"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Violet masih memandang adiknya dengan tatapan yang sama seperti beberapa menit lalu saat permintaan yang terdengar kurang ajar itu dilontarkan.
Sementara Teresa semakin terisak. Karena hanya itu senjata terakhirnya untuk membuat kakaknya iba padanya dan mau membantu nya.
"Aku serius kak. Aku mohon padamu, aku tidak ingin menikah dengan lelaki kejam itu, akan se menderita apa hidup ku nanti? jadi tolong gantikan aku. "
Sedetik.
Dua detik.
Violet masih bergeming. Hingga habislah sudah kesabarannya. "Teresa." Menarik nafas pelan, Violet kemudian berdiri, berjalan ke jendela lalu berbalik.
"Apa kau tidak tahu? itu penipuan, itu melanggar hukum. Itu--"
"Aku tahu. "Teresa ikut berdiri, melangkah mendekati Violet dengan mata yang kembali basah. "Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak mau menghabiskan hidupku di sisi laki-laki yang bahkan senyum pun tidak pernah. Kak Vi, orang-orang bilang dia pernah membuat anak buahnya sendiri masuk rumah sakit hanya karena satu kesalahan kecil di lapangan. Aku takut."
Violet menatap wajah adik angkatnya itu. Teresa yang cantik, Teresa yang selalu mendapat apa yang diinginkan, Teresa yang tidak pernah sekalipun benar-benar takut pada apapun selama hidupnya. Tapi malam ini matanya berbeda.
Mungkin itulah yang membuat Violet tidak langsung pergi meninggalkan ruangan.
"Dan kamu pikir aku tidak akan takut?" tanya Violet pelan.
Teresa menggigit bibirnya lagi. "Kamu lebih kuat dari aku, Kak. Kamu selalu lebih kuat."
Violet hampir tertawa. Kuat? dua puluh dua tahun ia hidup di rumah ini dengan cara setipis mungkin, setenang mungkin, sediam mungkin supaya tidak ada yang merasa terganggu dengan keberadaannya, dan adik angkatnya menyebutnya kuat.
"Ini bukan soal kuat atau tidak, Teresa."
"Lalu soal apa?"
Violet tidak menjawab. Karena jawaban yang jujur terlalu rumit untuk diucapkan dalam satu malam. Bahwa ia tidak punya alasan yang cukup kuat untuk menolak permintaan perempuan yang keluarganya sudah memberinya atap dan makan selama dua puluh dua tahun. Bahwa rasa hutang budi itu sudah mengakar terlalu dalam untuk dicabut dengan logika sederhana.
Violet menarik napas sekali lagi, kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Ia kemudian menoleh, menatap Teresa lagi.
"Kalau aku setuju," kata Violet akhirnya, suaranya pelan dan berhati-hati, "kamu tidak boleh menghilang begitu saja. Setelah pernikahan itu, kamu harus muncul dan menjelaskan semuanya. Bersama aku. Kita hadapi konsekuensinya bersama."
Teresa mengangguk cepat. Terlalu cepat.
Violet memperhatikan itu. Ia memperhatikan tapi tidak mengatakan apapun.
"Satu lagi." Violet menatap mata Teresa langsung. "Tidak ada yang tahu soal ini selain kita berdua. Jangan pernah kasih tau siapapun! "
"Aku janji, Kak."
Janji itu keluar ringan sekali dari mulut Teresa. Ringan seperti orang yang mengucapkan janji tanpa benar-benar merasakan beratnya.
Violet memalingkan wajah ke jendela lagi. Di luar, langit sudah gelap sepenuhnya dan lampu jalan menyala kuning pucat di balik tembok tetangga.
Ia menghela napas panjang.
"Pergi tidur, Teresa."
Teresa memeluknya dari belakang, cepat dan erat, lalu pergi meninggalkan kamar dengan langkah yang terdengar jauh lebih ringan dari langkah orang yang baru saja memindahkan bebannya ke pundak orang lain.
Violet berdiri di tempat yang sama sampai suara langkah itu menghilang di balik tangga.
Lalu ia duduk di tepi ranjangnya, menatap lantai, dan untuk pertama kali dalam waktu yang lama ia bertanya pada diri sendiri satu pertanyaan yang tidak ia tahu jawabannya.
"Sampai kapan? "
Sampai kapan ia harus seperti ini?
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Esok paginya, Jendral Hartawan meminta istri dan anak-anaknya untuk bersiap- siap. Ia memberikan undangan dari rekan sejawat nya, Jenderal Wiranto.
