepala manusia.

​Sementara itu, di sudut lain perkemahan, Sinta baru saja keluar dari tenda medis setelah mencuci muka. Bidadari ceria itu sedang berjalan menyusuri jalan setapak mencari keberadaan Anandara, ketika matanya tak sengaja menangkap sebuah adegan yang membuat langkahnya terhenti secara tiba-tiba.

​Dari kejauhan yang sedikit terhalang kabut, Sinta melihat Anandara berdiri berhadapan dengan Angga. Jarak Sinta terlalu jauh untuk bisa mendengar percakapan mereka, namun bahasa tubuh keduanya sangat jelas terbaca.

​Sinta melihat bagaimana Anandara berdiri kaku, lalu ia melihat Angga melangkah maju dengan postur intimidatif dan menunduk seolah sedang membentak Nanda. Sinta tidak bisa melihat wajah Angga dari belakang, namun ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Anandara kemudian mundur dengan kasar, membalikkan badannya, dan berjalan pergi dengan langkah tergesa-gesa.

​Kepanikan seketika menyergap dada Sinta.

​Ya ampun, Nanda ngamuk lagi ke Angga?! batin Sinta menjerit histeris. Otaknya langsung menyimpulkan apa yang baru saja ia lihat. Dalam persepsi Sinta, Anandara pasti baru saja melontarkan makian atau kata-kata kasar lagi kepada Angga, dan Angga membalasnya dengan kemarahan.

​Ketakutan bahwa Angga akan benar-benar muak, membenci kelompok mereka, dan berujung menjauhinya, membuat Sinta langsung berlari dengan panik menghampiri pemuda itu.

​"Angga!" panggil Sinta dengan napas memburu, berhenti tepat di samping pemuda itu.

​Angga menoleh dengan wajah yang masih tegang dan rahang yang mengeras.

​"Angga, astaga..." Sinta menangkupkan kedua tangannya di depan dada, wajah cantiknya memancarkan rasa bersalah yang luar biasa. Matanya memohon belas kasihan. "Gue lihat dari jauh tadi. Nanda marah-marah lagi ya sama lo? Dia ngomong kasar lagi? Ya Tuhan, Angga, sumpah gue minta maaf banget atas nama sahabat gue. Lo jangan masukin ke hati ya? Luka lo aja belum kering gara-gara nyelamatin dia, tapi dia malah bales lo pake sikap kayak gitu."

​Mendengar permintaan maaf Sinta yang bertubi-tubi itu, Angga hanya bisa menghela napas panjang. Ia menatap gadis yang sedang membelanya di depannya ini. Sinta sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sinta tidak tahu bahwa Anandara tidak sedang marah, melainkan sedang hancur. Namun Angga tidak punya niat, dan tidak memiliki hak, untuk membongkar rahasia Nyonya Es itu pada Sinta sekarang.

​"Nggak apa-apa, Sin," jawab Angga datar dan lelah, suaranya terdengar hampa. Pemuda itu memasukkan kembali tangannya ke dalam saku jaket. "Bukan salah lo."

​"Gue beneran minta maaf, Angga. Gue bakal ngomong sama Nanda," ucap Sinta dengan nada penuh tekad, sebelum akhirnya ia berbalik dan berlari menyusul arah kepergian Anandara.

​Sinta berlari melewati deretan tenda hingga akhirnya ia menemukan Anandara yang sedang duduk sendirian di atas sebuah batu besar di dekat aliran sungai kecil di pinggir perkemahan. Gadis berjaket hitam itu duduk memeluk lututnya, menatap kosong ke arah aliran air.

​"Nanda!" panggil Sinta sambil berlari menghampiri sahabatnya itu.

​Anandara sedikit tersentak. Ia buru-buru mengatur kembali ekspresi wajahnya, menekan jauh-jauh sisa kesedihan di matanya, dan memasang topeng datarnya.

​"Ada apa, Sin?" tanya Anandara saat Sinta berhenti di depannya dengan napas tersengal.

​Sinta berkacak pinggang, menatap Anandara dengan raut wajah campuran antara khawatir, kesal, dan memohon.

​"Nan, lo kenapa sih kelihatan marah banget sama Angga?!" cecar Sinta dengan suara yang sedikit meninggi. Gadis itu duduk di sebelah Anandara. "Gue tadi lihat lo berhadapan sama dia dari jauh. Lo habis bentak dia lagi? Lo ngusir dia lagi? Astaga, Nan, cowok itu baru aja nyelamatin nyawa lo kemarin sore! Bahunya hancur gara-gara lo! Masa iya pagi ini lo ngajak dia berantem lagi? Lo beneran se-benci itu sama dia?"

