NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Meridian yang Terputus dan Sisik Hitam

​Hujan turun dengan lebat, mengguyur halaman belakang Kediaman Klan Lin di Kota Awan Merah. Suara rintik hujan tersamarkan oleh bunyi hantaman keras yang berulang-ulang.

​Bruk! Bruk! Bruk!

​Seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun terus meninju tiang kayu besi yang tebal. Pakaiannya basah kuyup, menempel pada tubuhnya yang kurus namun dipenuhi luka. Buku-buku jarinya telah robek, mengeluarkan darah segar yang bercampur dengan air hujan, tetapi ia seolah tidak merasakan sakit.

​Namanya Lin Chen.

​"Tiga tahun..." gumam Lin Chen dengan gigi terkatup. Matanya menatap tiang kayu itu dengan kebencian dan ketidakberdayaan yang mendalam. "Sudah tiga tahun sejak meridianku dihancurkan. Apakah aku benar-benar ditakdirkan menjadi sampah seumur hidupku?"

​Dulu, pada usia dua belas tahun, Lin Chen adalah kebanggaan Klan Lin. Ia menembus Ranah Pengumpulan Qi di usia yang sangat muda, dijuluki sebagai jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, sebuah serangan mendadak dari sosok bertopeng misterius di malam hari menghancurkan semua meridian di tubuhnya.

​Dalam dunia kultivasi, tanpa meridian yang utuh, seseorang tidak akan bisa menampung Qi spiritual alam. Dari seorang jenius yang dipuja, Lin Chen jatuh menjadi "sampah" yang dihina oleh semua orang, bahkan oleh keluarganya sendiri.

​"Yo, lihat siapa yang sedang berlatih. Bukankah ini mantan jenius kita, Saudara Sepupu Lin Chen?"

​Sebuah suara penuh nada ejekan terdengar dari koridor beratap di dekat halaman. Sekelompok remaja berpakaian sutra mewah berjalan mendekat. Pemimpinnya adalah seorang pemuda bertubuh tegap dengan senyum angkuh, Lin Lang.

​Lin Lang saat ini berada di Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 7, salah satu talenta terbaik generasi muda Klan Lin saat ini. Gelar yang dulu disandang oleh Lin Chen.

​Lin Chen menghentikan pukulannya, menatap dingin ke arah kelompok itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​"Masih bermimpi untuk memulihkan meridianmu?" Lin Lang tertawa sinis, melangkah menembus hujan dengan sebuah payung kertas minyak yang dipegang oleh pelayannya. "Terimalah kenyataan, Lin Chen. Kau sekarang hanyalah beban bagi klan. Tadi pagi, Tetua Klan telah memutuskan untuk memotong jatah sumber daya bulananmu menjadi nol. Ramuan obat tidak berguna untuk tubuh yang bocor sepertimu!"

​Mendengar itu, Lin Chen mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. "Keputusan Tetua? Atau akal-akalan ayahmu yang ingin mengambil jatah ramuanku untukmu?"

​Wajah Lin Lang menggelap. Ia mendengus dingin dan tiba-tiba melesat ke depan. Gerakannya terlalu cepat untuk diikuti oleh mata Lin Chen yang tidak memiliki Qi.

​Brak!

​Sebuah tendangan keras mendarat tepat di dada Lin Chen. Remaja itu terlempar ke belakang, menghantam dinding batu dan memuntahkan seteguk darah. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di dadanya, memperparah luka lama di meridiannya.

​"Jaga mulutmu, Sampah!" Lin Lang menatap jijik dari atas. "Jika bukan karena Paman Lin (ayah Lin Chen) masih menjabat sebagai Kepala Klan secara nominal, aku sudah melemparmu keluar dari kediaman ini. Ingat posisimu!"

​Setelah membuang ludah, Lin Lang berbalik dan pergi bersama pengikutnya yang tertawa terbahak-bahak.

​Lin Chen bersandar di dinding batu yang dingin, terbatuk beberapa kali. Hujan membasuh darah di wajahnya. Mata remajanya menyala dengan api ketidakadilan yang tak kunjung padam. Yang kuat memangsa yang lemah. Di dunia ini, tanpa kekuatan, kau bahkan tidak punya hak untuk bernapas!

​Dengan susah payah, ia bangkit dan menyeret tubuhnya kembali ke kamar kayunya yang usang.

​Begitu tiba di dalam, Lin Chen duduk bersila di atas ranjang yang keras. Ia mencoba bermeditasi, menarik Qi spiritual di sekitarnya. Namun, seperti menuangkan air ke dalam keranjang bambu, energi itu masuk ke tubuhnya dan langsung bocor keluar melalui meridiannya yang hancur.

​Lin Chen membuka matanya, tertawa getir. Keputusasaan mulai merayap di hatinya.

​Ia merogoh ke balik kerah bajunya, menarik sebuah benda yang tergantung di lehernya dengan seutas tali kain kasar. Itu adalah sebuah sisik hitam pekat seukuran telapak tangan. Permukaannya kasar dan tidak memancarkan aura apa pun. Ini adalah satu-satunya benda peninggalan ibunya sebelum sang ibu menghilang secara misterius saat ia masih bayi.

​"Ibu... apakah Surga benar-benar tidak menyisakan satu jalan pun untukku?" bisiknya parau.

​Tiba-tiba, rasa sakit yang tajam meledak dari dadanya akibat tendangan Lin Lang tadi. Lin Chen terbatuk keras, memuntahkan darah segar pekat yang tidak sengaja jatuh tepat ke atas permukaan sisik hitam tersebut.

​Tring!

​Pada detik itu juga, sesuatu yang luar biasa terjadi.

​Darah Lin Chen tidak menetes ke lantai, melainkan terserap habis ke dalam sisik tersebut. Sisik hitam yang selama bertahun-tahun tampak seperti batu rongsokan itu tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Suhu di dalam ruangan melonjak drastis, seolah-olah ada gunung berapi yang meletus.

​Sebelum Lin Chen sempat bereaksi, cahaya keemasan itu melesat masuk ke tengah alisnya.

​ROAAAAARRRR!

​Sebuah raungan naga purba yang menggetarkan jiwa meledak di dalam pikiran Lin Chen, membuatnya nyaris pingsan. Dunia di sekitarnya menjadi gelap gulita, dan di tengah kegelapan itu, seekor naga emas raksasa yang besarnya melebihi pegunungan menatapnya dengan sepasang mata merah menyala.

​Pada saat yang bersamaan, sebuah suara kuno dan serak bergema di lautan kesadarannya.

​"Darah keturunan yang telah lama hilang... akhirnya terbangun. Meridian yang hancur? Hah! Meridian fana ini hanya menghambat potensi darah nagamu. Biarkan kursi ini membangun ulang pondasimu dengan Seni Pemakan Surga Sembilan Naga!"

​Tubuh Lin Chen di dunia nyata melayang beberapa sentimeter dari ranjangnya. Energi spiritual berwarna keemasan menyerbu masuk secara brutal ke dalam tubuhnya, tidak untuk menghancurkan, melainkan untuk menyatukan dan memperbaiki setiap inci meridiannya yang terputus, membuatnya seratus kali lebih lebar dan lebih kokoh dari sebelumnya.

1
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪1
yos helmi
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪
Fiktor
mantap alur cerita nya ngak bertele2👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄🙏🙏🙏👍👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!