NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Resmi bekerja.

Di tengah semua kegaduhan itu, tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka. Manajer Han masuk bersama beberapa staf.

“Nala-ssi, bisa ikut dengan kami sekarang? Kami akan menunjukkan ruanganmu dan menjelaskan bagaimana cara kerjanya,” ujar beliau.

Nada bicaranya jauh berbeda dari sebelumnya, jika saat rapat tadi suaranya terdengar kaku, dingin, dan hampir menakutkan, kini nada itu berubah lebih lembut—hangat, bahkan sedikit bersahabat.

Seolah pria yang tadi memimpin rapat penuh klausul hukum itu telah berubah menjadi seseorang yang jauh lebih santai.

Sejak awal, Nala memang sudah diberitahu bahwa setelah kontrak selesai ditandatangani, ia tidak akan langsung mulai bekerja hari itu. Pekerjaan resminya baru dimulai hari Senin nanti. Hari ini hanya untuk mengenalkan sistem kerja serta lingkungan tim kreatif di LYNX Entertainment.

“Baik,” jawab Nala pelan.

Ia bangkit dari kursinya, merapikan tasnya, lalu mengambil kembali salinan kontrak yang tadi ia tandatangani. Sebelum keluar ruangan, ia membungkuk sopan kepada para member SOLIX.

“Terima kasih atas waktunya,” ucap nya sopan,

Gerakan itu refleks—kebiasaan yang ia pelajari sejak pertama kali tiba di Korea, beberapa member langsung membalas dengan anggukan santai.

“Arasseo, sampai ketemu lagi!” seru Jihwan ceria, Hoseung bahkan mengangkat tangannya kecil.

“Welcome to the chaos!” seru nya yang membuat Nala hanya mampu tersenyum kecil sebelum akhirnya mengikuti langkah Manajer Han dan para staf keluar ruangan.

Begitu pintu tertutup, keheningan aneh menyelimuti ruang rapat beberapa detik. Lalu—

“Kau terlihat sangat bahagia, hyung.” Suara Jihwan memecah keheningan itu, dia bersandar di kursi sambil menyipitkan mata menatap Junho. “Bahkan raut wajahmu lebih bahagia daripada saat pertama kali kita memenangkan Daesang.”

Kalimat itu membuat Hoseung langsung terkekeh.

“Aigoo, benar juga.” Hoseung kembali tertawa keras.

Namun Junho tidak menanggapi dia hanya duduk diam dengan wajah setenang biasanya, menatap meja di depannya. Tapi di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa berbeda. Perasaan ringan yang aneh, hangat namun tidak bisa dijelaskan. Dan dia sendiri bahkan tidak tahu penyebabnya.

Lorong menuju lantai editorial LYNX Entertainment terasa sangat berbeda dari area studio tempat para idol berlatih. Nuansanya lebih tenang karena tidak ada musik keras, tidak ada suara instruktur vokal, tidak ada dentuman bass dari ruang latihan.

Namun tetap sibuk.

Karyawan berlalu-lalang dengan berkas tebal di tangan, laptop terbuka, atau tablet graphic pad yang masih menampilkan sketsa konsep visual. Suara click-clack sepatu di lantai marmer berpadu dengan aroma kopi premium yang menguar dari ruang istirahat staf.

Aroma pahit yang kuat—ciri khas kantor kreatif yang hampir tidak pernah benar-benar tidur. Manajer Han berjalan di depan dengan langkah mantap, namun tidak tergesa-gesa, sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Nala masih mengikutinya.

Nada bicaranya kini jauh lebih santai daripada di ruang rapat. Bahkan sesekali terdengar seperti seorang ayah yang sedang memperkenalkan rumah barunya kepada anak bungsu.

“Di lantai ini sebagian besar tim kreatif bekerja,” jelasnya. “Kamu akan banyak berinteraksi dengan departemen Lyrics Development dan Music Conceptual Team.” Ia menunjuk beberapa ruangan kaca yang mereka lewati.

“Tim-tim ini yang akan membantu menerjemahkan ide tulisanmu menjadi sesuatu yang bisa menyatu dengan musik,” lanjut nya yang membuat Nala mengangguk pelan.

“Ah… begitu ya,” balas Nala singkat.

Matanya bergerak ke sana kemari, memperhatikan setiap ruangan yang mereka lewati, dinding-dinding kaca transparan memperlihatkan suasana kerja yang hidup.

Di satu ruangan, beberapa orang berdiskusi serius di depan layar monitor besar yang menampilkan storyboard album dan di ruangan lain, seorang penulis mengetik cepat dengan headphone besar menutupi telinganya, seolah dunia luar tidak lagi ada. Sementara di sudut lain, dua orang terlihat memperdebatkan sebuah kalimat lirik dengan ekspresi sangat serius.

Nala menelan ludah kecil. Dunia ini terasa sangat… berbeda dari ruang kerjanya di rumah.

Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan luas dengan dinding putih lembut dan aksen biru tua yang elegan. Di pintunya tertulis: Creative Writing & Concept Division – Sub A. Manajer Han membuka pintu itu.

“Ini ruang kerjamu,” ucap nya yang membuat Nala sedikit terkejut.

Ruangan itu lebih luas dari yang ia bayangkan beberapa meja kerja berjajar rapi dengan komputer modern, papan ide besar yang dipenuhi sticky notes warna-warni, serta rak buku yang dipenuhi berbagai album dan buku referensi.

"Untuk proyek album kali ini, kamu akan bekerja di bawah tim Conceptual Storyline, tim ini dipimpin langsung oleh Min Yoohan-ssi,” lanjut Manajer Han.

Nala mengangguk pelan nama itu langsung ia kenali—member SOLIX yang paling pendiam tadi.

“Tapi kamu juga akan sering berdiskusi dengan produser musik utama,” tambah Manajer Han, dia sempat berhenti sejenak. Lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit… berbeda.

“Dan tentu saja, dengan Junho-ssi sendiri,” ucap nya dengan nada suaranya terdengar seperti menahan senyum kecil.

Seolah ia tahu sesuatu yang tidak ia katakan, Nala yang mendengar itu langsung menunduk sedikit. Pipinya terasa hangat.

“Ah… begitu.” Ia sendiri tidak benar-benar tahu bagaimana harus menanggapi kalimat itu.

Namun satu hal yang pasti—Ia baru saja memasuki dunia yang sama sekali baru. Dan tanpa ia sadari, dunia itu juga baru saja membuka pintu untuknya.

Saat pintu dibuka, aroma tinta dan kertas baru langsung menyapa. Meja kerja dengan monitor dual screen, papan tempel berisi konsep lirik, serta rak berisi album-album legendaris memenuhi ruangan itu. Beberapa staf yang sedang duduk segera menoleh.

“Teman-teman, ini Nala-ssi—penulis yang akan bergabung bersama kita mulai minggu ini, untuk memudahkan komunikasi tolong gunakan bahasa Inggris yang baik,” ujar salah satu staf perempuan dengan ramah.

Seorang laki-laki berambut kecokelatan yang duduk di depan papan konsep segera berdiri dan mengulurkan tangan.

“Senang bertemu denganmu, Nala-ssi. Aku Lee Hamin, bagian language and lyric adjustment. Kalau kamu butuh penerjemahan konteks atau penghalusan diksi bilingual, panggil aku saja,” kata nya sembari menyodorkan tangannya, Nala menatap sejenak lalu menyambut uluran tangan tersebut dengan sopan.

“Terima kasih, aku senang bisa bekerja sama,” balas Nala sopan dengan senyum kaku tapi tulus.

Di sisi lain, seorang wanita berambut bob menambahkan dengan nada antusias.

“Dan aku Park Eunseok, aku biasa membantu Yoohan-ssi menata story mapping. Kamu akan sering bertemu aku di sini, jadi jangan segan ya,” ujar nya, dengan bahasa inggris yang cukup baik.

Suasana terasa jauh lebih hangat daripada yang dibayangkan Nala. Ia bahkan sempat berpikir kalau kantor ini akan seserius dan sedingin yang orang-orang katakan. Namun ternyata, meski ritme kerja mereka cepat dan teratur, ada kehangatan yang tak bisa diabaikan. Manajer Han mempersilakan Nala duduk di meja yang sudah disiapkan khusus untuknya.

“Kamu boleh mulai mempelajari alur proyek ini dari berkas digital di komputermu. Semua jadwal, tenggat, dan reference mood board sudah disinkronkan dengan akunmu. Besok pagi, kita akan mulai orientation meeting bersama Yoohan-ssi, Hoseung-ssi, Junho-ssi dan tentunya tim utama lain,” ucap nya yang membuat Nala mengangguk pelan.

“Baik, terima kasih, Manajer Han.” Nala berucap pelan yang membuat manajer Han mengangguk.

Sebelum meninggalkan ruangan, pria itu sempat menatap Nala sekilas dengan ekspresi yang lebih lembut dari biasanya.

“Kamu terlihat agak gugup, tapi itu wajar. Kamu dipilih bukan karena keberuntungan, melainkan karena kemampuanmu. Jadi—jangan pernah merasa kecil di tempat ini. Katakan pada saya jika ada sesuatu yang membuat mu tidak nyaman, kita semua di sini keluarga,”  Ucapan itu menggema di kepala Nala bahkan setelah pintu tertutup.

Ia menatap meja barunya dengan campuran rasa kagum dan takut.

Di luar sana, di ruang rapat, Junho yang tengah berdiskusi dengan anggota grup lain tanpa sadar melirik pintu yang kini tertutup rapat. Entah kenapa, sejak Nala keluar ruangan tadi, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Mungkin benar kata Jihwan—ada kebahagiaan aneh yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, semacam rasa lega sekaligus penasaran yang muncul hanya karena seseorang sedang belajar menyesuaikan diri di dunia yang sama dengannya.

— ❖❦ ❦ ❦❖ —

Begitu manajer Han meninggalkan ruangan, Eunseok langsung menarik kursi di samping Nala, membawa tablet dan stylus pen miliknya.

“Baik, sekarang waktunya tur singkat di dunia digital LYNX,” ujarnya ceria, jemarinya lincah mengakses layar monitor Nala.

Sistem kerja LYNX terbuka menampilkan puluhan folder tersinkronisasi dengan jaringan intranet. Ada jadwal produksi, daftar proyek, lirik mentah, catatan mood, sampai AI lyric analyzer yang digunakan untuk menyesuaikan emosi tulisan dengan komposisi musik.

Eunseok menjelaskan cepat, dengan kalimat yang bahkan membuat staf lain kadang butuh waktu mencerna. Tapi di luar dugaan, Nala menyimak tanpa kehilangan fokus sedikit pun.

Setiap fitur baru yang diperlihatkan langsung ia pahami, bahkan ia sempat menanyakan beberapa fungsi lanjutan yang biasanya hanya diketahui staf lama.

“Jadi, tag alignment di sistem ini otomatis menyesuaikan contextual metaphor ya?” tanyanya pelan.

Eunseok yang semula menjelaskan dengan percaya diri mendadak berhenti mengetuk layar, dan menatap Nala dengan ekspresi tak percaya.

“Ya... benar sekali. Biasanya butuh tiga hari bagi staf baru untuk menyadari fitur itu,” ujarnya pelan, masih belum percaya. Sementara Hamin yang sejak tadi mengawasi sambil menyeruput kopi ikut bersuara.

“Tunggu sebentar, kamu bilang kamu belum pernah pakai sistem internal LYNX sebelumnya, kan?” tanya nya yang membuat Nala mengangguk, bagaimana mungkin dia tahu tentang sistem LYNK ini , datang ke kantor ini saja baru pertama kali.

“Belum pernah. Tapi pernah memakai sistem LyricSync dan MuseDesk untuk proyek lokal, sepertinya mirip, aku minta maaf jika itu salah, karena sejak awal bukan berasal dari jalur ini,” jawab Nala santai, masih mengetik.

Eunseok melongo, lalu menatap Hamin yang juga bingung dan kagum mendengar ucapan Nala yang tenang dan santai untuk orang yang katanya tidak tahu apapun.

“Kamu dengar itu? LyricSync dan MuseDesk. Dua sistem itu bahkan sebagian dari staf sini belum pernah menyentuhnya,” jadi nya yang membuat Eunseok mengangguk bahkan beberapa orang lain di ruangan itu saling pandang sebelum akhirnya tertawa kecil.

“Baiklah, anak ini seriusan cepat tangkapnya,” komentar salah satu staf di pojok ruangan.

Tak lama kemudian, suasana berubah jadi lebih santai. Mereka mulai mengobrol ringan sambil memperkenalkan diri lebih akrab. Eunseok yang duduk di sebelah Nala memiringkan kepala, matanya menyipit seolah baru menyadari sesuatu.

“Nala-ssi, kamu tahun berapa lahirnya, ya? Kamu terlihat masih sangat muda?” tanya nya yang membuat Nala terdiam sejenak.

“Dua ribu empat,” jawab Nala polos.

Seketika ruangan itu senyap selama tiga detik sebelum tawa besar pecah hampir bersamaan.

“Dua ribu... empat??!” seru Hamin, matanya membulat. “Astaga, aku waktu itu sudah kerja magang di sini!” ujar nya berdiri dari kursinya sangking tidak percaya nya dengan ucapan Nala.

“Dan aku baru masuk universitas waktu itu!” sahut staf lain yang duduk di seberang. Eunseok menepuk kening sambil menghela napas panjang.

"Kamu serius?" Tanya nya yang membuat Nala mengangguk.

“Berarti kamu bisa panggil aku Eonni, mulai sekarang?” katanya dramatis.

“Eh? Tapi—”

“Tidak ada tapi! Kalau kamu panggil aku nama langsung tanpa Eonni, rasanya seperti dihantam realitas usia!” seru nya yang membuat Hamin yang dari tadi tak mau kalah ikut menimpali.

“Kalau begitu, panggil aku Oppa, ya. Aku lahir tahun sembilan puluh satu, jadi cukup senior di sini,” ujar nya dengan wajah serius. Namun ekspresi seriusnya langsung berubah kikuk saat seluruh ruangan meledak tawa.

“Oppa katanya!” seru Eunseok sambil menahan perutnya.

“Ya, biarkan saja dia, sudah jarang ada yang memanggil begitu akhir-akhir ini,” sindir staf lain sambil terkekeh.

"Benar itu, lagipula Nala-ssi, kau yang termuda sekarang di sini, " ujar nya yang di sela oleh seorang staf lain.

"Bukankah ada Jeongin juga yang lebih muda,?" Tanya nya yang langsung di sahuti hamin.

"Masih lebih muda Nala, aku dengar kalau tidak salah dia bilang kelahiran tahun dua ribu," balas nya yang membuat salah satu senior memijat pelipisnya yang mendadak sakit.

"Anak-anak sekarang luar biasa, di usia semuda ini sudah bergabung dengan perusahaan sebesar ini, rasanya hanya aku yang paling tua di sini," kata nya yang membuat semua orang tertawa kecuali Nala.

Dia  hanya bisa menunduk sambil menahan tawa. Pipinya memerah, antara malu dan geli mendengar dinamika spontan itu. Namun di balik semua gelak, ada rasa hangat yang menjalar pelan di dadanya. Ia merasa diterima.

Tak butuh waktu lama baginya untuk menyesuaikan diri. Dalam waktu kurang dari satu jam, ia sudah memahami sistem dasar LYNX hingga ke menu tersulitnya. Bahkan Hamin sampai bergumam lirih.

“Kalau dia terus secepat ini, jangan-jangan minggu depan posisiku digeser,” ujar nya yang membuat Eunseok menepuk bahunya pelan sambil tertawa.

“Bukan digeser, tapi mungkin kamu akhirnya punya alasan untuk kerja lebih cepat dari biasanya,” balas nya yang membuat Nala tersenyum kecil, merasa campuran antara bangga, gugup, dan terharu—karena untuk pertama kalinya sejak tiba di Seoul, ia merasa tidak benar-benar sendirian.

☾ ── ❖ ── ☾

Sore itu, koridor kantor LYNX mulai sepi. Lampu-lampu putih di langit-langit menyala lembut, memantulkan bayangan samar dari kaca besar di sisi dinding. Suara langkah kaki bergema tenang di antara ruang kosong; sebagian staf sudah pulang, sebagian lagi masih sibuk menutup laporan akhir.

Nala berjalan pelan sambil menenteng tasnya, melewati lorong panjang menuju lift. Hari ini seharusnya tidak melelahkan—hanya orientasi, sekadar pengenalan sistem kerja—tetapi pikirannya terasa penuh. Terlalu banyak wajah baru, suara asing, dan bahasa yang sebagian besar belum sepenuhnya ia pahami.

Ketika sampai di depan lift, pintu logam itu terbuka dengan bunyi lembut—memperlihatkan sosok yang tak asing lagi.

Kim Namjunho.

Dia tampak berbeda dari suasana rapat tadi—tanpa jas formal, hanya mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan gurat urat di pergelangan tangannya.

Kancing bagian atas terbuka satu, memberi kesan santai yang jarang terlihat darinya. Rambutnya sedikit berantakan, seolah baru saja melepas topi atau headset latihan. Namun bahkan dalam keadaan sesantai itu, aura wibawanya tetap sama: tenang, terkendali, dan sulit didekati.

Begitu menyadari siapa yang ada di dalam lift, langkah Nala refleks melambat. Ia sempat berpikir untuk menunggu giliran berikutnya, membiarkan pintu lift itu menutup kembali tanpa harus berbagi ruang sempit dengan seseorang seperti Kim Namjunho. Tapi sebelum sempat mundur, Junho sudah menoleh dan menahan pintu dengan satu tangan.

“Kamu tidak naik?” suaranya terdengar datar, namun hangat. Nala menatapnya sejenak, ragu.

“Ah… silakan dulu saja. Aku bisa menunggu lift berikutnya,” ujarnya pelan.

Junho menggeleng ringan. Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya—bukan senyum lebar, hanya lengkungan kecil yang cukup untuk membuat ekspresinya terlihat lebih manusiawi dari biasanya.

“Tidak perlu. Ini bukan area khusus idol, jadi kamu boleh naik bersamaku. Lagipula, lantai tujuan kita sama, kan?” tanyanya, nada tenangnya tidak memberi ruang bagi penolakan sopan.

Nala akhirnya masuk. Ia berdiri menjaga jarak cukup jauh di sisi berlawanan, punggungnya hampir menyentuh dinding lift yang dingin. Keheningan singkat menggantung di udara, hanya diiringi bunyi lembut mesin lift yang mulai bergerak turun.

Untuk beberapa detik, tak ada yang berbicara. Junho menatap angka digital yang berubah perlahan di panel dinding, lalu berkata pelan,

“Bagaimana hari pertamamu?”

Pertanyaan sederhana itu seharusnya mudah dijawab, tetapi entah kenapa terasa terlalu pribadi di tengah keheningan sempit lift itu.

“Baik,” jawab Nala singkat.

“Baik?” Junho menoleh sekilas, alisnya terangkat tipis, seolah tidak yakin apakah itu jawaban sungguhan atau sekadar basa-basi. Nala mengangguk sedikit, mencoba tersenyum sopan.

“Ya, semua orang… baik. Mereka banyak membantu,” ujarnya.

Junho terkekeh pelan—tawa singkat yang hampir tidak terdengar, tetapi cukup untuk memecah keheningan di antara mereka.

“Itu jawaban yang sangat diplomatis.” Ia menatap Nala dengan mata teduh, sedikit geli melihat sikap kaku gadis itu.

“Kalau begitu, aku asumsikan belum ada yang membuatmu ingin pulang lebih awal?” ujarnya lagi, kali ini bernada lebih ringan. Nala menunduk sedikit, menahan tawa kecil yang hampir lolos dari bibirnya.

“Belum. Setidaknya belum hari ini,” jawab Nala tenang.

Jawaban itu membuat Junho benar-benar tersenyum—senyum yang singkat, tetapi tulus. Ada sesuatu yang hangat dalam caranya menatap, seolah ia sedang mencoba membaca lebih dalam tanpa membuat lawan bicaranya merasa terancam.

“Katakan sesuatu jika ada kesulitan. Jangan ragu,” ujarnya kemudian, Nala mengangguk.

“Terima kasih, Junho-ssi. Dan maaf jika aku kesulitan beradaptasi, aku memang baru di jalan ini,” ujarnya jujur, Junho menggeleng pelan.

“Tidak ada jalan yang benar-benar baru untuk dipijak,” katanya tenang. “Yang ada hanya jalan yang sama bagi mereka yang mau belajar.” Ia menatap lurus ke depan, suaranya tetap datar namun terasa mantap.

“Kita bekerja untuk hasil bersama, jadi lakukan semuanya bersama-sama.” Junho mengakhiri ucapan nya.

Nala terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa lebih dalam dari sekadar nasihat kerja dan dia tahu itu benar-benar kebiasaan Junho, bagaimanapun juga dia sampai saat ini masih seorang LUNARIS. Namun dia tidak menjawab lebih lanjut.

Lift berhenti di lantai dasar.

Pintu terbuka, menyambut udara sore yang sedikit dingin dari lobi gedung. Cahaya matahari yang mulai meredup menembus pintu kaca di kejauhan. Nala segera membungkuk kecil, bersiap untuk berpamitan.

“Terima kasih sudah mengizinkan aku ikut naik,” ujarnya, Junho mengangguk.

“Hati-hati di jalan. Seoul bisa membingungkan untuk orang baru,” ujarnya, Nala tersenyum samar.

“Aku akan berusaha tidak tersesat,” jawab Nala dan tanpa sadar Junho membalas senyum itu.

“Kalau pun tersesat,” katanya ringan, “setidaknya kamu tahu kantor ini punya banyak orang yang bisa membantu.”

Nada suaranya santai, hampir seperti gurauan, namun entah kenapa bagi Nala kalimat itu terdengar lebih dari sekadar basa-basi.

Begitu pintu lift tertutup kembali, Nala menatap pantulan samar dirinya di kaca lobi. Wajahnya memanas—mungkin karena udara sore Seoul yang mulai berubah dingin, atau mungkin karena percakapan singkat yang terlalu tenang untuk disebut biasa.

Namun tiba-tiba suara seorang pria membuatnya terkejut. Ia berbalik dan melihat seorang pria dengan jas rapi dan kacamata bundar yang membuatnya terlihat profesional sekaligus ramah.

“Nona Nala?” tanyanya dalam bahasa Inggris dengan logat Korea yang cukup kental.

“Iya?” tanya Nala bingung.

“Nona Nala, saya akan mengantarkan Anda ke tempat tinggal Anda yang baru,” ujarnya sopan.

Nala terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya.

“Tempat tinggal baru?”

