Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: BARA DI UJUNG MALAM
Bayangan sepasang kaki yang mengintip dari celah bawah pintu kayu lapuk itu membuat darah Aaliyah Humaira membeku seketika. Jantungnya yang tadi sempat tenang usai meretas, kini kembali berdegup dengan ritme yang menyakitkan dada.
Hujan di luar masih turun rintik-rintik, namun kesunyian gang kumuh di Bekasi Barat itu terasa sangat mencekam. Aaliyah tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia menahan napasnya, bangkit berdiri dengan sangat perlahan agar lantai semen yang retak tidak berderit.
Batin Aaliyah: Siapa di luar sana? Apakah itu kurir obat pasar gelap yang aku pesan? Ataukah Rian bertindak lebih cepat dari perkiraanku dan mengirimkan anjing-anjing pemburunya? Ya Allah... aku tidak punya senjata. Aku tidak punya pengawal. Jika itu adalah algojo Sultan, kami bertiga akan dihabisi di ruangan berukuran tiga kali empat meter ini.
Aaliyah memutar pandangannya ke sekeliling kontrakan petak yang sempit itu. Pandangannya tertuju pada sebuah linggis besi berkarat peninggalan kuli bangunan yang tergeletak di dekat kamar mandi. Dengan tangan kanannya yang masih gemetar, ia meraih linggis tersebut. Besi dingin itu terasa berat, namun tekad di matanya jauh lebih berat.
Ia melangkah berjingkat mendekati pintu. Tangannya memegang erat linggis itu, bersiap mengayunkannya tepat ke kepala siapa pun yang mencoba mendobrak masuk.
Di luar, bayangan kaki itu bergeser. Terdengar ketukan di pintu.
Tok... Tok... Tok... Tiga ketukan lambat.
Jeda dua detik.
Tok! Tok! Dua ketukan cepat.
Aaliyah membuang napas kasarnya secara tertahan. Linggis di tangannya sedikit menurun. Itu adalah kode. Kode ketukan yang ia tuliskan secara spesifik pada kolom instruksi pengiriman anonim di dark web tadi. Itu adalah kurirnya.
Dengan sangat hati-hati, Aaliyah memutar kunci yang sudah berkarat dan membuka pintu kayu itu sedikit, hanya cukup untuk melihat siapa yang berdiri di luar dan menyelipkan barang.
Di balik pintu, berdiri seorang pria berjaket hujan plastik hitam yang menutupi seluruh wajahnya. Pria itu tidak banyak bicara. Ia langsung menjejalkan sebuah tas ransel olahraga berukuran besar dan sebuah tabung oksigen medis portabel ke celah pintu.
Aaliyah segera menarik barang-barang itu masuk.
"Transaksi selesai. Uangnya sudah diverifikasi," bisik kurir itu dengan suara serak yang sengaja disamarkan. Namun, sebelum pria itu berbalik pergi menembus gang gelap, ia menahan daun pintu sejenak.
"Saran saya, Nona... Anda sebaiknya segera angkat kaki dari area ini," lanjut kurir itu, nadanya terdengar sedikit gentar.
Aaliyah menyipitkan mata di balik celah pintu. "Apa maksudmu?"
"Saat saya masuk ke mulut gang depan tadi, ada lima mobil van hitam tanpa pelat nomor baru saja memblokir jalan utama. Puluhan pria turun membawa jeriken-jeriken besar," kurir itu menelan ludah. "Mereka bukan polisi. Mereka tidak mencari rumah spesifik, mereka mulai menyiramkan bensin ke rumah-rumah bedeng di ujung gang. Tempat ini akan segera menjadi lautan api dalam hitungan menit."
Dunia Aaliyah seakan runtuh menimpanya.
Kurir itu segera melepaskan pintu dan berlari menghilang ke dalam kegelapan malam.
Aaliyah menutup pintu kontrakannya dan menguncinya kembali dengan tangan yang bergetar hebat. Ia bersandar di pintu kayu yang lapuk itu, merosot perlahan hingga terduduk di lantai.
Sultan... dia benar-benar iblis yang turun ke bumi. Dia tahu aku bersembunyi di radius lima ratus meter ini, tapi dia tidak tahu rumah yang mana. Alih-alih mencari satu per satu, dia memutuskan untuk membakar seluruh kawasan padat penduduk ini! Dia mengorbankan nyawa ratusan warga miskin yang tak berdosa hanya untuk memastikan aku dan Zayn hangus terbakar!
Tidak ada waktu untuk menangis. Tidak ada waktu untuk meratapi nasib. Aaliyah harus bertindak sekarang juga.
Ia segera merangkak menuju ransel yang dibawa kurir tadi. Ia mengeluarkan beberapa botol vial berisi antibiotik spektrum luas berdosis tinggi, jarum suntik steril, dan sekantong cairan infus baru. Tangannya bergerak cepat, insting bertahan hidupnya mengalahkan rasa panik.
Ia berlari ke arah ranjang ayahnya lebih dulu. Mesin oksigen lama Kyai Abdullah sudah berbunyi kritis. Aaliyah segera menyambungkan selang ke tabung oksigen baru yang ia beli. Terdengar desisan halus saat oksigen murni mengalir. Dada Kyai Abdullah yang tadi tampak sesak, kini mulai naik turun dengan ritme yang lebih stabil dan damai.
"Ayah aman untuk beberapa jam ke depan," bisik Aaliyah mencium kening ayahnya yang berkerut.
Ia kemudian berbalik ke arah ranjang Zayn. Pria itu masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Keringat dingin terus mengucur dari pori-porinya.
Aaliyah mematahkan ujung vial antibiotik, menyedot cairannya ke dalam tabung suntikan dengan hati-hati. Ia mencari selang infus (IV line) di tangan Zayn yang membiru, menyuntikkan obat mahal itu langsung ke dalam aliran darahnya.
Batin Aaliyah: Masuklah... lawanlah infeksi itu, Zayn. Kau adalah pejuang yang kuat. Kau tidak pernah kalah di ruang rapat, kau tidak pernah kalah melawan Sultan. Jangan biarkan bakteri kotor dari sungai itu mengalahkanmu. Aku telah merampok dunia bawah tanah untuk membeli obat ini, jadi kumohon... bereaksilah.
Setelah menyuntikkan antibiotik, Aaliyah duduk di lantai semen di antara dua ranjang tersebut. Ia menatap ke arah ventilasi kecil di atas pintu.
Sayup-sayup, suara rintik hujan di luar mulai tergantikan oleh suara lain. Suara derak kayu yang terbakar. Teriakan-teriakan panik mulai terdengar dari kejauhan. Tangisan anak-anak, jeritan ibu-ibu yang berlarian, dan suara barang-barang yang dibanting.
Bau asap mulai menyusup masuk melalui celah-celah dinding kontrakan yang terbuat dari batako tipis.
Mereka benar-benar membakar kawasan kumuh ini.
Aaliyah berdiri. Ia berlari kecil ke arah jendela nako yang berdebu, mengintip melalui celah tirai yang robek. Matanya membelalak ngeri. Di ujung gang, sekitar lima puluh meter dari rumahnya, kobaran api berwarna jingga kemerahan telah menjilat langit malam. Lidah api merambat dengan sangat cepat melalui atap-atap rumbia dan kayu kering rumah-rumah bedeng di sekitarnya.
Hujan gerimis tidak cukup untuk memadamkan api yang telah disulut oleh bensin dalam jumlah besar.
Di antara kobaran api itu, siluet pria-pria berbadan tegap berjalan dengan tenang. Mereka tidak membantu warga; mereka justru menendang pintu-pintu rumah yang masih tertutup, memastikan setiap sudut tidak luput dari amukan api.
Ya Allah! Jika api itu sampai ke sini... kami tidak akan selamat. Aku mungkin bisa memapah Zayn, tapi aku tidak mungkin mendorong kursi roda Ayah beserta tabung oksigennya menembus gang yang penuh dengan algojo itu. Mereka akan langsung menembak kami begitu kami keluar dari pintu ini. Jika kami diam di sini, kami akan mati terpanggang atau mati lemas karena asap.
Dilema yang paling brutal kini menghantam kewarasan Aaliyah. Tidak ada komputer yang bisa diretas untuk memadamkan api. Tidak ada jammer sinyal yang bisa memblokir kobaran panas yang mulai membuat suhu di dalam kontrakannya meningkat drastis. Ini murni ujian fisik dan ketahanan.
Aaliyah menoleh ke arah dua pria yang terbaring lemah itu.
Zayn... Ayah... aku tidak bisa membawa kalian berdua sekaligus. Tubuhku terlalu kecil. Bahu kiriku tertembak. Apa yang harus aku lakukan?! Aku tidak akan pernah memilih salah satu dari kalian! Aku menolak pilihan itu!
Asap kelabu mulai masuk semakin banyak, memenuhi ruangan sempit itu. Aaliyah terbatuk-batuk. Matanya perih. Ia segera mengambil sisa air di baskom, merobek ujung gamisnya menjadi dua bagian, mencelupkannya ke air, dan memasangkannya ke wajah Zayn serta ayahnya sebagai masker darurat penyaring asap.
Suhu ruangan melonjak panas. Suara gemuruh api kini terdengar hanya dua rumah dari tempat mereka bersembunyi. Teriakan algojo Sultan terdengar sangat jelas di luar.
"Pastikan tidak ada yang terlewat! Bakar rumah petak di depan itu! Cepat!"
Langkah kaki sepatu bot terdengar berlari mendekati pintu kontrakan Aaliyah. Bau bensin yang sangat menyengat tercium tepat di depan pintunya.
Aaliyah mundur menjauhi pintu. Ia meraih linggis besi yang tadi ia letakkan di lantai. Tangannya mencengkeram besi dingin itu dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Kakinya gemetar, namun ia memaksakan diri untuk berdiri tegak di depan ranjang Zayn dan ayahnya.
Jika kalian ingin membakar ruangan ini, kalian harus melangkahiku terlebih dahulu. Aku mungkin akan mati malam ini, tapi aku bersumpah demi Allah, salah satu dari kalian akan ikut bersamaku ke neraka.
DUAK!
Tendangan keras menghantam pintu kayu dari luar. Kayu lapuk itu bergetar hebat, beberapa serpihannya terlepas.
DUAK!
Tendangan kedua membuat engsel pintu nyaris lepas. Cahaya merah dari kobaran api di luar menyusup masuk melalui celah pintu yang rusak, menerangi wajah Aaliyah yang dipenuhi debu, keringat, dan air mata keputusasaan yang mengeras menjadi tekad.
"Bakar yang ini juga! Kunci pintunya dari luar biar penghuninya hangus!" teriak suara pria dari balik pintu.
Terdengar suara cairan bensin yang disiramkan dengan deras ke dinding depan kontrakannya. Mereka tidak mendobrak masuk; mereka akan membakarnya hidup-hidup dari luar.
Dunia Aaliyah seketika terasa berhenti. Linggis di tangannya terasa tidak berguna. Bagaimana kau bisa memukul mati sebuah api?
Detik berikutnya, suara percikan korek api terdengar.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji