Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Bima
Badanku sudah tidak lemas lagi. Tapi sekarang kepalaku yang pusing. Bukan pusing karena kurang tidur, tapi pusing karena notifikasi ponsel yang nggak berhenti bergetar seperti nyamuk yang lagi dendam pribadi.
Layar ponselku penuh dengan pesan dari Naya. Panjang. Bukan lagi chat, tapi sudah menyerupai bab pembuka novel dengan konflik berat dan klimaks emosional.
Aku menghela napas, lalu membaca sekilas.
Tentang dirinya. Tentang Mutia. Tentang tuduhan pelakor dari netizen yang entah makan apa sampai imajinasinya liar seperti penulis sinetron kejar tayang.
Dan tentu saja, permintaan utama di akhir pesan itu: konferensi pers.
“Kalau setiap gosip gue konfrensi pres, bisa abis waktu gue!” kataku sambil menjatuhkan ponsel ke pangkuan.
Mobil melaju pelan di tengah kemacetan Jakarta yang seperti biasa, setia menemani pagi dengan klakson bersahutan dan deretan kendaraan yang bergerak lebih lambat dari siput yang lagi mikir.
Aku duduk di kursi belakang, menyandarkan kepala ke jok kulit yang masih terasa terlalu baru. Bau mobil baru bahkan belum sempat hilang, tapi ironisnya, mobil BMW itu justru lagi tidur manis di garasi rumah. Aku kembali ke mobil lama, bersama Pak Mardi yang setia di balik kemudi, dan Celsi di sebelahku yang tampak seperti manusia paling sibuk di dunia.
“Tapi gimana cara menjelaskan Naya, kalau gosip nggak usah dipikirin,” lanjutku, suara mulai terdengar seperti orang yang sedang kehilangan arah hidup.
“Hem,” jawab Celsi singkat, matanya tidak lepas dari layar laptop di pangkuannya. Jari-jarinya bergerak cepat seperti pianis yang lagi konser.
Aku menoleh kesal.
“Kenapa ham hem ham hem aja sih?” kataku, nada suaraku naik satu oktaf.
Celsi tidak langsung menjawab. Ia justru memperbesar layar, membaca sesuatu dengan ekspresi serius. Keningnya sedikit berkerut.
“Ini Amanda Mai, lagi ada masalah,” katanya akhirnya.
Aku menghela napas panjang, hampir dramatis.
“Kenapa?” tanyaku, walau sebenarnya setengah hati.
“Panjang ceritanya,” Celsi menutup laptopnya dengan bunyi klik yang cukup tegas. Ia lalu menoleh padaku. “Gimana tadi?”
Aku melotot.
“Soal gosip ini, Cel!” kataku, kali ini benar-benar kesal.
“Oh, itu…,” jawabnya santai, seolah tadi bukan aku yang hampir kena serangan jantung karena overthinking.
“Gue harus gimana ke Naya?” tanyaku, menatapnya penuh tuntutan.
Celsi mengangkat bahu kecil.
“Ntar aja dibahasnya, tuh udah sampe!”
Mobil kami berbelok masuk ke halaman gedung tinggi dengan kaca-kaca besar yang memantulkan cahaya matahari Jakarta yang mulai terasa menyengat. Logo PH besar terpampang di depan, terlihat mahal dan penuh ambisi.
Pak Mardi menghentikan mobil dengan halus.
“Turun sana, udah hampir telat. Elu kan nggak boleh punya track record telat!” lanjut Celsi sambil buru-buru membuka kembali laptopnya.
“Ah, alesan aja lu!” kataku sambil membuka pintu mobil. Udara luar langsung menyergap, panas dan penuh debu kota.
“Orang janjian masih satu jam lagi, masih lama!” kataku sambil berdiri di samping pintu mobil, setengah berharap dia bakal ngajak ngobrol lagi.
“Udah, itu gue yang urus!” Celsi nyengir sambil melambaikan tangan.
Pintu mobil langsung tertutup.
Aku berdiri beberapa detik, menatap mobil yang perlahan menjauh.
“Ya, makasih loh, sahabat,” gumamku pelan, sarkasme bercampur nasib.
Ruang meeting di PH itu cukup besar. Bukan sekadar besar, tapi besar yang intimidatif. Seolah-olah kalau kamu masuk ke sana dengan ide setengah matang, idemu bakal langsung menguap sebelum sempat duduk.
Langit-langitnya tinggi, lampu gantung modern memancarkan cahaya putih yang dingin dan profesional. Dindingnya dilapisi panel kayu gelap, memberi kesan mahal dan serius. Di salah satu sisi, layar LED besar menampilkan logo proyek film yang akan kami garap.
Meja panjang mengilap membentang di tengah ruangan, dikelilingi kursi-kursi putar hitam yang tampak nyaman tapi juga terasa seperti kursi penghakiman.
Di atas meja, tersusun rapi snack premium, kopi, air mineral, dan beberapa makanan ringan yang terlihat terlalu cantik untuk dimakan.
Aku duduk di salah satu kursi, mencoba terlihat santai, walau dalam hati sebenarnya masih kepikiran chat Naya yang panjangnya bisa dijadikan skripsi.
Bang Jaka duduk di seberangku, terlihat santai seperti biasa. Kaos hitam, jaket tipis, dan senyum yang selalu bikin orang percaya kalau semuanya bakal baik-baik saja.
Di sampingnya, produser dari India itu—dengan jas rapi dan aksen Inggris yang kental—sedang mengecek ponselnya.
Kami sudah membahas naskah draft terbaru. Beberapa perubahan kecil, beberapa adegan tambahan, dan tentu saja, adegan-adegan yang… cukup menantang.
Film ini bukan proyek kecil. Budget 20 M bukan angka yang bisa dianggap main-main. Dan aku, dengan bayaran 500 juta sebagai pemeran utama, jelas tidak bisa asal jalan.
Tapi sekarang, satu hal yang bikin suasana mulai mengganggu adalah…
Keterlambatan.
Sudah lebih dari satu jam.
Dan artis baru itu belum juga muncul.
“Bang, ganti aja deh. Gue nggak suka sama artis baru yang nggak punya disiplin kayak gini!” kataku, menyilangkan tangan di dada.
Nada suaraku tajam, sedikit lebih keras dari yang seharusnya.
Bang Jaka tersenyum santai, seperti biasa.
“Sabar. Ntar juga dateng.”
Produser India itu berdiri, lalu keluar ruangan sambil menelepon. Pintu tertutup pelan, menyisakan keheningan yang sedikit canggung.
Bang Jaka lalu sedikit mendekat dan berbisik, “Titipannya doi, nggak bisa diganti lagi!”
Aku menutup mata sebentar.
“Astaga! Males banget deh,” kataku pelan, tapi cukup untuk didengar.
Dalam hati aku sudah mengutuk keadaan.
Aku bukan tipe yang suka film horor. Aku ambil proyek ini cuma karena nama besar Bang Jaka. Tapi kalau dari awal sudah begini, rasanya ingin mundur pelan-pelan sambil pura-pura hilang sinyal.
“Santai. Anggap aja bantuin artis baru. Dia butuh pengalaman,” kata Bang Jaka.
“Sial,” gumamku.
Bang Jaka terkekeh kecil, jelas menikmati penderitaanku.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka.
Produser India itu masuk kembali, diikuti oleh seorang perempuan muda.
Langkahnya cepat, sedikit tergesa, tapi penuh energi.
Dia terlihat… sangat muda.
Sekitar 22 tahun, mungkin.
Wajahnya fresh, makeup ringan, mata berbinar seperti anak kecil yang baru masuk taman hiburan. Rambutnya tergerai rapi, outfit-nya stylish tapi tetap kasual.
Aku sedikit mencondongkan badan ke arah Bang Jaka.
“Nggak kemudaan?” bisikku.
“Sssh!” Bang Jaka langsung berdiri, wajahnya berubah ramah profesional dalam hitungan detik.
Ia mengulurkan tangan.
“Halo. Saya Jaka.”
Perempuan itu langsung menyambut dengan antusias berlebihan.
“Bang Jaka, aku suka banget film-filmnya! Keren banget! Jenius! Out of the box! Apalagi filmnya yang judulnya Pengabdian Hantu!” katanya cepat, tanpa jeda, sambil terus menjabat tangan Bang Jaka seperti tidak mau dilepas.
“Makasih loh, udah nonton,” jawab Bang Jaka sambil tersenyum tipis. Tapi aku tahu senyum itu. Senyum orang yang sedang menguji kesabaran tingkat dewa.
Ia melirikku sekilas.
Oh, aku paham. Dia lagi tahan diri.
“Ini, kenalin, Bima! Leadnya,” lanjutnya.
Aku berdiri, menarik napas, lalu mengulurkan tangan.
“Halo, aku Bima,” kataku, mencoba profesional.
Perempuan itu menoleh padaku.
Matanya langsung membesar.
“Halo, aku Joana. Iiih, Kak Bimaaaa, aku ngefans banget!” suaranya melengking sedikit.
Tanganku masih dijabatnya. Bahkan sedikit digoyang.
“Kakak ternyata aslinya ganteng banget!” lanjutnya tanpa filter.
Aku tersenyum kaku.
Dalam hati, aku sudah siap mental menghadapi segala kemungkinan.
Tapi ternyata, semesta masih ingin bercanda.
“Eh tapi, kakak katanya mau nikah sama pelakor, apa bener, kak?” tanyanya polos.
Ruangan itu seperti membeku selama dua detik.
Aku melirik Bang Jaka.
Dia langsung memalingkan wajah, bahunya bergetar.
Dia hampir ketawa.
Sial.
Aku kembali menatap Joana yang masih memegang tanganku dengan ekspresi penasaran seperti netizen yang haus klarifikasi.
Aku menarik tanganku pelan.
“Wah,” kataku, berusaha tersenyum. “Langsung ke topik panas ya.”
Joana malah terkikik.
“Iya dong, Kak! Biar nggak salah paham. Aku tuh orangnya straight forward!”
Straight forward?
Lebih ke no filter, batinku.
Aku duduk kembali, mencoba mengatur napas.
Dalam kepalaku, satu kalimat terus berputar.
Sial.
Aku harus beradegan intim dengan orang kayak gini?
klunaku bayangin nya hmmm
Jefry Nichols, Al Ghazali or Herjunot
kamu hrs jelasin ke Mutia biar dia ga makin ke GR an malah upload2 macam2 udh berasa cewek kamu. kasihan dong Naya
ntar2 nya kmu pasti ga sempet
tuh Nay ga usah canggung dan bingung lagi
bukan anak kecul sih ituu..coba deh berpikiran dewasa dan jngn dipendam klu ada apa2
kapaannn lagi yaa Maaaaa punya calon mantu aktor terkenal 😂😂
masa mnta dibalikin lagi cincin nyaa /Facepalm/
dijudesin,egonya tinggi.klo elo sifatnya sprt itu nay cocok tu ma Alfian!!
baca ni Noval lama"MLS bet