Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Kecil yang Menggemaskan dan Kebahagiaan Tanpa Batas
Tiga tahun telah berlalu semenakah kelahiran Aura Pratama. Waktu seolah berjalan begitu cepat, mengubah bayi mungil yang dulu ditimang-timang itu kini tumbuh menjadi balita yang sangat cantik, cerdas, dan penuh energi.
Aura memiliki wajah yang sangat sempurna, perpaduan garis keturunan kedua orang tuanya. Matanya bulat besar dan berbinar seperti Clara, namun tatapannya yang tajam dan manis sangat mewarisi ketampanan ayahnya. Rambutnya hitam legam dan panjang, selalu dikepang dua oleh ibunya, membuatnya terlihat seperti boneka hidup yang berjalan.
Berbeda dengan Arfan yang sejak kecil sudah terlihat gagah, kalem, dan suka bermain hal-hal yang berbau teknik atau mobil-mobilan, Aura justru tumbuh menjadi sosok yang sangat manja, ceria, dan menjadi pusat dunia bagi seluruh keluarga.
Pagi itu, suasana ruang makan di kediaman Pratama sangat hidup dan berwarna.
"AYAHHH!!! Tungguin Aura donggg!!!" teriak suara cilik yang sangat merdu dan menggemaskan.
Aura berlari kecil dengan rok tutu berwarna pink yang berputar-putar, langsung menubruk punggung Arga yang baru saja hendak duduk di kursi makan utamanya.
Tanpa perlu disuruh, Arga langsung tersenyum lebar, wajah tegas dan cool-nya langsung luluh seketika. Ia menunduk, lalu mengangkat tubuh kecil putri kesayangannya itu dengan mudah, mendudukkan Aura tepat di pangkuannya.
"Aduh... ini siapa yang manis banget pagi-pagi nih?" goda Arga sambil mencubit pelan pipi Aura yang gembil dan merah merona. "Hm... bau bidadari nih."
Aura tertawa renyah, lalu memeluk leher ayahnya erat-erat. "Aura bidadarinya Ayah dong! Hehehe."
Clara yang sedang menuangkan susu untuk kedua anaknya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya. Sungguh kontras yang luar biasa. Di kantor, Arga Pratama adalah seorang CEO yang disegani, galak, dan bikin orang gemetar kalau sedang marah. Tapi di rumah, di hadapan putri kecilnya, dia hanyalah seorang ayah yang lembut dan penurut.
"Mas... jangan manjain dia terus dong. Nanti kebiasaan lho, mau makan aja harus di pangku Ayah," kata Clara sambil tersenyum menggoda.
"Ah biarin dong Sayang," jawab Arga santai sambil menyuapkan sendok berisi bubur ke mulut Aura. "Kan Aura cuma kecil sekali dalam hidupnya. Nanti kalau dia udah besar, udah ada pacarnya, mau pangku juga pasti udah malu. Jadi Ayah mau nikmatin masa-masa ini."
Glup... Aura makan dengan lahap, matanya terus menatap wajah ayahnya dengan penuh kekaguman. "Enakkk! Masakan Bunda enak banget! Ayah suapin juga makin enak!"
Arfan yang duduk di seberang meja hanya tertawa kecil melihat adiknya. "Dasar manja. Abang dulu kecil nggak segituan kali, Yah."
"Kamu kan laki-laki, harus kuat. Kalau adikmu kan perempuan, harus dimanja dan dilindungi," jawab Arga serius tapi penuh kasih sayang. "Ingat ya Fan, kalau besar nanti, kamu harus jadi pelindung buat adikmu. Jangan biarkan siapapun menyakiti dia, paham?"
"Siap, Yah! Arfan janji! Kalau ada yang jahat sama Aura, Arfan lawan pake tinju!" seru Arfan sambil mengepalkan tangannya kecilnya.
Aura menoleh ke kakaknya, lalu menunjuk lidah. "Cepecepeee! Aura ada Ayah, ada Bunda, ada Abang! Aura kuat!"
Suasana makan pagi itu penuh dengan tawa dan kehangatan yang sulit digambarkan. Harta yang mereka miliki mungkin bernilai miliaran bahkan triliunan, tapi kebahagiaan sederhana seperti ini adalah hal yang paling mahal dan tak ternilai harganya.
Siang harinya, Arga memutuskan untuk membawa seluruh keluarga pergi ke taman bermain pribadi yang ada di area belakang rumah mereka yang sangat luas.
Mereka mendirikan tenda-tenda kecil, mempersiapkan piknik dengan aneka jajanan kesukaan anak-anak.
"Ayah! Ayuh main kejar-kejaran!" ajak Aura sambil menarik tangan besar ayahnya.
"Yuk! Tapi kalau Ayah tangkep, dicium satu ya!" tantang Arga.
"Janji nggak boleh!" Aura lari terbirit-birit, tertawa kegirangan saat dikejar oleh Arga yang berlari pelan-pelan agar putrinya bisa terus berlari.
Clara duduk di atas tikar piknik, menyandarkan tubuhnya sambil memandang pemandangan indah di depannya. Matahari bersinar cerah, angin berhembus sepoi-sepoi, dan suara tawa suami serta anak-anaknya adalah musik paling indah di telinganya.
"Benar-benar surga dunia..." gumam Clara pelan.
Tiba-tiba Aura kelelahan dan akhirnya tertangkap oleh Arga. Ayahnya itu langsung mengangkatnya tinggi-tinggi lalu memutarnya perlahan, membuat Aura berteriak senang. Setelah itu, Arga mendudukkan Aura di pangkuannya di samping Clara.
"Capenya... Aura haus..." rengek Aura manja.
Clara segera memberikan botol minum, tapi Aura menoleh ke arah Arga. "Mau Ayah yang pegangin..."
Arga tertawa, lalu mengambil botol itu dan menyuakan ke mulut putrinya dengan sabar.
"Sayang banget sama anak satu ini," bisik Arga sambil menatap wajah polos Aura yang sedang minum dengan lahap. "Clara... kamu tahu nggak? Kalau lihat Aura, aku jadi inget betapa beruntungnya aku. Dia adalah hadiah terindah dari Tuhan buat kita."
"Aku juga, Mas. Lihat mereka sehat dan bahagia, semua lelahku hilang sudah," jawab Clara lembut, lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Ayah..." panggil Aura tiba-tiba setelah minum.
"Iya sayangku?"
"Aura sayang Ayah... Bunda... Abang..." ucap Aura polos sambil tersenyum menampakkan gigi-gigi kecilnya yang mulai tumbuh. "Aura mau gini terus ya... sama Ayah terus."
Hati Arga dan Clara serasa meleleh mendengarnya. Arga mencium kening putrinya lama sekali.
"Iya sayang... Kita akan selalu bersama. Selamanya. Ayah janji akan selalu lindungi Aura, lindungi Bunda, lindungi Abang, sampai kapanpun."
Di usianya yang masih tiga tahun, Aura mungkin belum mengerti betapa besarnya cinta yang dimiliki keluarganya. Dia belum tahu bahwa ayahnya adalah orang yang sangat berpengaruh, bahwa mereka hidup dalam kemewahan, dan bahwa banyak orang yang mengagumi keluarga mereka.
Yang Aura tahu hanyalah... Ayahnya adalah pahlawan terkuat, Bundanya adalah yang tercantik, dan rumahnya adalah tempat paling aman dan paling bahagia di seluruh dunia.
Malam harinya, setelah kedua anak itu tertidur pulas dengan wajah damai, Arga dan Clara duduk berdua di teras rumah menikmati angin malam.
"Mas..."
"Hmm?"
"Kita berhasil ya... Dari nol, dari hinaan, dari air mata... sekarang kita punya segalanya. Bahagia yang sempurna."
Arga menggenggam tangan istrinya, menatap bintang-bintang di langit.
"Semua karena kita berjuang bareng-bareng, Sayang. Dan ini baru permulaan. Masih banyak mimpi yang mau kita wujudkan. Masih banyak kebahagiaan yang menunggu kita di depan."
Mereka tersenyum, menikmati kedamaian itu, bersyukur atas takdir indah yang telah mempertemukan dan menyatukan dua hati menjadi satu keluarga yang luar biasa.