Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
" Lo inget ya Ra! Lo itu kuat! Lo jangan biarin dia ngerusak hidup lo! Lo yang benar, dia yang salah!" suara Dinda terdengar sangat tegas dan penuh semangat membara di seberang telepon. Suaranya yang biasanya ceria kini berubah menjadi sangat serius dan galak, seolah-olah ia sendiri yang sedang berhadapan langsung dengan Natasha di sana.
Aira masih tersedu-sedu di ujung telepon sana. Air matanya belum berhenti mengalir sepenuhnya, masih saja sesekali menetes membasahi pipinya yang putih dan mulus itu. Dadanya terasa sangat sesak dan berat, rasanya seperti ditimpa beban batu yang sangat besar setelah mendengar kata-kata pedas dan menyakitkan dari Natasha tadi sore.
"Iya Din... makasih ya..." isak Aira pelan, suaranya terdengar parau dan serak karena terlalu banyak menangis dan menahan isak tangis. "Aira jadi bingung dan takut... takut kalau apa yang dia bilang itu bener, takut kalau mas Elvano masih ada rasa sama dia, takut kalau Aira emang cuma numpang sebentar di sini."
"Eh jangan gampang dipengaruhi omongan orang gitu dong Ra!" potong Dinda cepat dengan nada tinggi dan tak terima. Suaranya melengking jelas terdengar dari seberang. "Lo pikir, pake otak dikit dong sayangku! Kalau Elvano emang masih sayang Natasha, kenapa dia milih lo, meskipun waktu itu kontrak?! Kenapa dia bayarin mahar banyak-banyak?! Kenapa dia bawa lo masuk ke keluarga besarnya?! Kenapa dia jagain lo baik-baik?! Hah?! Jawab dong!"
Dinda melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang menohok dan menyadarkan, berusaha membangunkan sahabatnya dari rasa ragu dan minder yang sedang menghantuinya saat ini.
"Ta... tapi kan mereka dulu pacaran lama Din... bertahun-tahun. Natasha itu cantik, kaya, modis, satu dunia sama mas Elvano..." Aira kembali mengulang keraguannya dengan suara yang lemah dan penuh ketidakpercayaan diri. "Aira kan cuma gadis biasa,csederhana, beda jauh sama mereka..."
"Lah terus gimana?! Terus kenapa?! Mantan itu artinya masa lalu Ra! Udah kelar! Udah lewat! Udah tamat cerita mereka! Sekarang kan yang jadi istri sah, yang halal, yang berhak penuh itu lo! Aira maharani! Lo yang ada di samping dia sekarang! Lo yang punya hak penuh atas hidup dia! Ngerti lo?!" Dinda menghela napas panjang sekali terdengar di telepon, mencoba menenangkan diri agar tidak ikut emosi dan bisa memberikan nasihat dengan baik. "Dengerin gue ya sayangku..."
Suara Dinda berubah menjadi lebih lembut, lebih bijaksana, dan lebih menenangkan, layaknya seorang kakak yang sedang menasihati adiknya yang sedang bersedih.
"Lo jangan mau kalah sama omongan orang yang gak bisa nerima kenyataan. Natasha itu cemburu buta. Dia iri. Dia liat lo bahagia sama Elvano, liat lo hidup enak, liat lo dihargai, makanya dia jadi gak terima dan jadi sakit hati sendiri. Itu aja kok. Lo harus hadapi dong! Lo harus tunjukkin kalau lo itu pantas jadi istri Elvano! Lo lebih baik dari dia!"
Aira mengusap air matanya dengan punggung tangannya berkali-kali, berusaha membersihkan sisa-sisa air mata di wajahnya. Ia mencoba merenungi kata-kata sahabatnya itu. Memang benar apa yang dikatakan Dinda.
"Iya Din... bener juga ya. Aira kan istrinya sekarang. Aira gak boleh lemah di depan orang jahat. Aira gak boleh kelihatan sedih dan takut gini." gumam Aira pelan, mulai ada sedikit semangat yang muncul kembali di suaranya.
"Gitu dong! Baru itu sahabat gue! Pintar! Kuatin mental lo Ra!" Dinda tertawa kecil merasa lega melihat sahabatnya mulai sadar dan bangkit kembali. "Dengerin ya, nanti kalau Elvano pulang, lo cerita semua ya! Jangan ditutup-tutupi! Lo bilang jujur 'mas, mantan kamu dateng, dia jahat, dia ancam aku, dia bikin aku nangis'. Biar Elvano tahu semuanya dan biar Elvano yang nanganin! Biar Elvano yang marah dan yang ngelindungin lo! Jangan dipendem sendiri ya, bebannya berat!"
