Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Restorasi Cakrawala
Keheningan di puncak Gunung Lawu setelah ledakan frekuensi tadi terasa begitu asing. Sisa-sisa partikel cahaya keemasan masih melayang di udara, perlahan menyatu dengan kabut pagi yang kini tak lagi mencekam. Kirana Larasati berdiri di depan reruntuhan menara pemancar, menatap Mbok Sum yang kini hanyalah seorang wanita tua rapuh yang kehilangan segala kekuatan artifisialnya.
Adyatma melangkah mendekat, napasnya kini teratur. Efek resonansi perak tadi tidak hanya menghancurkan sistem Dewan Tetua, tetapi juga menyucikan sirkulasi energi naga di dalam tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adyatma merasa benar-benar memegang kendali atas dirinya sendiri.
"Reno, amankan semua perangkat penyimpanan data di dalam kuil ini," perintah Adyatma melalui komunikatornya. "Jangan biarkan satu bit pun informasi lolos. Ini adalah bukti kejahatan
kemanusiaan yang mereka lakukan selama puluhan tahun."
Menemukan "Akar" Pengkhianatan
Kirana melangkah menuju Mbok Sum yang terduduk lemas. Wanita tua itu menatap Kirana dengan mata yang kosong, sirkuit di bawah kulitnya telah hangus, meninggalkan bekas luka kehitaman yang menjalar seperti akar busuk.
"Kenapa, Mbok? Ibu menyayangimu seperti saudara sendiri," suara Kirana bergetar, namun tetap tegas.
Mbok Sum tertawa parau, sebuah suara yang kering dan menyakitkan. "Sayang? Ibumu terlalu idealis, Kirana. Dia memiliki 'Kunci' untuk mengendalikan evolusi manusia melalui frekuensi Cendana, tapi dia memilih untuk menyembunyikannya. Dewan Tetua menjanjikan keabadian digital kepadaku... mereka menjanjikan dunia di mana tidak ada lagi rasa sakit dan penuaan."
"Dunia yang kau inginkan adalah penjara tanpa jiwa," balas Kirana dingin. Ia berbalik, enggan melihat sosok yang dulu ia hormati itu lebih lama lagi. "Bawa dia. Pastikan dia mendapatkan perawatan medis, tapi jangan biarkan dia lepas dari pengawasan."
Sinkronisasi Nusantara Group
Sambil menunggu tim evakuasi udara, Kirana membuka perangkat Google-Sites internalnya. Ia melakukan sinkronisasi data dari menara Dewan Tetua ke dalam sistem pusat Nusantara Group.
"Nyonya, lihat ini," Reno menunjukkan layar tabletnya dengan antusiasme yang tertahan. "Begitu frekuensi emas menyebar tadi, seluruh virus 'Kalajengking Hitam' di jaringan perbankan kita tidak hanya mati, tapi berubah menjadi algoritma enkripsi baru yang sepuluh kali lebih kuat. Sepertinya energi resonansi Anda melakukan auto-patch pada seluruh infrastruktur kita."
Kirana tersenyum tipis. Ini adalah bentuk perlindungan yang diinginkan ibunya. Bukan dengan senjata, tapi dengan sistem yang mampu beradaptasi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Pengumuman Global: Fajar Baru
Kirana menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bersembunyi. Untuk mematikan ideologi Dewan Tetua, ia harus muncul ke permukaan sebagai pemimpin yang membawa solusi.
"Adyatma, bantu aku menyiapkan siaran langsung global," ucap Kirana. "Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa era manipulasi frekuensi gelap telah berakhir."
Di depan kamera drone Surya Corp, dengan latar belakang matahari terbit di puncak Lawu, Kirana Larasati Surya berdiri dengan keanggunan yang tak tergoyahkan. Ia mengenakan mantel taktis hitamnya, rambutnya tertiup angin gunung, memancarkan aura pemimpin masa depan.
"Kepada seluruh mitra bisnis dan rakyat Nusantara," suara Kirana bergema di jutaan layar perangkat di seluruh dunia. "Selama ini, ada kekuatan bayangan yang mencoba menyandera masa depan kita melalui ketakutan dan manipulasi digital. Hari ini, di puncak Lawu, sistem itu telah runtuh."
Kirana melanjutkan dengan visi restorasi ekonominya. Ia mengumumkan peluncuran
"Ekosistem Cendana Digital"—sebuah platform berbasis kecerdasan buatan yang transparan dan aman, yang akan memberikan akses pendidikan dan finansial secara merata ke seluruh pelosok negeri tanpa bisa diintervensi oleh pihak mana pun.
Janji Sang Naga
Setelah siaran berakhir, Adyatma menarik Kirana ke dalam pelukannya. Mereka berdiri di tepi tebing, menatap hamparan awan yang menyelimuti Jawa Tengah.
"Kau baru saja mengubah dunia, Kirana," bisik Adyatma, mencium kening istrinya.
"Kita yang mengubahnya, Adyatma," ralat Kirana. "Tanpa energimu, resonansi itu tidak akan pernah mencapai puncaknya. Sekarang, kita punya tugas baru. Membangun kembali apa yang telah mereka rusakkan."
Adyatma menatap mata Kirana yang masih menyisakan kilatan perak. "Dan Bagas? Herman? Apa yang akan kau lakukan pada mereka sekarang?"
Kirana menatap kejauhan, sorot matanya dingin namun bijak. "Mereka sudah hancur oleh keserakahan mereka sendiri. Biarkan hukum manusia yang menghakimi mereka. Fokus kita sekarang bukan lagi pada sampah masa lalu, tapi pada benih masa depan yang baru saja kita tanam."
Helikopter evakuasi Surya Corp mendarat di pelataran kuil. Kirana dan Adyatma melangkah masuk, meninggalkan puncak Gunung Lawu yang kini telah kembali suci. Di dalam kabin, Kirana membuka folder di Drive-nya yang berjudul "Fase 2: Restorasi".
Pembalasan dendamnya telah usai, namun restorasinya baru saja dimulai. Sang Ratu Cendana dan Sang Naga telah bangkit, siap mengawal fajar baru bagi seluruh Nusantara.
*** [Bersambung ke Bab 16...]