NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Action / Wanita perkasa / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Komedi / Tamat
Popularitas:82k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
​Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
​Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
​"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pengadilan Di Balai Mahkota

​"Katakan padaku, Alessia... sejak kapan kau belajar memanipulasi saraf seorang Jenderal besar hanya dengan sekali tepuk? Ataukah roh yang kini menghuni tubuh menantuku ini memang sudah tidak memiliki rasa takut pada Dewata?"

​Suara itu menggelegar, memantul di dinding marmer Balai Mahkota yang dingin. Ibu Suri Beatrice berdiri di atas podium tinggi, menunjuk ke arah Alesia dengan kipas sutranya yang bergetar karena amarah.

​Alesia, yang baru saja melangkah masuk dengan gaun kebesaran yang berat, menghentikan langkahnya. Ia tidak menunduk. Sebaliknya, ia menatap langsung ke mata Ibu Suri yang penuh kebencian.

​"Waduh, Ibu Suri. Pagi-pagi tensinya udah tinggi bener. Kagak takut pecah pembuluh darah, Bu?" sahut Alesia santai, meskipun tangannya di balik lengan gaun yang lebar mengepal kuat.

​"Lancang! Beraninya kau bicara seperti itu di hadapan Ibu Suri!" bentak salah satu menteri tua yang berdiri di barisan depan.

​Alesia menoleh ke arah menteri itu, matanya berkilat tajam. "Bapak menteri mending diem deh. Ini urusan internal keluarga. Lagian, Jenderal Kael itu pengkhianat. Kenapa sekarang malah saya yang diintrogasi kayak maling jemuran?"

​Magnus, yang duduk di singgasananya, menggebrak lengan kursi emasnya. "Cukup! Ibu, aku sudah katakan bahwa tindakan Permaisuri adalah untuk melindungi martabat kerajaan. Jenderal Kael telah mengakui kesalahannya dan pengasingan adalah hukuman yang paling ringan."

​"Bukan soal hukuman Kael, Magnus!" Ibu Suri melangkah turun dari podium, mendekati Alesia dengan langkah anggun namun mematikan. "Lihat dia! Cara bicaranya, tatapannya, bahkan cara dia berdiri. Ini bukan Alessia putri bangsawan yang kita kenal. Alessia yang asli tidak akan berani menatap mataku, apalagi melumpuhkan seorang Jenderal dengan teknik sihir hitam!"

​Ibu Suri berhenti tepat di depan Alesia. "Aku menuntut pemeriksaan spiritual oleh Pendeta Agung. Aku curiga... permaisurimu ini adalah penyihir dari negeri kegelapan yang merasuki raga manusia!"

​Alesia tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat meremehkan di tengah aula yang sunyi itu. "Penyihir? Buset, imajinasi Ibu Suri liar bener. Gue ini cuma wanita yang udah bosen ditindas, Bu. Kalau orang dipojokkan terus, ya lama-lama bakal meledak. Masa Ibu kaga tahu hukum alam itu?"

​"Tutup mulutmu!" desis Ibu Suri. "Kau tidak punya adab!"

​"Adab itu buat orang yang menghargai saya, Bu," balas Alesia telak.

​Setelah ketegangan di Balai Mahkota sedikit mereda karena Magnus membubarkan sidang secara paksa, Alesia kembali ke Paviliun Mawar dengan perasaan dongkol. Begitu memasuki kamar, ia langsung melemparkan mahkota kecilnya ke atas kasur.

​"Gila! Emak lu bener-bener ya, Bang! Hampir aja gue dituduh jadi siluman babi ngepet tadi!" gerutu Alesia saat Magnus melangkah masuk di belakangnya.

​Lily segera mendekat, membungkuk sangat dalam dengan wajah yang tampak pucat pasi. "Mohon ampun, Gusti Permaisuri. Hamba mohon tenanglah sedikit. Kata-kata Yang Mulia di aula tadi sungguh bisa menjadi senjata bagi Ibu Suri untuk memojokkan Anda kembali."

​Alesia menoleh ke arah Lily. "Lu liat sendiri kan, Ly? Dia yang mulai duluan! Masa gue dibilang penyihir?"

​Lily mengambilkan secangkir teh herbal hangat, menyerahkannya kepada Alesia dengan tangan yang sedikit bergetar namun gerakannya tetap halus. "Hamba sangat mengerti rasa tidak nyaman yang Anda rasakan, Yang Mulia. Namun, di istana ini, tembok memiliki telinga dan angin memiliki mulut. Hamba sangat khawatir jika Baginda Raja tidak selalu berada di samping Anda, Ibu Suri akan bertindak lebih jauh."

