Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Langkah Fania cepat, terlalu cepat. Sepatu haknya beradu dengan lantai marmer hotel, menciptakan bunyi berulang yang tajam. Menggema di lorong panjang yang dingin dan terlalu rapi.
Setiap langkah terdengar seperti penegasan bahwa ia ingin pergi. Bahwa ia tidak ingin melihat ke belakang. Namun di dalam dirinya semuanya justru berantakan.
Ia tidak peduli pada orang-orang yang mungkin melihat. Tidak peduli pada tatapan asing. Tidak peduli pada apa pun. Ia hanya ingin menjauh.
Secepat mungkin.
Sejauh mungkin.
Dari tempat itu, dari mereka. Dari satu adegan yang terus berulang di kepalanya. Ronald dan Valencia. Berdiri terlalu dekat, tertawa terlalu lepas. Berbagi sesuatu yang dulu pernah jadi miliknya.
Dan yang paling menyakitkan Ronald terlihat biasa saja. Tidak canggung dan tidak menjaga jarak. Tidak seperti seseorang yang sedang berada dalam hubungan yang “dibatasi”.
Seolah semua yang pernah mereka sepakati tidak benar-benar berarti apa-apa. Dadanya terasa sesak. Bukan pelan namun menekan. Seperti ada sesuatu yang terus mendesak dari dalam ingin keluar, namun tidak diberi ruang.
“Fan.” Suara itu memanggil dari belakang.
Dekat, terlalu dekat namun ia tidak berhenti.
Tidak menoleh dan tidak merespons. Langkahnya justru semakin cepat. Seolah jika ia berhenti semua yang ia tahan akan runtuh saat itu juga.
“Fania.” Kali ini lebih tegas.
Lebih dekat namun tetap ia mengabaikan. Tangannya mulai dingin, napasnya tidak teratur. Namun ia tetap berjalan, lebih cepat dan lebih jauh.
Sampai akhirnya sebuah tangan menarik lengannya, tidak kasar. Namun cukup kuat untuk menghentikannya.
Fania terhenti, tubuhnya sedikit berputar. Dan di sana Ronald. Berdiri tepat di depannya. Napasnya sedikit lebih berat. Seolah ia benar-benar mengejar. Namun wajahnya tetap terkendali.
Tenang, terlalu tenang. Dan justru itu yang membuat Fania semakin sakit. Fania menatapnya dengan tajam. Semua emosi yang tadi ia tekan langsung naik ke permukaan.
“Lepaskan.” Suaranya dingin dan rendah namun tegas.
Ronald tidak langsung melepas, tangannya masih di sana, menahan. Tatapannya tidak lepas. Seolah mencoba membaca sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia lihat.
“Mau sampai kapan kamu akan seperti ini?” tanyanya langsung.
Tanpa basa-basi, tanpa pengantar. Seperti seseorang yang sudah lelah menunggu.
Fania tertawa kecil dan pendek namun pahit.
“Harusnya tanyakan itu ke dirimu sendiri.” Balasnya cepat dan refleks.
Namun kali ini lebih tajam dari biasanya. Seolah ia juga mulai lelah menahan.
Namun Ronald tidak terpancing. Tidak membalas dengan emosi. Justru tatapannya semakin dalam dan lebih serius.
“Kesepakatan kita masih berlaku, bukan?”
Kalimat itu jatuh pelan namun berat. Seperti sesuatu yang dulu mereka buat untuk melindungi diri sekarang justru menjadi batas yang menyakitkan.
Fania terdiam sepersekian detik. Cukup untuk membuat napasnya terasa tertahan. Lalu ia mengangguk kecil.
“Iya.” Singkat. Namun tidak kokoh tidak seperti dulu.
Ronald mengangguk pelan. Seolah menegaskan sesuatu dalam pikirannya sendiri.
“Bukankah kau mengatakan sudah tak mencintaiku?”
Ia berhenti, memberi jeda. Namun matanya tidak lepas.
“Lalu sekarang mengapa?” Nada suaranya tetap tenang. Namun kali ini lebih dingin dan lebih menusuk.
“Mengapa kau terlihat marah aku bersamanya?”
Sunyi.
Kalimat itu menghantam langsung. Tanpa ruang untuk menghindar.
Fania membeku, tubuhnya diam. Namun di dalam semuanya runtuh. Pikirannya berantakan dengan cepat. Tidak beraturan.
Ia membuka mulut ingin menjawab. Ingin menyangkal seperti biasa. Seperti yang selalu ia lakukan. Namun tidak ada kata yang keluar.
Karena untuk pertama kalinya ia tidak punya kebohongan yang bisa ia percaya sendiri. Semua alasan yang dulu terasa aman sekarang terasa kosong.
Tipis.
Rapuh.
Tidak cukup.
Dadanya semakin sesak. Seolah sesuatu benar-benar ingin keluar.
Ronald masih menatapnya, menunggu dalam diam. Namun keheningan itu justru semakin menekan.
Fania menggeleng kecil, pelan.
“Aku tak ...”
Kalimatnya terhenti, suaranya retak dan di saat itu semuanya pecah. Air matanya jatuh tiba-tiba, tanpa izin dan tanpa peringatan.
Satu.
Lalu dua.
Lalu tidak bisa dihentikan.
Ronald terdiam sedikit terkejut. Namun tidak bergerak.
Fania menutup matanya. Seolah itu bisa menghentikan semuanya. Namun tidak, tangis itu keluar. Deras, tidak terkendali.
“Kenapa ...” gumamnya. Suaranya pecah dan lemah.
Ia memukul dada Ronald, sekali lalu lagi. Tidak keras namun penuh emosi. Frustrasi dan sakit yang selama ini ia tahan.
“Kenapa jadi seperti ini…” lanjutnya, terisak.
Ronald tetap diam, menerima. Tidak menahan, tidak membalas. Seolah ia tahu ini bukan kemarahan. Ini luapan yang sudah terlalu lama ditahan.
Fania kembali memukulnya. Namun lebih lemah. Tenaganya mulai habis.
“Aku tak…” ia mencoba lagi. Namun suaranya tersangkut. Tangisnya semakin dalam.
“Tak…” ia mengulang. Namun tidak selesai. Karena yang ingin ia katakan terlalu jujur.
Dan selama ini ia tidak pernah berani mengakuinya. Ia menggenggam kemeja Ronald. Menariknya, seolah butuh pegangan. Seolah jika ia melepas ia benar-benar akan jatuh.
“Sesak sekali…” bisiknya. Hampir tidak terdengar. Namun jelas.
Dan itu lebih jujur dari semua penyangkalan sebelumnya.
Ronald menatapnya lebih lama, lebih dalam. Dan kali ini tidak ada lagi sinis. Tidak ada sindiran, tidak ada jarak yang sengaja dibuat. Hanya sesuatu yang lain yang selama ini ia tahan.
Tangannya bergerak sedikit, ragu. Seolah ingin menyentuh. Namun berhenti, memberi ruang. Namun tetap ada.
Fania menangis, terisak. Tidak lagi peduli siapa yang melihat. Tidak lagi peduli bagaimana ia terlihat. Semua yang ia tahan pecah. Sekaligus.
Dalam satu momen yang tidak bisa ia hindari lagi. Napasnya tidak teratur. Tubuhnya sedikit gemetar. Namun ia tetap berdiri. Masih di depan Ronald. Masih menggenggamnya.
“Aku lelah…” bisiknya lagi. Lebih pelan dan lebih jujur.
Kalimat itu sederhana namun berat. Karena itu bukan hanya tentang hari ini. Namun tentang semuanya. Tentang semua yang ia tahan. Tentang semua yang ia tolak. Tentang semua yang ia pura-pura tidak rasakan.
Dan akhirnya ia tidak sanggup lagi. Karena ternyata yang ia lawan selama ini bukan Ronald. Bukan Valencia. Namun dirinya sendiri.
Egonya.
Ketakutannya.
Penolakannya.
Dan sekarang ia tidak punya tenaga lagi untuk menyangkal bahwa semua ini terlalu sakit untuk dianggap tidak berarti.
Tangisnya perlahan melemah namun tidak hilang. Matanya merah, napasnya masih berat. Namun ada satu hal yang berubah, ia tidak lagi menahan.
Dan untuk pertama kalinya ia berdiri di depan Ronald bukan sebagai seseorang yang kuat. Bukan sebagai seseorang yang menyangkal. Namun sebagai seseorang yang akhirnya jujur.
Mungkin selama ini ia yang terlalu egois demi dirinya sendiri. Mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang mungkin akan tersakiti karena keputusannya. Sayangnya, mereka adalah orang-orang yang sebenarnya ia cintai.
NEXT .......