"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Resolusi yang Retak Sebelum Mengeras
Resolusi yang Retak Sebelum Mengeras
Bau antiseptik yang tajam menyambut Gavin saat dia melangkah masuk ke ruang rawat VIP tempat Siska terbaring. Suasana di dalam begitu sunyi, hanya ada suara monitor jantung yang berbunyi teratur—sebuah pengingat betapa rapuhnya nyawa yang sedang ia jaga.
Siska sudah sadar. Dia bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya pucat pasi, hampir sewarna dengan sprei yang menutupinya. Matanya yang sayu menatap ke arah jendela, memperhatikan rintik hujan yang belum juga usai.
"Siska..." suara Gavin bergetar saat dia duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan istrinya yang dingin.
Siska menoleh perlahan. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya ada kelelahan yang luar biasa dalam. "Gavin... kita mau sampai kapan seperti ini?"
Gavin tertegun. "Maksud kamu apa? Kamu pasti sembuh, Sayang. Dokter bilang—"
"Bukan soal penyakitku," potong Siska lembut namun tegas. Dia menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang tampak menyakitkan. "Aku bicara soal kita. Hubungan ini... status ini. Aku tahu kita dijodohkan. Aku tahu kamu menikahiku karena rasa hormat pada orang tua kita, bukan karena hatimu bergetar saat melihatku."
"Siska, jangan bicara begitu," Gavin mencoba membela diri, tapi suaranya melemah.
"Aku ingin menyerah, Gavin," air mata mulai mengalir di pipi Siska yang tirus. "Selama ini aku pura-pura buta. Aku pura-pura tidak tahu kalau kamu sering menatap jauh saat memelukku. Aku merasa kita hanya dua orang asing yang dipaksa berbagi atap. Kalau memang beban ini terlalu berat untukmu... kalau memang kamu ingin pergi... aku ikhlas."
Mendengar kata "menyerah" dari mulut Siska, jantung Gavin seolah berhenti berdetak. Rasa bersalah yang selama ini menghimpitnya mendadak meledak. Dia teringat betapa dia hampir saja berkhianat dengan Arum, teringat betapa dia membiarkan nafsunya menguasai logikanya.
Gavin berlutut di samping ranjang, menenggelamkan wajahnya di tangan Siska. "Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku, Siska. Aku laki-laki brengsek. Aku sering lalai, aku sering membiarkan pikiranku melayang ke tempat yang salah."
Gavin mendongak, matanya basah oleh air mata penyesalan yang sungguh-sungguh. "Aku janji, Siska. Aku janji akan menjauh dari semua godaan itu. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan fokus pada kesembuhanmu. Aku akan belajar mencintaimu lebih dari sekadar status. Tolong... jangan bicara soal menyerah lagi."
Siska mengusap rambut Gavin dengan lemah. "Janji, Gavin? Tidak akan ada lagi rahasia di antara kita?"
"Janji. Aku bersumpah," ucap Gavin mantap.
Siang itu, di bawah saksi monitor jantung, Gavin merasa jiwanya telah dibersihkan. Dia merasa kuat, dia merasa siap menjadi suami yang setia. Dia telah membuat benteng di dalam hatinya untuk mengusir bayang-bayang Arum selamanya.
Rumah Arum - Pukul 19.00 WIB
Gavin pulang sebentar untuk mengambil pakaian ganti dan beberapa keperluan Siska. Papa dan Mama masih di rumah sakit, sehingga rumah terasa sangat sunyi. Gavin melangkah menaiki tangga dengan tekad yang bulat. Dia tidak ingin menoleh ke kanan atau ke kiri, dia hanya ingin masuk ke kamarnya, ambil baju, lalu pergi lagi.
Namun, semesta seolah sedang ingin menguji sumpah sucinya.
Saat melewati kamar Arum, pintu kayu itu sedikit terbuka—mungkin karena tidak tertutup rapat saat Arum masuk tadi. Gavin berniat melangkah lewat begitu saja, tapi sebuah suara percikan air dan aroma sabun vanila yang sangat kuat menyeruak keluar, menghentikan langkah kakinya tepat di depan celah pintu.
Tanpa sengaja, matanya melirik ke dalam.
Di sana, di tengah remang lampu kamar yang hangat, Arum baru saja keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan selembar handuk putih pendek yang melilit tubuhnya—handuk yang sangat minim, memperlihatkan bahunya yang mulus, kakinya yang jenjang dan masih basah oleh sisa air, serta lekukan tubuhnya yang mematikan.
Arum sedang berdiri di depan cermin, membelakangi pintu. Dia mengangkat kedua tangannya untuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil lain, membuat handuk di tubuhnya sedikit tertarik naik, mengekspos bagian paha belakangnya yang putih bersih.
Zzzzzap.
Benteng pertahanan yang baru saja dibangun Gavin di rumah sakit runtuh seketika dalam satu detik. Darahnya mendidih. Hasrat yang tadi pagi dia kubur dalam-dalam, mendadak meledak kembali dengan kekuatan sepuluh kali lipat.
"Ahhhhh..." Gavin tanpa sadar mengeluarkan desahan halus yang tertahan. Jakunnya bergerak naik-turun dengan cepat. Tangannya yang memegang kunci mobil mulai bergetar.
Dia bisa melihat butiran air yang mengalir perlahan dari pundak Arum, turun melewati garis punggungnya yang seksi, lalu menghilang di balik lilitan handuk. Imajinasi Gavin liar seketika; dia membayangkan bagaimana rasanya jika dia berada di sana, menghapus butiran air itu dengan bibirnya.
"Eumhhhh..." Gavin memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram kusen pintu hingga buku jarinya memutih. Dia sedang berperang hebat dengan dirinya sendiri. Suara Siska yang meminta maaf tadi siang bergema di telinganya, tapi pemandangan di depannya jauh lebih nyata dan memabukkan.
Arum tiba-tiba menoleh sedikit, seolah merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Dia tersenyum kecil pada pantulan dirinya di cermin—senyum yang seolah tahu bahwa ada mangsa yang sedang terperangkap di balik pintu.
Gavin langsung menarik diri. Dia berlari menuju kamarnya sendiri dengan napas yang memburu. Begitu masuk ke kamarnya, dia langsung mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana.
"Sial... sial... sial!" Gavin merintih, menjambak rambutnya sendiri. Tubuhnya panas, jantungnya berdetak seperti genderang perang, dan bagian bawah celananya kembali terasa sesak dan "basah" oleh keringat dingin gairah.
Dia baru saja berjanji pada istrinya yang sedang sekarat, tapi hanya dengan melihat bahu Arum, dia kembali menjadi budak nafsu yang menyedihkan. Gavin jatuh terduduk di lantai, mencoba menetralkan napasnya yang pecah.
"Ahhhhh... Arum... kenapa kamu harus ada di rumah ini?" rintihnya pelan, suara desahan yang penuh dengan penderitaan dan gairah yang disiksa.
Gavin tahu, menjauh dari Arum ternyata tidak semudah mengucapkan sumpah. Karena Arum bukan cuma sekadar godaan, dia adalah racun yang sudah menyebar di seluruh aliran darahnya. Dan malam ini, resolusi sucinya hancur berkeping-keping, menyisakan pria yang kembali haus akan "dosa" yang sama.
jngan y thor