Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pengadilan Di Balai Mahkota
"Katakan padaku, Alessia... sejak kapan kau belajar memanipulasi saraf seorang Jenderal besar hanya dengan sekali tepuk? Ataukah roh yang kini menghuni tubuh menantuku ini memang sudah tidak memiliki rasa takut pada Dewata?"
Suara itu menggelegar, memantul di dinding marmer Balai Mahkota yang dingin. Ibu Suri Beatrice berdiri di atas podium tinggi, menunjuk ke arah Alesia dengan kipas sutranya yang bergetar karena amarah.
Alesia, yang baru saja melangkah masuk dengan gaun kebesaran yang berat, menghentikan langkahnya. Ia tidak menunduk. Sebaliknya, ia menatap langsung ke mata Ibu Suri yang penuh kebencian.
"Waduh, Ibu Suri. Pagi-pagi tensinya udah tinggi bener. Kagak takut pecah pembuluh darah, Bu?" sahut Alesia santai, meskipun tangannya di balik lengan gaun yang lebar mengepal kuat.
"Lancang! Beraninya kau bicara seperti itu di hadapan Ibu Suri!" bentak salah satu menteri tua yang berdiri di barisan depan.
Alesia menoleh ke arah menteri itu, matanya berkilat tajam. "Bapak menteri mending diem deh. Ini urusan internal keluarga. Lagian, Jenderal Kael itu pengkhianat. Kenapa sekarang malah saya yang diintrogasi kayak maling jemuran?"
Magnus, yang duduk di singgasananya, menggebrak lengan kursi emasnya. "Cukup! Ibu, aku sudah katakan bahwa tindakan Permaisuri adalah untuk melindungi martabat kerajaan. Jenderal Kael telah mengakui kesalahannya dan pengasingan adalah hukuman yang paling ringan."
"Bukan soal hukuman Kael, Magnus!" Ibu Suri melangkah turun dari podium, mendekati Alesia dengan langkah anggun namun mematikan. "Lihat dia! Cara bicaranya, tatapannya, bahkan cara dia berdiri. Ini bukan Alessia putri bangsawan yang kita kenal. Alessia yang asli tidak akan berani menatap mataku, apalagi melumpuhkan seorang Jenderal dengan teknik sihir hitam!"
Ibu Suri berhenti tepat di depan Alesia. "Aku menuntut pemeriksaan spiritual oleh Pendeta Agung. Aku curiga... permaisurimu ini adalah penyihir dari negeri kegelapan yang merasuki raga manusia!"
Alesia tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat meremehkan di tengah aula yang sunyi itu. "Penyihir? Buset, imajinasi Ibu Suri liar bener. Gue ini cuma wanita yang udah bosen ditindas, Bu. Kalau orang dipojokkan terus, ya lama-lama bakal meledak. Masa Ibu kaga tahu hukum alam itu?"
"Tutup mulutmu!" desis Ibu Suri. "Kau tidak punya adab!"
"Adab itu buat orang yang menghargai saya, Bu," balas Alesia telak.
Setelah ketegangan di Balai Mahkota sedikit mereda karena Magnus membubarkan sidang secara paksa, Alesia kembali ke Paviliun Mawar dengan perasaan dongkol. Begitu memasuki kamar, ia langsung melemparkan mahkota kecilnya ke atas kasur.
"Gila! Emak lu bener-bener ya, Bang! Hampir aja gue dituduh jadi siluman babi ngepet tadi!" gerutu Alesia saat Magnus melangkah masuk di belakangnya.
Lily segera mendekat, membungkuk sangat dalam dengan wajah yang tampak pucat pasi. "Mohon ampun, Gusti Permaisuri. Hamba mohon tenanglah sedikit. Kata-kata Yang Mulia di aula tadi sungguh bisa menjadi senjata bagi Ibu Suri untuk memojokkan Anda kembali."
Alesia menoleh ke arah Lily. "Lu liat sendiri kan, Ly? Dia yang mulai duluan! Masa gue dibilang penyihir?"
Lily mengambilkan secangkir teh herbal hangat, menyerahkannya kepada Alesia dengan tangan yang sedikit bergetar namun gerakannya tetap halus. "Hamba sangat mengerti rasa tidak nyaman yang Anda rasakan, Yang Mulia. Namun, di istana ini, tembok memiliki telinga dan angin memiliki mulut. Hamba sangat khawatir jika Baginda Raja tidak selalu berada di samping Anda, Ibu Suri akan bertindak lebih jauh."
Magnus menghela napas, ia memberi isyarat agar Lily keluar sejenak.
"Mohon izin hamba undur diri, Yang Mulia Raja, Yang Mulia Permaisuri," ucap Lily sopan sembari berjalan mundur dan menutup pintu dengan sangat perlahan.
Kini hanya tinggal mereka berdua. Magnus berjalan mendekati Alesia, lalu memegang bahu istrinya itu agar duduk di tepi ranjang.
