NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Predasi dan Bayangan Merah

​Sinar matahari pagi yang memantul di dinding kaca Gedung Dirgantara biasanya terasa seperti undangan untuk memulai hari dengan ambisi. Namun bagi Kanaya Larasati, cahaya itu hanyalah pengingat bahwa ia baru saja melewati dua puluh empat jam paling melelahkan dalam sejarah kariernya.

​Naya melangkah keluar dari lift lantai dua puluh lima dengan punggung yang dipaksa tegak. Ia mengenakan setelan blazer berwarna merah marun yang tegas, dipadukan dengan kemeja hitam di dalamnya. Riasan wajahnya hari ini sedikit lebih tebal dari biasanya—sebuah taktik pertahanan untuk menyembunyikan rona pucat akibat kurang tidur dan sisa-sisa kafein yang masih berdenyut di nadinya.

​Begitu ia melewati ambang pintu divisi desain, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah. Keheningan yang janggal menyambutnya. Beberapa staf yang biasanya sibuk mengobrol di dekat dispenser mendadak bubar, memberikan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa kagum dan kecemasan yang tertahan.

​Naya berjalan menuju kubikelnya, sengaja melewati meja Siska.

​Di sana, sang desainer senior sedang duduk dengan memegang cangkir porselennya, namun tatapannya terpaku pada layar monitor dengan ekspresi yang sangat kacau. Wajah Siska yang biasanya penuh dengan arogansi, pagi ini terlihat seputih kertas. Begitu menyadari presensi Naya, jemari Siska yang memegang cangkir gemetar sangat halus hingga menimbulkan bunyi denting porselen yang pelan namun terdengar di telinga Naya yang tajam.

​'Kau pikir kau sudah menang semalam, bukan, Siska?' batin Naya, menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. 'Kau pasti sudah membayangkan bagaimana aku akan menangis di depan Juna pagi ini. Sayang sekali, rencanamu berakhir menjadi puing di tangan orang yang kau remehkan.'

​Naya duduk di kursinya, menyalakan monitor, dan mendapati sebuah notifikasi email masuk yang dikirim pada pukul 03:15 dini hari. Pengirimnya adalah sistem otomatis korporasi: "Your report 'Grand Azure VIP Corridor Lighting Final' has been verified and archived by the Executive Office."

​Naya menarik napas panjang, membiarkan rasa puas mengalir di dadanya. Ia tidak tahu bagaimana data itu bisa kembali—ia hanya berasumsi bahwa sistem pemulihan otomatis kantor bekerja lebih baik dari yang ia duga. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ada 'tangan tuhan' dari lantai tiga puluh yang bekerja untuknya semalam.

​"Riko, panggil Siska Wiryawan ke ruangan saya. Sekarang. Dan pastikan dia membawa seluruh catatan integritas servernya."

​Suara bariton Arjuna Dirgantara melalui interkom pagi itu terdengar lebih rendah dari biasanya. Ada frekuensi dingin yang membuat Riko secara refleks menelan ludah. Ia tahu, jika Juna sudah menggunakan nada suara seperti itu, artinya akan ada seseorang yang 'dihancurkan' secara profesional.

​Lima menit kemudian, Siska berdiri di depan meja mahoni Juna. Ruangan CEO yang luas itu terasa seperti ruang interogasi. Juna tidak sedang duduk di kursinya; ia berdiri membelakangi Siska, menatap keluar jendela panorama. Tangannya terselip di saku celana bahan, dan jasnya tersampir di sofa, meninggalkan Juna hanya dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.

​"P-Pak Arjuna, Anda memanggil saya?" suara Siska bergetar.

​Juna tidak langsung berbalik. Ia membiarkan keheningan yang menyesakkan merajai ruangan itu selama tiga puluh detik penuh—sebuah teknik manipulasi psikologis untuk meruntuhkan nyali lawan bicaranya.

​"Siska, sudah berapa lama Anda bekerja di Dirgantara Group?" tanya Juna, suaranya sedatar aspal jalan tol namun tajam seperti mata pisau.

​"Enam tahun, Pak."

​"Enam tahun," Juna memutar tubuhnya perlahan. Matanya yang elang mengunci wajah Siska, mengulitinya tanpa ampun. "Waktu yang cukup lama untuk memahami bahwa integritas adalah mata uang paling mahal di perusahaan ini. Namun, sepertinya Anda lebih memilih untuk menjadi pengemis moral daripada seorang profesional."

​Juna melangkah mendekat ke arah mejanya, menyalakan layar tablet raksasa yang tersambung ke sistem log server pusat. Di sana, terpampang jelas jejak digital: Account: Siska_W | Action: Directory Delete | Target: Naya_L_Work_Folder | Timestamp: 18:22.

