NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Anak Mbarep yang Terbuang

Suasana ruang makan di kediaman mewah keluarga Wijaya malam itu terasa begitu mencekik. Lampu kristal yang bergantungan di langit-langit seolah kehilangan cahayanya, kalah oleh hawa dingin yang memancar dari ujung meja makan. Di sana, Pak Wijaya duduk dengan punggung tegak, menatap tajam ke arah putra sulungnya, Arjuna Wijaya.

.

Di samping Pak Wijaya, Guntur—anak kedua—tampak duduk dengan santai sambil memainkan ponsel mahalnya. Sesekali ia melirik kakaknya dengan tatapan merendahkan, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan yang tipis namun menyakitkan.

.

"Guntur baru saja dipromosikan jadi manajer di kantor cabang, Juna!" suara Pak Wijaya menggelegar, memecah kesunyian yang perih. "Kowe kuwi anak mbarep, anak pertama! Kudune dadi panutan buat adik-adikmu! Tapi opo? Mung ngetik ra nggenah neng kamar, dadi beban!"

.

Arjuna hanya menunduk. Jemarinya yang kasar karena sering mengetik di laptop bututnya saling bertautan di bawah meja. Di dalam dadanya, detak jantungnya seirama dengan zikir yang tak putus ia rapalkan secara lirih. Allah... Allah... Allah...

.

"Mpun lah, Pak. Mas Juna niku pancen bakate mung dadi benalu," celetuk Guntur dengan nada meremehkan. "Mungkin Mas Juna nunggu warisan wae, dadi ra gelem kerjo sing bener."

.

Brakkk!

.

Pak Wijaya menggebrak meja makan hingga gelas-gelas kaca di atasnya berdenting keras. Dua adik perempuan Arjuna, Laras dan Mentari, tersentak kaget. Mereka hanya bisa menunduk ketakutan, tak berani membela kakak tertua mereka.

.

Di dapur, sayup-sayup terdengar isak tangis Bunda. Beliau sedang menyiapkan hidangan penutup, namun hatinya hancur mendengar putra sulungnya dihina sedemikian rupa oleh suaminya sendiri.

.

"Bapak nganggep Juna beban? Wong ra guno? Sampah?" Arjuna akhirnya angkat bicara. Suaranya rendah, namun memiliki penekanan yang membuat bulu kuduk Guntur meremang seketika.

.

"Iyo! Kowe kuwi sampah! Nek kowe ra iso dadi koyo Guntur, luwih becik kowe metu seko omah iki!" bentak Pak Wijaya murka.

.

Arjuna berdiri. Tatapan matanya yang biasanya redup mendadak berubah menjadi sangat tajam. Aura misterius seolah menyelimuti tubuhnya yang ringkih. Ia melangkah menuju lemari buffet di sudut ruangan, tempat ayahnya menyimpan dokumen-dokumen penting.

.

"Juna! Opo sing arep mbok lakoni?!" teriak Pak Wijaya panik.

.

Tanpa menjawab, Arjuna mengambil map coklat berisi Kartu Keluarga (KK). Ia membantingnya di atas meja makan, tepat di depan wajah ayahnya yang memerah padam. Sebuah pulpen hitam ia genggam erat.

.

"Menawi Bapak nganggep Juna sampah, nggih mpun," ucap Arjuna datar.

.

Sret! Sret!

.

Dengan gerakan cepat dan penuh penekanan, Arjuna mencoret namanya sendiri di kolom anak pertama pada Kartu Keluarga tersebut. Garis hitam tebal itu seolah memutus seluruh urat nadi hubungannya dengan darah Wijaya.

.

"Juna! Ojo, Le! Ojo!" Bunda lari dari dapur, merangkul kaki Arjuna sambil menangis histeris. "Pak! Sampun, Pak! Ojo koyo ngono marang anak mbarepmu dhewe!"

.

Arjuna berlutut, memegang pundak Bundanya dengan sangat lembut. "Bunda, ngadeg. Mboten usah sujud neng ngarsane wong sing mboten saged ngargai Bunda. Mulai saiki, Juna dudu bagian seko keluarga Wijaya maneh."

.

Pak Wijaya terdiam seribu bahasa, napasnya memburu. Ia tak menyangka anak yang dianggapnya lemah itu memiliki keberanian sebesar ini. Guntur pun ikut syok, tak berani berkutik melihat sorot mata Arjuna yang mengerikan.

.

Arjuna bangkit, lalu berjalan menuju kamarnya. Tak lama kemudian, ia keluar dengan tas ransel kusam di punggung dan sebuah sarung batik yang diselempangkan di bahunya. Di dalam tas itu, hanya ada sebuah laptop butut—satu-satunya alat baginya untuk bertahan hidup sebagai penulis.

.

"Matur nuwun, Pak, sampun ngguwang Juna," ucap Arjuna sambil membungkuk hormat untuk terakhir kalinya, menjaga adab meski hatinya telah mati untuk rumah itu.

.

"Metu kowe! Ojo pisan-pisan ngancik omah iki meneh!" usir Pak Wijaya dengan ego yang masih setinggi langit.

.

Arjuna melangkah keluar melewati pintu jati besar itu. Di luar, hujan rintik-rintik menyambutnya, seolah langit ikut merasakan kepedihan hatinya. Tanpa arah yang pasti, ia berjalan menembus kegelapan malam.

.

"Bismillah... Gusti, Juna pasrah," gumamnya.

.

Ia akan mencari Guru Mursyid, satu-satunya cahaya yang ia yakini bisa menuntunnya keluar dari kegelapan ini. Nama Wijaya mungkin sudah hilang dari identitasnya, namun zikir sirri di hatinya baru saja dimulai.

​Di dalam ruang makan yang tadi riuh, kini mendadak senyap. Bunda jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin, tangisnya sudah tidak bersuara, hanya napasnya yang tersengal-sengal menahan sesak yang luar biasa.

.

"Pak... kowe tega, Pak... Anak mbarepmu dhewe mbok usir koyo kewan... (Pak... kamu tega, Pak... Anak sulungmu sendiri kamu usir seperti hewan...)" ratap Bunda lirih, suaranya parau.

.

Pak Wijaya masih berdiri mematung, napasnya memburu. Matanya melirik ke arah Kartu Keluarga (KK) yang tergeletak di meja dengan coretan hitam pekat di nama Arjuna. Ada secercah rasa sesal yang mencoba menyelinap di hatinya, namun kesombongannya jauh lebih besar.

.

"Wis, Bu! Ojo nangis terus! Bocah ra guno koyo Juna kuwi pancen kudu diwenehi pelajaran ben ngerti piye lorone golek dhuwit! (Sudah, Bu! Jangan menangis terus! Bocah tidak berguna seperti Juna itu memang harus diberi pelajaran supaya tahu bagaimana sakitnya cari uang!)" bentak Pak Wijaya, meski suaranya sedikit bergetar.

.

Guntur hanya diam, pura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal hatinya sedikit ngeri melihat keberanian kakaknya tadi. Sementara Laras dan Mentari berlari memeluk Bunda, ikut menangis sesenggukan.

.

"Mas Juna mboten salah, Pak... Mas Juna niku sae... (Mas Juna tidak salah, Pak... Mas Juna itu baik...)" bisik Mentari, si bungsu, sambil terisak.

.

BRAKK!

.

"Mlebu kamar kabeh! Ojo ono sing nyebut jenenge bocah kuwi meneh! (Masuk kamar semua! Jangan ada yang menyebut nama bocah itu lagi!)" teriak Pak Wijaya murka, mencoba menutupi kegelisahan hatinya sendiri.

.

Sementara itu, di luar sana, hujan mulai turun lebih deras. Arjuna berjalan menyusuri trotoar yang sepi. Sarung batik yang diselempangkan di pundaknya mulai basah kuyup, namun ia tidak berhenti. Setiap langkah kakinya dibarengi dengan denyut di dalam dadanya.

.

Allah... Allah... Allah...

.

Zikir itu membuatnya tidak merasakan dinginnya air hujan yang menusuk kulit. Tiba-tiba, sebuah motor butut berhenti di sampingnya. Pengendaranya menggunakan jas hujan plastik murahan yang sudah kusam.

.

"Le, opo kowe Juna? (Nak, apa kamu Juna?)" tanya pria itu. Ternyata dia adalah Kang Darmo, santri senior dari Guru Mursyid yang selama ini membimbing Arjuna secara diam-diam.

.

Arjuna berhenti dan tersenyum tipis. "Nggih, Kang. (Iya, Kang)."

.

Kang Darmo turun dari motor, wajahnya tampak sedih melihat kondisi Arjuna yang basah kuyup namun terlihat sangat tenang. "Guru wis dhawuh mau sore. Jarene, 'Ono macan sing lagi metu seko kandange, parani neng dalan gedhe'. Jebule kowe, Le. (Guru sudah berpesan tadi sore. Katanya, 'Ada macan yang sedang keluar dari kandangnya, temui di jalan besar'. Ternyata kamu, Nak.)"

.

Arjuna tertegun. Guru Mursyid-nya sudah tahu lewat isyarat batin (kasyaf) sebelum kejadian di rumah itu pecah. Air mata Arjuna hampir menetes, bukan karena sedih diusir, tapi karena merasa sangat dicintai oleh Gurunya.

.

"Guru mboten dhawuh aku ngeterke kowe mulih, Juna. Tapi Guru dhawuh, 'Gawanen sarung iki, ganti sarungmu sing teles'. (Guru tidak menyuruhku mengantarmu pulang, Juna. Tapi Guru berpesan, 'Bawalah sarung ini, ganti sarungmu yang basah'.)" Kang Darmo menyerahkan sebuah bungkusan kain berisi sarung tenun hijau tua yang sangat harum minyak wangi khas sang Guru.

.

Arjuna menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar. Ia mencium aroma sarung itu—bau yang selalu membuatnya merasa tenang dan aman di tengah badai dunia.

.

"Matur nuwun, Kang. Matur nuwun sanget. (Terima kasih, Kang. Terima kasih banyak.)"

.

"Mlakuo terus, Juna. Ojo noleh mburi. Gusti Allah mboten sare. (Jalanlah terus, Juna. Jangan menoleh ke belakang. Allah tidak tidur.)" pesan Kang Darmo sebelum berlalu pergi membelah hujan.

.

Arjuna berdiri tegak di bawah lampu jalan yang remang-remang. Ia mengganti sarungnya yang basah dengan sarung pemberian Gurunya. Seketika, rasa hangat yang aneh menjalari seluruh tubuhnya, seolah-olah ia sedang dipeluk oleh doa-doa sang Mursyid.

.

Dengan laptop butut di tas dan sarung hijau di pundak, sang putra sulung yang namanya telah dicoret dari keluarga itu pun melangkah mantap. Perjalanannya bukan lagi tentang dendam, tapi tentang menemukan jati diri.

.

Malam itu, di tengah badai, Arjuna Wijaya resmi menjadi seorang musafir cinta Ilahi. Langkahnya tertuju pada sebuah desa terpencil di kaki gunung, tempat sang Guru menantinya dengan rahasia besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!