Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBIASAAN KECIL SUAMI
Udara pagi terasa sangat sejuk, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang mekar di halaman. Semalam adalah hari yang sangat panjang, sangat melelahkan, namun sekaligus menjadi hari paling bahagia dalam hidup Angkasa dan Arum. Rasa lelah dari pagi sampai sore berdiri, menyapa tamu, dan menjalani serangkaian prosesi adat terasa berat di badan, tapi rasa bahagia yang meluap-luap membuat keduanya seolah lupa apa itu capek.
Kini, suasana rumah yang kemarin riuh rendah penuh tamu, hari ini kembali hening dan tenang. Hanya terdengar suara ayam berkokok dan suara azan Subuh yang perlahan bergema dari arah masjid desa.
Di dapur, Arum sudah bangun lebih awal. Matanya sedikit berat dan terasa mengantuk, sisa kelelahan semalam masih terasa, tapi hatinya sangat ringan dan bahagia. Dia bergerak lincah namun tenang di antara peralatan masak yang kemarin sempat tertumpuk, membantu ibunya, Bu Saras, membereskan sisa-sisa jamuan dan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga.
"Wah, rajin banget sih putri bunda? Baru jadi istri semalam, pagi-pagi udah sibuk di dapur," goda Bu Saras sambil tersenyum lembut, melihat putri kesayangannya itu yang kini sudah resmi menjadi Nyonya Angkasa.
Bu Saras mengaduk sayur di kuali besar, sesekali menatap Arum dengan pandangan bangga dan haru. Rasanya baru kemarin ia menggendong Arum kecil, sekarang gadis itu sudah tumbuh dewasa, sudah punya suami, dan sudah mulai belajar mengurus rumah tangga.
Arum tersenyum malu-malu, pipinya memerah. Ia terus mengiris bawang dan bumbu-bumbu dengan teliti. "Ah, bunda bisa aja. Kan aku masih di sini, masih anak bunda juga. Lagian Mas Angkasa sebentar lagi pulang dari masjid, aku mau siapin yang enak buat dia. Kemarin dia kelihatan capek banget, Bu..."
Bu Saras tertawa kecil, mengangguk paham. "Iya, bunda ngerti. Tugas istri emang gitu, Sayang. Mengurus suami itu ibadah yang paling besar.Angkasa itu anak baik, dia pasti sangat menghargai apa pun yang kamu buatin. Tapi jangan sampai kamu sendiri kecapekan ya, ingat kamu juga baru lewati hari berat kemarin."
"Siap, Bundaku yang cantik jelita," jawab Arum sambil tersenyum manis.
Setelah selesai membantu ibunya menyiapkan masakan berat berupa nasi hangat, sayur lodeh, lauk pauk, dan sambal kesukaan ayahnya, Arum teringat sesuatu. Semalam, saat mereka berdua duduk berdua sejenak sebelum tidur, Angkasa sempat bercerita pelan, bahwa ada satu kebiasaan kecil yang mungkin Arum belum tahu. Kebiasaan yang sudah dia jalani sejak lama, sejak dia masih kecil.
Arum pun beralih ke kompor kecil di sudut dapur. dia mengambil panci kecil bersih, menuangkan air dan susu bubuk berkualitas yang sudah disiapkannya, lalu menyalakan api kecil. Ia mengaduknya perlahan sampai hangat dan tercampur rata. Di sampingnya, di atas piring bersih, dia menata beberapa lembar roti tawar yang empuk.
Sambil mengaduk susu itu, Arum bergumam pelan pada dirinya sendiri, sedikit heran tapi juga gemas. "Baru semalam jadi suami istri, eh pagi ini aku baru tau kebiasaan dia. Katanya kalau pagi hari, dia nggak bisa langsung makan berat. Katanya perutnya sensitif. Harusnya minum susu hangat dulu sama makan roti baru enak, baru nanti jam sembilan atau sepuluh pagi baru mau makan nasi. Dasar Mas Angkasa... banyak juga ya kebiasaan kecilnya, tapi lucu deh."