​Siska terbelalak. Seluruh sendinya terasa lumpuh. "Pak... saya bisa jelaskan... itu... itu pasti ada kesalahan sistem—"

​"Jangan berani-berani menghina kecerdasan saya dengan kebohongan murah Anda!" bentak Juna. Suaranya tidak keras, namun ledakan otoritasnya membuat vas bunga di meja sedikit bergetar.

​Juna mencondongkan tubuhnya, menumpukan tangannya di meja, menatap Siska dengan kebencian yang murni. "Anda menyabotase rekan kerja Anda di tengah tenggat waktu kritis proyek triliunan rupiah. Anda tidak hanya mencoba menghancurkan Naya; Anda sedang mencoba menyabotase saya. Anda sedang merusak wajah Dirgantara Group hanya demi rasa insecure yang menjijikkan."

​"Maafkan saya, Pak... saya hanya... saya merasa Naya tidak menghormati hierarki—"

​"Hierarki tidak ditentukan oleh siapa yang paling lama duduk di kursi, Siska. Hierarki ditentukan oleh siapa yang paling jenius di depan cetak biru," desis Juna. Ia kembali menegakkan tubuhnya, wajahnya kembali menjadi dinding es. "Riko sudah menyiapkan dokumen pemutusan hubungan kerja Anda atas dasar pelanggaran etik berat. Anda punya waktu tiga puluh menit untuk mengosongkan meja Anda sebelum keamanan menggiring Anda keluar dari gedung ini. Dan jangan harap Anda bisa mendapatkan surat referensi dari perusahaan mana pun di industri ini setelah saya menyebarkan log aktivitas Anda hari ini."

​Siska jatuh terduduk di lantai, isakannya pecah. Namun Juna sama sekali tidak meliriknya. Baginya, variabel yang rusak harus segera dibuang dari sistem.

​"Keluar," perintah Juna dingin.

​Setelah Siska diseret keluar oleh petugas keamanan dengan penuh kehinaan, Juna jatuh terduduk di kursi direkturnya. Ia memijat pelipisnya. Amarahnya memang terlampiaskan, namun rasa sesak di dadanya tetap tidak hilang.

​'Aku melakukannya untuk melindunginya,' batin Juna, menatap monitor CCTV yang masih menampilkan Naya di kubikelnya. 'Namun dia tidak akan pernah tahu. Dia akan tetap membenciku, dan itu jauh lebih baik daripada dia hancur karena dekat denganku.'

​Pukul sebelas siang, Naya dipanggil ke ruangan CEO untuk membahas finalisasi teknis. Ia masuk dengan wajah yang siap untuk berperang. Ia tidak tahu soal pemecatan Siska—berita itu belum sepenuhnya menyebar ke lantai bawah karena semua orang masih dalam kondisi terkejut.

​Naya meletakkan iPad-nya di meja Juna dengan bunyi plak yang menantang.

​"Draf koridor VIP sudah diterima sistem semalam, Pak Arjuna. Saya berasumsi tidak ada lagi kesalahan teknis atau 'anomali biologis' yang perlu kita bahas hari ini," ucap Naya dengan nada yang sarat akan sarkasme.

​Juna mengangkat kepalanya. Ia memperhatikan Naya dalam waktu yang cukup lama. Ia melihat warna merah marun pada blazernya yang sangat serasi dengan keberanian di matanya. Ia melihat bagaimana Naya menggenggam iPad-nya—tangan yang sama yang semalam ia lihat melalui CCTV terus memijat bahu karena lelah.

​"Duduklah, Kanaya," ucap Juna, nadanya jauh lebih lembut dari biasanya, meskipun wajahnya tetap kaku.

​Naya mengerutkan dahi, namun ia tetap duduk. "Apa lagi sekarang? Apa desainnya kurang mewah? Kurang fasis?"

​Juna tidak menanggapi sindiran itu. Ia justru menyodorkan sebuah folder fisik berwarna krem. "Siska Wiryawan sudah tidak lagi menjadi bagian dari tim ini. Anda sekarang ditunjuk sebagai Senior Designer pengawas untuk seluruh interior Grand Azure."

​Naya tertegun. Mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya. "Apa? Siska... pergi? Kenapa mendadak sekali?"

​"Dia memiliki masalah integritas yang tidak bisa dimaafkan," sahut Juna singkat, matanya menatap lurus ke mata Naya. "Mulai sekarang, Anda tidak perlu lagi khawatir soal fail yang hilang atau gangguan di belakang punggung Anda. Saya memberikan Anda otoritas penuh. Gunakan itu dengan bijak."

