NovelToon NovelToon
Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Pendamping Sakti / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
​Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
​Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
​Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
​Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: MAKAN MALAM BERDARAH (DAN BERSIHIR)

Restoran "The Obsidian" terletak di lantai teratas hotel bintang lima, menawarkan pemandangan gemerlap lampu Jakarta yang memukau. Suasananya elegan, dengan musik jazz lembut, pelayan berjas, dan aroma hidangan truffle yang mahal. Ini adalah tempat di mana kesepakatan miliaran dolar dibuat dengan senyuman palsu dan jabat tangan yang dingin.

​Nael melangkah masuk dengan setelan jas hitam custom-made yang membalut tubuh tegapnya sempurna. Di sampingnya, Alurra tampak memukau dengan cocktail dress berwarna merah marun pilihan Nael, yang menonjolkan kulit putih susunya dan rambut emasnya yang berkilau di bawah cahaya lampu kristal. Namun, matanya yang ungu terus berputar menatap sekeliling dengan tatapan waspada—dan sedikit lapar.

​"Nael! Kenapa tempat ini gelap sekali? Apa mereka tidak mampu membeli lampu yang terang?" bisik Alurra cukup keras, membuat beberapa tamu di meja mewah menoleh.

​Nael hanya menatap lurus ke depan, pura-pura tidak mendengar. Ia merogoh ponselnya dan mengetik cepat: "INI SUASANA ROMANTIS. JANGAN BERISIK. KITA AKAN BERTEMU KLIEN PENTING."

​"Klien penting? Bapak-bapak berkumis lagi?" Alurra mendengus, ia menggandeng lengan Nael erat-erat. "Aku harap dia tidak punya sekretaris genit seperti yang di kantor tadi. Kalau ada, aku akan mengubah gincunya jadi rasa balsem otot lagi!"

​Nael menghela napas pasrah. Ia hanya bisa berdoa agar Alurra bisa menahan diri selama dua jam ke depan.

​Mereka tiba di meja private di pojok restoran. Di sana sudah duduk seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan wajah yang angkuh—Tuan Broto, pemilik perusahaan konstruksi terbesar di Jawa. Di sampingnya duduk seorang wanita muda yang cantik (sekretarisnya, tentu saja) yang langsung menatap Nael dengan tatapan menggoda.

​Alurra menyipitkan mata, tangannya di lengan Nael mengencang. "Satu sekretaris genit... terdeteksi," batinnya geram.

​"Ah, Tuan Muda Nael! Selamat malam!" Tuan Broto berdiri dan mengulurkan tangannya yang gemuk, tersenyum lebar. Matanya kemudian beralih ke Alurra, menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan menilai yang tidak sopan. "Dan... siapa wanita cantik ini? Simpanan baru Anda, Tuan?"

​Nael membeku. Ia tidak bisa bicara, jadi ia hanya menjabat tangan Tuan Broto dengan dingin dan memberi isyarat agar mereka duduk. Ia mengetik di ponselnya: "INI ALURRA. DIA ADALAH... PENDAMPING SAYA MALAM INI."

​Alurra langsung duduk di kursi, ia menatap Tuan Broto dengan tatapan meremehkan. "Simpanan? Heh, Om Buncit! Jaga bicaramu ya! Aku ini bidadari pelindungnya, bukan barang simpanan! Paham?"

​Tuan Broto tersentak, wajahnya memerah. Ia tertawa paksa. "Haha! Bidadari? Ternyata Tuan Muda Nael suka wanita yang... unik dan sedikit gila ya?"

​Nael memejamkan mata, memijat pelipisnya. Pertemuan ini baru dimulai, dan Alurra sudah membuat kekacauan.

​"Jadi, Tuan Muda Nael," Tuan Broto kembali ke topik bisnis, suaranya merendahkan. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Nael dengan tatapan superior. "Saya mendengar kabar bahwa Ryker Group sedang mengalami masalah internal... terutama soal... kepemimpinan. Anda tahu, di dunia bisnis, seorang pemimpin harus bisa... berkomunikasi dengan jelas. Tidak hanya lewat... ketikan ponsel."

​Tuan Broto melirik sekretarisnya, yang terkekeh kecil. "Saya ragu... apakah seorang pria yang... cacat... seperti Anda bisa memimpin perusahaan sebesar Ryker Group dengan benar. Mungkin... sebaiknya Anda menyerahkan kesepakatan ini pada saya... dan beristirahat di rumah."

​Keheningan yang mematikan melanda meja itu. Pelayan yang hendak menuangkan wine langsung mematung.

​Nael mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku jarinya memutih. Kepedihan yang familiar mulai merayap di dadanya. Rasa cacat itu... rasa tidak berdaya itu... kembali muncul. Ia menunduk, menatap layar ponselnya, jarinya gemetar hendak mengetik balasan yang sopan tapi tegas.

​Namun, sebelum jari Nael menyentuh layar, sebuah suara lembut namun dingin terdengar.

"Selesai bicaranya, Om Buncit?" suara Alurra dingin, matanya yang ungu berkilat tajam.

"Alurra, jangan..." Nael menarik ujung gaun Alurra, menatapnya dengan pandangan memohon. Ia takut, sangat takut Alurra akan melakukan hal yang tak masuk akal.

"Diamlah, Nael," bisik Alurra tanpa menoleh. "Kau pangeranku. Tidak ada manusia kotor yang boleh menyebutmu cacat."

Alurra menjentikkan jarinya.

CRAAAKKKK!

Petir emas menyambar tepat di atas kepala Tuan Broto. Restoran yang tadinya tenang berubah menjadi kekacauan. Jeritan tamu terdengar di mana-mana. Saat cahaya meredup, Tuan Broto terduduk lemas dengan rambut yang berdiri tegak dan mulut yang hanya bisa mengeluarkan suara 'kwek-kwek' seperti bebek.

"Itu biaya untuk mulutmu yang bau," cetus Alurra puas.

Nael tidak menunggu sedetik pun. Ia segera menyambar pergelangan tangan Alurra dan menariknya keluar dari restoran, mengabaikan tatapan takjub dan takut dari orang-orang di sekitar.

Di dalam lift yang turun dengan cepat, Nael melepaskan tangan Alurra. Ia berbalik, napasnya memburu karena panik dan marah. Ia segera merogoh ponselnya dan mengetik dengan kasar.

"APA ANDA GILA?! ITU DI DEPAN UMUM! SEMUA ORANG MELIHATNYA!" Nael menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Alurra.

Alurra mengerucutkan bibirnya, sama sekali tidak merasa bersalah. "Dia pantas mendapatkannya, Nael! Dia menghinamu!"

Nael mengetik lagi, jarinya gemetar: "DUNIA INI TIDAK MENERIMA SIHIR! JIKA MEREKA TAHU ANDA BUKAN MANUSIA, MEREKA AKAN MENANGKAP ANDA! SAYA TIDAK AKAN BISA MELINDUNGI ANDA LAGI!"

Melihat kata "tidak bisa melindungi", bahu Alurra mendadak layu. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya yang kini terasa tidak nyaman.

"Aku cuma tidak tahan..." suara Alurra parau, mulai terisak kecil. "Aku tidak tahan melihatmu dihina hanya karena kau diam. Kau bukan cacat, Nael. Suaramu mungkin hilang, tapi hatimu bicara lebih keras dari siapa pun. Aku hanya ingin mereka tahu kalau kau punya aku."

Nael tertegun. Amarahnya yang meluap tiba-tiba surut, digantikan oleh rasa sesak yang aneh di dadanya. Ia menatap Alurra yang kini terlihat sangat rapuh di balik gaun mewahnya. Ternyata, keberanian bar-bar itu muncul dari rasa sayang yang begitu besar untuknya.

Nael melangkah maju. Tanpa kata, ia meletakkan tangannya di atas kepala Alurra, mengusap rambut emas itu dengan sangat lembut. Ia tidak butuh ponsel untuk menyampaikan apa yang ia rasakan sekarang.

"Jangan marah lagi, ya?" Alurra mendongak, matanya berkaca-kaca. "Nanti kalau ada yang tanya, aku bilang saja itu tadi efek sulap rusak. Aku akan bilang aku ini asisten pesulap yang gagal, bagaimana? Masuk akal, kan?"

Nael hanya bisa menghela napas panjang dan memberikan anggukan pasrah. Ia menarik Alurra ke dalam pelukan singkat, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri yang masih liar.

Ting!

Pintu lift terbuka di lobi. Nael segera memasang kembali topeng dinginnya. Ia menarik Alurra merapat ke sampingnya, melangkah keluar dengan wibawa CEO yang tak tergoyahkan.

...****************...

Namun, di sudut lobi, Jayden Ryker sedang memperhatikan mereka dengan seringai licik. Ia memutar kembali video di ponselnya—video Alurra yang menjentikkan jari memanggil petir.

"Menarik," gumam Jayden. "Sepupuku ternyata menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada saham perusahaan. Mari kita lihat, sejauh mana kau bisa menyembunyikan 'aset' gaibmu ini, Nael."

Jayden tertawa pelan, tawanya terdengar seperti janji akan badai yang lebih besar yang siap menghancurkan ketenangan Nael dan bidadari bar-bar-nya.

...****************...

1
umie chaby_ba
mari kita coba
Ariska Kamisa
semoga kalian bisa menikmati nya juga...
Aldah Karisa
semangat thorr... aku suka gaya bahasamu. 👍
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
wow hebat jugaa
Aldah Karisa
termasuk cerita fiksi yang bikin kita membayangkan jauh ga sih... dengan adanya dewa matahari dewa langit... dan ini cinta dua dunia .. berharap happy ending yaaa... suka takut kalo cinta beda dunia... dan semoga Nael ini bisa sembuh dan mau bicara lagi....
aku suka namanya Nael ....
Aldah Karisa
bidadari genit parah
Aldah Karisa
kenapa nael bisa bisu
Aldah Karisa
ini bidadari nya ga pake selendang??? 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!