​Pertanyaan beruntun dari Sinta itu menghujam dada Anandara bagai panah beracun.

​Aku tidak membencinya, Sinta. Aku mencintainya sampai rasanya aku mau mati, batin Anandara merintih pedih, sebuah fakta yang membakar rongga dadanya namun tak akan pernah bisa ia utarakan.

​Anandara menatap wajah Sinta yang penuh harap dan ketakutan itu. Ia melihat bagaimana Sinta sangat memedulikan perasaan Angga, bagaimana gadis ini takut jika pemuda itu terluka oleh perkataannya. Logika Anandara langsung menyusun sebuah kebohongan baru, sebuah alibi yang sempurna untuk menutupi topengnya yang sempat retak. Ia harus meyakinkan Sinta bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa ia tidak membenci Angga, agar Sinta bisa dengan tenang melanjutkan pendekatannya.

​Dengan sangat hati-hati, Anandara menarik napas panjang. Ia memasang wajah yang sedikit melunak, berpura-pura santai, dan memutar bola matanya sedikit seolah Sinta sedang berlebihan.

​"Lo ini mikirnya kejauhan banget sih, Sin," jawab Anandara dengan nada datar yang diatur sedemikian rupa agar terdengar meyakinkan. Ia menatap Sinta dengan tenang. "Gue bukannya marah. Gue cuman datangin dia buat bilang makasih aja karena udah nyelamatin gue kemarin."

​"Hah? Bilang makasih? Tapi kok dari jauh bahasa tubuh lo kayak orang lagi ngajak ribut?" Sinta mengerutkan dahi, setengah tidak percaya.

​Anandara menghela napas pendek, menampilkan senyum tipis yang sarat akan sarkasme buatannya sendiri. Ia menepuk bahu Sinta dengan pelan.

​"Lo kan tahu sendiri gue orangnya kayak gimana, Sin. Gue nggak bisa sok manis. Lagian, tadi dia malah nyeramahin gue soal kecerobohan gue di tebing. Ya gue bales agak ketus lah," Anandara merangkai kebohongannya dengan sangat rapi, menyuntikkan racun kebohongan itu tepat ke dalam otak sahabatnya. Ia menatap Sinta lurus-lurus. "Gaya bicara gue aja yang kelihatan marah-marah dari jauh. Tapi intinya gue udah berterima kasih sama dia, dan gue udah impas sama hutang nyawa gue ke dia. Udah, lo nggak usah panik kayak gitu."

​Mendengar penjelasan yang sangat masuk akal dan sangat mencerminkan karakter 'Nyonya Es' itu, kerutan di dahi Sinta perlahan memudar. Kepanikan di wajah gadis ceria itu seketika sirna, digantikan oleh embusan napas lega yang luar biasa panjang.

​Sinta memukul lengan Anandara pelan, tertawa kecil. "Ya ampun, Nanda! Lo tuh ya, kalau bilang makasih mbok ya mukanya dilemesin dikit kek! Pantesan Angga mukanya tegang banget tadi gue samperin. Dia pasti bingung ini cewek lagi bilang makasih apa lagi ngajak smackdown."

​Anandara ikut tertawa kecil, sebuah tawa buatan yang kering dan hampa, memaksakan matanya menyipit agar kebohongannya terlihat sempurna. "Ya biarin aja. Yang penting kewajiban gue udah gugur."

​Sinta memeluk lengan Anandara dengan gemas, menyandarkan kepalanya di bahu Nyonya Es itu. "Syukurlah kalau lo nggak musuhin dia lagi, Nan. Gue lega dengernya. Lo tahu kan seberapa besar gue suka sama dia. Kalau lo terus-terusan musuhin dia, gue bakal pusing tujuh keliling posisinya di tengah."

​"Iya, Sin. Lo tenang aja," bisik Anandara, menepuk-nepuk punggung tangan Sinta yang melingkar di lengannya.

​Di bawah langit pagi pegunungan Lembang yang perlahan terang oleh sinar matahari, Sinta tersenyum bahagia, merasa bahwa dinding penghalang antara sahabat dan pria idamannya perlahan mulai mencair. Bidadari ceria itu sama sekali tidak tahu, bahwa di dalam tubuh yang sedang ia peluk dengan penuh kasih sayang itu, sebuah hati baru saja dihancurkan kembali menjadi debu, dan seorang gadis jenius baru saja meminum racun kebohongannya sendiri dalam-dalam, mengubur perasaannya semakin jauh di dasar palung demi membiarkan sahabatnya tersenyum di atas penderitaannya.

​Drama irasional ini, seperti yang dikatakan Dimas, masih akan terus berlanjut, semakin menyiksa dan semakin berdarah-darah di balik topeng-topeng kebohongan yang mereka pakai.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!