Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 : Kesepakatan
Ruangan yang sejak tadi dipenuhi obrolan ringan mendadak terasa berbeda. Queen masih menatap satu per satu wajah yang ada di hadapannya, semuanya terlihat terlalu tenang. Dan itu membuat jantungnya terus berdegup.
"Mama..."
"Hm?" jawab Farah sambil tersenyum.
"Sebaiknya Mama jujur aja."
Ibu Farah meletakkan cangkir tehnya perlahan. Lalu menatap putrinya. "Baiklah." Ibu Farah menarik napas pelan. "Sebenarnya Mama mengundang keluarga Nak Revan hari ini karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan."
Queen menelan ludah. "Apa?"
Ibu Farah tersenyum lembut. "Karena keluarga Nak Revan datang untuk melamarmu."
DEG!
Untuk sesaat dunia Queen seperti berhenti berputar. "Apa!" Suara Queen langsung menggema memenuhi ruang keluarga.
Kevin langsung memejamkan mata. Pak Arman berdeham pelan. Sedangkan kedua orang tua Revan hanya tersenyum canggung.
Queen sendiri sudah berdiri dari sofa. "Aku nggak bisa!"
Ibu Farah masih terlihat santai. "Queen yang sopan."
"Mama bilang apa barusan?!"
Ibu Farah mengulang dengan tenang. "Keluarga Nak Revan datang untuk melamar kamu."
"Apa!"
"Loh kok kaget?"
Queen sampai menunjuk dirinya sendiri. "Melamar Aku!"
"Iya kamu."
"Pak Revan?!"
"Iya Nak Revan."
Queen langsung menoleh ke arah pria yang sejak tadi duduk diam di sofa seberang. Dan saat itulah otaknya mulai menghubungkan semuanya.
Kebaya yang dipakainya dan kemeja Revan terlihat seperti couple. Rumah yang dipersiapkan seperti menyambut tamu penting. Senyuman misterius ibunya, kepulangan Kevin dan Ayahnya yang secara tiba-tiba. Astaga...
"Mama udah ngerencanain ini semua?!"
Ibu Farah tersenyum bangga. "Iya."
Queen hampir pingsan di tempat. "Ma!"
"Apa lagi?"
"Mama kan tahu aku udah punya pacar!"
Ruangan langsung hening.
Ibu Farah mengangguk. "Mama tahu."
"Terus kenapa masih mau menjodohkan aku sama Pak Kevin?"
"Karena Mama ingin kamu mendapatkan yang terbaik."
"Mama!"
Queen benar-benar tidak percaya, lalu ia berbalik menatap Revan. "Pak Revan."
Semua mata langsung beralih pada Revan. Pria itu mengangkat alis. "Iya?"
"Kenapa Bapak mau di jodohkan sama saya?"
Kini Revan terlihat sedikit kehilangan kata-kata.
Queen menunjuknya tidak percaya. "Bapak tau kan, bapak itu dosen saya!"
"Iya saya tahu, memangnya kenapa... kalau saya itu dosen kamu."
"Terus kenapa Bapak masih mau dijodohin sama saya?"
Kevin langsung menunduk karena hampir tertawa.
Sedangkan Ayah Revan buru-buru minum teh untuk menyembunyikan senyum.
Revan memijat pelipisnya pelan. Lalu menjawab jujur. "Sebenarnya saya juga baru tahu, Tante Farah yang meminta saya untuk datang kesini bersama kedua orangtua saya."
Queen membeku. "Hah?"
"Saya pikir hanya makan siang keluarga."
Ibu Farah langsung berdeham pelan.
Revan melirik wanita itu sekilas. "Ternyata tidak sesederhana itu."
Kevin akhirnya gagal menahan tawa. "Hahaha..."
"Ka Kevin!" bentak Queen.
"Maaf."
"Nggak ada yang lucu!"
"Bagi gue lucu."
Queen langsung memegang kepalanya. "Astaga..."
Ini lebih mengerikan daripada sidang skripsi. Lebih mengerikan daripada revisi tiga lembar. Bahkan lebih mengerikan daripada mengetahui masih ada revisi tambahan.
Ibu Farah lalu meraih tangan putrinya. "Queen."
"Apa?"
"Mama hanya ingin kamu mendengarkan mama dulu."
"Aku nggak ngerti lagi, Ma."
"Kamu tidak perlu menjawab sekarang."
Queen terdiam.
Ibu Farah tersenyum lembut. "Mama hanya ingin memperkenalkan kedua keluarga secara resmi."
Namun Queen masih terlihat syok. Tatapannya berpindah ke Revan lagi. Sedangkan Revan terlihat sama pasrahnya. Kini Queen menyadari sesuatu. Pria itu ternyata juga tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menikmati situasi ini.
Mereka saling menatap beberapa detik. Lalu Queen berkata pelan. "Pak."
"Hm?"
"Bapak juga kaget kan?"
Kali ini sudut bibir Revan terangkat tipis. "Sangat."
Jawaban itu membuat Kevin langsung tertawa lagi. Bahkan Pak Arman sampai menggeleng geli.
Queen menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa. "Saya mau kembali ke revisi skripsi aja."
Lalu tanpa menunggu jawaban siapa pun, gadis itu langsung berdiri.
"Queen..." panggil Ibu Farah.
"Aku pusing, Ma."
Setelah mengatakan itu, Queen berjalan cepat meninggalkan ruang keluarga. Tak lama kemudian sosoknya menghilang ke arah taman belakang rumah.
Suasana ruang tamu mendadak menjadi lebih tenang.
Farah menghela napas pelan. "Aku terlalu mengejutkannya ya?"
"Sedikit?" sahut Kevin sambil mengangkat alis.
"Hmm..."
Ayah dan Ibu Revan sampai tertawa kecil. Sedangkan Revan hanya duduk diam sambil memijat pelipisnya.
Kevin lalu melirik ke arah pria itu. Kemudian memberikan kode dengan dagunya ke arah taman belakang.
Revan mengernyit.
Kevin mengulangi lagi.
Revan langsung mengerti maksudnya. Pria itu menghela napas pelan. Lalu berdiri. "Saya permisi ke belakang sebentar."
Ibu Farah langsung tersenyum. "Silahkan."
Di taman belakang, Queen duduk di ayunan kayu yang berada di bawah pohon mangga. Tangannya melipat di dada. Wajahnya masih kusut. Angin siang berhembus pelan, menggerakkan rambut panjangnya.
Namun itu sama sekali tidak membantu menenangkan pikirannya. "Mama benar-benar keterlaluan." Gadis itu menggerutu sendiri. "Masa tiba-tiba Pak Revan mau ngelamar gue."
"Aku juga setuju." Suara itu membuat Queen langsung menoleh.
Dan tentu saja... Revan. Pria itu berjalan mendekat dengan kedua tangan di saku celana.
Queen langsung menghela napas panjang. "Pak Revan."
"Hm."
"Bapak juga korban ya?"
Revan menatapnya beberapa detik. "Menurut kamu."
Queen hampir tertawa.
Hampir.
Namun rasa syoknya masih terlalu besar.
Revan kemudian berdiri di samping ayunan.
"Kamu marah?"
Queen langsung menjawab tanpa berpikir.
"Iya."
"Sama saya?"
Queen terdiam, lalu menggeleng. "Nggak."
"Lalu?"
"Sama Mama."
"Itu lebih masuk akal."
Queen mendesah panjang. Beberapa detik suasana menjadi hening.
Sampai akhirnya Revan membuka suara. "Queen."
"Hm?"
"Saya rasa kita perlu bicara."
Queen langsung menatapnya.
"Dan saya rasa kita perlu membuat kesepakatan."
Kesepakatan? Queen mengernyit. "Maksud Bapak?"
Revan menarik kursi taman, lalu duduk berhadapan dengannya. Ekspresinya tenang seperti biasa.
"Pertama."
Queen langsung memperhatikan.
"Kamu tidak perlu merasa terpaksa."
Queen terdiam.
"Saya tidak datang ke sini untuk memaksa kamu menerima apa pun."
Tatapan Queen perlahan melunak.
"Dan saya juga tidak akan meminta jawaban hari ini."
"Lalu?"
"Kedua."
Revan melanjutkan. "Prioritas utama kamu tetap skripsi."
Queen berkedip. "Hah?"
"Iya menyelesaikan Skripsi."
"Tapi kita lagi ngomongin lamaran."
"Iya saya tahu."
"Kenapa balik ke skripsi lagi?"
"Karena itu masalah terbesar dalam hidup kamu saat ini."
Queen langsung melotot. "Pak!"
"Saya serius." Revan terlihat sangat tenang. "Sebelum memikirkan pernikahan, kamu bahkan belum menyelesaikan revisimu."
Queen membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Karena sialnya, Pria itu benar. "Jadi kesepakatan pertama."
Revan menatapnya. "Kamu fokus menyelesaikan skripsi."
"Lalu?"
"Saya akan membantu sampai kamu lulus."
Queen mengernyit. "Terus setelah itu?"
"Setelah itu kita lihat lagi."
"Lihat apa?"
"Lihat apakah kamu masih ingin menolak."
Queen membelalak.
Sedangkan Revan tetap tenang. "Dan lihat apakah saya masih cukup sabar menghadapi kamu."
"Pak Revan!"
Kali ini pria itu tertawa kecil.
Queen sampai bengong. Karena sangat jarang melihat dosennya tertawa seperti itu.
Lalu Revan kembali serius. "Intinya sederhana."
"Apa?"
"Kita jangan membuat keputusan saat sedang panik."
Queen perlahan terdiam, kalimat itu sangat masuk akal. Apalagi saat ini otaknya memang sedang kacau.
"Kamu punya pacar."
"Iya."
"Saya tahu."
Queen langsung menatapnya.
Revan melanjutkan dengan tenang. "Dan saya menghargai itu."
Kali ini Queen benar-benar terdiam.
"Tapi saya juga menghargai keluarga kita yang sudah terlanjur bertemu hari ini."
Angin kembali berhembus pelan. Suasana taman menjadi lebih tenang.
"Lalu kesepakatannya?" tanya Queen pelan.
Revan mengulurkan tangannya. "Kita hentikan dulu pembahasan lamaran."
Queen memperhatikan tangan itu. "Sampai?"
"Sampai skripsi kamu selesai."
Mata Queen langsung membesar. "Sungguh?"
"Sungguh."
"Serius Pak?"
"Iya."
"Gitu dong."
Revan menggeleng pelan melihat reaksinya. "Jadi mulai besok."
Queen langsung tersenyum lega. "Tidak ada pembahasan pernikahan?"
"Bukan."
Senyum Queen langsung menghilang.
"Lalu?"
Revan menatapnya datar. "Kita kembali membahas revisi Bab Empat."
"Pak Revan!" Suara protes Queen langsung menggema di seluruh taman.
Saling support sabi kali ya😉