"Kita akan menjadi tamu kehormatan. Dan dipesta ini pula ayah untuk pertama kalinya akan membawa kalian ke sebuah pesta, " katanya pada kedua putri nya. "Jadi bersiaplah sebaik mungkin. "
Istrinya, Bu Dania terlihat sangat antusias, menatap Teresa dengan berbinar. "Berdandan lah secantik mungkin putri ku, kau akan melihat tuan Adriel untuk pertama kalinya nanti. Calon suami mu itu sudah senter dibicarakan akan ketampanan nya, kalian pasti akan menjadi pasangan yang paling serasi di kota ini. "
Jenderal Hartawan mengangguk- angguk setuju dengan ucapan istrinya, sementara Teresa terlihat tak minat. Bukan pada pesta yang akan dihadiri, lebih ke ucapan ibunya tentang Adriel yang membuat nya muak.
Ia lantas melenggang pergi untuk bersiap- siap. Semua orang kemudian mulai meninggalkan ruang tamu menyisakan Violet yang membatu. Seperti biasa, tidak ada yang memedulikan nya, lalu ia melakukan aktivasi seperti biasa.
****
Malam acara itu, rumah Hartawan berubah menjadi panggung persiapan yang riuh. Teresa bolak-balik di depan cermin kamar besarnya dengan empat pilihan gaun yang semuanya indah dan semuanya tidak ada yang cukup sempurna menurutnya. Bu Dania berteriak dari kamarnya menanyakan di mana selendang hijaunya. Jenderal Hartawan duduk di ruang tamu dengan seragam terbaiknya sudah terpasang sejak satu jam lalu, menunggu dengan sabar yang terlatih.
Violet menyiapkan semuanya.
Ia yang menyetrika gaun Teresa yang akhirnya dipilih, yang menemukan selendang hijau ibunya di balik tumpukan baju di lemari sudut, yang memastikan sepatu Jenderal Hartawan sudah disemir, yang mengecek apakah mobil sudah dipanaskan.
Ketika semua orang sudah siap dan berdiri di depan pintu, Bu Dania barulah menoleh ke arahnya dengan tatapan yang seolah baru ingat sesuatu.
"Kamu ikut. Jangan sampai ada yang perlu diurus di sana, agar tidak merepotkan. "
Violet mengangguk dan mengambil jaketnya dari gantungan.
Bukan undangan. Tapi juga bukan pilihan.
Dan ia sudah mengerti.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Rumah Jenderal Wiranto besar dengan cara yang berbeda dari besarnya rumah Hartawan.
Kalau rumah Hartawan besar karena sengaja ingin terlihat besar, rumah ini besar karena memang tidak ada pilihan lain untuk menampung semua yang ada di dalamnya. Halamannya luas dengan lampu-lampu taman yang hangat, mobilnya berjejer di sepanjang jalan masuk, dan suara percakapan orang-orang berpakaian terbaik mereka sudah terdengar dari luar pagar.
Mereka masuk beriringan.
Yang pertama diperhatikan orang adalah Teresa.
Wajar. Teresa memang menarik perhatian dengan cara yang mudah, gaun hijau gelapnya, cara jalannya yang ringan, senyumnya yang selalu terpasang di sudut yang tepat. Bisikan-bisikan menyambut dari berbagai arah.
"Itu putrinya Hartawan ya? Cantik sekali."
"Pantas saja, ibunya juga dari keluarga baik."
"Kabarnya sudah ada beberapa yang melamar."
Teresa berjalan di antara semua bisikan itu dengan anggun, sesekali tersenyum ke arah yang tepat, sesekali berbisik balik ke ibunya dengan wajah yang cerah.
Violet berjalan tiga langkah di belakang.
Dan bisikan-bisikan itu berubah saat mata orang-orang berpindah ke arahnya.
"Yang itu siapa? Anak Hartawan juga?"
"Bukan. Anak pungut. Dipungut waktu masih bayi, entah dari mana."
"Oh, yang itu. Beruntung juga ya, bisa tinggal di keluarga seperti Hartawan."
"Beruntung bagaimana, lihat saja caranya jalan. Seperti pembantu yang ikut- ikutan."
Violet tidak memperlambat langkahnya. Tidak pula mempercepat. Ia berjalan dengan kecepatan yang sama dan menatap ke depan dengan ekspresi yang tidak ia ubah, karena mengubahnya hanya akan membuktikan bahwa bisikan-bisikan itu sampai ke tempat yang ingin mereka tuju.
Dua puluh dua tahun mengajarinya ini. Menjadi tidak terlihat ketika perlu, menjadi tidak terpengaruh ketika harus.
Meski setiap kali kata itu menghujam hatinya.
*****
Saat pesta berlangsung, Violet memilih berdiri di sudut ruangan, karena menurut nya itu tempat yang paling aman.
Sementara Jenderal Hartawan berjabat tangan dengan kolega-koleganya dan Bu Dania tertawa di lingkaran ibu-ibu yang perhiasannya berlomba-lomba, Teresa sendiri seperti kupu- kupu yang terbang bebas dan disukai semua orang, tertawa dengan teman- temannya dan bersenang-senang.