Arum tersenyum sendiri membayangkan wajah suaminya yang gagah dan tegas itu, tapi ternyata punya kebiasaan manja dan lembut soal makanan pagi. Rasanya ada kebanggaan tersendiri bagi Arum. Mengetahui hal-hal kecil, hal-hal pribadi, hal-hal yang mungkin hanya dia yang tahu atau hanya dia yang akan mengurusnya mulai sekarang... rasanya membuat ikatan mereka makin terasa nyata dan dekat.
Di saat yang sama, di masjid desa yang jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah, Angkasa dan Pak Bimo baru saja menyelesaikan shalat Subuh berjamaah.
Angkasa duduk bersila di sudut masjid, mengusap wajahnya dengan tangan, mengakhiri doa panjangnya. Di dalam doanya pagi ini, selain memohon ampunan dan rahmat Tuhan, dia banyak memanjatkan rasa syukur.
Syukur karena akhirnya ia sah memiliki Arum, syukur karena diberi keluarga sebaik Pak Bimo dan Bu Saras, syukur karena diberi kesempatan memulai hidup baru yang indah. Di sampingnya, Pak Bimo duduk tenang, menatap menantunya itu dengan pandangan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Alhamdulillah, tenang sekali pagi ini ya, Nak," ucap Pak Bimo memecah keheningan, sambil merapikan sarungnya.
Angkasa menoleh, tersenyum hormat kepada ayah mertuanya itu. "Iya, Yah. Alhamdulillah. Rasanya damai banget. Semalam capek, tapi pas bangun pagi rasanya segar dan semangat aja. Mungkin karena hati lagi senang dan tenang."
Pak Bimo tertawa pelan, menepuk bahu Angkasa dengan lembut. "Betul, Nak. Ketenangan hati itu obat segala sesuatu. Anggap rumah ini rumahmu sendiri ya. Jangan sungkan, jangan canggung. Mulai hari ini, kamu bukan tamu lagi di sini, kamu anakku, kamu kepala keluarga di rumah ini. Dan... satu hal lagi, Ayah tau kebiasaan kamu dari dulu."
Angkasa tertegun sejenak, sedikit kaget. "Kebiasaan apa, Yah?"
Pak Bimo tersenyum misterius sambil berjalan keluar masjid. "Kebiasaan pagi-pagi gak bisa makan nasi, harus minum susu hangat dulu sama roti. Dulu pas kamu sering ke sini, pernah sekali bunda nawarin nasi uduk, kamu nolak halus kan? Ayah perhatiin aja. Pasti sekarang di rumah, Arum udah siapin itu buat kamu. Dia anak rajin, peka, dan perhatian. Beruntung kamu dapet dia, dan beruntung kami dapet kamu."
Wajah Angkasa langsung memerah tersipu malu sekaligus terharu. dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berjalan beriringan dengan Pak Bimo pulang ke rumah. "Ah, Ayah ini... Memang dari dulu perut saya sensitif banget. Kalau pagi-pagi langsung dikasih nasi atau makanan berminyak, pasti langsung mual atau sakit perut."
Sesampainya di depan rumah, aroma masakan Bu Saras dan aroma susu hangat langsung menyambut hidung mereka. Angkasa melangkah masuk dengan senyum yang mekar di bibirnya. Di beranda dapur, dia melihat sosok yang paling dia cintai sedang berdiri menunggunya.
Arum berdiri tegak, mengenakan daster sederhana tapi rapi, rambutnya terikat indah, dan di tangannya ada nampan berisi cangkir susu yang masih mengepulkan uap hangat dan dua lembar roti tawar. Saat mata mereka bertemu, rasanya dunia kembali terasa indah.
"Assalamu’alaikum,istriku..." sapa Angkasa lembut.
"Wa’alaikumsalam,Mas..." jawab Arum pelan, berjalan mendekat dan menyambut tangan suaminya untuk dicium punggung tangannya dengan hormat dan kasih sayang. Pak Bimo hanya tersenyum melihat pemandangan itu, lalu masuk ke ruang tengah menemani Bu Saras.
Angkasa duduk di kursi panjang di beranda dapur, tepat di samping Arum. dia menatap nampan di hadapannya, lalu menatap wajah istrinya lekat-lekat. Matanya berbinar kagum dan bahagia.
"Kamu... kamu ingat ya, Sayang? Kebiasaan aneh aku ini..." tanya Angkasa pelan, tangannya mengusap pinggiran cangkir susu yang hangat itu.
Arum tersenyum, duduk lebih dekat sedikit, menopang dagunya dengan tangan sambil menatap suaminya. "Ya ingatlah, Mas. Kemarin kan Mas sempat bilang sebelum tidur. Katanya nggak bisa langsung makan berat, perutnya manja. Jadi aku siapin ini."
Angkasa mengangguk mantap, hatinya terasa penuh sekali, hangat sampai ke ulu hati. dia mengambil cangkir itu, menyesap sedikit susu hangat yang rasanya manis dan pas, persis seperti perhatian Arum padanya.
"Enak banget, Sayang. Pas banget rasanya. Makasih ya... Baru jadi istri semalam, udah ngurusin aku sampai sedemikian rupa. Rasanya rasa capek kemarin ilang gitu aja," ucap Angkasa tulus, matanya menatap Arum dalam-dalam.
Arum tertawa kecil, gemas melihat suaminya yang tampak sangat menikmati susu dan roti buatannya itu. "Masih banyak lagi kebiasaan Mas yang harus aku pelajari dan aku ingat. Mulai sekarang sampai kapan pun, aku yang bakal urus semuanya. Mulai dari hal kecil kayak gini, sampai hal besar sekalipun. Mas Angkasa kan suamiku."
Angkasa meletakkan cangkirnya, lalu menggenggam tangan Arum yang ada di atas meja.memegang tangan itu erat, merasakan kelembutan dan kekuatan yang ada di sana.
"Iya, Sayang. Dan aku juga sama. Mulai sekarang, aku bakal belajar hal-hal baru tentang kamu, kebiasaan kamu, apa yang kamu suka, apa yang kamu gak suka. Kita sama-sama belajar ya? Belajar jadi suami istri yang baik, belajar saling mengerti, belajar saling melengkapi."
Arum mengangguk, senyumnya makin melebar. dia melihat tato namanya yang terukir indah di lengan kanan suaminya itu, tato yang kini makin bermakna, karena nama itu bukan lagi sekadar tinta di kulit, tapi sudah tertanam sah di dalam hidup dan hati Angkasa selamanya.
Di ruang tengah, Pak Bimo dan Bu Saras yang melihat interaksi anak dan menantunya itu hanya saling pandang dan tersenyum bahagia. Mereka tahu, keputusan mereka merestui hubungan ini adalah keputusan yang paling benar.
Pagi itu berlalu dengan kehangatan yang sederhana namun sangat berarti. Susu hangat, roti tawar, dan perhatian kecil adalah awal dari ribuan hari indah yang akan mereka lalui bersama ke depannya.
Dan di sudut lain, terlihat di balik pagar rumah sebelah, Intan yang baru saja selesai menyiram bunga, tersenyum melihat kebahagiaan sahabatnya itu. Di sampingnya ada Dewa yang kebetulan lewat dan menyapa, kembali melancarkan aksinya mendekati gadis itu di pagi yang cerah.
"Pagi, Mbak Intan... Rajin banget pagi-pagi. Mau gak nanti siang temenin aku beli sesuatu? Ada yang mau aku tanyain juga sama kamu," ucap Dewa dengan nada berharap.
Intan menoleh, pipinya memerah lagi, dan percakapan hangat pun dimulai di sana, menyusul kebahagiaan pasangan muda di sebelahnya.