Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Arga menghela napas panjang karena dia sadar berbohong kepada organisasi dunia bawah ini hanya akan membuang waktu.
Aura Pelindung Ruangan miliknya mungkin bisa menyembunyikan energi barang di dalam ruko, namun tidak bisa menghapus jejak energi yang menempel di tubuhnya.
"Oke, anggap aja tebakan lo bener soal kejadian semalam," jawab Arga melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sekarang lo mau apa dari gue? Mau nyita barang gue atas nama hukum asosiasi lo itu?"
"Kami bukan perampok berseragam Saudara Arga, asosiasi kami sangat menjunjung tinggi hak kepemilikan pribadi," bantah Baskara menggelengkan kepalanya.
"Tujuan kedatangan saya hanya untuk mendaftarkan Anda sebagai entitas yang diakui dalam pergaulan dunia pusaka ibu kota."
Arga mengangkat sebelah alisnya karena bingung dengan sistem birokrasi dari organisasi rahasia ini.
"Kenapa gue harus repot-repot daftar ke asosiasi kalian?" tanya Arga menuntut penjelasan yang logis.
"Karena memegang pusaka tingkat tinggi tanpa perlindungan faksi adalah tindakan bunuh diri di dunia kami," jawab Baskara dengan nada suara yang tiba-tiba menjadi sangat dingin.
"Ada banyak kelompok di luar sana yang akan membunuh Anda hanya demi sebuah artefak gaib."
"Gue bisa jaga diri gue sendiri dan gue gak butuh perlindungan dari faksi mana pun," tolak Arga penuh percaya diri.
Efek dari Peningkatan Fisik Tingkat Dasar membuatnya yakin bisa menghadapi preman atau pembunuh bayaran kelas teri.
Baskara tersenyum miring seolah sedang melihat anak kecil yang baru belajar berjalan menantang seorang pelari maraton.
"Kekuatan fisik Anda memang berada di atas rata-rata manusia normal, itu terlihat jelas dari cara Anda berdiri," puji Baskara menganalisis tubuh Arga.
"Tapi di dunia kami, kekuatan otot murni tidak ada artinya jika berhadapan dengan pengguna kutukan atau master susuk tingkat tinggi."
Kalimat Baskara barusan berhasil membuat Arga menyadari bahwa dunia yang dia masuki ini jauh lebih rumit dari dugaannya.
"Terus apa keuntungan yang bisa gue dapat kalau gue gabung sama asosiasi lo ini?" tanya Arga mulai membuka celah negosiasi.
"Sebagai anggota terdaftar, Anda memiliki akses penuh ke jaringan pasar gelap dan lelang tertutup khusus pusaka gaib," tawar Baskara membeberkan keuntungan utama.
"Anda bisa menjual artefak yang Anda miliki dengan harga sepuluh kali lipat dari harga balai lelang biasa seperti milik Tuan Wijaya."
Mata Arga sedikit melebar saat Baskara menyebut nama Tuan Wijaya dengan sangat akurat.
Organisasi ini benar-benar memantau semua pergerakan transaksi barang antik bernilai tinggi di kota ini tanpa ada yang terlewat.
Mendapatkan akses ke pasar gelap pusaka adalah peluang emas bagi Arga untuk memutar kekayaannya dengan jauh lebih cepat.
"Gimana cara gue daftarin diri dan ngebuktiin kalau gue layak masuk ke pasar elit kalian itu?" tanya Arga menurunkan sedikit nada bicaranya.
Baskara memasukkan tangannya ke dalam saku jas dan mengeluarkan sebuah amplop hitam yang disegel dengan lilin perak.
Dia menyodorkan amplop misterius itu ke hadapan Arga.
"Besok malam tepat saat bulan purnama, asosiasi kami akan mengadakan pelelangan bawah tanah di sebuah lokasi yang tertera di dalam amplop ini," jelas Baskara.
"Anda hanya perlu datang membawa amplop ini sebagai tiket masuk dan satu barang pusaka sebagai bukti kelayakan Anda."
Arga menerima amplop hitam itu dan merasakan tekstur kertasnya yang sangat tebal serta kaku.
"Cuma itu aja syaratnya? Gak ada biaya pendaftaran atau tumbal aneh-aneh kan?" selidik Arga memastikan tidak ada jebakan.
"Sama sekali tidak ada biaya tersembunyi Saudara Arga, kami hanya menghargai kekuatan dan kualitas pusaka yang Anda bawa," jawab Baskara tersenyum profesional.
"Kalau begitu gue pasti datang ke acara pelelangan kalian besok malam," janji Arga memasukkan amplop itu ke saku celananya.
"Keputusan yang sangat bijaksana Saudara Arga, saya menantikan kejutan pusaka apa yang akan Anda pamerkan besok," ucap Baskara menundukkan kepalanya sedikit.
Baskara memakai kembali kacamata hitamnya dan berbalik badan berjalan meninggalkan teras ruko Arga.
Pria itu berjalan dengan sangat tenang menuju sebuah mobil sedan hitam polos yang terparkir di seberang jalan raya.
Mobil sedan itu langsung melaju membelah jalanan Menteng dan menghilang di antara keramaian lalu lintas Jakarta.
Arga mengunci kembali pintu kaca rukonya dan bersandar pada kusen pintu sambil menghela napas panjang.
Dunia ini ternyata menyimpan banyak sekali rahasia kelam yang tidak diketahui oleh orang awam.
Keputusannya untuk mendirikan PT Arga Antik Nusantara ternyata adalah langkah yang sangat tepat.
Bisnis barang antik ini akan menjadi tameng utamanya saat dia harus berurusan dengan orang-orang berbahaya seperti Baskara.
Arga merogoh sakunya dan membuka segel lilin perak dari amplop hitam tersebut.
Di dalamnya hanya terdapat selembar kartu berwarna perak dengan tulisan koordinat lokasi dan sebuah jam digital.
Lokasi lelang itu ternyata berada di sebuah ruang bawah tanah bekas pabrik gula peninggalan Belanda di pinggiran kota.
'Sistem, apa lo punya fitur buat mendeteksi tingkat kekuatan pengguna pusaka lain di sekitar gue?' tanya Arga dalam hati untuk persiapan.
"Keterampilan Penilaian Barang Gaib milik Host secara otomatis akan membaca fluktuasi energi dari barang pusaka yang dipakai oleh orang lain," jawab sistem mengkonfirmasi.
"Namun Host tidak bisa membaca pikiran atau niat dari pemilik pusaka tersebut."
"Itu udah lebih dari cukup buat antisipasi serangan mendadak," gumam Arga merasa sedikit lega.
Arga berencana untuk membawa batu Giok Hitam Penyerap Kesialan sebagai barang bukti kelayakannya besok malam.
Dia tidak akan sebodoh itu memamerkan Trisula Penakluk Ombak tingkat Epic di depan orang-orang rakus dari dunia bawah.
Senjata dewa laut itu akan dia simpan sebagai kartu as rahasianya jika keadaan memaksa dia untuk bertarung hidup dan mati.
Sisa hari ini akan Arga manfaatkan untuk membeli beberapa perabot dasar seperti etalase kaca dan brankas uang untuk mengisi ruko barunya.
Dia harus membuat ruko ini terlihat seperti galeri seni sungguhan agar orang-orang di luar sana tidak menaruh kecurigaan berlebih.
Langkah kakinya kini terasa jauh lebih mantap karena Arga tahu persis tujuan apa yang harus dia capai di masa depan.
Dia tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan atau menginjak-injak harga dirinya lagi di kota yang kejam ini.