Violet mengamati semuanya dari sudut ruangan dengan cara yang sudah menjadi kebiasaan.
Sampai ketika ia melihat pengusaha itu.
Seorang laki-laki paruh baya, mungkin akhir lima puluhan, dengan jas yang terlalu bagus dan cara berdiri orang yang terbiasa mengisi terlalu banyak ruang. Ia sudah memperhatikan Teresa dari tadi, Violet menangkap itu, dan sekarang sedang mendekatinya dengan gelas minuman di tangan dan senyum yang entah, terlihat sangat mencurigakan.
Violet menggeser posisinya sedikit, lebih dekat.
Pengusaha itu mulai berbicara kepada Teresa dengan suara yang terlalu rendah untuk didengar dari jarak ini. Teresa tersenyum dengan sopan, senyum yang Violet kenali sebagai senyum tidak nyaman yang dipasang Teresa ketika tidak tahu bagaimana cara menghentikan sesuatu tanpa terlihat tidak sopan.
Violet mengernyit, laki-laki itu tampak sangat mabuk, matanya yang sayu seolah menyimpan hasrat, lalu tangannya mulai bergerak. Menyentuh bahu Teresa dengan kurang ajarnya, dengan wajah tuanya itu yang semakin terlihat penuh hasrat.
Teresa sedikit mundur tapi pengusaha itu malah melangkah maju mengikutinya.
Violet mendelik, insting seorang kakak dalam dirinya bergerak untuk melindungi adiknya.
Maka disinilah ia sekarang, berdiri di antara Teresa dan laki-laki tua itu. Punggungnya ke Teresa dan wajahnya ke pengusaha, dengan senyum yang sudah ia pasang rapi tapi matanya tidak ikut tersenyum.
"Maaf mengganggu, Om." Suaranya tenang dan jelas. "Teresa harus menemui seseorang sekarang."
Pengusaha itu menatapnya dari atas ke bawah dengan ekspresi yang bergeser dari terkejut ke tidak senang.
"Kau siapa?"
"Kakaknya."
Laki-laki itu terkekeh dengan cara yang tidak menyenangkan. "Kakaknya." Ia mengulang kata itu seperti sedang mencicipi sesuatu yang kurang enak. "Yang anak pungut itu?"
Di belakang Violet, Teresa menarik lengan bajunya pelan. Isyarat untuk berhenti. Untuk mundur. Untuk tidak memperburuk situasi.
Tapi Violet tidak mundur.
"Teresa, pergi dulu," katanya tanpa menoleh.
"Kak—"
"Pergi."
Langkah kaki Teresa menjauh. Violet berdiri di tempatnya menghadap pengusaha yang wajahnya sudah berubah merah padam itu.
"Kamu tahu kamu baru saja mempermalukan saya di depan semua orang ini?" bentaknya.
"Saya tidak bermaksud mempermalukan siapapun." Violet menatap tajam.
"Kamu anak pungut yang tidak tahu tempat." Bentakan nya semakin keras dan beberapa tamu di sekitar mereka mulai menoleh. "Kamu pikir kamu siapa, menghalangi saya?"
Violet membuka mulutnya untuk menjawab.
Tapi tangan itu sudah lebih dulu terangkat.
Gerakannya cepat dan Violet tidak sempat mundur, hanya memejamkan mata secara refleks dan menunggu.
Tapi benturan itu tidak datang.
Suara yang ada bukan suara tamparan. Tapi suara pergelangan tangan yang ditangkap oleh tangan lain, keras dan tegas, dan keheningan yang menyebar di sekitar mereka seperti riak air.
Violet membuka matanya.
Tangan pengusaha itu terhenti di udara, dipegang oleh tangan lain yang lebih besar, dan di balik tangan itu ada seseorang yang berdiri dengan cara berdiri orang yang tidak perlu meninggikan suara untuk membuat seluruh ruangan sadar akan kehadirannya.
Violet tidak melihat wajahnya.
Yang ia dengar hanya suara, bariton yang rendah dan tidak terburu-buru, suara yang terdengar seperti sudah terbiasa didengarkan.
"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan." Kalimat itu pendek dan diucapkan dengan cara yang lebih berbahaya dari kemarahan manapun yang pernah Violet dengar. "Tapi kau sangat naif."
Ruangan itu sunyi.
Dan Violet, yang selama dua puluh dua tahun belajar untuk tidak mengharapkan siapapun berdiri di sisinya, berdiri di tengah keheningan itu dengan jantung yang berdetak lebih keras dari biasanya
dan satu pertanyaan yang belum bisa ia jawab.
Siapa dia?
****
BERSAMBUNG