sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENCAN PERTAMA DAN CANGGUNGNYA MENJADI "KITA"
Pagi setelah pengakuan di kedai kopi itu terasa sangat surreal bagi Kira. Ia terbangun bukan karena alarm ponselnya, melainkan karena getaran pesan yang masuk bertubi-tubi. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia meraih ponsel di atas nakas.
Arlan: Ra, sudah bangun?
Arlan: Jangan lupa sarapan. Aku sudah pesan bubur ayam langgananmu lewat aplikasi, sebentar lagi sampai.
Arlan: Dan... selamat pagi. Pacar.
Kira membenamkan wajahnya di bantal, berteriak tertahan. Kata terakhir itu—"Pacar"—terasa begitu asing sekaligus meletupkan kembang api di dalam dadanya. Sebelas tahun ia menunggu predikat itu, dan sekarang, saat sudah memilikinya, ia malah merasa ingin bersembunyi di bawah selimut selamanya karena malu.
"Pacar? Arlan pacarku? Bagaimana caranya aku menatap wajahnya nanti?" gumam Kira pada gulingnya.
Masalah utamanya adalah: mereka sudah terlalu tahu satu sama lain. Tidak ada lagi misteri. Tidak ada lagi fase "jaim" atau jaim-jaiman. Arlan tahu bagaimana rupa Kira saat bangun tidur dengan rambut singa, dan Kira tahu bagaimana Arlan kalau sedang mengomel karena kopi yang kurang pahit. Lalu, bagaimana cara mereka melakukan kencan yang romantis?
Malam minggunya, Arlan bersikeras untuk menjemput Kira. Biasanya, Arlan hanya akan membunyikan klakson dua kali dan Kira akan berlari turun dengan kaus oblong. Tapi kali ini, Arlan benar-benar naik ke depan pintu apartemen Kira.
Begitu pintu terbuka, Kira terpaku. Arlan mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung rapi, celana chino gelap, dan aroma parfum yang lebih intens dari biasanya. Rambutnya ditata rapi dengan sedikit pomade.
"Wah... kamu... rapi banget," ucap Kira canggung. Ia sendiri mengenakan gaun selutut berwarna peach yang manis.
Arlan berdeham, ia tampak tidak kalah canggung. "Ya, ini kan kencan pertama kita. Sebagai... ya, kamu tahu."
"Iya, aku tahu."
Hening. Suasana yang biasanya penuh dengan cacian dan tawa mendadak jadi sesunyi perpustakaan.
"Jadi, kita ke mana?" tanya Kira memecah keheningan saat mereka sudah di dalam lift.
"Aku sudah pesan tempat di restoran fine dining baru di kawasan Senopati," jawab Arlan.
Kira hampir tersedak ludahnya sendiri. "Fine dining? Lan, biasanya kita kan makan sate padang di pinggir jalan?"
"Ra, aku mau memperlakukanmu dengan benar. Aku mau kita punya memori kencan pertama yang layak diceritakan ke anak cucu nanti," ucap Arlan serius, namun telinganya memerah.
Kira tidak tahan untuk tidak tersenyum. Sifat kaku Arlan saat mencoba menjadi romantis adalah hal paling menggemaskan yang pernah ia lihat.
Restoran itu sangat mewah. Cahaya lilin, musik klasik, dan pelayan yang bergerak tanpa suara. Arlan menarikkan kursi untuk Kira—sesuatu yang biasanya hanya ia lakukan jika Kira sedang cidera kaki.
"Terima kasih, Pak Arsitek," goda Kira.
"Sama-sama, Ibu Desainer," balas Arlan, mencoba mengimbangi.
Namun, kecanggungan itu justru semakin memuncak saat menu datang. Mereka terbiasa berbagi piring, mencuri makanan satu sama lain, dan makan dengan lahap tanpa memedulikan etiket. Kini, mereka harus duduk tegak dan menggunakan berbagai macam garpu yang membingungkan.
"Lan, aku bingung pakai sendok yang mana buat pembukanya," bisik Kira pelan, mendekat ke arah Arlan.
"Pakai yang paling luar, Ra. Aku sudah riset di YouTube tadi sore," bisik Arlan kembali, wajahnya sangat serius seolah sedang membahas struktur beton.
Kira tertawa kecil. "Kamu riset cara makan di YouTube demi kencan ini? Lan, kamu luar biasa."
Arlan akhirnya menyerah pada sikap kaku itu. Ia melonggarkan dasinya sedikit dan menyandarkan punggungnya. "Jujur, ini menyiksa, Ra. Aku merasa seperti sedang ikut ujian sidang skripsi lagi."
"Sama. Aku lapar, tapi aku takut suaraku saat mengunyah terlalu keras," aku Kira.
