Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi Johan
Waktu bergulir dengan cepat, membawa perubahan semu di kediaman Johan. Seolah-olah badai perceraian dan skandal di pengadilan tidak pernah terjadi, Johan kini kembali menikmati masa kejayaannya. Di setiap sudut rumah, suara tawa Monica menggantikan keheningan yang dulu Hanum tinggalkan.
Monica, dengan perut yang mulai membuncit, sedang sibuk mengatur rencana pernikahan impiannya. Ia menginginkan pesta yang megah, mewah, dan menjadi buah bibir di seluruh Jakarta, sebuah perayaan atas kemenangannya menggantikan posisi Hanum secara sah.
"Mas, aku ingin dekorasinya bertema Royal Wedding," ucap Monica sembari menunjukkan katalog vendor kelas atas kepada Johan di meja makan. "Aku ingin semua orang tahu bahwa istri seorang Johan adalah wanita paling beruntung."
Johan tersenyum bangga, ia mengecup kening Monica. "Tentu, Sayang. Apapun untukmu. Uang bukan masalah sekarang."
Dengan rasa sombong yang meluap, Johan mengambil ponselnya. Ia mengetik sebuah pesan singkat kepada Hanum. Ia ingin menunjukkan pada mantan istrinya itu bahwa hidupnya jauh lebih baik tanpa dirinya, dan ia ingin Hanum menyaksikan sendiri kebahagiaannya bersama Monica.
"Hanum, aku akan menikah secara resmi minggu depan. Aku harap kau datang agar kau bisa melihat seperti apa sebenarnya wanita yang layak mendampingi pria sukses sepertiku. Anggap saja ini sebagai salam perpisahan terakhir."
Di ruang kerja pribadinya yang baru di gedung Sanjaya Group, Hanum membaca pesan itu. Bukannya sedih, ia justru tersenyum sinis. Pesan itu hanya ia baca sekilas sebelum akhirnya ia menghapusnya tanpa sisa.
"Ada apa, Num? Dari Johan lagi?" tanya Alvaro yang baru saja masuk membawa laporan progres akuisisi.
"Hanya sampah yang mencoba mencari perhatian, Kak," jawab Hanum tenang sembari menyesap tehnya. "Dia mengundangku ke pernikahannya. Dia pikir aku akan menangis di pojok ruangan? Aku punya rencana yang jauh lebih menarik daripada menonton sirkus mereka."
"Bagus," Alvaro menyeringai. "Jangan buang energimu untuk mereka, Num. Tapi fokuslah pada berkas di depanmu. Dalam waktu tiga minggu lagi, kita akan melakukan pergerakan besar."
Hanum mengangguk. Ia tidak peduli lagi dengan pernikahan itu. Pikirannya kini dipenuhi oleh angka, strategi pasar, dan cara paling elegan untuk menjatuhkan Johan saat pria itu merasa sedang berada di puncak tertingginya.
*
*
Sementara itu, Johan benar-benar merasa di atas angin. Perusahaan Go Green miliknya tiba-tiba mendapatkan banyak perhatian dari investor asing. Ia merasa perusahaannya akan segera menjadi raksasa yang disegani di negeri ini.
Di kantornya, Johan berdiri di depan jendela besar, menatap gedung pencakar langit milik Sanjaya Group yang berdiri angkuh di seberang sana.
"Sanjaya Group..." gumam Johan penuh ambisi. "Hanya perusahaan itu yang belum bisa ku taklukkan. Jika aku bisa mendapatkan satu kontrak kerja sama saja dengan mereka, posisiku tidak akan tergoyahkan oleh siapapun."
Ia memanggil asistennya dengan nada suara yang sangat besar kepala. "Cari tahu siapa pimpinan baru Sanjaya Group! Kabarnya putra Tuan Sanjaya, Alvaro, sedang memegang kendali. Kirimkan proposal kerja sama sektor pariwisata kita. Aku ingin Go Green bersanding dengan raksasa itu."
Johan tersenyum lebar, membayangkan dirinya bersalaman dengan pemilik Sanjaya Group di depan media. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa raksasa yang sangat ia puja dan ia incar kerjasamanya itu adalah pihak yang saat ini sedang memegang tali leher perusahaannya, siap untuk menariknya kapan saja.
Ia juga tidak pernah membayangkan, bahwa sosok pemilik yang ingin ia temui dengan penuh hormat itu adalah wanita yang tempo hari ia caci maki dan ia usir dengan hina dari rumahnya sendiri.
*
*
Alvaro duduk dengan setia di samping Hanum, membimbing wanita itu membedah laporan neraca keuangan dan struktur organisasi perusahaan.
"Pelan-pelan saja, Num. Kau punya insting bisnis yang tajam, hanya butuh waktu untuk membiasakan diri dengan skala raksasa ini," ujar Alvaro lembut sembari menunjukkan poin-poin penting dalam dokumennya.
Hanum mengangguk, tatapannya fokus dan penuh tekad. Kehadiran Alvaro di sisinya bukan hanya sebagai mentor, tapi sebagai pelindung yang memberinya rasa aman untuk bangkit kembali.
Kediaman Sanjaya
Sementara itu, di kediaman Sanjaya, sore itu terasa begitu hangat. Aliya dan Adiba yang baru saja pulang sekolah tampak asyik menemani Tuan Sanjaya di kursi taman belakang yang asri. Pemandangan ini sangat kontras dengan ingatan mereka tentang Nenek Anita yang selalu menuntut dan bersikap dingin.
"Kek, taman ini jauh lebih bagus daripada taman di rumah lama," celoteh Adiba sembari menyuapkan potongan buah untuk kakeknya.
Tuan Sanjaya tertawa renyah, merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang.
"Rumah ini akan selalu indah selama ada kalian di sini, Sayang."
Di sela obrolan ringan itu, Tuan Sanjaya menatap kedua cucunya dengan pandangan menyelidik namun lembut.
"Aliya, Adiba... Kakek mau tanya sesuatu. Menurut kalian, apakah Bunda kalian cocok jika bersanding dengan Om Alvaro?"
Pertanyaan itu membuat si kembar mengernyitkan kening secara bersamaan. Aliya meletakkan gelas jusnya dengan wajah bingung.
"Loh, bukankah Om Al itu kakaknya Bunda? Mana bisa mereka bersama, Kek?" tanya Aliya polos.
Tuan Sanjaya tertawa kecil, lalu menghela napas panjang sembari menatap pepohonan. "Ya, mereka memang tumbuh sebagai kakak beradik, tapi tanpa adanya ikatan darah setetes pun. Om Al itu bukan anak kandungnya Kakek."
Aliya dan Adiba saling berpandangan, mereka terkejut.
"Waktu usianya lima tahun, Kakek mengadopsinya dari panti asuhan milik mendiang nenek kalian. Sosok Alvaro kecil mengingatkan Kakek akan masa kecil Kakek sendiri. Kakek juga berasal dari panti asuhan, dan sampai detik ini... Kakek tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya Kakek," ucap Tuan Sanjaya, suaranya mendadak lirih dan guratan kesedihan muncul di wajah senjanya.
Melihat kakek mereka tampak murung, Aliya dan Adiba langsung bangkit dan memeluk Tuan Sanjaya dari kedua sisi.
"Kakek jangan sedih, ada kami di sini," bisik Adiba tulus.
Aliya terdiam sejenak, memproses informasi baru itu, lalu ia tersenyum.
"Sebenarnya, Aliya juga sangat menyukai Om Al. Dia pria yang sangat baik, bukan cuma pada Bunda, tapi juga pada kami. Iya kan, Diba?"
"Betul, Kak!" sahut Adiba penuh semangat. "Adiba ingin Bunda bahagia. Jika seandainya Om Al bisa membahagiakan Bunda, kami sangat setuju, Kek! Kami akan mendukung Om Al untuk menikah dengan Bunda!"
Mendengar restu murni dari kedua cucunya, Tuan Sanjaya merasa beban di dadanya terangkat. Ia memeluk erat Aliya dan Adiba dengan rasa syukur yang membuncah.
"Terima kasih, cucu-cucuku. Kalian adalah kekuatan bagi Bunda dan juga Kakek," bisik Tuan Sanjaya, membayangkan masa depan di mana Hanum dan Alvaro benar-benar bisa bersatu membangun kembali kejayaan Sanjaya Group sekaligus keluarga yang utuh.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, sebuah mobil memasuki halaman rumah. Hanum dan Alvaro telah pulang, membawa babak baru bagi rencana besar mereka yang kian matang.
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