Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Darah Pengkhianat dan Takhta yang Berduri
Dingin yang ditinggalkan oleh es hitam di Lembah Api Abadi seolah-olah meresap ke dalam sumsum tulang setiap kultivator di Benua Tengah. Hanya dalam waktu satu malam, salah satu dari 12 klan penyokong langit telah dihapus dari peta sejarah. Wang Tian berdiri di puncak altar yang membeku, menggenggam botol giok berisi sisa-semu darah ibunya. Cahaya perak dari cairan itu memantul di mata peraknya yang kini tidak lagi menunjukkan emosi manusia—hanya ada kehampaan yang menelan segalanya.
"Kakak Tian," suara Long Wei memecah keheningan yang mencekam. Langkah kakinya yang berat di atas es menciptakan retakan kecil yang bergema di seluruh lembah yang mati. "Pramuka naga bayanganku melaporkan pergerakan besar. Sisa sepuluh klan lainnya tidak lagi bersembunyi di markas masing-masing. Mereka telah berkumpul di Puncak Langit Tertinggi, tempat di mana ayahmu... Wang Zen, telah mendeklarasikan dirinya sebagai Kaisar Darah."
Wang Tian tidak menoleh. Ia hanya mengencangkan genggamannya pada botol giok itu sebelum menyimpannya ke dalam Dantiannya, tepat di samping Pusaran Primordial. "Kaisar Darah? Nama yang sangat cocok untuk seorang pria yang membangun takhtanya dari darah istrinya sendiri."
Lin Xuelan, Sui Ren, dan Mora mendarat di sampingnya. Jubah mereka masih ternoda oleh abu dan es, namun aura mereka kini telah menyatu dengan aura Wang Tian—sebuah harmoni kehancuran yang tak terelakkan.
"Kita tidak bisa menyerang secara membabi buta, Wang Tian," ucap Lin Xia, yang muncul dari balik kabut es dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya. "Wang Zen bukan hanya seorang pengkhianat. Dengan darah ibumu, dia telah mencapai Ranah Spirit Severing Puncak, hampir menyentuh Ranah Dao Seeking. Dia memiliki Formasi Penyegel Sembilan Langit yang bisa memutus hubunganmu dengan energi primordial dunia luar."
Wang Tian akhirnya berbalik. Rambut peraknya berkibar ditiup angin gunung yang tajam. "Biarkan dia menyegel langit. Aku tidak butuh energi dunia ini. Aku adalah kehampaan itu sendiri."
Perjalanan Menuju Puncak Langit Tertinggi
Puncak Langit Tertinggi adalah titik tertinggi di Benua Tengah, sebuah gunung yang puncaknya menembus lapisan atmosfer dan menyentuh ruang hampa. Di sana, sebuah benteng raksasa yang terbuat dari emas putih dan permata darah telah dibangun secara terburu-buru. Ribuan kapal perang udara yang tersisa dari koalisi mengepung gunung tersebut seperti lalat yang mengerumuni bangkai.
Wang Tian dan kelompoknya tidak menggunakan kapal. Mereka berjalan di atas udara, menciptakan tangga transparan dari Hukum Ruang yang memadat. Setiap langkah Wang Tian mengirimkan gelombang kejut yang bisa dirasakan oleh para penjaga di puncak gunung.
"Dia datang!" teriak seorang pengintai dari Klan petir. "Iblis Primordial itu datang!"
Seketika, seluruh langit berubah menjadi merah darah. Wang Zen, ayah Wang Tian, muncul di balkon tertinggi benteng tersebut. Ia mengenakan jubah kebesaran berwarna merah tua dengan mahkota yang terbuat dari tulang naga. Wajahnya tampak awet muda, namun matanya memancarkan kegilaan yang haus akan kekuasaan.
"Putraku yang tidak tahu berterima kasih," suara Wang Zen menggelegar, dibantu oleh formasi gunung. "Kau seharusnya mati bersama ibumu sepuluh tahun lalu. Namun, kau justru kembali untuk memberikan sisa darah primordialmu kepadaku. Takdir memang sangat murah hati."
Wang Tian berhenti di udara, sekitar satu mil dari benteng. "Wang Zen, aku tidak datang untuk bicara tentang takdir. Aku datang untuk menagih setiap tetes darah yang kau peras dari ibu. Aku datang untuk melihat bagaimana seorang kaisar mati seperti anjing di kaki anaknya sendiri."
Pertempuran Skala Global: Amukan Lima Penjuru
"Serang!" raung Wang Zen.
Sepuluh klan kuno melepaskan segalanya. Ini bukan lagi pertempuran kultivasi biasa; ini adalah perang pemusnahan.
Klan Petir melepaskan Guntur Penghancur Dunia yang mengubah langit menjadi lautan listrik ungu.
Klan Tanah membangkitkan golem-golem raksasa dari lereng gunung yang tingginya mencapai ribuan meter.
Klan Es menciptakan badai yang mampu membekukan jiwa bahkan sebelum menyentuh raga.
"Long Wei, tangani golem-golem itu! Mora, bersihkan kapal-kapal perang di sisi kiri! Sui Ren, Xuelan, hancurkan formasi pertahanan bawah!" perintah Wang Tian.
Long Wei meraung, tubuhnya membesar hingga mencapai sepuluh meter. Sisik emas hitamnya memancarkan panas yang luar biasa. Ia menabrak golem tanah dengan kekuatan fisik murni, menghancurkan batu-batu raksasa itu hanya dengan tinjunya. "Datanglah padaku, tanah yang rapuh!"
Mora menghilang. Di langit yang dipenuhi kapal perang, sebuah bayangan raksasa berbentuk sabit muncul dan menghilang dalam sekejap. Setiap kali bayangan itu muncul, satu kapal induk terbelah menjadi dua tanpa suara. Mora bergerak di antara dimensi, menjadi malaikat maut bagi ribuan tentara koalisi.
Sui Ren dan Lin Xuelan menggabungkan kekuatan mereka. Sui Ren menciptakan badai topan yang mengisap oksigen dari area pertahanan musuh, sementara Lin Xuelan mengubah kelembapan di dalam badai tersebut menjadi jarum-jarum es yang dilapisi racun primordial. Ribuan murid klan tewas dalam hitungan detik saat mencoba mempertahankan tembok benteng.
Duel Berdarah: Ayah vs Anak
Wang Tian melesat lurus menuju balkon tempat Wang Zen berdiri. Setiap penghalang energi yang dipasang oleh para penatua hancur seketika saat bersentuhan dengan tubuh Wang Tian. Ia seperti meteor abu-abu yang menembus segala rintangan.
BOOM!
Wang Tian mendarat di balkon, menghancurkan lantai marmer emas tersebut. Wang Zen tersenyum dingin, menghunus pedang yang memancarkan aura merah—Pedang Penghisap Jiwa.
"Kau pikir kau kuat karena memiliki Sutra Kaisar Primordial?" Wang Zen tertawa. "Ibumu yang memberikannya padaku sebelum dia mati, tapi aku menolaknya karena darahnya jauh lebih berharga. Sekarang, lihatlah kekuatan darah yang kau banggakan!"
Wang Zen menusukkan pedangnya ke telapak tangannya sendiri. Energi merah darah meledak, membentuk naga darah raksasa di belakang punggungnya. Aura ini sangat mirip dengan aura Wang Tian, namun terasa jauh lebih jahat dan korosif.
"Hukum Darah: Penjara Kematian Abadi!"
Rantai-rantai darah muncul dari ruang hampa, mengikat tangan dan kaki Wang Tian. Rantai ini tidak hanya mengikat fisik, tapi juga mulai menyedot energi primordial dari dalam tubuhnya.
"Sakit, bukan?" bisik Wang Zen sambil berjalan mendekat. "Darah ibumu sekarang menjadi senjataku untuk membunuhmu. Betapa puitisnya."
Wang Tian menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergetar, namun bukan karena rasa sakit. Ia mulai tertawa—tawa yang rendah dan dingin yang membuat Wang Zen berhenti melangkah.
"Kau benar-benar tidak mengerti, Wang Zen," ucap Wang Tian. "Kau menggunakan darahnya sebagai alat kekuasaan. Tapi bagiku... darah ini adalah janji."
Mata perak Wang Tian tiba-tiba memancarkan cahaya hitam yang pekat.
"Penyatuan Primordial: Pembalikan Kehampaan!"
Pusaran Primordial di dalam tubuh Wang Tian berputar ke arah yang berlawanan dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Rantai darah yang mengikatnya mendadak bergetar dan, alih-alih menyedot energi Wang Tian, mereka justru mulai terhisap masuk ke dalam tubuh Wang Tian.
"Apa?! Bagaimana mungkin?!" Wang Zen terbelalak ketakutan saat merasakan energi darah yang ia kumpulkan selama sepuluh tahun mulai ditarik paksa keluar dari tubuhnya.
"Darah ibu tidak akan pernah melayanimu," suara Wang Tian bergema seperti suara ribuan arwah. "Darah ini kembali kepada pemiliknya yang sah."
Wang Tian memutus rantai itu dengan kekuatan murni. Ia bergerak lebih cepat dari cahaya, menghantam dada Wang Zen dengan telapak tangan yang dilapisi Hukum Kehampaan.
KRAAAAAKKK!
Tulang rusuk Wang Zen hancur. Ia terlempar menembus dinding benteng, jatuh ke dalam aula utama di mana para penatua klan sedang berkumpul. Wang Tian mendarat perlahan di hadapannya, dikelilingi oleh aura yang begitu gelap hingga bayangannya sendiri seolah-olah menelan cahaya di ruangan itu.
Rahasia Terakhir: Gerbang Keabadian
Wang Zen terbatuk darah, wajahnya yang awet muda mulai mengeriput dengan cepat karena kehilangan energi darah secara mendadak. "Kau... kau tidak tahu apa yang kau lakukan... Jika kau membunuhku... gerbang itu tidak akan pernah terbuka..."