​Magnus menghela napas, ia memberi isyarat agar Lily keluar sejenak.

​"Mohon izin hamba undur diri, Yang Mulia Raja, Yang Mulia Permaisuri," ucap Lily sopan sembari berjalan mundur dan menutup pintu dengan sangat perlahan.

​Kini hanya tinggal mereka berdua. Magnus berjalan mendekati Alesia, lalu memegang bahu istrinya itu agar duduk di tepi ranjang.

​"Ibuku memang keras kepala, Alessia. Dia merasa kehilangan kendali atas istana ini sejak kau berubah," ucap Magnus dengan suara rendah yang menenangkan.

​"Ya tapi kaga usah pake fitnah penyihir segala kali, Bang. Gue mah baca mantra aja kaga bisa, palingan juga baca doa makan," Alesia mendengus, menyesap tehnya dengan kasar.

​Magnus duduk di sampingnya, matanya menatap perban di tangan Alesia yang mulai kotor. "Biarkan aku menggantinya."

​"Kaga usah, Bang. Lu kan Raja, masa kerjaannya ngurusin perban mulu. Ntar menteri lu protes lagi kalau Rajanya jadi suster dadakan."

​"Diamlah," perintah Magnus lembut namun tegas. Ia mulai membuka balutan perban itu satu per satu dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut menyakiti kulit Alesia. "Aku lebih suka mengurus perbanmu daripada mendengarkan ocehan para menteri yang hanya mementingkan perut mereka sendiri."

​Alesia terdiam, memperhatikan wajah Magnus yang begitu fokus dari jarak dekat. "Bang... lu beneran kaga takut kalau gue emang beneran 'penyihir' atau apa pun itu yang dibilang mak lu?"

​Magnus berhenti sejenak, ia menatap mata Alesia. "Jika kau adalah penyihir yang bisa membuatku ingin terus berada di sisimu, maka biarlah aku terkena sihirmu selamanya. Aku tidak peduli kau berasal dari Depok atau dari neraka sekalipun. Bagiku, kau adalah wanita yang telah menyelamatkan jiwaku dari kebosanan takhta ini."

​Pipi Alesia memanas. "Gombal bener lu, Bang. Belajar dari mana sih kata-kata begituan? Apa di perpustakaan ada buku 'Cara Merayu Istri Transmigran'?"

​Magnus terkekeh, suara tawa yang hanya ia perlihatkan pada Alesia. "Aku bicara jujur. Tapi, Alessia... kau harus berhati-hati. Ibuku tidak akan berhenti hanya di sidang tadi. Dia akan memanggil Pendeta Agung dari kuil pusat untuk melakukan upacara pembersihan."

​Alesia mengernyit. "Upacara pembersihan? Diapain emangnya? Gue disiram air kembang tujuh rupa gitu?"

​"Lebih dari itu. Mereka akan menggunakan Cermin Kebenaran. Konon, cermin itu bisa menunjukkan wujud asli dari jiwa seseorang," Magnus menatap Alesia dengan cemas. "Jika jiwamu memang berbeda dengan tubuh ini... cermin itu mungkin akan menunjukkan sesuatu yang tidak bisa kita jelaskan pada dunia."

​Alesia tertegun. Cermin Kebenaran? Waduh, kalau yang muncul di cermin itu muka gue pas lagi pake daster sambil makan gorengan di Depok, bisa geger satu kerajaan nih!

​"Kapan upacaranya, Bang?" tanya Alesia mulai serius.

​"Tiga hari lagi, saat bulan purnama mencapai puncaknya," jawab Magnus. Ia menggenggam tangan Alesia yang baru saja selesai ia perban kembali. "Aku akan berusaha membatalkannya, tapi dukungan para pemuka agama sangat kuat di Orizon. Bahkan seorang Raja pun sulit melawan hukum kuil."

​Alesia menarik napas panjang, lalu menepuk pundak Magnus dengan gaya jawaranya. "Udah, kaga usah dipikirin ampe segitunya, Bang. Kalau emang itu cermin mau ngetes gue, ya ayo. Gue kaga salah apa-apa ini. Gue kaga minta nyasar ke sini, dan gue juga kaga ngerugiin siapa-siapa. Kalau emang itu cermin jujur, dia bakal liat kalau niat gue cuma mau hidup tenang (dan makan enak) di sini."

​Magnus tersenyum tipis, rasa kagumnya semakin dalam. "Keberanianmu ini... kadang membuatku merasa akulah yang harus belajar banyak darimu."

​"Ya jelas dong! Gue ini didikan keras Rawa Belong, Bang! Jangankan cuma cermin, disuruh adu pantun sama setan aja gue jabanin!" tawa Alesia kembali pecah, mencairkan suasana mencekam yang sempat menyelimuti mereka.

​Namun di dalam hatinya, Alesia tahu ini adalah tantangan terbesarnya. Jika identitas aslinya terbongkar sebagai "Siti dari Depok", apakah Magnus akan tetap menatapnya dengan penuh cinta, atau justru akan berbalik menjauhinya?

​Malam itu, di bawah cahaya lilin yang temaram, Alesia hanya bisa berharap bahwa "keajaiban" yang membawanya ke sini juga akan melindunginya dari tatapan Cermin Kebenaran itu.

1
Zaskia 🐼
Ini ngobrolnya pakai bahas Indonesia ala betawi atau bahasa inggris?
Memyr 67
𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝗎𝗇𝗈 𝗌𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗎, 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗒𝗀 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗇𝗀𝖾𝗋𝗍𝗂, 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗌𝗎𝗇𝗀 𝗇𝗎𝖽𝗎𝗁 𝗌𝖾𝖾𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗅𝖺? 𝗄𝖾𝗇𝖺𝗉𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗌𝗂𝗍𝗂 𝖿𝖺𝗍𝗂𝗆𝖺𝗁 𝗇𝖺𝗆𝖺𝗇𝗒𝖺? 🤣🤣🤣🤣
Memyr 67
𝗃𝖾𝗇𝖽𝗋𝖺𝗅 𝗄𝖺𝖾𝗅? 𝗂𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖻𝖺𝗄 𝗋𝗈𝗌𝖾 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖺𝗌𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇? 𝗄𝗈𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝖺𝗃𝗎𝖽𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖼𝖺𝗒𝖺𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗃𝖺?
Ariska Kamisa: sudah tobat kak, dan jadi mengabdi sama raja dan ratu
total 1 replies
Memyr 67
𝗇𝗒𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗄𝖺𝗇, 𝗂𝖻𝗎 𝗍𝗂𝗋𝗂 𝖽𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗅𝗂𝗋 𝗆𝖺𝗇𝗃𝖺? 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝖻𝗎 𝗍𝗂𝗋𝗂 𝗆𝖺𝗀𝗇𝗎𝗌 𝗂𝗇𝗂 𝖺𝖽𝗂𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖻𝖺𝗉𝖺𝗄 𝗌𝗂 𝗋𝗈𝗌𝖾?
Memyr 67
𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝗇𝗂? 𝗂𝖻𝗎 𝗌𝗎𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗌𝖾𝗀𝗂𝗍𝗎 𝖻𝖾𝗇𝖼𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖺𝗅𝖾𝗌𝗁𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗆𝖻𝗂𝗌𝗂 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗂𝗇𝗀𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗅𝖾𝗌𝗁𝗂𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗐𝖺𝗅 𝗒𝗀 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺 𝗍𝗒𝗉𝗈 𝖻𝖾𝗍𝖾𝖻𝖺𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗇𝗀𝗈𝗍𝖺𝗄, 𝖺𝗄𝗎 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗌𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖺𝖻𝖺𝗒.
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
S.E.L.A.M
Nyanyian putri duyung ?
S.E.L.A.M
Lah kok ketemu org betawi lain 🤣
Ariska Kamisa: itu lah kejutannya kak 🤭🤣
total 1 replies
S.E.L.A.M
Kacian, jasa lily & mita dilupakan 🤭
S.E.L.A.M
Lalu ketemu sama si doel & mandra 🤣
S.E.L.A.M
Rempela / ampela maksudmu thor ?
Ariska Kamisa: eh... terimakasih kak atas kejelianmu, kayanya aku ngeblank saat itu🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Neng Alifa
Et dahh 🤭
S.E.L.A.M
Lucu puolll
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
S.E.L.A.M
Siluman kuda lumping 🤭
S.E.L.A.M
Plesetan dari kameha meha ya 🤣
Ariska Kamisa: iya... 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
S.E.L.A.M
Krupuk kalo masuk angin mah melempem bkn kaku namanya 🤭
S.E.L.A.M
Untung namanya ga diganti jadi MAKNYUS 🤣
Kan jadi mantep puol 👍
Ariska Kamisa: waah... iya ya.. itu lucu parah ..🤣🤣🤣
total 1 replies
Erick Erx
ibu suri udah dong ,,, insyaf😄
Dede Bleher
mpok siti banyak tugas juga ya 🤣
Ariska Kamisa: memang kak, mpok siti pengen ngubah dunia disitu lebih modern 🤭🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!