NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15: Langit Eldoria dan Panggilan Hati

Saat Alexandria dan Leonard melangkah melewati gerbang cahaya itu, dunia seolah berputar cepat di sekitar mereka. Ada sensasi melayang yang aneh, campuran antara terbang dan jatuh, yang berlangsung hanya beberapa detik namun terasa seperti berjam-jam. Namun, rasa itu segera hilang saat kaki mereka menyentuh tanah yang padat dan stabil.

Mereka berdua membuka mata perlahan, dan apa yang mereka lihat membuat napas mereka tercekat di tenggorokan.

Mereka berdiri di sebuah padang rumput yang luas. Rumput di sini bukan berwarna hijau biasa, melainkan berwarna kebiruan pucat yang berkilauan lembut di bawah cahaya langit.

Di atas kepala mereka, langit tidak berwarna hitam pekat seperti malam di dunia manusia, melainkan berwarna ungu tua yang indah, bertaburkan bintang-bintang yang jauh lebih terang dan lebih banyak.

Dan yang paling menakjubkan, ada dua bulan yang bersinar di langit itu—satu berwarna perak terang dan satu lagi berwarna keemasan samar, melayang berdampingan.

"Ini... ini sungguh nyata," bisik Alexandria, matanya berbinar-binar takjub. Ia memutar tubuhnya, melihat sekeliling dengan rasa kagum.

"Indah sekali, Leonard. Lebih indah dari apa pun yang pernah aku bayangkan."

Leonard tidak segera menjawab. Ia berdiri diam, menatap pemandangan di depannya dengan mata yang berkaca-kaca. Angin sepoi-sepoi bertiup, menerbangkan rambut hitamnya, dan ia bisa mencium aroma udara yang begitu familiar—aroma bunga malam yang manis dan aroma sihir murni yang menyegarkan. Ini adalah rumahnya. Ini adalah tanah kelahirannya yang telah ia rindukan selama bertahun-tahun.

"Ya..." suara Leonard terdengar serak karena emosi. "Ini Eldoria. Aku pulang."

Ia menoleh ke arah Alexandria, dan melihat kekaguman di mata wanita itu, rasa rindu dan emosi di hatinya bercampur dengan rasa cinta yang meluap-luap. Ia menggenggam tangan Alexandria dengan erat, membawanya ke dekat dadanya.

"Terima kasih," bisik Leonard, matanya menatap lekat-lekat ke mata kekasihnya.

"Terima kasih sudah mau datang bersamaku sampai ke sini, Alexandria. Tanpamu, tempat ini tidak akan terasa seperti rumah."

Alexandria tersenyum lembut, mengusap dada Leonard dengan tangan bebasnya.

"Aku akan pergi ke mana saja bersamamu, Leonard. Di mana pun kamu berada, itu rumahku."

Momen itu terasa begitu intim, begitu pribadi, seolah dunia di sekitar mereka menghilang. Hanya ada mereka berdua di bawah langit ungu yang magis itu. Leonard menatap wajah Alexandria yang diterangi cahaya dua bulan, dan ia merasa panggilan formal itu tiba-tiba terasa terlalu jauh. Ia ingin memanggilnya dengan sesuatu yang lebih dekat, sesuatu yang hanya milik mereka.

"Alex..." bisik Leonard pelan, hanya untuk didengar oleh wanita itu sendiri.

Panggilan singkat itu keluar dari mulutnya begitu alami, begitu penuh kasih sayang.

Mendengar panggilan itu, jantung Alexandria berdebar kencang dengan cara yang menyenangkan. Ia tahu itu adalah panggilan khusus untuknya, sebuah nama kesayangan yang hanya Leonard yang boleh menyebutnya.

Wajahnya merona merah, dan ia membalas tatapan itu dengan lembut.

"Leo..." balas Alexandria juga dengan bisikan lembut, memanggil nama kesayangan untuk Leonard yang hanya ia yang boleh gunakan.

Senyum Leonard melebar, menjadi senyum yang paling tulus dan bahagia yang pernah ia tunjukkan. Ia menarik Alexandria ke dalam pelukan hangatnya, memeluk wanita itu seerat mungkin, seolah ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi.

"Alex... Alex-ku. Aku berjanji akan melindungimu di sini. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."

"Dan aku akan selalu ada di sampingmu, Leo," bisik Alexandria di dada bidang Leonard. "Kita hadapi semuanya bersama-sama."

Mereka berdiri seperti itu untuk beberapa lama, menikmati momen reuni mereka dengan tanah air Leonard dan momen keintiman di mana mereka saling memanggil dengan nama-nama yang menyimbolkan kesatuan jiwa mereka.

Setelah emosi awal itu mereda, Leonard pun melepaskan pelukannya, meski tetap menggenggam tangan Alexandria. Ia menatap sekeliling dengan tatapan yang lebih waspada, meski masih ada rasa bahagia di sana.

"Kita tidak bisa tinggal di sini terlalu lama," kata Leonard, suaranya kembali tegas namun tetap lembut.

"Meskipun ini area perbatasan yang relatif tenang, kita tidak tahu di mana mata-mata Valerius bersembunyi. Kita harus pergi ke tempat yang aman dulu. Ada sebuah desa kecil yang tidak jauh dari sini, di mana penduduknya dikenal setia pada keluargaku. Kita bisa mencari informasi dan beristirahat di sana."

Alexandria mengangguk paham. "Baiklah, Leonard. Aku ikut kamu. Ke mana pun kamu membawa aku."

Mereka pun mulai berjalan melintasi padang rumput kebiruan itu. Sepanjang jalan, Alexandria terus melihat sekeliling dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia melihat serangga-serangga kecil yang bercahaya seperti kunang-kunang tapi dengan warna-warni yang indah, ia melihat bunga-bunga yang menutup kelopaknya saat malam tiba namun tetap memancarkan cahaya lembut dari dalamnya, dan ia bahkan melihat sekawanan makhluk kecil yang terbang dengan sayap seperti kupu-kupu tapi berukuran sebesar burung kecil, berbulu halus dan berwarna pelangi.

"Dunia ini sungguh penuh keajaiban," gumam Alexandria takjub. "Tidak heran kamu sangat merindukannya."

Leonard tersenyum mendengar kekaguman kekasihnya.

"Dan kamu akan melihat lebih banyak lagi keajaiban di sini, Alex. Tapi kamu juga harus ingat, tidak semua keajaiban itu ramah. Ada juga bahaya yang menyamar menjadi indah."

Saat mereka berjalan semakin jauh, pemandangan di sekitar mereka berubah menjadi hutan yang berbeda dari Hutan Aethelgard. Pohon-pohon di sini memiliki batang yang berwarna perak dan emas, dengan daun-daun yang berkilauan seperti kaca tipis. Saat angin bertiup, daun-daun itu beradu dan mengeluarkan suara seperti lonceng kecil yang merdu.

"Tinggal sedikit lagi," kata Leonard, menunjuk ke arah sebuah bukit kecil di kejauhan.

"Di balik bukit itu, ada desa Oakhaven. Itu tempat yang aman."

Namun, sebelum mereka bisa mencapai bukit itu, tiba-tiba Leonard menghentikan langkahnya. Tubuhnya menegang, dan ia menarik Alexandria mundur sedikit, bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang berbatang perak.

"Ada apa?" bisik Alexandria, waspada.

"Diam sebentar, Alex," bisik Leonard balik, matanya tajam mengamati sesuatu di depan mereka, di dekat jalan setapak yang menuju ke bukit. "Ada orang."

Alexandria mengintip dari balik batang pohon. Di sana, terlihat sekelompok orang yang mengenakan baju zirah hitam dengan lambang merah menyala di dada mereka—lambang sebuah tengkorak dengan sayap kelelawar.

Mereka berjumlah sekitar sepuluh orang, dan mereka sedang berkemah di pinggir jalan, membuat api unggun dan tertawa-tawa dengan suara yang kasar.

"Itu pasukan Valerius," desis Leonard, matanya menyala dengan amarah yang tertahan.

"Mereka sudah menguasai bahkan sampai ke daerah perbatasan ini. Mereka pasti sedang berpatroli untuk mencari siapa saja yang mencoba masuk atau keluar dari gerbang."

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Alexandria pelan, tangannya meraih pisau kecil di pinggangnya dan beberapa botol ramuan.

"Apakah kita harus melawan mereka? Atau kita menyelinap lewat?"

Leonard berpikir sejenak, matanya mengamati posisi musuh-musuh itu.

"Mereka terlalu banyak dan terlalu waspada. Jika kita melawan, suaranya akan terdengar jauh dan bisa menarik pasukan lain. Tapi jika kita menyelinap... ada risiko ketahuan juga."