​Naya menelan ludah. Ada sesuatu dalam cara Juna bicara—sebuah pengakuan yang tersirat yang membuatnya merasa aneh. 'Kenapa dia memberitahuku soal integritas? Apakah dia tahu? Apakah semalam dia yang...'

​Tiba-tiba, ponsel Naya di atas meja bergetar. Sebuah nama muncul di layar: BASTIAN (SITE MANAGER).

​Seketika, suhu di ruangan itu turun drastis. Naya bisa merasakan perubahan atmosfer yang mencekik. Tatapan Juna yang tadi sempat melunak, kini kembali menjadi setajam mata elang yang siap menerkam.

​"Silakan diangkat," ucap Juna, suaranya kembali ke mode robot yang berbahaya. "Jangan sampai Site Manager kebanggaan Anda menunggu."

​Naya merasa terjepit. Ia meraih ponselnya, berniat menolak panggilan itu, namun ia teringat bagaimana Juna selalu menghina hubungannya dengan Bastian. Gengsinya bangkit. Ia justru menekan tombol jawab.

​"Halo, Kak Bastian?" ucap Naya, sengaja memberikan nada suara yang sedikit lebih ramah dari biasanya hanya untuk memprovokasi Juna.

​"Naya? Aku sedang di depan gedung kantormu. Aku membawakan makan siang spesial dari restoran favorit kita dulu. Kau ada waktu?" suara Bastian terdengar hangat dari seberang telepon.

​Naya melirik Juna. Pria itu kini sedang memutar-mutar pena mahalnya dengan kecepatan yang menunjukkan ketegangan tingkat tinggi. Rahang Juna mengeras hingga urat-uratnya menonjol.

​"Boleh, Kak. Aku akan turun dalam lima menit," jawab Naya tegas.

​Begitu ia menutup telepon, Naya berdiri. "Jika tidak ada lagi instruksi teknis, Pak Arjuna, saya permisi untuk makan siang."

​Krak!

​Pena di tangan Juna patah menjadi dua bagian. Cairan tinta hitam merembes keluar, mengotori telapak tangan Juna yang putih pucat. Naya tersentak, mematung di tempatnya berdiri.

​Juna tidak memedulikan tinta yang mengotori tangannya. Ia berdiri, melangkah mengitari meja dengan gerakan yang begitu cepat dan mendominasi hingga Naya tidak sempat mundur. Juna mengunci Naya di antara tubuhnya dan meja mahoni tersebut.

​"Makan siang favorit?" desis Juna tepat di depan wajah Naya. Aroma vetiver yang maskulin bercampur dengan aroma tinta yang tajam mengepung indra penciuman Naya. "Nostalgia apa lagi yang ingin kau bangun dengan Site Manager itu, Kanaya?"

​"Itu bukan urusan Anda, Pak!" balas Naya, meskipun jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan. "Anda sendiri yang bilang di Bali bahwa antara kita tidak boleh ada variabel emosional! Jadi biarkan saya menjalani kehidupan personal saya!"

​"Kehidupan personalmu adalah liabilitas bagiku jika itu mengganggu fokusmu di proyek ini!" bentak Juna, matanya berkilat penuh amarah yang bercampur dengan rasa posesif yang gila. "Kau pikir aku tidak tahu cara dia menatapmu di site? Kau pikir aku buta melihat bagaimana kau tertawa padanya? Kau milik proyek ini, Kanaya! Kau milik desain ini!"

​"Saya bukan milik siapa-siapa, Arjuna!" teriak Naya, air matanya mulai menggenang karena rasa frustrasi. "Saya bukan koleksi yang bisa Anda simpan di dalam lemari kaca dan Anda larang berinteraksi dengan dunia luar! Anda sosiopat yang egois!"

​Juna terdiam. Napasnya memburu, bersinggungan dengan napas Naya yang gemetar. Ia menatap bibir Naya yang bergetar menantangnya. Ada perang besar di dalam kepalanya antara didikan ayahnya yang menuntut kedinginan dan insting prianya yang ingin mengklaim apa yang ia inginkan.

​Juna perlahan menurunkan pandangannya ke tangan Naya yang memegang ponsel. Dengan gerakan kasar, ia merebut ponsel itu dan meletakkannya jauh di atas meja.

​"Jangan temui dia," bisik Juna, suaranya kini terdengar serak dan penuh dengan permohonan yang tersembunyi di balik ancaman.

​"Kenapa? Berikan saya satu alasan logis, bukan alasan korporat!" tuntut Naya.

​Juna menempelkan dahinya ke dahi Naya. Ia memejamkan matanya, merasakah kehangatan kulit Naya yang selama ini ia rindukan setiap malam di dalam tidurnya yang sepi.

​"Karena aku membencinya," ucap Juna jujur, suaranya hancur. "Aku membencinya karena dia bisa membuatmu tertawa saat aku hanya bisa membuatmu marah. Aku membencinya karena dia melihatmu sebagai manusia, saat aku... saat aku terlalu takut untuk mengakuinya karena aku tidak ingin kau dihancurkan oleh Ayahku."

​Naya terpaku. Pernyataan itu terasa seperti ledakan bom di tengah keheningan. 'Dia melindungiku? Dari ayahnya?'

​"Apa maksud Anda, Pak?" tanya Naya dengan suara yang merendah.

​Juna menarik diri sedikit, menatap Naya dengan tatapan yang sangat lelah. "Dunia Dirgantara adalah tempat bagi para predator, Kanaya. Dan siapa pun yang kucintai... akan menjadi mangsa utama bagi Ayahku untuk mengontrolku. Semakin aku menunjukkan bahwa kau berharga bagiku, semakin besar target yang ada di punggungmu."

​Juna mengusap wajahnya yang ternoda tinta dengan tangannya yang bebas, membuat noda hitam itu tersamar di kulitnya. "Pergilah makan siang dengan Bastian jika itu yang kau mau. Tapi pastikan kau tidak memberikan hatimu padanya. Karena aku tidak akan bisa menjamin keselamatannya jika aku kehilangan kendali total atas kecemburuanku."

​Juna berbalik, kembali ke kursinya dan menatap monitor seolah-olah percakapan tadi tidak pernah terjadi.

​Naya berdiri diam selama semenit penuh. Ia merasa seolah-olah baru saja melihat sisi lain dari labirin yang paling gelap. Ia mengambil ponselnya, namun tangannya bergetar.

​'Dia mencintaiku dengan cara yang paling menyakitkan,' batin Naya miris. 'Dia mendorongku menjauh agar aku tidak dimangsa oleh ayahnya. Dan aku... aku justru terus berlari menuju bahaya itu.'

​Naya tidak turun menemui Bastian. Ia mengirim pesan singkat pada seniornya itu: "Maaf Kak, ada revisi mendadak dari CEO. Aku tidak bisa makan siang hari ini. Lain kali saja."

​Naya kembali ke kubikelnya, namun pikirannya tertinggal di ruangan lantai tiga puluh. Ia menyadari satu hal: di gedung ini, bukan hanya pilar pualam Grand Azure yang sedang dibangun dengan serat karbon penguat—tapi juga sebuah hubungan paradoks yang mungkin akan runtuh sebelum sempat berdiri tegak.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak pelan menyusuri koridor sebuah panti asuhan yang dikelola oleh gereja tua di pinggiran Jakarta. Suasana sunyi, hanya terdengar suara anak-anak yang belajar mengaji di kejauhan.

​Dua belas tahun yang lalu.

​Arjuna remaja, baru berusia enam belas tahun, berdiri di depan sebuah gerbang besi yang terkunci. Ia mengenakan jaket hoodie gelap untuk menyembunyikan identitasnya. Di tangannya, ia memegang sebuah amplop cokelat tebal berisi uang tunai dalam jumlah besar.

​Ini adalah panti asuhan yang dulu sering dibantu oleh ibunya.

​Seorang biarawati tua keluar dan menghampirinya. "Siapa kau, Nak? Kenapa kau selalu datang setiap bulan dan meletakkan amplop ini tanpa nama?"

​Juna remaja menundukkan kepalanya, menolak melakukan kontak mata. "Ini dari seseorang yang ingin agar panti ini tetap berdiri, Suster. Tolong terima saja."

​"Apakah kau putra Maria?" tanya biarawati itu lembut.

​Juna membeku. Ia teringat ancaman ayahnya bahwa jika ia ketahuan berhubungan dengan apa pun yang dicintai ibunya, ayahnya akan menghancurkan tempat itu.

​"Saya tidak kenal siapa Maria," bohong Juna, suaranya bergetar. Ia segera membalikkan badan dan berlari menuju mobil jemputannya yang menunggu di ujung jalan.

​Di dalam mobil, Juna remaja mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya melukai telapak tangannya. 'Aku tidak boleh mengenal siapa pun. Aku tidak boleh menyayangi apa pun. Itulah satu-satunya cara agar mereka tetap aman dari Ayah.'

​Kamera melakukan close-up pada mata Juna remaja yang mulai meneteskan air mata—terakhir kalinya ia menangis sebelum ia benar-benar berubah menjadi 'Manusia Es' yang dikenal dunia saat ini. Sebuah pelajaran tentang 'perlindungan melalui pengabaian' yang kini ia terapkan kembali pada Kanaya Larasati.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!