Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
minta bantuan orang pintar
Andre masih berada di ruang penyidik.
Ada sekitar 50 pertanyaan yang harus dia jawab.
Pihak keluarganya tentu tak tinggal diam. Mereka menyewa seorang pengacara guna mendampingi putra mereka.
Semua warga kampung Lestari heboh.
Bisik-bisik dan berbagai spekulasi terus bergulir bak bola panas.
Ada yang mengatakan jika Meri meninggal karena dijadikan tumbal oleh keluarganya. Dan ada juga yang mengaitkan dengan dukun sakti bernama mbah Djani penghuni hutan pinus yang telah lama menghilang dan dia meminta korban yaitu perempuan hamil karena memang dulunya Mbah Djani dikenal oleh warga sebagai dukun beranak.
Kabar ini sampai ke telinga keluarga Rani.
"Pak... Ibu prihatin atas apa yang menimpa juragan Kardi... Ya meskipun nona Meri itu bukan orang yang ramah, tapi sebagai sesama manusia, kita wajib bersimpati terhadap yang lagi kena musibah" ucap bu Sukma di sore itu.
Pak Rahman yang kesehatannya semakin hari semakin berkurang hanya mengamini ucapan isterinya.
Dirinya juga tak bisa membantu banyak karena sejak Rani putrinya hilang, pak Rahman seolah kehilangan semangat hidup.
Sedang asik berbincang, terdengar suara motor dari halaman.
"Gas... Kok baru pulang? Kamu dari mana? Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu selalu telat pulang. Pakaian sekolah juga sering lusuh dan kadang kaos mu juga sering kotor. Apa yang kamu kerjakan diluar sana?" tegur bu Sukma pada putra keduanya dengan rentetan pertanyaan.
Bagas meletakkan ranselnya di lantai dan duduk di depan orangtuanya.
"Bagas kerja pak, buk... " sahut Bagas dengan wajah lelahnya.
Kedua paruh baya itu saling pandang.
Hati keduanya meringis karena tak memperhatikan kondisi putra mereka dan sibuk dengan pencarian tak pasti atas putri sulung mereka.
"Kamu kerja apa dan kenapa? Bapak sama ibu masih sanggup kasih kamu jajan... Ya walaupun nggak banyak, tapi cukup lah"
"Bagas jadi kuli angkut dipasar pak, buk... Sambil cari tahu kalau-kalau ada yang kenal dan lihat mbak Rani... Bagas masih cari mbak Rani dan nanya-nanya sama orang-orang perihal keberadaan mbak Rani... " jawab Bagas sembari memainkan ujung taplak meja yang menjuntai.
Pak Rahman memandang sayu pada putranya.
"Apa kamu dapat info dengan cara begitu?" tanyanya.
Bagas menggeleng. "Belum pak" sahutnya lemah.
Kedua paruh baya itu menghela nafas panjang dan terdengar begitu lelah.
"Tapi Bagas yakin, mbak Rani masih ada dikampung ini pak... Hanya saja, kita harus tetap mencarinya walau dengan keadaan apapun" kepala Bagas tertunduk saat kalimat terakhirnya meluncur dari bibirnya.
"Bapak juga yakin mbak mu masih ada dikampung ini.." lirih pak Rahman.
"Bagaimana kalau kita minta tolong sama orang pintar? Ibu dapat info dari para tetangga kalau dekat kampung sebelah, ada dukun yang bisa bantu dan ilmunya cukup tinggi buat cari orang hilang... Bagaimana, apa kita coba saja?" usul bu Sukma pada suami dan putranya.
Bagas dan pak Rahman saling pandang.
"Bagas setuju... Bagas juga sempat dengar soal dukun itu yang kalau tidak salah namanya mbah Kromo. Dia tinggal di bawah kaki bukit desa Mekar...." tutur Bagas.
"Bapak ikut saja..."
"Baiklah... Besok Bagas akan usahakan pulang cepat dan kita akan kesana sama-sama.... " ujar Bagas yang diangguki kedua orang tuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bagas dan bu Sukma telah berada didepan gubuk yang merupakan rumah seorang dukun sakti bernama Mbah Kromo.
Layaknya rumah dukun, tempat ini benar-benar terasa begitu angker.
Suasananya sepi dan hanya dikelilingi oleh pohon-pohon besar di sekitar rumah.
"Cari siapa?" tanya seorang pria yang baru saja masuk kehalaman rumah.
Bagas dan bu Sukma sempat kaget karena kedatangan pria tersebut. Apalagi penampilannya bisa dikatakan tak biasa.
Badannya bungkuk dengan wajah yang terdapat sebuah luka silang di pipi bagian kiri.
Matanya menatap dingin pada kedua ibu dan anak tersebut.
"Maaf mas, kami mau ketemu mbah Kromo, apa beliau ada dirumah?" ujar Bagas.
"Tunggu! Mbah Kromo masih semedi. Sebentar lagi beliau keluar" ujar pria tersebut yang masih memandang curiga pada keduanya.
Bu Sukma menarik ujung kaos yang dikenakan oleh Bagas.
Hatinya jadi sedikit gelisah.
"Siapa yang datang Tarjo?" tanya seseorang dari dalam gubuk.
"Tamu Mbah... Mereka mau ketemu Mbah" sahut Tarjo.
"Suruh masuk...!" perintahnya.
Bu Sukma dan Bagas lantas masuk setelah Tarjo membukakan pintu yang terbuat dari anyaman bambu.
Seorang pria tua dengan penampilan khas dukun sedang duduk bersila dengan sebuah dupa dan aroma kemenyan yang menyala.
Bu Sukma menelan ludah kasar.
Matanya menatap sekeliling dan kuduknya merinding seketika kala bersitatap dengan hiasan dinding berbentuk kepala monyet yang tak lazim.
"Putri kalian memang masih berada di sekitar kalian. Hanya saja dia bukan lagi seperti yang dulu..." ujar Mbah Kromo saat Bagas dan bu Sukma baru saja duduk dihadapannya.
Sontak keduanya terkejut dan saling pandang karena mereka belum mengatakan maksud kedatangan keduanya.
"Itu artinya, mbak Rani disembunyikan seseorang atau istilahnya disekap? Benar begitu mbah?" tanya Bagas meluruskan.
Ada pancaran ketakutan dari mata Mbah Kromo saat Bagas menyebut nama Rani begitupun Tarjo yang masih berdiri di didepan pintu.
Bahkan kendi yang dipegang Tarjo sampai terlepas dan jatuh.
"Lebih baik kalian hentikan pencarian! Fokus pada hidup kalian masing-masing! Dan jangan cari tahu lebih banyak jika kalian ingin selamat!" ujar Mbah Kromo dengan suara yang sedikit bergetar.
Perasaan bu Sukma dan Bagas semakin tak menentu jadinya.
Antara percaya atau tidak. Tapi dari raut wajah Mbah Kromo bukan yang dibuat-buat.
"Tapi kenapa? Ada apa sebenarnya?" desak Bagas.
Bukan jawaban yang mereka peroleh melainkan sebuah tanda benda jatuh. Hiasan kepala monyet tadi jatuh kelantai tanpa ada yang menyentuhnya.
Mbah Kromo semakin waspada.
"Pergilah! Aku tidak akan membantu kalian! karena itu sama saja menyerahkan nyawa sia-sia!" usir Mbah Kromo.
Dengan raut kecewa, keduanya meninggalkan kediaman Mbah Kromo.
Ada banyak tanya dikepala Bagas. Apalagi dengan kalimat terakhir mbah Kromo yang mengatakan jika Rani hanya ingin membalaskan dendamnya pada seseorang.
"Dendam? Seseorang? Siapa?" Itulah isi pertanyaan yang berseliweran dikepala Bagas sepanjang perjalanan pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Motor butut Bagas terus melaju hendak pulang.
Keduanya memang harus melewati deretan hutan pinus yang rimbun.
Suara-suara makhluk malam sudah mulai terdengar.
Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Bagas yang memboncengi bu Sukma melewati hutan tersebut.
Pegangan bu Sukma semakin erat di bahu putranya.
Ada rasa kurang nyaman saat motor Bagas melewati jalan tersebut.
Pun dengan Bagas yang merasakan sesuatu yang berbeda.
"Bu... Pegangan! Bagas mau ngebut!" ujar Bagas sedikit berteriak.
Bu Sukma mengikuti perintah Bagas dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang putranya.
Motor melaju dengan kecepatan tak biasa bahkan bu Sukma terasa seperti melayang dibuatnya.
Tak ada kendaraan lain yang melintas selain mereka karena sejak terdengar rumor itu, para penduduk mulai membatasi aktivitas malam mereka.
Suasananya begitu sunyi mencekam.
Bunyi dedaunan semakin berisik seperti di sibak oleh makhluk besar.
Bagas terus memacu gas motornya hingga jauh meninggalkan deretan hutan pinus.
Tangannya menekan kuat rem tangan begitupun kakinya ikut menekan rem hingga motor berhenti tepat di depan sebuah warung tak jauh dari rumah mereka.
Bu Sukma yang di boncengi ikut menubruk punggung Bagas karena motor berhenti mendadak.
"Huuhh.. huuhhhh...." nafas keduanya memburu.
Bagas meraba dadanya yang berdegup kencang.
"Gas.... Dari mana? kok ngebut-ngebutan? Kalau kamu jatuh kasihan bu Sukma yang kamu boncengi... Jangan ugal-ugalan bawa motornya!" hardik seorang paruh baya saat melihat aksi Bagas.
"Anu.. Pak De Darmo, tadi kami menghindari hutan pinus... Soalnya gelap sekali. Takut ada jambret" ringis Bagas beralasan.
"Mana ada jambret dikampung kita. Dedemit baru ada..." ralat Darmo kesal dengan alasan Bagas.
Bagas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau gitu, kami pamit pulang ya pak de... Ayah sendirian dirumah soalnya" pamit Bagas yang di iyakan oleh pak de Darmo.
Bagas melajukan motornya dengan kecepatan normal hingga tiba di depan rumah.
Upaya mereka hari ini bisa dibilang belum membuahkan hasil. Tapi baik Bagas ataupun bu Sukma tidak akan menyerah sampai Rani ditemukan.
bersambung....