NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Kabut di depan mereka tidak lagi sekadar terlihat tebal, tapi terasa hidup, berputar perlahan seperti sesuatu yang bernapas dan mengamati setiap langkah yang mendekat, membuat Leonard tanpa sadar memperlambat langkahnya sementara bahunya menegang dan matanya yang keemasan menyapu setiap sudut dengan waspada, mencoba membaca sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh indra manusia biasa.

Sedangkan Alexandria tetap berjalan di sampingnya tanpa melepaskan genggaman tangan itu sedikit pun, justru semakin erat karena ada dorongan aneh dari dalam dirinya yang mengatakan bahwa jika ia melepaskannya sekarang, ia tidak hanya akan tersesat di hutan, tapi juga kehilangan arah dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar jalan pulang.

“Udara di sini berbeda…” gumam Alexandria pelan, napasnya terasa lebih berat meski bukan karena lelah, melainkan karena ada tekanan halus yang tidak kasat mata.

Leonard mengangguk tanpa menoleh, suaranya rendah namun pasti, “Kita sudah melewati batasnya, ini bukan lagi hutan biasa, ini wilayah di mana dunia manusia mulai bersentuhan dengan Eldoria.”

Tanah di bawah kaki mereka perlahan berubah, tidak lagi berupa tanah lembap dengan akar-akar liar, melainkan permukaan padat seperti batu tua yang dilapisi lumut tipis, dan setiap langkah yang mereka ambil seolah tenggelam dalam keheningan karena tidak menimbulkan suara apa pun, seakan dunia di sekitar mereka menahan napas dan menunggu sesuatu terjadi.

Alexandria sempat menoleh ke belakang secara refleks, namun yang ia lihat hanya kabut tebal yang sudah menutup jalur yang mereka lewati, tidak ada lagi jejak, tidak ada lagi arah yang bisa dikenali.

“Leonard… jalannya hilang…” bisiknya pelan.

“Kita memang tidak berjalan untuk kembali,” jawab Leonard sambil menoleh, matanya bertemu dengan Alexandria, tenang tapi penuh keyakinan, “dan kita tidak akan mundur sekarang.”

Ada sesuatu dalam cara ia mengatakannya yang membuat dada Alexandria menghangat, bukan karena kata-katanya, tapi karena keteguhan yang tidak goyah di dalamnya, keteguhan yang sama yang membuatnya berani meninggalkan segalanya tanpa ragu.

Mereka melangkah lebih dalam, dan denyutan yang sebelumnya hanya terasa samar kini mulai jelas, bukan hanya di dada, tapi seperti gema yang perlahan memenuhi ruang di sekitar mereka, membuat langkah mereka serempak melambat saat sensasi itu semakin kuat, semakin dekat, hingga akhirnya Leonard berhenti dan Alexandria ikut menghentikan langkah tanpa perlu diberi tahu.

Di depan mereka, kabut mulai berputar dengan pola yang tidak lagi acak, melainkan membentuk lingkaran yang semakin jelas, seolah membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi.

“Di sana…” bisik Alexandria, matanya melebar.

Dari balik pusaran kabut itu, perlahan muncul sebuah struktur tinggi yang menjulang, terbuat dari batu hitam yang tampak tua namun tidak rapuh, permukaannya dipenuhi ukiran aneh yang berpendar sangat samar seperti cahaya yang hampir padam tapi tetap bertahan, dan semakin mereka mendekat, semakin jelas bahwa itu bukan sekadar reruntuhan.

Itu adalah gerbang.

Leonard melangkah maju perlahan, matanya menajam, sementara Alexandria mengikuti dengan napas yang tertahan, keduanya sama-sama merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—sebuah tarikan yang kuat, seolah gerbang itu mengenali mereka.

“Ini dia…” ucap Leonard pelan, suaranya nyaris seperti bisikan yang tertahan oleh sesuatu yang lebih dalam.

Gerbang itu tidak memiliki pintu, hanya dua pilar tinggi dengan ruang kosong di tengahnya, namun ruang kosong itu tidak benar-benar kosong karena ada lapisan tipis seperti udara yang bergetar, menyerupai permukaan air yang tenang namun menyimpan kekuatan besar di dalamnya.

Alexandria melangkah mendekat tanpa sadar, matanya terpaku pada ukiran yang terasa asing sekaligus familiar, jemarinya perlahan terangkat, hampir menyentuh permukaan batu.

“Aku pernah melihat ini…” bisiknya.

