Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 26
"Papa dan Mama sudah mengabari kamu?" Mahesa membuka suara setelah keheningan yang panjang, matanya tetap fokus pada jalanan.
"Sudah. Dua hari lagi," jawab Inara singkat, suaranya sedingin es.
Mahesa melirik istrinya sekilas. Ada rasa tidak nyaman yang kembali menggelitik dadanya saat melihat Inara bersikap teramat acuh padanya. Pria itu berdeham, mencoba mengembalikan dominasinya.
"Acara dua hari lagi adalah penentu masa depan saya. Semua media akan menyorot kita. Saya tidak mau ada satu pun desas-desus miring, terutama tentang..." Mahesa menggantung kalimatnya, enggan menyebut nama Clarissa.
"Jadi, selama dua hari ini, kamu harus patuh pada semua perintah saya. Jangan coba-coba memicu amarah saya lagi."
Inara menoleh perlahan, menatap Mahesa dengan senyum sinis yang mengiris.
"Anda tidak perlu khawatir, Pak Mahesa. Saya akan bermain peran dengan sangat baik di depan orang tua Anda. Saya akan menjadi istri pajangan yang paling bahagia di dunia selama beberapa jam di atas panggung itu."
Inara mendekatkan wajahnya ke arah Mahesa, membuat pria itu sempat menahan napasnya.
"Tapi ingat satu hal," bisik Inara dengan mata yang berkaca-kaca namun sarat akan kebencian.
"Begitu Papa Anda mengetuk palu dan jabatan itu resmi menjadi milik Anda, malam itu juga, serahkan surat cerai dan dokumen kebebasan ibu saya. Karena setelah malam itu, jika Anda mencoba menyentuh saya atau menghukum saya lagi dengan cara yang baji-ngan seperti tadi siang. Saya bersumpah akan menghan-curkan nama Dirgantara di depan seluruh media yang Anda puja."
Degh
Mahesa tertegun, cengkeramannya pada setir mobil mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Ancaman Inara yang begitu tenang justru terasa jauh lebih mengerikan daripada histeria wanita mana pun. Ada rasa kehilangan yang mendadak menghantam dada Mahesa dengan telak. Sebuah kesadaran bahwa dua hari lagi, dia mungkin akan mendapatkan takhta tertingginya, namun di saat yang sama, dia akan kehilangan wanita yang tanpa disadarinya telah mengunci seluruh waras dan candunya.
Sesampainya di rumah mewah mereka, keheningan yang dingin kembali membungkus atmosfer. Mereka melangkah ke arah yang berlawanan. Inara langsung turun ke kamar bawahnya, sementara Mahesa naik ke lantai atas.
Pukul delapan malam, Inara keluar dari kamarnya dengan pakaian rumah yang sederhana. Kaos longgar dan celana kain semata kaki. Tubuhnya masih terasa hangat oleh sisa demam, dan perutnya yang perih memaksanya untuk pergi ke dapur. Dia hanya berniat mengambil segelas air hangat dan semangkuk bubur instan yang sempat dia beli. Dia harus sehat untuk menyambut kebebasannya dua hari lagi.
Namun, langkah kaki Inara seketika terhenti begitu menginjakkan kaki di ruang makan.
Lampu gantung kristal yang biasanya mati jika mereka tidak kedatangan tamu, malam ini menyala terang. Di ujung meja makan yang panjang, Mahesa sudah duduk dengan tenang. Kemeja kerjanya sudah berganti dengan kaus polo santai berwarna hitam, namun auranya tetap terasa dominan dan mengintimidasi.
Di depan pria itu, ada beberapa menu makanan dari restoran bintang lima yang baru saja diantarkan. Inara mematung di dekat undakan tangga dapur.
"Pak Mahesa? Tumben and makan di rumah? Biasanya akan makan di luar bersama dengan Clarissa?" tanya Inara heran.
Biasanya, Mahesa akan langsung keluar rumah memilih menghabiskan malam di apartemen Clarissa.
Mahesa tidak mendongak. Dia memotong daging steak di piringnya dengan gerakan elegan.
"Ini rumah saya. Saya bebas makan di sudut mana pun yang saya mau," jawabnya dengan nada dingin yang kaku, menyembunyikan fakta bahwa dia sengaja menolak ajakan Clarissa malam ini hanya karena pikirannya terus tertuju pada Inara.
"Duduk," perintah Mahesa tanpa bantahan, mengarahkan pandangannya ke kursi kosong di hadapannya.
"Makan. Saya tidak mau melihat istri saya pingsan lagi di kantor besok pagi dan membiarkan pria lain memapahnya."
Inara menarik napas dalam, mencoba menekan rasa muak yang kembali merayap di dadanya. Dia melangkah maju, namun alih-alih duduk di kursi utama yang berhadapan langsung dengan Mahesa, Inara memilih duduk di kursi paling ujung, menjaga jarak sejauh mungkin dari jangkauan suaminya.
Mahesa melirik gerakan menjauh Inara, dan rahangnya seketika mengeras. Rasa cemburu dan kesal yang belum sepenuhnya padam kembali terusik oleh penolakan halus istrinya.
"Sini," desis Mahesa, meletakkan pisau dan garpunya hingga menimbulkan bunyi denting yang tajam di atas piring porselen.
"Saya tidak suka bicara dengan orang yang jaraknya lima meter dari saya, Inara."
Inara menatap Mahesa lurus-lurus, matanya yang sayu memancarkan ketegasan yang dingin.
"Di sini cukup, Pak Mahesa. Jarak ini aman untuk kita berdua. Aman untuk ego Anda, dan aman untuk harga diri saya."
Mahesa membiarkan Inara dan memakan makanannya. Dia tahu Inara membutuhkan makanan. Namun setelah Inara selesai makan Mahesa mendekat.
"Kamu benar-benar sudah berani menantang saya sekarang, hm?" bisik Mahesa tepat di sisi wajah Inara, napas hangatnya membuat bulu kuduk Inara meremang.
"Siapa yang memberimu keberanian ini, Inara? Arga? Pria itu yang mengajarimu untuk membangkang pada suamimu?"
"Jangan bawa-bawa Pak Arga dalam kegilaan Anda!" Inara memutar tubuhnya, menghadap wajah Mahesa yang hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Keberanian ini lahir karena Anda sendiri yang menghancurkannya, Mas! Anda yang mengajari saya bahwa tidak ada lagi yang perlu saya takuti dari seorang pria yang sudah mengambil segalanya dari hidup saya!"
Mendengar bentakan Inara, Mahesa bukannya menjauh, dia justru menarik dagu Inara dengan sentakan pelan namun mengunci. Matanya turun menatap bibir Inara yang masih sedikit bengkak akibat ulahnya tadi siang. Detik itu juga, rasa candu yang gila kembali menyerang kepala Mahesa. Sifat tak terduganya kembali mengambil alih.
"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa jauh keberanianmu itu bisa bertahan," bisik Mahesa dengan suara yang mendadak berubah menjadi serak dan berat.
Pria itu meraup bibir Inara sekali lagi. Namun, berbeda dengan ciuman brutal dan menghukum di kantor tadi siang, kali ini Mahesa melumatnya dengan gerakan yang teramat dalam, lambat, dan penuh dengan keputusasaan yang tidak mampu dia ungkapkan lewat kata-kata. Dia mencium Inara di tengah ruang makan mereka, memaksa istrinya menerima rasa frustrasi dan cemburu yang menggerogoti warasnya seharian ini.
Inara membelalak, mencoba memukul dada Mahesa, namun kedua tangannya terkunci olah tangan kekar Mahesa.
Bagi Mahesa, makan malam ini bukan lagi soal mengisi perut. Ini adalah tentang memuaskan dahaga obsesi barunya yang kian li-ar. Dia tahu dua hari lagi panggung sandiwara mereka akan berakhir, namun malam ini, di bawah pendar lampu ruang makan, Mahesa sadar bahwa dia tidak akan pernah siap untuk benar-benar melepaskan wanita di pelukannya ini ke tangan pria mana pun.
