Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Pentingnya Ulang Tahun?
Di tengah kemewahan itu, pikirannya melayang kepada Adrianna, gadis kecil berusia enam tahun yang masih terjebak di rumah kumuh dan bau. Di sana makanan saja sulit didapat, apalagi kemewahan berbagai jenis minuman.
"Melody, sayang. Kamu nggak apa-apa kan? Mama harap kamu suka meatloaf dan kentang ini," tanya Pujiana dengan nada lembut dan perhatian.
Melody mengerjap cepat, menahan air mata agar tak jatuh membayangkan nasib anak-anak lain yang tertinggal. Ia mengangguk pelan. "Iya. Aku baik-baik aja." Sebuah senyum getir terukir di bibirnya.
Bagaimana mungkin ia bisa duduk di sini menikmati hidangan lezat sementara anak-anak kecil lain kelaparan?
Anak-anak yang dulu berusaha ia lindungi, namun sayangnya ia gagal.
"Kamu nggak suka meatloaf?"
Melody menelan ludah, menatap uap panas yang mengepul dari daging itu. Tampak begitu empuk dan nikmat, seakan mudah dipotong hanya dengan garpu. Aroma harumnya langsung menyeruak, membuat perutnya bergemuruh kelaparan.
"Aku ... belum pernah makan ini sebelumnya."
"Oh, ya ampun. Seharusnya Mama tanya dulu seleramu sebelum masak," sahut Pujiana, lalu menatap Tuan Lukita dengan wajah sedikit cemas.
Melody justru merasa sangat berterima kasih. Wanita ini sudah menyiapkan makanan sebaik ini, jauh lebih dari yang pernah orang lain lakukan untuknya. Ia tak ingin terlihat tidak tahu berterima kasih atas keramahan mereka.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil piring dan menyenduk sepotong meatloaf yang ia yakin pasti rasanya luar biasa. Ia mengambil kentang dan sebuah roti gulung. Mulutnya sudah berair bahkan sebelum ia mencicipinya sedikit pun.
Melody tersenyum tulus saat memotong sepotong daging, lalu memejamkan mata sejenak untuk menikmati rasa masakan rumahan yang begitu nikmat. "Enak banget. Makasih, Ma."
Senyum hangat terbit di wajah wanita itu saat ia kembali menyesap anggur merahnya. Tuan Lukita pun menganggukkan kepala memberi tanda setuju. Melody tidak berpura-pura. Makanan ini sungguh sangat lezat.
"Ngomong-ngomong, kenapa bajumu bisa jadi seperti itu hari ini?" tanya Tuan Lukita tiba-tiba.
Messy langsung menegang mendengar pertanyaan itu, namun Melody tetap diam. Ia berniat menepati janjinya, asalkan cowok itu juga melakukan hal yang sama.
Messy berdeham pelan. "Dia tadi kecelakaan kecil, jadi sweater dan seragamnya rusak. Petugas di sekolah baik banget, jadi mereka kasih dia baju cadangan dari tempat barang temuan."
Edgard tampak terkejut, dan mungkin sedikit merasa bersalah atas sikapnya saat Melody baru datang tadi. Pria itu langsung berasumsi kalau Melody akan membawa masalah atau bergaul dengan orang yang tidak jelas.
Andai saja ia tahu bahwa justru anak-anak temannya yang bermasalah. Messy selalu berhasil menampilkan citra remaja yang sempurna, atlet sepak bola dengan masa depan cerah.
"Oh, begitu ya. Terus kamu pulangnya naik apa?"
Belum sempat Melody menjawab, Messy sudah lebih dulu bersuara. "Naik mobil Giggi."
"Wah, bagus sekali! Lihat kan, Edgard? Aku tahu pasti dia bisa akrab sama teman-temannya Messy. Giggi itu anak baik banget."
"Mama sempat heran kenapa dia nggak ikut masuk menyapa. Biasanya dia selalu datang, tapi mungkin dia sibuk latihan ya. Kakaknya, Jojo, itu protektif banget sama Giggi."
"Oh iya, kamu udah kenal sama Adden?"
Seluruh tubuh Melody menegang seketika saat nama itu disebut. Messy menyadari perubahan sikapnya, ia melirik sekilas ke arah gadis itu sebelum menatap ibunya.
"Udah, mereka udah kenalan," jawab Messy dengan nada rendah.
Melody yakin saat ini orang tua itu pasti bertanya-tanya, kenapa Messy yang menjawab semua pertanyaan untuknya.
"Dia emang mungkin agak jutek pas awal ketemu, tapi kalau udah kenal lama, kamu bakal tau dia itu orangnya baik banget. Setia kawan parah."
Melody hampir tersedak potongan daging di mulutnya.
Setia?
Omong kosong. Pengkhianat, itu lebih tepat. Brengsek adalah kata yang paling pas buat menggambarkan sosok itu.
Dia buru-buru meneguk air untuk menelan ludah. Ingatannya kembali ke perjalanan di mobil sampai ke mal mewah itu, dan bagaimana pria itu mencoba memerasnya demi merasa hebat.
Melody tak bisa melupakan otot lengannya yang menegang. Tato-tato di sana terlihat acak, padahal dia tahu setiap gambar punya arti tersendiri.
Dulu saat kecil, pria itu pernah bilang kalau segala sesuatu harus punya makna khusus. Bahwa apa pun yang dilakukan harus ada tujuannya. Saat itu Melody tidak mengerti, tapi sekarang?
"Hati-hati sama Adden," ucap Tuan Lukita tegas. "Dia itu pemarah. Meskipun ganteng, dia ahli banget bikin cewek patah hati. Sering juga bikin masalah."
"Tenang aja, Tuan. Aku nggak ada niatan pacaran atau terlibat sama siapa pun di sini. Aku cuma numpang lewat," sahut Melody mendengus.
Suasana langsung berubah kaku. Tuan Lukita tampak tersinggung, dan Messy meletakkan garpunya lalu mengangkat sebelah alis.
Sepertinya Messy berharap Melody memanggilnya 'Papa'. Tapi dia tidak pantas dapat gelar itu. Dia ayahnya Messy, bukan ayahnya Melody.
Pujiana menatap mereka gelisah lalu berdeham pelan. "Gini, Mama tahu mungkin agak cepet bahas ini, tapi ulang tahun kamu ke-18 kan sebentar lagi. Kamu mau kue rasa apa? Mama tahu tokonya enak, tapi harus pesan jauh-jauh hari."
Melody menggigit bibir, bingung harus jawab apa. Bagaimana caranya bilang kalau dia bahkan belum pernah makan daging, apalagi kue ulang tahun?
Hal yang paling mendekati itu cuma cupcake curian yang dulu dia kasih ke Robby dan Amme sebelum mereka diadopsi. Waktu itu mereka baru umur enam dan tujuh tahun.
Melody mengedarkan pandangan. Tuan Lukita tampak kesal, tapi Melody tak peduli. Matanya bertemu Messy yang bersandar malas, seakan menunggu jawaban.
Akhirnya tatapannya jatuh ke Pujiana yang tersenyum sabar menunggu.
"Gimana ya... aku nggak tahu." Melody mengisi gelas air, meneguk pelan, lalu meletakkannya lagi. "Aku belum pernah makan kue yang beneran. Apalagi kue ulang tahun. Paling cuma pernah nyicip cupcake, kayaknya rasa vanila deh. Jadi... vanila aja nggak apa-apa."
Melody mengangkat bahu acuh. "Nggak usah repot-repot juga. Cuma hari biasa kok."
Senyum Pujiana langsung hilang. Wanita itu menatap suaminya, lalu ke Messy. Hening menyelimuti ruangan. Jelas sekali ucapan Melody membuat mereka merasa tak enak.
Pujiana berkedip cepat, meletakkan serbet, lalu berdiri. Melody panik dalam hati. Sepertinya dia baru saja merusak suasana dan membuat wanita itu sedih, padahal bukan itu tujuannya.
Melody segera bangkit, membereskan piringnya sendiri dan jalan ke dapur buat mencuci. Nafsu makannya sudah hilang. Ini hal yang bisa dia lakukan sebagai balas budi.
Lagipula dia memang tak biasa makan banyak di malam hari.
"Nggak apa-apa, Melody. Aku bantu bersihin," kata Messy.
Melody berhenti sejenak. Dia mendongak melihat Tuan Lukita yang juga tampak kesal. Lalu dia menatap Messy, yang kini justru menatap piring makanannya.
Melody meletakkan kembali piring dan gelasnya di meja
"Tolong bilang sama Mama, aku minta maaf ya."
"Istirahatlah dulu. Papa tahu tadinya mau ajak kamu beli keperluan, tapi janji deh besok kita pergi," ucap Tuan Lukita.
"Nggak usah khawatir. Aku udah punya semua yang aku butuhin."