Leonard langsung menahan pergelangan tangannya, gerakannya cepat tapi tetap lembut, “Jangan dulu, gerbang ini akan merespon siapa pun yang menyentuhnya.”

Alexandria menoleh, namun sebelum ia sempat bertanya, udara di sekitar mereka berubah.

Angin yang sebelumnya nyaris tidak terasa kini berhembus pelan membawa hawa dingin yang merayap di kulit, kabut berputar lebih cepat, dan denyutan yang tadi hanya terasa kini terdengar jelas, seolah berasal dari gerbang itu sendiri.

Degup… dalam… berat… dan hidup.

Cahaya mulai muncul dari ruang kosong di antara pilar, awalnya hanya garis tipis seperti retakan, lalu perlahan melebar menjadi permukaan transparan yang berpendar lembut dengan warna keunguan bercampur kilau keemasan yang berdenyut seirama dengan detak yang mereka rasakan.

Alexandria tanpa sadar melangkah setengah langkah lebih dekat, napasnya tertahan karena pemandangan itu terasa indah sekaligus menakutkan.

“Ini… Eldoria…” gumam Leonard, suaranya berubah lebih dalam, lebih berat, seolah sesuatu dalam dirinya ikut merespon.

Namun keindahan itu tidak bertahan lama tanpa gangguan.

Permukaan cahaya itu bergetar.

Dan dari dalamnya, bayangan mulai terbentuk.

Sosok tinggi yang tidak sepenuhnya terlihat, namun jelas bergerak, seolah berdiri di balik lapisan tipis antara dua dunia dan mengamati mereka.

Alexandria refleks merapat ke Leonard, napasnya tercekat, sementara Leonard justru maju setengah langkah, tubuhnya sedikit melindungi namun tatapannya tidak mundur sedikit pun.

Lalu suara itu datang.

Tidak dari luar, tidak dari dalam, tapi langsung di dalam kepala mereka, berat, dalam, dan membawa tekanan yang tidak terlihat.

“Akhirnya… kau kembali.”

Alexandria memejamkan mata sesaat, menahan sensasi itu, “Leonard… kamu dengar…?”

“Aku dengar,” jawabnya tanpa berpaling, rahangnya mengeras.

Suara itu kembali, kali ini lebih jelas, lebih dalam, seolah mengenali mereka bukan sebagai orang asing.

“Putra yang hilang… dan jiwa yang membangunkannya.”

Udara di sekitar mereka terasa menegang, cahaya berdenyut lebih cepat, sementara sosok di balik gerbang itu bergerak sedikit lebih dekat, memperlihatkan siluet wajah yang samar dengan dua titik cahaya yang menyerupai mata, menatap langsung ke arah mereka dengan intensitas yang sulit dijelaskan.

Leonard tidak mundur, justru berdiri lebih tegak, seolah sesuatu dalam dirinya akhirnya bangkit dan menjawab panggilan itu.

“Jika ini ujian,” katanya pelan namun tegas, “maka aku tidak akan menghindarinya.”

Cahaya di gerbang bergetar lebih kuat, angin berhembus semakin kencang, dan suara itu kembali, kali ini seperti keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.

“Masuk… dan hadapi apa yang telah kau tinggalkan.”

Gerbang terbuka sepenuhnya.

Bukan secara fisik, tapi seperti ruang itu sendiri yang menyerah dan membiarkan mereka lewat.

Alexandria menggenggam tangan Leonard lebih erat, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut semata, tapi karena ia tahu bahwa langkah berikutnya bukan sekadar perjalanan, melainkan titik di mana hidup mereka akan benar-benar berubah.

Leonard menoleh sedikit, menatapnya dengan lembut di tengah tekanan yang semakin kuat, dan dalam tatapan itu tidak ada keraguan, hanya keyakinan yang sama seperti saat ia memilih untuk tetap di sisinya sejak awal.

“Kita tidak akan mundur,” katanya pelan.

Alexandria mengangguk, napasnya ditarik dalam sebelum menjawab dengan suara yang lebih tenang dari yang ia rasakan.

“Tidak akan.”

Mereka berdiri di ambang dua dunia, satu langkah lagi menuju sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan sepenuhnya, namun untuk pertama kalinya sejak perjalanan ini dimulai, Alexandria tidak merasa takut menghadapi apa yang ada di depan mereka, karena di sampingnya ada satu hal yang lebih kuat dari ketidakpastian itu sendiri—

dan itu adalah Leonard.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!