Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Pesan yang Tak Pernah Dibalas
Hari pertama setelah keberangkatan Ezra adalah yang terberat. Bengkel jam itu biasanya terasa hidup karena Sora tahu, kapan pun pintu berdenting, ada kemungkinan sosok jangkung dengan aroma kayu manis itu yang melangkah masuk. Namun hari ini, setiap denting lonceng hanya membawa pelanggan asing dengan jam dinding rusak atau baterai arloji yang mati. Kesibukan rutin yang biasanya menenangkan Sora, kini terasa seperti hukuman yang menjemukan.
Sora duduk di meja kerjanya, mencoba memfokuskan matanya pada roda gigi kecil yang perlu dibersihkan. Namun, setiap beberapa menit sekali, matanya secara otomatis beralih pada ponsel yang ia letakkan tepat di samping mikroskop. Layar itu tetap gelap. Tidak ada notifikasi yang menyala. Tidak ada nama "Ezra Vance" yang muncul dengan janji teleponnya yang ia ucapkan dengan begitu manis di depan pintu tadi pagi.
"Dia baru mendarat, Sora. Mungkin dia sedang mengurus bagasi. Mungkin dia sedang mencari taksi di tengah kemacetan bandara CDG," bisik Sora pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak sabar. Suara bisikannya sendiri terdengar asing di tengah riuh rendah detak jam yang seolah-olah sedang menghitung mundur kewarasannya.
Sora mencoba mengalihkan pikiran dengan menyeduh teh melati, namun uap hangatnya justru mengingatkan ia pada hangatnya pelukan Ezra di bandara. Pelukan yang ternyata hanya sebuah salam perpisahan bagi seseorang yang sudah tidak sabar untuk pergi.
Saat jam di dinding menunjukkan pukul tujuh malam—yang berarti sudah lewat tengah hari di Paris—ponselnya masih membisu. Sora akhirnya menyerah pada egonya sendiri. Dengan tangan yang terasa dingin, ia membuka aplikasi Instagram. Sebuah tindakan masokis yang ia tahu akan melukainya, namun rasa penasaran jauh lebih menyiksa daripada luka yang terencana.
Jari Sora bergetar saat menyentuh ikon pencarian. Nama Ezra muncul di urutan teratas, seolah algoritma ponselnya pun tahu siapa pusat semesta Sora. Ada unggahan cerita baru sepuluh menit yang lalu.
Sora menahan napas saat gambar itu terbuka. Sebuah foto yang diambil dari sudut rendah, memperlihatkan Menara Eiffel yang megah di latar belakang langit senja Paris yang berwarna ungu keemasan. Namun, bukan menara ikonik itu yang membuat napas Sora tercekat dan dunianya seakan berhenti berputar. Di bagian depan foto, ada dua tangan yang saling bertautan erat. Tangan Ezra yang besar dan berurat, menggenggam sebuah tangan mungil nan anggun yang mengenakan arloji porselen—arloji yang baru saja Sora perbaiki dengan seluruh tenaganya semalam.
Keterangan fotonya hanya satu kata yang menghancurkan seluruh sisa harapan Sora: "Home." (Rumah).
Sora meletakkan ponselnya dengan gerakan perlahan di atas meja kerja, seolah benda itu adalah bara api yang baru saja membakar kulitnya hingga melepuh. Rumah. Jadi, perjalanan belasan jam itu bukan sekadar perjalanan menemui teman lama atau sekadar mengantar barang. Bagi Ezra, Paris adalah tempat ia pulang, tempat hatinya berlabuh. Sementara kota ini, bengkel tua ini, dan Sora Kalani hanyalah sebuah ruang tunggu yang membosankan yang ia singgahi saat ia merasa kesepian.
"Ternyata janji parfum dan cokelat itu memang tidak akan pernah sampai ke alamat ini," sebuah suara berat dan serak mengejutkan Sora dari lamunan pahitnya.
Sora menoleh cepat, berusaha menyembunyikan genangan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya. Hael Arlo sudah berdiri di ambang pintu bengkel yang belum sempat ia kunci. Pria itu tidak lagi memakai jaket denimnya yang basah seperti semalam, melainkan kemeja flanel gelap dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan analog tua miliknya yang selalu akurat. Di tangannya, ia membawa sebuah bungkusan kertas cokelat yang aromanya sangat menggoda: roti gandum hangat yang baru keluar dari panggangan.
"Aku tidak memesan apa pun, Hael. Dan aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun," ucap Sora, berusaha mengatur suaranya agar tidak bergetar dan terdengar seperti orang yang baru saja habis patah hati untuk kesekian kalinya.
Hael melangkah masuk tanpa menunggu undangan, seolah bengkel itu adalah perpanjangan dari toko antiknya sendiri. Ia meletakkan bungkusan roti itu di meja kerja Sora, dengan sengaja menyingkirkan beberapa baut kecil dan obeng halus agar ada ruang kosong.
"Kamu tidak memesan, tapi wajahmu yang pucat itu butuh asupan karbohidrat. Kamu terlihat seperti mayat hidup yang dipaksa bekerja oleh hantu masa lalu," kata Hael pedas, namun ada nada kekhawatiran yang ia sembunyikan dengan rapi.
Hael melirik ponsel Sora yang layarnya masih menyala, menampilkan foto tangan yang bertautan di Paris. Ia mendengus pelan, matanya menyipit penuh simpati yang disamarkan oleh sinisme khas pria itu.
"Sudah kubilang semalam, kan? Dia tidak akan meneleponmu hanya untuk menanyakan apakah kamu sudah makan atau sudah tidur. Dia akan menghubungimu hanya jika dia butuh seseorang untuk merayakan kebahagiaannya. Seseorang yang selalu tersedia untuk memujinya saat wanita itu mengabaikannya," kata Hael tanpa saringan.
"Dia mungkin hanya terlalu lelah, Hael. Dia baru sampai dan banyak hal yang harus ia urus," bela Sora, meski suaranya terdengar sangat rapuh bahkan di telinganya sendiri.
Hael menarik kursi kayu di depan Sora dan duduk dengan santai. Ia mengambil satu potong roti yang masih hangat dan menyodorkannya tepat ke arah mulut Sora. "Makan, Sora. Berhenti memberi makan hatimu dengan harapan palsu yang sudah basi. Kamu sedang kelaparan secara emosional, dan pria di Paris itu sedang menikmati perjamuan mewah tanpa sedikit pun mengingat bahwa ada seseorang yang terjaga semalaman demi memperbaiki arloji wanitanya."
Sora menerima roti itu, namun hanya menggenggamnya tanpa minat. Ia menatap Hael, pria misterius yang selalu muncul di saat ia merasa paling kerdil dan hancur. "Kenapa kamu terus-terusan menggangguku, Hael? Kenapa kamu tidak urusi saja koleksi barang antikmu yang penuh debu dan kenangan mati itu?"
Hael tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Sora merasa pria ini bisa membaca setiap luka yang ia sembunyikan di balik tulang rusuknya. "Karena barang-barang di tokoku sudah mati, Sora. Mereka sudah selesai dengan urusannya. Aku tidak bisa menyelamatkan benda yang sudah hancur. Tapi kamu... kamu masih bernapas, meskipun detak jantungmu terdengar seperti mesin jam yang sudah aus dan butuh pelumas baru."
Hael berdiri, merapikan kemejanya dan bersiap pergi. "Simpan koin dariku baik-baik. Malam ini, jangan tunggu telepon yang tidak akan pernah datang itu. Matikan ponselmu, habiskan roti itu, dan tidurlah di tempat tidurmu, bukan meringkuk di meja kerja ini. Sejarah tidak akan berubah hanya karena kamu menyiksa dirimu sendiri dengan menunggu notifikasi dari seseorang yang sedang berbahagia."
Setelah Hael keluar dan lonceng pintu berdenting pelan, bengkel itu kembali diselimuti sunyi yang mencekam. Sora menatap roti pemberian Hael dan ponselnya secara bergantian. Akhirnya, dengan tangan yang masih gemetar, Sora meraih ponselnya. Bukan untuk membalas pesan singkat Ezra yang hambar, melainkan untuk menekan tombol daya hingga layarnya benar-benar hitam pekat.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Sora mencoba tidur tanpa menunggu suara notifikasi. Di bawah bantalnya, koin tua pemberian Hael terasa keras dan dingin, seolah-olah logam itu adalah satu-satunya benda yang menjaga kewarasannya dari mimpi-mimpi buruk tentang Paris yang megah dan penuh pengkhianatan halus.