Leonard menatap Alexandria, lalu sebuah ide muncul di benaknya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Alexandria, berbisik sangat pelan.

"Alex, aku punya rencana. Aku bisa menggunakan sihir untuk menyamarkan aura kita dan membuat kita tampak seperti kabut biasa bagi mata mereka. Tapi itu akan membutuhkan konsentrasi penuh. Kamu harus berjalan tepat di belakangku, jangan lepas tanganku, dan jangan membuat suara apa pun, mengerti?"

Alexandria mengangguk mantap. "Mengerti, Leo. Aku percaya padamu."

Panggilan sayang itu terdengar lagi, dan itu memberikan kekuatan ekstra bagi Leonard. Ia tersenyum tipis, lalu mengangguk. Ia menggenggam tangan Alexandria dengan erat, lalu memejamkan matanya sejenak. Dari tubuhnya, mulai memancarkan cahaya keemasan yang sangat redup, hampir tidak terlihat. Cahaya itu menyelimuti tubuhnya dan juga tubuh Alexandria.

Saat ia membuka matanya lagi, tatapannya tenang namun fokus. "Ayo. Ikuti langkahku."

Mereka pun mulai berjalan perlahan-lahan, keluar dari persembunyian mereka dan menuju ke arah jalan setapak di mana pasukan Valerius sedang berkemah. Jantung Alexandria berdegup kencang, tapi ia terus mengulangi nama kesayangan itu di dalam hatinya—Leo, Leo, Leo—sebagai mantra penenang.

Saat mereka berjalan melewati pasukan musuh yang hanya berjarak beberapa meter saja, Alexandria menahan napasnya. Ia melihat wajah-wajah kasar para prajurit itu, mendengar percakapan mereka yang kasar tentang pembunuhan dan perampasan. Tapi anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh atau menyadari kehadiran dua orang yang berjalan lewat begitu dekat di depan mata mereka. Bagi mereka, Leonard dan Alexandria hanyalah kabut tipis yang lewat karena angin.

Sampai mereka berhasil melewati kelompok musuh itu dan berjalan cukup jauh hingga hilang dari pandangan, barulah Leonard menghentikan sihirnya. Cahaya redup itu menghilang, dan mereka kembali terlihat seperti diri mereka sendiri.

Mereka berdua menghela napas panjang secara bersamaan, lalu saling berpandangan dan tertawa pelan karena lega.

"Berhasil!" bisik Alexandria bahagia, memukul pelan lengan Leonard.

"Kamu hebat sekali, Leonard!"

Leonard tertawa pelan, lalu menarik Alexandria ke dalam pelukan singkat dan mencium keningnya.

"Bukan hanya aku yang hebat, Alex. Kamu juga sangat berani dan tenang. Tanpa kepercayaanmu, sihirku tidak akan bekerja seefektif itu."

Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju bukit itu dengan semangat yang baru. Saat mereka sampai di puncak bukit dan melihat ke bawah, mereka bisa melihat sebuah desa kecil yang hangat. Lampu-lampu dari rumah-rumah penduduk berkilauan seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi, dan suasana di sana terasa damai dan ramah.

"Itu dia, desa Oakhaven," kata Leonard, matanya berbinar. "Kita akan aman di sana."

Alexandria menatap desa itu, lalu menatap wajah Leonard di bawah cahaya dua bulan. Ia merasa bersyukur atas segala hal—atas keajaiban Eldoria, atas keselamatan mereka, dan terutama atas kehadiran pria di sampingnya.

"Ayo kita turun, Leo," bisik Alexandria, menggunakan panggilan sayang itu lagi, kali ini dengan senyum yang manis. "Aku tidak sabar untuk istirahat dan mendengar lebih banyak cerita tentang negerimu."

Leonard tersenyum, menggenggam tangan kekasihnya erat-erat. "Ayo, Alex. Mari kita pulang."

Mereka pun mulai menuruni bukit itu, menuju desa yang aman, menuju babak baru dalam petualangan mereka di Eldoria.

Dan di sepanjang jalan itu, di antara bisikan-bisikan cinta dan rencana mereka, nama-nama kesayangan itu—Leo dan Alex—terdengar sesekali, menjadi rahasia manis yang memperkuat ikatan di antara mereka, sebuah ikatan yang melintasi batas dunia dan waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!