Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Menjemput Badai Sebelum Lonceng Berdentang
Jarum jam dinding di ruang kelas dua belas seolah merangkak lebih lambat dari biasanya. Suara bariton Pak Guru Sejarah yang tengah mengisahkan runtuhnya kerajaan-kerajaan masa lampau terdengar mengalun monoton, tak mampu menembus benak Jenawa yang sedari tadi terus berputar. Di luar jendela, matahari mulai condong ke barat, memancarkan terik yang memanggang pelataran sekolah.
Ini adalah jam pelajaran terakhir. Sebentar lagi, lonceng akan berdentang, membebaskan ratusan siswa untuk kembali ke rumah masing-masing. Dan di luar sana, di batas wilayah menuju jalan utama, Agam beserta komplotan SMA Pelita niscaya tengah bersiap menyulut onar.
Jenawa menoleh ke arah Seno yang duduk di bangku seberang. Sebuah anggukan kecil dan isyarat mata yang tajam cukup untuk membuat Seno memahami maksud sang panglima. Tanpa menunggu waktu lebih lama, Jenawa mengangkat tangannya, meminta izin untuk ke kamar kecil—sebuah alibi klasik yang selalu berhasil ia gunakan untuk meloloskan diri.
Begitu kakinya menjejak lorong yang sepi, udara terasa sedikit lebih lega. Jenawa merapikan kerah seragamnya, bersiap untuk mengumpulkan kawan-kawannya di gerbang belakang. Namun, langkahnya terhenti seketika saat ia berbelok di dekat ruang tata usaha.
Dari arah berlawanan, Sinaca Tina berjalan dengan anggunnya. Gadis itu menenteng setumpuk buku tugas milik kelasnya, wajahnya sedikit bersemu merah karena beban yang ia bawa, namun posturnya tetap tegak dan penuh wibawa.
Melihat presensi Jenawa yang tiba-tiba berkeliaran di luar jam pelajaran, langkah Sinaca melambat hingga akhirnya berhenti sepenuhnya. Alisnya yang bertaut menyiratkan sebuah tanya.
"Bukankah lonceng pulang belum berbunyi, Jenawa?" tegur Sinaca. Nada suaranya tetap sedingin biasanya, namun pemuda itu bisa menangkap sisa-sisa kelembutan dari sebutan namanya yang kini diucapkan tanpa embel-embel formalitas. "Ataukah ini adalah rutinitas Anda untuk membolos di jam terakhir?"
Jenawa melangkah mendekat, mengambil alih separuh tumpukan buku dari pelukan Sinaca tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Biar kubantu. Berat nian beban yang harus ditanggung oleh seorang bendahara kelas, apalagi jika harus membawanya sendirian."
Sinaca tidak menolak bantuan itu, meski ia menatap Jenawa dengan saksama. "Anda belum menjawab pertanyaan saya."
"Ada urusan mendesak yang tak bisa ditunda hingga lonceng berbunyi, Sinaca," jawab Jenawa seraya berjalan beriringan dengan gadis itu menuju meja piket. "Sesuatu yang harus diselesaikan agar jalan raya sore ini bersih dari debu pertikaian."
Langkah Sinaca seketika terhenti. Ia menoleh menatap pemuda di sampingnya. Kecerdasannya dengan cepat merangkai kepingan informasi: absensinya Jenawa dari kelas, raut wajahnya yang keras, dan frasa 'debu pertikaian'.
"Anda hendak mencari perkara lagi dengan SMA Pelita?" tanya Sinaca, suaranya sedikit bergetar oleh sesuatu yang menyerupai kekhawatiran. "Apakah kata-kata saya kemarin petang hanya berlalu bagai angin lalu di telinga Anda?"
Jenawa meletakkan tumpukan buku itu di atas meja piket yang sedang kosong, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya untuk menghadap Sinaca. Ia menatap lekat-lekat kedua manik mata cokelat gadis tersebut, mencari ketenangan di sana sebelum ia harus menghadapi badai di jalanan.
"Justru karena kata-katamu terus terngiang di kepalaku, Sinaca," ucap Jenawa dengan suara rendah yang menggetarkan. "Agam dan komplotannya berencana memblokir jalan utama sore ini. Jalan yang sama yang akan kau lewati untuk pulang. Aku tidak menoleransi perkelahian tanpa sebab, namun aku jauh lebih tidak menoleransi jika perjalanan pulangmu harus terhalang oleh arogansi mereka."
Sinaca terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, sebuah kebiasaan kecil yang baru Jenawa sadari. Ada pertentangan batin di wajah gadis itu—antara membenci jalan kekerasan yang dipilih Jenawa, dan menyadari bahwa kali ini, kepalan tangan pemuda itu diayunkan demi melindunginya.
"Saya bisa mencari jalan lain. Anda tidak perlu mengambil risiko ini hanya demi..."
"Ini bukan hanya tentang jalan pulangmu, Sinaca," potong Jenawa lembut, namun sarat akan ketegasan. "Ini tentang janjiku. Aku berjanji untuk memastikan jalanannya aman, dan aku berniat menepatinya. Tunggulah di bangku bawah pohon mahoni setelah bel pulang nanti. Jangan melangkah keluar gerbang sebelum aku menjemputmu."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Sinaca untuk membantah, Jenawa membalikkan badan. Ia melangkah menyusuri lorong menuju gerbang belakang dengan derap langkah yang pasti.
Di batas wilayah simpang empat, udara telah memanas. Puluhan motor dari kubu SMA Pelita telah berjajar angkuh. Agam, dengan seragamnya yang sengaja dirobek di bagian lengan, duduk di atas kap sebuah mobil tua yang terparkir di pinggir jalan, memutar-mutar sebatang pipa besi di tangannya.
Namun, senyum culas di wajah Agam seketika luntur saat melihat barisan anak-anak SMA Bangsa tidak datang dari arah sekolah, melainkan sudah mengepung mereka dari dua arah gang sempit secara tiba-tiba. Di barisan paling depan, Jenawa Adraw berdiri tegap, memancarkan aura seorang raja jalanan yang murka.
"Tumben sekali kau datang menjemput bola, Jenawa," decih Agam seraya melompat turun dari kap mobil. "Kukira nyalimu sudah ciut karena sibuk menjadi pengawal pribadi seorang siswi baru."
Jenawa tidak terpancing oleh provokasi murahan itu. Ia melangkah maju dengan tenang, menanggalkan jaket almamaternya dan melemparkannya ke arah Seno.
"Kau salah perhitungan hari ini, Agam," ucap Jenawa dingin, suaranya mampu mengiris udara sore yang pengap. "Jalanan ini bukan arena bermainmu, dan aku sedang tidak punya banyak waktu untuk meladeni bualanmu."
Jenawa melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Lonceng sekolah akan berbunyi dalam waktu lima belas menit. Ia harus mengakhiri konfrontasi ini secepat mungkin. Ada seorang gadis di bawah pohon mahoni yang menunggunya kembali, dan Jenawa bersumpah, ia tidak akan membiarkan gadis itu menunggu terlalu lama.
"Kita selesaikan ini sekarang," geram Jenawa, mengepalkan kedua tangannya bersiap menyambut badai.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