"Aku tidak peduli dengan gerbangmu," jawab Wang Tian, mengangkat Dragon's Wrath tinggi-tinggi.
"Tidak! Dengarkan aku!" teriak Wang Zen dengan putus asa. "Klan-klan ini... kami semua hanyalah bidak! Ada sesuatu di balik langit ini... sesuatu yang memakan energi primordial setiap seribu tahun! Aku mengumpulkan darah ibumu untuk menciptakan pelindung... untuk menyelamatkan benua ini!"
Wang Tian berhenti sejenak. "Jadi, kau ingin aku percaya bahwa kau adalah pahlawan yang terpaksa menjadi penjahat? Kau membunuh istrimu dan menyiksa anakmu demi 'keselamatan dunia'?"
"Ya! Itulah beban seorang kaisar!" Wang Zen mencoba berdiri, meski kakinya gemetar.
Wang Tian menatap ayahnya dengan tatapan yang sangat dalam. "Bahkan jika dunia ini harus hancur besok, itu bukan alasan untuk mengkhianati cinta yang kau miliki hari ini. Jika dunia ini butuh pengorbanan ibuku untuk bertahan, maka dunia ini memang pantas untuk musnah."
Tanpa keraguan lagi, Wang Tian mengayunkan pedangnya.
SLASH!
Kepala Wang Zen jatuh ke lantai marmer. Di saat yang sama, sebuah cahaya emas keluar dari tubuh Wang Zen, melesat menuju langit-langit benteng dan meledak, membuka sebuah lubang hitam di angkasa yang memancarkan aura yang sangat asing dan menakutkan.
"Jadi itu gerbangnya..." gumam Lin Xia, yang muncul di samping Wang Tian. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sangat pucat. "Wang Zen tidak berbohong sepenuhnya. Dia baru saja membuka Gerbang Kesunyian Abadi. Sesuatu yang lebih buruk dari 12 klan akan segera datang."
Pasca Pertempuran: Takhta yang Kosong
Sisa-sisa anggota klan kuno yang melihat pemimpin mereka tewas segera berlutut di depan Wang Tian. Mereka meletakkan senjata mereka, wajah mereka dipenuhi dengan ketakutan dan keputusasaan.
Wang Tian berdiri di tengah aula yang hancur, dikelilingi oleh mayat-mayat penguasa lama. Long Wei, Xuelan, Sui Ren, dan Mora mendarat di sampingnya. Mereka menatap ke arah langit, di mana lubang hitam itu terus melebar, menelan awan dan cahaya bintang.
"Kita menang, Kakak Tian," ucap Long Wei, meski suaranya tidak terdengar bahagia. "Tapi rasanya ini baru permulaan."
Wang Tian menatap tangannya yang ternoda darah ayahnya. Ia merasakan botol darah ibunya di dalam Dantiannya bergetar, seolah memberikan pelukan terakhir. Ia telah membalaskan dendamnya. Ia telah menghancurkan mereka yang menindasnya. Namun, di puncak kekuasaannya, ia justru melihat ancaman yang lebih besar bagi orang-orang yang ia cintai.
"Xuelan, Sui Ren, Mora," Wang Tian memanggil ketiga istrinya. "Aku ingin kalian membawa sisa-sisa pengikut kita menuju Lembah Naga. Gunakan Ruang Waktu Naga untuk memperkuat diri. Benua ini akan segera berubah menjadi medan perang para dewa."
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Lin Xuelan, menggenggam tangan Wang Tian dengan erat.
Wang Tian menatap lubang hitam di langit. "Aku akan berdiri di sini. Aku akan menjadi penjaga gerbang ini. Jika sesuatu ingin memakan dunia ini, mereka harus melewati aku terlebih dahulu."
Wang Tian duduk di atas takhta emas milik ayahnya yang kini retak. Ia tidak mengenakan mahkota, namun auranya memerintah segalanya. Dragon's Wrath ia tancapkan di lantai di depannya.
Sejarah Benua Tengah yang lama telah berakhir hari ini. Di bawah bayang-bayang lubang hitam yang misterius, babak baru dalam kehidupan Wang Tian sebagai Penjaga Primordial telah dimulai. Ia telah membunuh ayahnya, menghancurkan klan-klannya, dan kini ia berdiri sendirian sebagai pelindung dunia yang pernah membencinya.
Statistik Bab 24:
Karakter: Wang Tian (Penjaga Primordial), Wang Zen (Tewas), Long Wei, Lin Xuelan, Sui Ren, Mora, Lin Xia.
Pencapaian: Membunuh Wang Zen, Membalaskan dendam Yue Er, Mengambil alih Puncak Langit Tertinggi.
Status Kultivasi: Wang Tian mencapai Ranah Spirit Severing Tingkat Awal secara permanen setelah menyerap energi darah.
Konsekuensi: Terbukanya Gerbang Kesunyian Abadi; munculnya ancaman dari luar dimensi (The Great Devourers).
Kondisi: Koalisi 12 Klan dibubarkan; Wang Tian menjadi penguasa de facto Benua Tengah.
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah