"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Belas
Sinar mentari pagi yang menerobos celah-celah daun Pohon Memori menciptakan pola-pola cahaya yang menari di atas tanah halaman gubuk Zhou Ji Ran. Pohon itu, yang baru saja ditanam semalam dari benih bening pemberian misterius, telah tumbuh setinggi tiga meter hanya dalam hitungan jam. Batangnya berwarna putih gading dengan urat-urat perak yang sesekali berdenyut perlahan, seolah-olah mengalirkan aliran darah berupa kenangan-kenangan manis dari seluruh penjuru alam semesta. Daunnya berbentuk hati kecil dengan warna hijau zamrud yang transparan, mengeluarkan aroma melati yang begitu lembut namun mampu menembus hingga ke relung jiwa yang paling dalam.
Di bawah naungan pohon baru tersebut, Zhang Tian duduk bersila dengan sebuah keranjang penuh telur ayam di sampingnya. Sang Penegak Hukum yang agung itu baru saja menyelesaikan tugas pembersihan kandang ayam sebelum matahari benar-benar naik. Namun, alih-alih merasa lelah atau terhina, ia justru tampak termenung. Aroma dari Pohon Memori itu membangkitkan ingatan masa kecilnya, saat ia belum mengenal kultivasi, saat ia hanya seorang anak kecil yang berlari di padang rumput bersama ibunya.
"Tuan Zhou... pohon ini bukan sekadar tanaman, bukan?" tanya Zhang Tian pelan saat melihat Zhou Ji Ran keluar dari dapur membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh.
Zhou Ji Ran meletakkan nampan itu di atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai halus karena sering digunakan. Ia menuangkan teh pahitnya dengan gerakan yang sangat presisi. "Itu adalah pengingat, Zhang Tian. Sesuatu yang memberitahumu bahwa sebelum kau menjadi 'hukum' yang kaku, kau adalah seorang manusia yang memiliki rasa syukur. Bagaimana telur-telurnya? Apakah ayam-ayam itu memberimu masalah pagi ini?"
"Tidak, Tuan. Mereka justru tampak lebih tenang hari ini. Bahkan ayam jantan yang biasanya galak itu membiarkan saya mengusap kepalanya," jawab Zhang Tian dengan senyum tipis yang tulus.
Di sisi lain, di lereng bukit yang terjal, pemandangan luar biasa masih berlangsung. Tiga Penjaga Batas tahap Nirvana dan ribuan murid berjubah emas terlihat seperti titik-titik kecil yang bergerak lincah di antara bebatuan tajam. Mereka tidak lagi berteriak atau mengeluh; tekanan gravitasi yang diterapkan Zhou Ji Ran telah memaksa mereka untuk fokus sepenuhnya pada setiap tarikan otot dan napas. Jenderal Han berdiri di atas sebuah batu besar, memegang sebuah peluit bambu.
"Ayo! Tiga baris lagi sebelum sarapan! Jika kalian menemukan batu yang terlalu besar untuk diangkat, jangan gunakan energi penghancur! Gunakan teknik pengungkit yang sudah aku ajarkan! Kita butuh batu-batu itu dalam keadaan utuh untuk membangun fondasi terasering jagung!" suara Jenderal Han menggelegar, memberikan semangat yang unik.
Pangeran Long Wei, yang sekarang sudah naik jabatan menjadi "Kepala Irigasi", sedang sibuk mengatur aliran air dari kincir naga menuju ke tebing utara. Ia menggunakan sebuah peta yang dibuat di atas selembar kulit kayu, menunjuk-nunjukkan jarinya ke arah saluran-saluran kecil yang digali oleh murid-murid emas. "Long Wei! Pastikan airnya merembes perlahan! Tanah di tebing itu mudah longsor jika kau memberinya terlalu banyak tekanan sekaligus!" teriak Zhou Ji Ran dari terasnya.
"Siap, Tuan! Saya sedang menyesuaikan sudut kincir naga keempat!" balas Long Wei dengan penuh semangat.
Kehidupan di Desa Jinan seolah-olah telah mencapai tingkat harmoni yang sempurna. Namun, harmoni itulah yang justru memicu gelombang baru dari arah luar. Wangi dari Padi Surgawi yang mulai berbulir emas dan aroma melati dari Pohon Memori telah melintasi batas-batas dimensi, menarik perhatian mereka yang menganggap diri mereka sebagai penikmat tertinggi dari segala sesuatu yang langka di dunia ini.
Dari arah timur, sebuah kapal terbang kecil yang berbentuk seperti sendok raksasa berwarna perak muncul dari balik awan. Kapal itu tidak membawa meriam atau prajurit, melainkan membawa kuali-kuali besar yang terbuat dari perunggu kuno dan ratusan keranjang berisi rempah-rempah eksotis. Ini adalah armada dari "Paviliun Tujuh Rasa", sebuah organisasi misterius yang terdiri dari para ahli kuliner kultivasi yang sangat kuat. Pemimpin mereka, Chen Long, dikenal sebagai "Dewa Bumbu" yang konon bisa membunuh musuhnya hanya dengan aroma cabai yang ia bakar.
Kapal berbentuk sendok itu mendarat dengan lembut di pinggir jalan masuk desa, tepat di depan pohon willow yang menjadi batas wilayah Zhou Ji Ran. Chen Long turun dari kapal dengan mengenakan jubah putih bersih yang memiliki sulaman gambar naga sedang memakan buah persik abadi. Di belakangnya, tujuh murid utamanya membawa berbagai peralatan dapur yang memancarkan aura senjata tingkat bumi.
"Aroma ini... tidak salah lagi. Ini adalah Padi Surgawi tingkat murni yang sudah punah sejak Zaman Primal," gumam Chen Long sambil menghirup udara dengan ekspresi yang hampir religius. "Dan aroma melati ini... apakah itu Pohon Memori yang legendaris? Bagaimana mungkin semua ini berada di tangan seorang petani di desa terpencil?"
Zhou Ji Ran, yang sedang menikmati tahu goreng buatan Lin Xiaoqi, hanya melirik sekilas ke arah para pendatang baru itu. "Xiaoqi, sepertinya kita kedatangan rombongan juru masak. Apakah kita kehabisan stok garam? Kenapa mereka membawa kuali sebesar itu ke sini?"
Lin Xiaoqi melihat ke arah Chen Long dan matanya membelalak. "Tuan! Itu adalah Chen Long dari Paviliun Tujuh Rasa! Di Dunia Atas, dia adalah orang yang melayani perjamuan para kaisar! Dikatakan bahwa satu mangkuk nasi yang ia masak bisa meningkatkan kultivasi seseorang selama sepuluh tahun!"
"Oh? Jadi dia tukang masak istana?" Zhou Ji Ran mengambil sepotong tahu lagi. "Baguslah. Aku sedang bosan dengan masakanmu yang selalu saja terlalu banyak menggunakan merica, Xiaoqi. Mungkin dia bisa mengajarimu sesuatu yang lebih berguna."
Chen Long melangkah masuk ke halaman dengan angkuh, mengabaikan Ye Hua yang berdiri waspada dengan sapu lidinya. Ia berhenti tepat di depan teras dan membungkuk sedikit, namun matanya tetap menatap tajam ke arah Zhou Ji Ran. "Saya Chen Long. Saya datang ke sini bukan untuk berperang, melainkan untuk melakukan sebuah kesepakatan. Saya ingin membeli seluruh hasil panen Padi Surgawi Anda dan juga beberapa dahan dari pohon melati putih itu. Sebagai gantinya, saya akan memberikan Anda 'Resep Keabadian' dan sepuluh kuali energi yang bisa membuat desa ini tetap hangat sepanjang tahun."
Zhou Ji Ran menelan tahu gorengnya dengan santai, lalu menatap Chen Long dengan pandangan bosan. "Tuan Dewa Bumbu, kau datang ke tempat yang salah jika ingin membeli hasil panenku. Padi itu ditanam untuk dimakan oleh penduduk desa ini dan para pekerjaku. Aku tidak menjual makanan untuk orang-orang yang hanya ingin mencari 'status' lewat rasa. Dan soal resep keabadian... aku sudah hidup terlalu lama untuk peduli tentang keabadian. Itu sangat membosankan."
Wajah Chen Long berubah menjadi kaku. Tidak ada seorang pun di tujuh kerajaan yang berani menolak tawarannya. "Anda tidak mengerti, Senior. Padi Surgawi ini adalah bahan suci yang hanya layak diolah oleh tangan yang ahli. Menyerahkannya pada orang biasa untuk dimakan sebagai bubur adalah penghinaan terhadap alam semesta! Biarkan saya yang mengolahnya, dan nama Anda akan dikenal sebagai penyedia bahan untuk 'Hidangan Sejati' yang akan mengguncang langit!"
"Aku lebih suka namaku tidak dikenal sama sekali," jawab Zhou Ji Ran. "Dan bagiku, penghinaan terbesar adalah membiarkan padi yang tumbuh dengan tulus ini berakhir di meja orang-orang sombong yang bahkan tidak tahu cara mencangkul. Jika kau benar-benar ingin merasakan Padi Surgawi ini, kau punya dua pilihan. Pertama, kau bisa pulang dan menunggu sampai aku membuka kedai teh kecil di pasar nanti. Kedua, kau bisa tinggal di sini dan membantu Master Sekte Sun Bo untuk mengupas kulit jagung perak yang mulai kering."
Murid-murid Chen Long seketika menghunus pisau dapur mereka yang bersinar biru. "Beraninya kau menghina guru kami! Guru kami tidak pernah menyentuh pekerjaan kasar seumur hidupnya!"
Chen Long mengangkat tangannya, menghentikan murid-muridnya. Ia tersenyum dingin. "Senior, sepertinya Anda meremehkan kemampuan saya. Di Paviliun Tujuh Rasa, kami memiliki prinsip: jika bahan tidak bisa dibeli, maka bahan itu harus 'dimenangkan' melalui kompetisi rasa. Saya menantang Anda. Jika saya bisa membuat hidangan dari bahan-bahan di kebun Anda yang bisa membuat Anda meneteskan air mata kebahagiaan, maka seluruh ladang ini menjadi milik saya. Jika saya gagal, saya akan menyerahkan kapal perak saya dan seluruh murid saya akan menjadi pelayan Anda selama satu tahun."
Zhou Ji Ran tertawa pelan. "Kompetisi rasa? Itu terdengar menarik. Tapi aku tidak butuh kapal perakmu. Aku sudah punya sembilan naga dan satu rajawali. Bagaimana jika begini... jika kau gagal, kau dan murid-muridmu harus membangun sebuah restoran besar di tengah desa untuk memberi makan penduduk desa secara gratis setiap hari selama sepuluh tahun ke depan. Dan kau harus menjadi juru masak utamanya tanpa menggunakan energi spiritual sedikit pun."
Chen Long menyanggupi dengan cepat. "Setuju! Tapi apa yang akan Anda masak? Seorang petani pasti hanya tahu cara merebus air dan menggoreng telur."
"Aku tidak akan memasak sesuatu yang rumit. Aku hanya akan menyajikan apa yang disediakan oleh tanah ini," jawab Zhou Ji Ran.
Pertandingan pun dimulai. Chen Long segera mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia mengambil beberapa sayuran dari kebun belakang Zhou Ji Ran—dengan izin yang diberikan secara malas—dan mulai memasak di atas kuali perunggunya. Ia menggunakan "Api Jiwa Murni" untuk memasak, menciptakan aroma yang begitu luar biasa hingga murid-murid Sekte Matahari Terbit di bukit pun berhenti bekerja sejenak karena air liur mereka menetes.
Aroma masakan Chen Long adalah perpaduan antara kemewahan, kekuatan, dan keindahan. Ia menciptakan sebuah hidangan yang ia sebut "Surga di Atas Piring". Di dalamnya terdapat perpaduan rasa yang bisa memicu pencerahan instan bagi siapa pun yang menciumnya. Bahkan Ye Hua dan Su Ruo tampak sedikit tergoda oleh aromanya yang begitu magis.
"Selesai! Silakan dinikmati, Senior!" Chen Long menyajikan sebuah piring perak berisi tumisan sayur dan irisan buah yang diatur dengan sangat artistik.
Zhou Ji Ran mencicipi sedikit dengan sumpit bambunya. Wajahnya tetap datar. "Rasanya... terlalu banyak ego. Kau mencoba memaksa sayuran ini untuk menjadi sesuatu yang bukan diri mereka. Kau menambahkan terlalu banyak bumbu surga hingga kau membunuh rasa tanahnya. Ini bukan makanan, ini adalah pameran kekuatan."
Kini giliran Zhou Ji Ran. Ia masuk ke dapur, mengambil semangkuk nasi dari sisa makan malam semalam dan sebutir telur dari keranjang Zhang Tian. Di atas wajan besi tua yang sudah menghitam, ia menggoreng nasi itu hanya dengan sedikit minyak nabati buatan sendiri dan potongan bawang merah dari kebun. Ia tidak menggunakan api jiwa, ia menggunakan api dari kayu bakar biasa yang dikumpulkan oleh Long Wei.
Saat nasi goreng itu matang, aromanya tidak meledak ke seluruh desa. Aromanya hanya merayap pelan di sekitar teras. Namun, saat aroma itu sampai ke hidung Chen Long, pria itu seketika mematung.
Aroma itu bukan aroma surga. Itu adalah aroma... rumah. Aroma kasih sayang seorang ibu, aroma kedamaian sore hari setelah lelah bekerja, aroma yang membangkitkan semua kenangan paling tulus dalam hidup manusia.
Zhou Ji Ran menyajikan mangkuk tanah liat itu di depan Chen Long. "Makanlah. Ini adalah Nasi Goreng Kedamaian."
Chen Long mengambil sesendok. Begitu nasi itu masuk ke mulutnya, air mata mulai mengalir di pipinya yang tadinya angkuh. Ia teringat saat ia masih menjadi pelayan kecil di sebuah dapur kumuh, sebelum ia mengenal ambisi untuk menjadi Dewa Bumbu. Ia teringat rasa syukur yang ia rasakan saat pertama kali berhasil memasak nasi yang layak untuk adiknya.
"Ini... ini adalah rasa yang sudah lama aku hilangkan," bisik Chen Long. "Aku selalu mengejar rasa yang bisa memukau dunia, tapi aku lupa rasa yang bisa menyentuh hati."
Ia meletakkan sendoknya dan membungkuk dalam-dalam hingga dahinya menyentuh lantai teras. "Saya kalah. Kekuatan Anda bukan berada pada teknik, melainkan pada pemahaman Anda tentang hakikat kehidupan itu sendiri. Saya... saya akan memenuhi janji saya."
"Bagus. Xiaoqi, tunjukkan pada mereka lokasi pembangunan restoran di pusat desa. Dan pastikan mereka tidak menggunakan kuali perak itu; gunakan peralatan tanah liat buatan penduduk lokal," perintah Zhou Ji Ran santai.
Hanya dalam waktu satu sore, Desa Jinan kini memiliki tim juru masak terbaik di seluruh benua sebagai penyedia makanan bagi para pekerjanya. Pangeran Long Wei dan Jenderal Han sangat gembira, karena mereka tahu bahwa jatah makan mereka kini akan meningkat secara kualitas.
Namun, di balik kemenangan kecil itu, Zhou Ji Ran menatap ke arah langit yang mulai gelap. Ia merasakan bahwa emosi yang dipicu oleh masakan Chen Long dan aroma Pohon Memori telah menciptakan sebuah riak yang sangat kuat di dimensi spiritual. Riak itu telah memicu sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada juru masak atau jenderal perang.
"Tuan, ada apa?" tanya Su Ruo, menyadari tatapan serius Zhou Ji Ran.
"Aroma kedamaian ini... ia terlalu harum untuk dunia yang penuh dengan kebencian, Ruo. Para 'Dewa Kuno' yang tertidur di kedalaman kegelapan mulai terbangun. Mereka merasa terganggu karena ada satu sudut di semesta ini yang tidak lagi tunduk pada hukum penderitaan yang mereka ciptakan," jelas Zhou Ji Ran.
Tiba-tiba, bumi di bawah Desa Jinan bergetar hebat. Bukan getaran karena gempa bumi, melainkan getaran karena ada sesuatu yang sedang mencoba merangkak keluar dari perut bumi. Di tengah ladang jagung perak, tanah tiba-tiba merekah, mengeluarkan uap hitam yang berbau busuk dan sangat dingin. Dari dalam rekahan itu, muncul sesosok makhluk bertubuh kurus kering dengan kulit berwarna kelabu dan mata yang hanya terdiri dari lubang hitam tanpa dasar.
Makhluk itu adalah 'Penelan Harapan', salah satu jenderal dari pasukan Dewa Kuno yang seharusnya sudah musnah saat Zhou Ji Ran menghancurkan sistem sepuluh ribu tahun yang lalu.
"Zhou... Ji... Ran..." suara makhluk itu terdengar seperti gesekan pisau di atas batu. "Kau... masih... hidup... Kedamaianmu... adalah... racun... bagi... kami..."
Makhluk itu mengangkat tangannya, dan seluruh tanaman Jagung Perak di sekitarnya seketika layu dan berubah menjadi debu hitam. Kebencian yang dipancarkannya begitu kuat hingga murid-murid Sekte Matahari Terbit yang berada di dekatnya seketika pingsan dengan wajah yang dipenuhi ketakutan.
Zhou Ji Ran berdiri perlahan. Ia tidak lagi memegang tehnya. Wajahnya kini menunjukkan kemarahan yang tenang namun sangat dalam. "Kau baru saja... menghancurkan jagung perakku yang baru saja ingin berbuah?"
"Harapan... harus... mati..." desis sang Penelan Harapan. Ia melesat maju, tangan kurusnya berubah menjadi belati bayangan yang bisa memotong eksistensi jiwa.
Namun, Zhou Ji Ran tidak menghindar. Ia justru maju satu langkah dan menangkap kepala makhluk itu dengan telapak tangannya. "Jika kau ingin memakan harapan, pergilah ke neraka asalmu. Di ladangku, hanya ada tempat untuk mereka yang tahu cara menghargai pertumbuhan."
Zhou Ji Ran tidak meledakkan energi spiritual. Ia justru menggunakan 'Kekosongan' yang ia miliki di dalam dirinya—sebuah kemampuan sisa dari sistem penguasa multisemesta yang kini telah menyatu dengan jiwanya. Ia menghisap seluruh energi kegelapan dari makhluk itu, mengubahnya kembali menjadi energi murni yang netral, dan kemudian menekannya ke dalam tanah ladang jagung yang baru saja rusak.
*Wuuusss!*
Dalam sekejap, makhluk itu menghilang, terserap sepenuhnya ke dalam tanah. Dan secara ajaib, tanaman jagung perak yang tadinya layu kini tumbuh kembali dengan kecepatan yang lebih gila, batangnya menjadi dua kali lebih kuat dan bulirnya mulai berkilau dengan cahaya perak yang lebih terang dari sebelumnya.
"Pupuk organik yang sangat bagus, meskipun agak sedikit keras di awal," gumam Zhou Ji Ran sambil menepuk-nepuk tangannya.
Gu Lao berdiri di teras, matanya menatap Zhou Ji Ran dengan penuh rasa hormat. "Ji Ran, kau baru saja mengubah serangan dari masa lalu menjadi sumber kehidupan baru. Tapi kau tahu ini artinya perang telah dimulai secara resmi. Para Dewa Kuno tidak akan mengirim jenderal mereka hanya untuk satu kali serangan."
"Biarkan mereka datang, Gu Lao. Setiap jenderal yang mereka kirim adalah tambahan nutrisi bagi tanahku. Jika mereka ingin memberikan diri mereka sebagai pupuk, siapa aku untuk menolak?" jawab Zhou Ji Ran. Ia menoleh ke arah Chen Long yang masih gemetar di halaman. "Tuan Dewa Bumbu, sepertinya kau punya bahan baru untuk sup malam ini. Tanah di bawah rekahan tadi baru saja menyerap esensi purba. Gunakan sayuran yang tumbuh di sana, rasanya pasti akan sangat menarik."
Chen Long menelan ludah, lalu mengangguk cepat. "Baik, Tuan! Saya akan segera meracik hidangan yang layak untuk Anda!"
Malam di Desa Jinan kembali menjadi tenang, namun kini dengan kesadaran bahwa mereka sedang berada di garis depan sebuah pertempuran yang tidak kasat mata. Di bawah Pohon Memori yang kini mulai mengeluarkan cahaya keperakan, Zhang Tian duduk berjaga, menyadari bahwa hukum yang ia bela dulu tidak ada artinya dibandingkan dengan perlindungan yang diberikan oleh sang petani legenda.
Padi Surgawi terus tumbuh, Jagung Perak semakin berkilau, dan di tengah-tengah itu semua, Zhou Ji Ran kembali duduk di kursinya, menyeruput teh pahitnya sambil menatap bintang-bintang. Ia tahu bahwa besok pagi akan ada lebih banyak hama yang harus ia tangani, baik itu berupa serangga kecil maupun dewa kuno dari dimensi kegelapan. Namun, selama ia masih memiliki cangkulnya dan bantuan dari asisten-asistennya yang semakin kompak, ia yakin bahwa ladangnya akan tetap subur dan damai.
"Tuan, apakah kita akan membangun kolam ikan juga di sebelah selatan?" tanya Lin Xiaoqi sambil merapikan piring-piring bekas sarapan.
"Ide yang bagus, Xiaoqi. Kita butuh protein tambahan. Dan aku dengar ada Naga Laut Kuno di Samudera Timur yang sudah lama menganggur. Mungkin dia bisa menjadi penjaga kolam ikan kita yang baru," jawab Zhou Ji Ran sambil tersenyum misterius.
Perjalanan tanpa instruksi sistem ini memang penuh dengan kejutan tak terduga, namun bagi Zhou Ji Ran, inilah cara yang paling indah untuk menghabiskan masa pensiunnya. Menghadapi dewa-dewa kuno sambil memastikan sayuran di kebunnya tumbuh dengan sempurna. Karena pada akhirnya, kekuatan sejati bukan tentang seberapa banyak dunia yang bisa kau hancurkan, melainkan seberapa banyak kehidupan yang bisa kau tumbuhkan di atas reruntuhan masa lalu.
Malam itu, di bawah perlindungan sang mantan penguasa multisemesta, Desa Jinan tertidur dengan lelap, tidak menyadari bahwa mereka adalah satu-satunya tempat yang paling aman di seluruh alam semesta yang sedang bergejolak. Dan esok hari, matahari akan kembali terbit, membawa tantangan baru dan kebahagiaan baru bagi sang petani yang hanya ingin hidup dalam damai. Kehidupan ini memang benar-benar luar biasa.