Arlan menatap Kira dalam-dalam di bawah temaram cahaya lilin. "Tapi kamu cantik banget malam ini. Aku baru sadar, selama sebelas tahun, aku sering melewatkan betapa cantiknya kamu kalau sedang serius begini."
Pipi Kira merona. "Dan aku baru sadar, kamu punya tahi lalat kecil di dekat telinga kalau rambutmu dipotong rapi begini."
Mereka mulai mengobrol, namun arah pembicaraan mereka selalu kembali ke masa lalu. Mereka terjebak dalam memori.
"Ingat nggak waktu kelas dua SMA, kamu nangis karena nilai fisikamu jeblok, terus aku yang kerjain tugas susulanmu?" tanya Arlan.
"Ingat! Dan kamu sengaja kasih satu jawaban salah biar guru nggak curiga itu kerjaan kamu. Kamu licik dari dulu, Lan."
"Itu namanya strategi, Ra."
Kencan itu berjalan unik. Meskipun tempatnya formal, jiwa mereka tetaplah dua sahabat yang hobi berdebat. Namun, ada satu momen yang mengubah segalanya. Saat hidangan utama selesai, Arlan mengulurkan tangannya di atas meja, meraih tangan Kira, dan menggenggamnya erat.
"Ra," panggil Arlan. Suaranya berubah menjadi sangat lembut. "Aku tahu ini aneh bagi kita. Kita sudah tahu segalanya tentang satu sama lain. Tapi aku janji, meski kita sudah tahu semua sisi buruk masing-masing, aku nggak akan pernah bosan untuk belajar mencintaimu setiap hari."
Kira merasakan matanya memanas. "Lan, jangan bikin aku nangis di restoran mahal begini. Nanti makeup-ku luntur."
"Nggak apa-apa. Kalau luntur, aku masih punya handuk kecil di mobil. Seperti biasa, kan?"
Mereka tertawa bersama. Kecanggungan itu akhirnya mencair. Mereka menyadari bahwa mereka tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi pasangan yang romantis. Mereka hanya perlu menjadi Arlan dan Kira, dengan versi yang sedikit lebih jujur soal perasaan.
Setelah makan malam, Arlan tidak langsung mengantar Kira pulang. Ia membawa mobilnya ke sebuah bukit di pinggiran kota yang menghadap ke lampu-lampu Jakarta. Mereka duduk di kap mobil, ditemani angin malam yang sejuk.
"Ini jauh lebih baik daripada restoran tadi," ucap Kira sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arlan.
"Setuju. Setidaknya di sini aku bisa memelukmu tanpa dipelototi pelayan," Arlan merangkul bahu Kira, menariknya lebih dekat.
"Lan, menurutmu... orang tua kita bakal gimana kalau tahu?" tanya Kira tiba-tiba.
Arlan terdiam sejenak. "Ibu pasti bakal bikin tumpengan tujuh hari tujuh malam. Kamu tahu sendiri betapa dia ngebet menjodohkan kita sejak dulu."
"Iya juga ya. Tapi aku takut, Lan. Gimana kalau dunia luar nggak melihat kita seindah ini? Gimana kalau ada yang bilang kita cuma 'pelarian' karena sudah terlalu lama sendiri?"
Arlan mengecup puncak kepala Kira. "Biarkan saja orang bicara apa. Yang menjalani kan kita.
Sebelas tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk sekadar jadi pelarian. Ini adalah tujuan akhir, Ra. Kita sudah sampai di rumah."
Malam itu, di bawah taburan bintang yang malu-malu, Kira akhirnya merasa benar-benar tenang. Perjalanan panjang dari sahabat menuju kekasih memang melelahkan dan penuh drama, tapi saat ia merasakan detak jantung Arlan yang stabil di sampingnya, ia tahu bahwa ia tidak akan pernah mau berada di tempat lain selain di sini.
"Lan," panggil Kira lagi.
"Iya?"
"Besok kita makan sate padang, ya? Aku masih lapar sebenarnya karena porsi restoran tadi kecil banget."
Arlan tertawa lepas, suara tawa yang memenuhi keheningan malam itu. "Siap, Tuan Putri. Besok kita makan sampai kenyang. Pakai kerupuk kulit yang banyak."
Kira tersenyum lebar. Ternyata, menjadi kekasih sahabat sendiri tidak seburuk yang ia bayangkan. Masih ada sate padang, masih ada perdebatan kecil, tapi kini ditambah dengan kepastian bahwa ia adalah milik Arlan, dan Arlan adalah miliknya.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ponsel Arlan yang tergeletak di dalam mobil terus bergetar. Sebuah nama muncul di layar berkali-kali: Ibu Arlan. Dan sebuah pesan singkat yang bisa mengubah suasana hati mereka dalam sekejap:
Arlan, pulanglah besok pagi. Ada keluarga besar yang datang. Ibu sudah mengundang putri teman ayahmu dari Surabaya. Kamu harus menemuinya.