Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Aku Menyukaimu
Tania baru saja menutup buku tugasnya dan sedang meringkuk di sofa, membolak-balik majalah fasyen dengan santai, ketika ponselnya berbunyi "ting" pelan—terdengar sangat jelas di tengah ruang tamu yang sunyi.
Jantungnya mencelos tanpa alasan, dan ia menyambar ponselnya hampir secara insting. Di layar, nama "Hans Lesmana" bersinar terang.
Pria itu... datang ke rumahnya? Di jam begini?
Belum sempat pikiran itu tuntas, Tania melompat dari sofa, berlari menuju balkon kamar, dan mencengkeram pagar besi yang dingin dengan kedua tangannya untuk melongok ke luar.
Di bawah cahaya lampu jalan yang kekuningan dan redup, sebuah mobil hitam terparkir tenang tak jauh dari gerbang vila. Garis-garis bodinya yang gagah jelas merupakan milik pria itu. Dua lampu depan yang berpendar redup tampak seperti sepasang mata yang sedang menatap lurus ke arah rumahnya.
Itu benar-benar dia!
Detak jantung Tania berhenti sesaat, lalu mulai berdegup kencang, membuat dadanya terasa sesak. Ujung jarinya gemetar saat ia buru-buru membalas: "Aku segera turun."
Setelah mengirim pesan, tatapannya tanpa sadar menyapu penampilannya sendiri—gaun tidur tank top merah muda bermotif stroberi.
Rona panas seketika menjalar ke wajahnya. Gawat, haruskah ia turun mengenakan baju seperti ini? Apakah Hans akan menganggapnya terlalu sembrono? Tapi jika ia berganti baju sekarang, bagaimana jika pria itu tidak sabar dan pergi?
Pikirannya berkecamuk, tapi akhirnya ia menghentakkan kaki. Masa bodoh, ia tidak bisa mengkhawatirkan itu lagi! Tania menyelinap ke dalam sandal kelinci berbulunya dan berlari turun tangga dengan bunyi "plak, plak, plak" yang terburu-buru.
Ia bahkan lupa memakai jaket. Saat angin malam berhembus, ia merasa menggigil, namun kegelisahan di hatinya membuatnya mengabaikan rasa dingin itu.
Hans menatap balasan yang muncul di layar, dan bibirnya yang terkatup rapat tampak sedikit melunak. Ia mendongak dan memberi instruksi pada sopirnya di kursi depan: "Kamu turun dulu."
Sopir itu tidak membantah, ia melepas sabuk pengaman, mendorong pintu mobil, dan mundur dengan tenang ke samping, sosoknya dengan cepat menyatu dengan kegelapan malam.
Di dalam mobil, tatapan Hans kembali jatuh ke layar ponsel. Ibu jarinya tanpa sadar mengusap kata-kata di sana, matanya dalam dan sulit dibaca.
Tania praktis berlari kecil sepanjang jalan keluar gerbang vila. Angin malam yang membawa hawa dingin menerbangkan rambutnya dan ujung gaun tidurnya yang ringan.
Ia berlari terlalu cepat, napasnya sedikit memburu, pipinya merona karena lari dan kegugupan batinnya. Melihatnya mendekat, sopir tadi membungkuk sedikit: "Nona Tania, Tuan Hans sudah menunggu." Suaranya stabil saat membukakan pintu belakang untuknya.
Pintu mobil terbuka, dan aroma campuran alkohol serta tembakau menyeruak keluar—tidak menyengat, tapi cukup nyata.
Tania berdiri di samping pintu mobil, angin malam menyebabkan bulu kuduknya berdiri di lengan yang terbuka. Ia menarik napas dalam diam, berusaha keras membuat suaranya terdengar lebih tenang, dan melongokkan kepalanya ke dalam mobil.
Cahaya di dalam remang-remang, dan Hans seolah tertimbun dalam bayang-bayang kursi belakang, siluetnya agak kabur. Hanya matanya yang terlihat sangat terang dalam kegelapan, menatap Tania tanpa berkedip dengan sorot menyelidik.
Suhu di pipi Tania naik beberapa derajat lagi. Ia memantapkan hati dan membungkuk untuk duduk di dalam mobil.
Pintu mobil tertutup dengan bunyi klik, mengunci angin malam dan cahaya dari lampu jalan yang jauh. Ruang di dalam mobil terbatas, dan aroma maskulin dari alkohol serta tembakau itu menjadi semakin nyata, menyelimutinya sepenuhnya.
Aroma ini tidaklah buruk; sebaliknya, karena aroma ini milik Hans, jantungnya berdetak tidak beraturan, dan ia tidak tahu harus meletakkan tangan dan kakinya di mana.
Berapa banyak yang pria ini minum malam ini? Atau ada sesuatu yang mengganggunya? Tania diam-diam meremas ujung roknya.