Ciuman di bawah pendar lampu kristal itu terasa begitu pekat dan menuntut. Mahesa melumat bibir Inara seolah sedang meneguk penawar dari racun cemburu yang membakar raganya seharian ini. Setiap sesapan lambatnya mengirimkan sinyal kepemilikan yang mutlak. Namun, tepat ketika Inara mulai kehabisan napas dan tubuhnya kian lemas di dalam rengkuhan tegap itu, sebuah kesadaran pahit menghantam benak wanita itu.
Mahesa bahkan kini turun ke le-her jenang Inara dan bahkan memberikan tanda di sana. Inara berontak tapi tenaga Mahesa lebih besar apalagi dia masih belum sehat sepenuhnya.
Saat Inara merasakan napas Mahesa semakin berubah apalagi semakin turun ke bawah membuat Inara memiliki kekuatan entah dari mana menendang perut Mahesa. Hingga Mahesa menghentikan kegiatannya. Inara menatap nyalang ke arah Mahesa.
"Sudah selesai main-mainnya, Pak Mahesa?" lirih Inara, suaranya bergetar namun sarat akan penekanan yang tajam.
"Bukankah sudah ku katakan jangan melakukan lebih jauh! Aku tak pernah Sudi di sen-tuh pria sepertimu! Aku bukan pe-la-curmu seperti Clarissa!"
"Bibir yang Anda gunakan untuk mencium saya malam ini, adalah bibir yang sama yang besok siang akan membisikkan kata cinta pada Clarissa. Atau mungkin bibir yang sama anda gunakan untuk mencium bibir dan yang lainnya! Apa anda tahu seberapa ji-jiknya saya dengan kelakuan anda?"
"Walau saya adalah jaminan hutang yang anda katakan! Tapi saya tak mengobral tu-buh saya sperti pe-la-cur! Berani anda menyentuh saya lebih dari ini! Saya pastikan kehancuran anda di depan mata! Semua keinginan anda tak akan pernah terwujud!"
Mendengar kata 'pelacur' keluar dari mulut Inara, kilat gairah di mata Mahesa seketika padam. Rahangnya mengeras sekeras batu. Ego Dirgantara yang angkuh dan dingin dalam sekejap kembali menyelimuti tubuhnya, meruntuhkan keintiman yang sempat tercipta. Sifat tak terduganya kembali berputar 180 derajat.
Pria itu mundur dua langkah, berdiri tegak sembari menyeka darah di bibirnya menggunakan ibu jari. Wajahnya kembali datar, sedingin es, seolah pria yang baru saja mencium Inara dengan penuh keputusasaan tadi adalah orang yang berbeda.
"Kamu terlalu tinggi menilai dirimu sendiri, Inara," ucap Mahesa, suaranya kembali bariton, ketus, dan tanpa emosi yang tersisa.
"Saya melakukan itu hanya untuk mengingatkanmu siapa majikanmu di rumah ini. Jangan mengira ada secercah perasaan di dalam ciuman tadi."
Mahesa berjalan kembali ke kursinya, meraih selembar tisu untuk membersihkan sisa darah di bibirnya, lalu menatap Inara dengan pandangan merendahkan yang sengaja dia pasang sebagai tameng egonya.
"Makan makananmu, lalu kembali ke kamarmu. Besok adalah hari terakhir sebelum Gala Dinner. Desainer dari Paris akan datang ke kantor jam sepuluh pagi untuk melakukan fitting terakhir gaunmu. Saya tidak mau melihat kamu terlambat atau memasang wajah menyedihkan seperti ini di depan tim desainer," perintah Mahesa mutlak.
Inara tersenyum getir, mengangguk pelan.
"Baik, Pak Mahesa. Sandiwara ini akan selesai dalam dua hari. Saya pastikan Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan, dan setelah itu lepaskan saya sesuai perjanjian."
Inara berbalik dan melangkah pergi menuju kamar bawahnya, meninggalkan Mahesa sendirian di ruang makan yang mendadak terasa begitu sunyi dan mence-kik.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