"Iya Din! Siap bos! Siap laksanakan!" jawab Aira sedikit lebih ceria, meski suaranya masih terdengar sedikit serak.
"Yaudah ya, jangan nangis terus ya! Senyum dikit dong! Cantik lho kalau senyum! Nanti jelek lho matanya kalau bengkak terus!"
"Siap! Makasih banyak ya din! Makasih udah mau dengerin curhatan Aira yang panjang lebar dan nyebelin ini."
"apaan sih! Udah ya tutup teleponnya, Siap-siap sambut suami tercinta! Bye bye!"
"Bye bye din..."
Tutt.. tutt.. tutt..
Panggilan telepon pun akhirnya terputus.
Aira menarik napas panjang sekali, menghirup udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya, lalu mengembuskannya perlahan-lahan dengan sangat pelan. Berkat dukungan moril dan semangat dari sahabat satu-satunya itu, ia merasa sedikit lebih kuat, sedikit lebih berani, dan beban di dadanya terasa jauh lebih ringan daripada sebelumnya.
Matahari akhirnya benar-benar tenggelam meninggalkan cakrawala. Langit yang tadi berwarna jingga keemasan kini perlahan berubah menjadi gelap pekat, dihiasi oleh ribuan bintang yang berkelap-kelip indah dan bulan purnama yang bersinar terang menerangi bumi.
Suasana di dalam rumah megah keluarga Praditya itu menjadi hening, sepi, dan tenang. Hanya terdengar suara desiran angin malam yang masuk melalui celah-celah jendela, dan suara jarum jam dinding yang berdetak tik... tok... tik... tok... dengan irama yang teratur.
Aira duduk sendirian di ruang tamu, tepat di atas sofa besar yang empuk dan nyaman itu. Tangannya saling bertautan erat di atas pangkuannya, jari-jarinya bermain-main dengan gugup dan gelisah, sesekali mengepal kuat lalu mengulangnya lagi.
Pikirannya melayang-layang entah ke mana. Meski sudah ditenangkan oleh Dinda dan bibi Asih, bayangan kejadian sore tadi dan kata-kata pedas Natasha masih saja terus berputar-putar di kepalanya tanpa henti, seperti kaset rusak yang diputar ulang terus menerus.
"Mundur ya... gue masih cinta banget sama dia..."
"Lo cuma pengganggu doang..."
"Dia milikkm gue selamanya..."
"Dia nikahin lo karena terpaksa..."
"Aaaahhh... stop mikirin itu Aira! stop!" Aira menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras seolah ingin membuang jauh-jauh pikiran-pikiran negatif itu dari otaknya. "Jangan lemah! Kamu harus kuat! Kamu istri sah! Kamu yang benar!"
Tapi sebagai wanita biasa, sebagai manusia yang punya perasaan, mana mungkin hatinya tidak sakit? Mana mungkin rasa cemburu buta, rasa takut kehilangan, dan rasa tidak aman itu tidak muncul dan menggerogoti hati kecilnya? Rasanya sangat perih dan sangat menyiksa batin.
Tiba-tiba...
Kreeekk...
Suara pintu utama rumah terbuka pelan.
Suara itu terdengar sangat jelas di tengah keheningan malam itu.
Aura langsung menegakkan tubuhnya dengan kaku. Jantungnya seketika berdegup dengan kencang bukan main, berpacu sangat cepat di dalam dadanya. Ada perasaan campur aduk yang luar biasa. Campuran antara rasa senang dan rindu ingin segera bertemu, tapi juga rasa takut, rasa cemas, dan rasa sedih yang bercampur menjadi satu menjadi perasaan yang sangat rumit dan berat.
Masuklah sosok itu.
Elvano Praditya.
Suaminya akhirnya pulang.
Elvano masuk dengan langkah kaki yang terlihat sangat lelah dan berat. Wajahnya tampak kelelahan luar biasa setelah seharian bekerja keras memikirkan urusan perusahaan, meeting, dan berbagai masalah bisnis yang menumpuk.
Ia masih mengenakan setelan jas kerja berwarna gelap yang sangat rapi dan mahal, namun dasi di lehernya sudah terlihat sedikit longgar dan tidak terlalu kencang, memberikan kesan maskulin yang kuat, santai, namun tetap sangat mempesona dan berwibawa.
Namun, begitu matanya menangkap sosok Aira yang duduk diam di sofa ruang tamu itu, begitu ia melihat wajah istrinya yang terlihat pucat pasi dan matanya yang terlihat bengkak serta merah sembab, semua rasa lelah dan kantuk yang ada di tubuh Elvano langsung hilang seketika, berganti dengan rasa kaget, cemas, dan khawatir yang luar biasa besar.
"Aira?!" seru Elvano dengan nada suara yang tinggi karena kaget. Ia langsung meletakkan tas kerja dan jas yang baru saja ia lepas sembarangan di atas meja nakas di dekat pintu, lalu berjalan dengan langkah yang cepat dan lebar mendekati gadis itu.
"Kamu kenapa?! Kenapa matanya bengkak gitu?! Kamu nangis ya?! Siapa yang bikin kamu nangis?!"
Elvano berdiri tegak tepat di hadapan Aira. Wajahnya tampak sangat cemas, panik, dan penuh tanda tanya. Matanya menelusuri seluruh wajah istrinya dengan tatapan khawatir yang sangat dalam.
Di dalam hatinya, ia sebenarnya ingin sekali mengulurkan tangannya, ingin memegang bahu istrinya, ingin memegang wajahnya dan menghapus air matanya, ingin memeluknya untuk menenangkannya. Tapi karena mereka masih dalam fase transisi, masih ada rasa canggung yang membatasi, dan masih sangat menjaga jarak sopan santun serta batasan, tangannya hanya terangkat sedikit ke udara lalu turun lagi dengan ragu-ragu dan terpaksa menahan diri.
Aira menatap wajah suaminya itu lekat-lekat. Melihat tatapan khawatir dan perhatian yang tulus dari mata Elvano itu, pertahanan diri Aira yang sudah dibangun setinggi langit dengan susah payah tiba-tiba runtuh total kembali.
"Mas..." suara Aira tercekat di tenggorokan. Air mata yang tadi sudah berhenti mengalir, kini kembali tumpah deras membasahi pipinya lagi tanpa bisa ia tahan.
"Mas Elvano..."
"Ada apa ini sayang... eh maksudku, ada apa ini Ra?" Elvano hampir saja memanggil sayang, tapi ia segera menahannya dan kembali formal karena masih malu. "Cerita sama aku! Jangan nangis dong! Siapa yang berani bikin kamu nangis di rumah ini?! Siapa orangnya?!" tanya Elvano cepat, suaranya terdengar berat dan sedikit meninggi karena khawatir dan mulai ada tanda-tanda kemarahan.
Aira menunduk dalam-dalam, wajahnya hampir menempel di dadanya sendiri, jari-jarinya bermain-main dengan ujung kain bajunya sendiri dengan gemetar hebat.
"Di... dia datang sore tadi mas..." isak Aira pelan, suaranya terdengar sangat pelan dan terbata-bata. "Natasha... Natasha datang ke sini..."
Wajah Elvano seketika berubah drastis mendengar nama itu disebutkan.
Alisnya yang tegas langsung terkerut tajam membentuk huruf v, matanya yang teduh seketika berubah menjadi tajam dan menyala penuh api amarah, dan seluruh aura di sekitar tubuhnya berubah menjadi sangat dingin, mencekam, dan sangat menakutkan dalam sekejap mata.
"Hah?! Natasha?!" bentak Elvano keras sekali, suaranya bergema keras memenuhi ruang tamu yang hening itu. Suaranya bergetar hebat menahan emosi yang meluap-luap. "Dia berani datang ke sini lagi?! Dia ngapain?! Dia berani nyampein kaki dia ke rumah kita lagi?! Dua apain kamu?! Dia jahatin kamu?!"
Aira sedikit terkejut dan mundur sedikit ke belakang melihat reaksi suaminya yang begitu marah dan mengerikan, tapi ia tetap memberanikan diri untuk menceritakan semua kejadian yang sebenarnya tanpa ada yang ditutup-tutupi sedikitpun.
"Dia... dia marah-marah mas, dia ngomong yang enggak-enggak, dia hina Aira, dia bilang Aira cuma pengganggu, dia bilang Aira gak pantas jadi istri mas, dia bilang Aira cuma numpang nama doang." Aira terisak pelan menceritakan semua perlakuan kasar dan kata-kata pedas yang dilontarkan Natasha tadi sore satu per satu.