Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan yang menguatkan
Suasana ruangan yang tadinya penuh tawa ejekan mendadak hening lagi saat suara Elang yang dalam dan berwibawa itu menggema. Arumi berdiri tegak di samping Elang, tangan pria itu masih melingkar protektif di bahunya. Hatinya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena gelombang rasa kagum yang tiba-tiba membanjiri dadanya seperti air bah.
("Dia ... benar-benar berbeda,") batin Arumi sambil melirik Elang dari samping. Pakaiannya memang kusam, celana jeansnya pudar karena sering dipakai bekerja di gerobak bakso, dan handuk kecil yang tersampir di bahunya itu memang terlihat konyol di tengah ruangan mewah ini. Tapi suaranya ... cara dia berbicara tanpa gemetar, tanpa merendah, justru membuat Arumi merasa aman. ("Dia tidak membela dirinya sendiri. Dia membela aku. Dia bilang dia punya cinta untukku, dan dia akan membahagiakanku.")
Rasa kagum itu tumbuh begitu cepat hingga Arumi hampir tersenyum di tengah situasi tegang ini. Saat tadi melihat Elang Arumi melihat Elang sebagai pria sederhana yang sederhana, Tapi sekarang, di depan ayahnya, ibunya, kakaknya, dan Pak Dirga yang sombong itu, Elang berdiri seperti benteng. Tidak ada rasa malu di matanya. Hanya keteguhan.
Pak Rahmad, ayah Arumi, langsung menyipitkan mata. Wajahnya memerah karena marah. "Penjual bakso? Kamu berani sekali bicara seperti itu di rumahku, anak muda! Kamu pikir kamu siapa? Cinta? Hah! Cinta tidak bisa bayar tagihan, tidak bisa beli rumah, tidak bisa kasih Arumi hidup layak!"
Lastri, ibu Arumi, ikut bangkit dari sofa. Tawa ejekannya tadi sudah berganti ekspresi jijik. "Arumi, kamu gila ya? Kami sudah susah payah besarkan kamu, sekolahkan kamu sampai S2, kenalkan kamu dengan Pak Dirga yang punya perusahaan besar, punya mobil mewah, punya segalanya. Dan kamu bawa ... ini? Pria dekil yang bau minyak goreng dan asap gerobak? Lihat tangannya! Kasar, penuh kapalan. Apa kamu mau tidur di kasur mewah tapi suamimu cuma bisa kasih kamu bantal dari karung goni?"
Rina, kakak tiri Arumi, tertawa lagi sambil menutup mulutnya dengan tangan yang dimanikur sempurna. "Ya ampun, Arumi ... kamu beneran jatuh cinta sama penjual bakso? Celananya itu ... kusam banget, kayak sudah sepuluh tahun dipakai. Dan handuk lap di bahunya? Kamu mau bawa dia ke pesta keluarga? Orang-orang bakal bilang apa? Itu suami Arumi, yang jualan bakso di pinggir jalan. Malu-maluin keluarga aja kamu!"
Pak Dirga, yang tadi batuk karena terlalu keras tertawa, sekarang bangkit dengan wajah merah padam. Cerutunya masih mengepul di tangan kanannya. Ia melangkah mendekat, tubuhnya yang gemuk bergoyang sedikit. "Arumi, kamu ini anak manja yang tidak tahu terima kasih. Saya sudah tawarkan kamu segalanya. Rumah di perumahan elit, liburan ke luar negeri setiap tahun, kartu kredit tanpa batas. Dan kamu tolak saya demi ... gembel ini? Lihat dia! Bau keringat, bajunya dekil, pasti baru pulang dari dorong gerobak bakso di bawah terik matahari. Kamu mau hidup susah? Mau masak di dapur sempit, cuci piring sambil anak-anak kamu lari-larian di gang sempit? Saya kasih kamu hidup ratu, tapi kamu pilih jadi ratu gerobak bakso?"
Hinaan demi hinaan itu mengalir deras, tapi Arumi merasakan dadanya justru semakin hangat. Ia merasakan tekanan tangan Elang di bahunya semakin kuat, seolah pria itu ingin mengatakan: ("Aku di sini. Aku tidak akan pergi.")
Arumi menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, suaranya tenang meski hatinya bergejolak. "Ayah, Ibu, Kak Rina, Pak Dirga ... saya tidak menghina siapa pun. Saya hanya memilih apa yang membuat saya bahagia. Elang mungkin penjual bakso, tapi dia pria yang bertanggung jawab. Setiap hari dia bekerja keras, bukan karena terpaksa, tapi karena dia ingin mandiri. Dia tidak pernah janji-janji kosong seperti yang lain. Dia janji akan membahagiakan saya dengan cara yang tulus."
Pak Rahmad menggebrak meja. "Tulus? Apa tulus bisa beli berlian untuk kamu? Apa tulus bisa kasih kamu mobil? Kamu mau hidup miskin, Arumi? Kamu mau jadi istri penjual bakso yang tiap malam cuma bisa kasih kamu cerita tentang berapa mangkuk bakso yang laku hari ini? Bodoh sekali kamu!"
Lastri menggeleng-gelengkan kepala dengan dramatis. "Saya malu punya anak seperti kamu. Teman-teman saya di arisan sudah pada iri karena kamu dekat dengan Pak Dirga. Sekarang kamu bawa pulang pria seperti ini? Besok-besok mereka bakal gosip di belakang kita. Anak Rahmad kawin sama tukang bakso.Kamu mau kami jadi bahan tertawaan?"
Rina menyilangkan tangan di dada, bibirnya melengkung sinis. "Lihat saja nanti, Arumi. Dua tahun lagi kamu bakal menyesal. Saat teman-teman kamu posting foto liburan di Eropa, kamu cuma bisa posting foto bakso di gerobak. Saat mereka pakai tas branded, kamu cuma bisa pakai apron dapur yang belepotan minyak. Dan suami kamu? Masih dorong gerobak yang sama, masih pakai celana kusam yang sama. Kasihan sekali."
Pak Dirga tertawa kecil lagi, tapi kali ini ada nada dendam di dalamnya. "Kamu pikir cinta cukup, Arumi? Cinta itu mewah buat orang miskin. Saya bisa kasih kamu segalanya. Saya bisa beliin kamu rumah yang lebih besar dari rumah ayahmu ini. Saya bisa kasih kamu bisnis sendiri. Tapi pria ini? Dia cuma bisa kasih kamu ... apa? Cinta? Hah! Cinta tidak bisa bayar listrik, tidak bisa bayar sekolah anak nanti. Kamu mau anak-anak kamu sekolah di SD negeri yang rusak? Mau mereka makan bakso setiap hari sampai bosan?"
Hinaan-hinaan itu terus mengguyur seperti hujan deras. Pak Rahmad bahkan mulai menyebut masa lalu Arumi yang "selalu manja dan dimanja", Lastri menangis pura-pura sambil bilang "saya gagal mendidik kamu", Rina terus mengejek penampilan Elang dari ujung rambut sampai ujung sepatu, dan Pak Dirga berulang kali membandingkan dirinya yang "sukses" dengan Elang yang "gagal total".
Tapi semakin banyak hinaan yang dilontarkan, semakin Arumi merasa kagum pada Elang. Pria itu tidak membalas dengan kasar. Ia hanya berdiri tegak, tangannya tetap melindungi Arumi, matanya tenang menatap satu per satu orang yang menghinanya. Saat Pak Dirga menunjuk-nunjuk bajunya sambil bilang "bau minyak gorengnya sampai ke sini", Elang hanya tersenyum tipis dan berkata pelan, "Bau itu dari kerja keras saya, Pak. Bukan dari cerutu mahal yang hanya bikin batuk."
Arumi merasakan air mata hangat menggenang di pelupuk matanya, bukan karena sedih, tapi karena terharu. Elang tidak marah. Dia tidak malu. Dia hanya ... ada untuknya