“Iya, Nona. Fasilitas yang disiapkan agensi untuk Anda. Mari saya antarkan,” ujarnya.

Nala akhirnya mengangguk setuju meskipun kebingungan masih terlihat jelas di wajahnya.

Malam itu, setelah semua proses penandatanganan kontrak berakhir di gedung pusat LYNX Entertainment di kawasan Yeoksam-dong, Nala dipandu Soojin—staf pribadi Junho—menuju apartemen yang telah disiapkan agensi untuk para staf mereka.

Mobil yang mereka tumpangi keluar dari area parkir gedung agensi, menyusuri jalanan Gangnam yang masih ramai meskipun malam mulai turun. Lampu-lampu toko dan papan iklan neon memantul di kaca jendela mobil, sementara deretan gedung tinggi berdiri megah di kedua sisi jalan.

Perjalanan itu tidak terlalu lama. Mobil melewati beberapa persimpangan besar sebelum akhirnya memasuki kawasan Daechi-dong, wilayah yang lebih tenang namun tetap elegan di jantung Gangnam. Di sana berdiri kompleks apartemen modern dengan sistem keamanan ketat—salah satu fasilitas tempat tinggal yang disediakan LYNX Entertainment untuk staf internasional mereka.

Ketika mobil berhenti di depan lobi gedung apartemen, Nala menatap bangunan tinggi dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya kota Seoul di malam hari.

Ia mengikuti Soojin masuk ke dalam gedung, naik lift hingga lantai yang dituju, lalu berhenti di depan sebuah pintu apartemen. Nala sempat terdiam ketika Soojin menyerahkan kartu akses kepadanya.

“Mulai sekarang, ini tempat Anda,” ujar Soojin, staf pribadi Junho yang juga ditugaskan mendampingi Nala sementara waktu.

“Terima kasih banyak,” Nala sedikit membungkuk.

“Sama-sama. Mulai hari Senin nanti juga, saya dengar akan ada tutor bahasa yang mulai mengajarkan bahasa kami kepada Anda. Kami harap Anda bersiap juga untuk segala kemungkinannya,” ujarnya, yang membuat Nala mengangguk meskipun masih bingung.

“Baik,” jawab Nala.

Pria itu mengangguk.

“Kalau begitu saya pamit. Selamat malam.”

Setelah pria itu melangkah pergi menyusuri koridor apartemen yang sunyi, Nala akhirnya membuka pintu. Ruangan luas yang elegan langsung menyambutnya.

Interiornya minimalis namun hangat: sofa abu-abu lembut, meja kayu terang, rak buku kosong yang seolah menunggu untuk diisi, dan jendela besar yang menghadap ke jalanan Seoul di bawah. Lampu kendaraan terlihat seperti garis cahaya yang bergerak perlahan di antara gedung-gedung tinggi.

Bahkan ada sudut kecil yang tampak seperti ruang kerja pribadi—lengkap dengan meja, kursi nyaman, dan komputer—seakan apartemen itu sudah mengetahui siapa yang akan menempatinya.

Nala menarik napas panjang, antara takjub dan gugup. Bagian dirinya yang sederhana dari Sukabumi merasa ruang ini terlalu “mewah” untuknya, tetapi bagian lain dalam dirinya sadar—ini adalah konsekuensi dari langkah besar yang baru saja ia ambil.

Ia bukan lagi penulis yang menulis dalam diam di apartemen kecil di Jakarta. Kini ia adalah bagian dari salah satu agensi hiburan terbesar di Asia.

Nala berjalan masuk lebih jauh ke dalam apartemen untuk membereskan barang-barangnya yang tadi ia bawa dari hotel. Koper kecil itu terasa begitu kontras dengan luasnya ruangan di sekitarnya.

Masih ada perasaan tidak percaya di dalam dirinya. Namun perlahan ia menyadari satu hal—ini benar-benar bukan mimpi.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!