Tatapannya Hans tetap terpaku padanya, fokus dan langsung, mengamati Tania dengan teliti. Di bawah cahaya redup, warna merah muda dari gaun tidurnya terasa lembut, menonjolkan kulit putihnya. Salah satu tali gaunnya sedikit merosot, memperlihatkan tulang selangka yang halus dan bahu bulat yang tampak berkilau samar.
Tenggorokan Hans terasa kering. Ia berpikir mungkin ia sudah minum terlalu banyak; jika tidak, mengapa jantungnya berdetak begitu tak terkendali? Setiap detakannya menghantam dada dengan berat, membawa rasa nyeri yang berdenyut halus.
Ia condong ke depan sedikit, dan jarak di antara mereka memendek tiba-tiba.
Aroma hangat Hans, bercampur dengan aroma alkohol dan napasnya, membelai lembut pipi dan telinga Tania. Tania merasa seolah-olah udara di dalam mobil telah membeku. Suhu ruangan meningkat, dan pipinya terasa terbakar. Secara tidak sadar ia ingin bersandar ke belakang, tapi punggungnya membentur pintu mobil; tidak ada jalan untuk mundur.
Tania bahkan bisa mencium aroma dasar parfum Hans yang lebih jelas, bercampur dengan aroma rokok dan alkohol, yang anehnya sama sekali tidak membuatnya merasa jijik.
"Sudah malam begini... kenapa, kenapa kamu datang?"
Tania bicara dengan suara tercekat, ujung kalimatnya sedikit bergetar tanpa ia sadari, menunjukkan kebingungannya.
Jakun Hans bergerak naik turun. Suaranya terdengar lebih rendah dan serak dari biasanya, membawa sedikit nada lesu khas orang yang baru minum, saat ia mengucapkan dua kata: "Aku rindu."
Dua kata itu, tanpa hiasan apa pun, jatuh tepat ke telinga Tania, terdengar jelas dan berat.
Tania tiba-tiba mendongak, matanya bertemu dengan mata Hans yang dalam. Di mata itu, pada saat ini, ada intensitas emosi yang belum pernah ia lihat sebelumnya—gelap dan bergejolak, membawa fokus yang tak terbantahkan. Tatapannya begitu dalam seolah ingin menembus kulit luar Tania dan menyentuh jati dirinya yang paling dalam.
Rindu? Hans baru saja... mengatakannya begitu saja?
Hati Tania terasa seolah dicengkeram oleh sesuatu, mengetat hebat, dan bahkan napasnya tertahan sejenak. Otaknya berdengung, seketika menjadi kosong, hanya dua kata itu yang bergema berulang-ulang di telinga dan hatinya.
Ia bahkan lupa bahwa ia hanya mengenakan baju tidur dan ini adalah tengah malam.
Sebelum ia sempat pulih dari hantaman langsung ini, sebuah tangan yang besar, hangat, dan kering menutupi tangannya yang sedang mencengkeram erat ujung rok. Telapak tangan Hans lebar dan tebal, dengan sedikit kapalan, dan ia membungkus tangan kecil Tania yang dingin dengan cara yang tak tertahankan.
Saat kulit mereka bersentuhan, sebuah getaran aneh dan halus menyebar dari titik kontak itu, membuat seluruh tubuh Tania kaku, tak mampu bergerak.
Tania bahkan bisa merasakan denyut nadi yang stabil dan kuat dari telapak tangan Hans, kontras dengan kepanikan di dalam dadanya sendiri. Jari-jari Hans menekuk sedikit, memegang tangannya lebih erat lagi.
"Tania Santoso."
Pria itu tiba-tiba bicara, menyebut nama lengkapnya dengan nada yang lebih serius dari yang pernah Tania dengar, membawa kesungguhan yang tak perlu dipertanyakan lagi. Setiap kata seolah mengetuk jantungnya dengan jelas.
Detak jantung Tania mendadak berpacu, menghantam dadanya dengan keras, hampir melompat keluar dari tenggorokan. Telinganya dipenuhi dengan suara "dug-dug-dug" dari jantungnya sendiri, membuatnya terpana.
Firasat kuat menyergapnya.
"Ya?"
Tania menahan napas, matanya terbuka lebar, menatap Hans tanpa berkedip, menunggu apa yang akan dikatakan pria itu selanjutnya—antara berharap dan takut. Ujung jarinya melingkar tanpa sadar di telapak tangan Hans.
Bagian dalam mobil itu sunyi yang mencekam, hanya suara napas mereka yang saling terpaut yang bergema di ruang sempit tersebut, menjadi semakin jelas. Udara seolah menjadi kental dan berat karenanya.
Hans menatapnya dalam-dalam, matanya fokus dan membara, seolah ingin mengukir citra gadis itu dengan kuat ke dalam benaknya.
Lalu, ia berbicara, kata demi kata, perlahan dan jelas, suaranya membawa daya tarik unik yang menembus segala kebisingan:
"Aku menyukaimu."