"Ibuku memang keras kepala, Alessia. Dia merasa kehilangan kendali atas istana ini sejak kau berubah," ucap Magnus dengan suara rendah yang menenangkan.
"Ya tapi kaga usah pake fitnah penyihir segala kali, Bang. Gue mah baca mantra aja kaga bisa, palingan juga baca doa makan," Alesia mendengus, menyesap tehnya dengan kasar.
Magnus duduk di sampingnya, matanya menatap perban di tangan Alesia yang mulai kotor. "Biarkan aku menggantinya."
"Kaga usah, Bang. Lu kan Raja, masa kerjaannya ngurusin perban mulu. Ntar menteri lu protes lagi kalau Rajanya jadi suster dadakan."
"Diamlah," perintah Magnus lembut namun tegas. Ia mulai membuka balutan perban itu satu per satu dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut menyakiti kulit Alesia. "Aku lebih suka mengurus perbanmu daripada mendengarkan ocehan para menteri yang hanya mementingkan perut mereka sendiri."
Alesia terdiam, memperhatikan wajah Magnus yang begitu fokus dari jarak dekat. "Bang... lu beneran kaga takut kalau gue emang beneran 'penyihir' atau apa pun itu yang dibilang mak lu?"
Magnus berhenti sejenak, ia menatap mata Alesia. "Jika kau adalah penyihir yang bisa membuatku ingin terus berada di sisimu, maka biarlah aku terkena sihirmu selamanya. Aku tidak peduli kau berasal dari Depok atau dari neraka sekalipun. Bagiku, kau adalah wanita yang telah menyelamatkan jiwaku dari kebosanan takhta ini."
Pipi Alesia memanas. "Gombal bener lu, Bang. Belajar dari mana sih kata-kata begituan? Apa di perpustakaan ada buku 'Cara Merayu Istri Transmigran'?"
Magnus terkekeh, suara tawa yang hanya ia perlihatkan pada Alesia. "Aku bicara jujur. Tapi, Alessia... kau harus berhati-hati. Ibuku tidak akan berhenti hanya di sidang tadi. Dia akan memanggil Pendeta Agung dari kuil pusat untuk melakukan upacara pembersihan."
Alesia mengernyit. "Upacara pembersihan? Diapain emangnya? Gue disiram air kembang tujuh rupa gitu?"
"Lebih dari itu. Mereka akan menggunakan Cermin Kebenaran. Konon, cermin itu bisa menunjukkan wujud asli dari jiwa seseorang," Magnus menatap Alesia dengan cemas. "Jika jiwamu memang berbeda dengan tubuh ini... cermin itu mungkin akan menunjukkan sesuatu yang tidak bisa kita jelaskan pada dunia."
Alesia tertegun. Cermin Kebenaran? Waduh, kalau yang muncul di cermin itu muka gue pas lagi pake daster sambil makan gorengan di Depok, bisa geger satu kerajaan nih!
"Kapan upacaranya, Bang?" tanya Alesia mulai serius.
"Tiga hari lagi, saat bulan purnama mencapai puncaknya," jawab Magnus. Ia menggenggam tangan Alesia yang baru saja selesai ia perban kembali. "Aku akan berusaha membatalkannya, tapi dukungan para pemuka agama sangat kuat di Orizon. Bahkan seorang Raja pun sulit melawan hukum kuil."
Alesia menarik napas panjang, lalu menepuk pundak Magnus dengan gaya jawaranya. "Udah, kaga usah dipikirin ampe segitunya, Bang. Kalau emang itu cermin mau ngetes gue, ya ayo. Gue kaga salah apa-apa ini. Gue kaga minta nyasar ke sini, dan gue juga kaga ngerugiin siapa-siapa. Kalau emang itu cermin jujur, dia bakal liat kalau niat gue cuma mau hidup tenang (dan makan enak) di sini."
Magnus tersenyum tipis, rasa kagumnya semakin dalam. "Keberanianmu ini... kadang membuatku merasa akulah yang harus belajar banyak darimu."
"Ya jelas dong! Gue ini didikan keras Rawa Belong, Bang! Jangankan cuma cermin, disuruh adu pantun sama setan aja gue jabanin!" tawa Alesia kembali pecah, mencairkan suasana mencekam yang sempat menyelimuti mereka.
Namun di dalam hatinya, Alesia tahu ini adalah tantangan terbesarnya. Jika identitas aslinya terbongkar sebagai "Siti dari Depok", apakah Magnus akan tetap menatapnya dengan penuh cinta, atau justru akan berbalik menjauhinya?
Malam itu, di bawah cahaya lilin yang temaram, Alesia hanya bisa berharap bahwa "keajaiban" yang membawanya ke sini juga akan melindunginya dari tatapan Cermin Kebenaran itu.
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii