Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal pertemuan
Di seberang jalan, mobil hitam Alex Ferguson berhenti perlahan. Alex menurunkan sedikit kaca mobilnya, menatap Tiana yang dipaksa masuk ke dalam club oleh Liona.
"Club malam?" Alex mendengus dingin, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Berani sekali bocah-bocah itu membawa mangsaku ke tempat sampah seperti ini."
Alex membuka pintu mobilnya, mengenakan jas hitamnya dengan rapi. "Siapkan senjata. Jika ada yang menyentuh kulitnya di dalam sana, pastikan orang itu tidak akan melihat matahari besok pagi."
------------------------------
Tiana meronta sekuat tenaga saat tangan-tangan kasar itu menyeretnya masuk ke dalam area remang-remang yang berbau alkohol dan asap cerutu. Dentuman musik di dalam club itu seolah menulikan telinganya, menenggelamkan tangis ketakutannya.
Di sebuah sudut privat yang tersembunyi, Liona menghentikan langkahnya di depan seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal dan tatapan yang sangat garang.
"Mama Dommm... aku punya mainan baruu," ucap Liona dengan nada manja yang menjijikkan, sambil mendorong tubuh Tiana ke depan.
Wanita itu berdiri perlahan, matanya yang tajam menatap Tiana dari atas ke bawah, menilai setiap detail penampilan gadis yang gemetar itu.
"Wah, wah... terlihat sangat polos. Benar-benar sesuai pesanan, Liona?" tanya Mama Dom dengan suara berat yang penuh intimidasi.
Liona tersenyum puas, seolah baru saja memberikan hadiah yang sangat berharga. "Tentu saja, Mama. Dia masih sangat terjaga. Tidak ada yang lebih baik dari ini."
Mama Dom mengangguk pelan, kilatan keserakahan tampak di matanya. "Bagus. Seseorang baru saja menelepon dan mencari seseorang yang masih baru untuk urusan penting malam ini. Penawarannya sangat tinggi."
Tanpa memedulikan ketakutan Tiana, Mama Dom mencengkeram lengan gadis itu dengan kuat. "Ikut aku sekarang. Kau harus mengganti pakaianmu dengan yang lebih pantas untuk tamu kita."
"Nggak! Lepasin aku! Aku nggak mau!" teriak Tiana histeris. Ia berusaha meronta, namun cengkeraman itu terlalu kuat untuk dilawan. Tiana menatap Liona dengan penuh permohonan, namun Liona hanya memalingkan muka dengan senyum dingin.
Tiana terus berteriak minta tolong saat diseret paksa menuju sebuah ruangan gelap di belakang koridor.
------------------------------
Di luar gedung, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan pintu masuk. Suasana yang tadinya bising oleh musik mendadak terasa tegang saat beberapa pria berpakaian rapi namun berwajah dingin turun dari kendaraan tersebut. Pemimpin mereka melangkah maju dengan aura yang sangat mengancam, siap mencari keberadaan Tiana di dalam tempat itu.
Di dalam ruang ganti yang pengap, Tiana dipaksa menanggalkan pakaian sederhananya. Dengan kasar, para pelayan Mama Dom memakaikannya sebuah gaun merah satin yang sangat minim. Gaun itu begitu ketat hingga mencetak lekuk tubuhnya, panjangnya bahkan tidak sampai setengah paha, mengekspos kaki jenjang Tiana yang gemetar hebat.
"Nyonya... tolong, biarkan saya pergi... saya mohon," isak Tiana sambil berusaha menutupi dadanya dengan tangan yang lemas.
Liona yang berdiri di sudut ruangan sambil bersedekap hanya tertawa mengejek. "Menurutlah, Tiana! Kau tidak mau kan kalau aku dan Ibu mengusirmu dari rumah dan membiarkanmu jadi gelandangan di jalanan London? Anggap saja ini caramu membayar biaya hidupmu!"
Tanpa belas kasihan, Mama Dom mencengkeram lengan Tiana dan menyeretnya menyusuri koridor VIP yang sunyi. Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh. Dengan satu gerakan kuat, Mama Dom membuka pintu itu dan mendorong Tiana masuk ke dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu remang-remang.
Brukk!
Tiana tersungkur di atas lantai marmer yang dingin. Rasa sakit menjalar di lututnya, namun rasa takutnya jauh lebih besar. Ia segera berbalik dan menggedor pintu yang baru saja dikunci dari luar.
"Nyonya! Buka pintunya! Tolong buka!" teriak Tiana histeris, kuku-kukunya menggaruk daun pintu dengan putus asa.
Namun, suasana seketika menjadi sunyi senyap. Dari balik bayang-bayang di sudut kamar, muncullah seorang pria bertopeng hitam yang menutupi separuh wajahnya. Postur tubuhnya tegap, mengenakan setelan jas yang sangat mahal, memancarkan aura yang sangat dominan dan berbahaya.
Di luar pintu, Mama Dom membungkuk hormat melalui celah kecil. "Tuan, pesanan Anda sudah di dalam sesuai permintaan," ucap Mama Dom dengan nada menjilat.
Pria bertopeng itu tidak menjawab. Ia hanya menatap lekat ke arah Tiana yang masih terduduk di lantai dengan gaun merahnya yang tersingkap. Matanya yang tajam di balik topeng itu berkilat—sebuah tatapan yang sulit diartikan antara amarah dan obsesi.
Tiana merayap mundur hingga punggungnya membentur pintu, napasnya tersengal-sengal melihat pria itu mulai melangkah mendekat.
Pria bertopeng itu terkekeh rendah, suara baritonnya yang berat menggema di ruangan yang kedap suara itu. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu pantofel mahal terdengar mantap, perlahan mendekati Tiana yang masih tersungkur.
"Heii, Gadis Manis... jangan takut. Aku hanya ingin 'memakai' mu malam ini," ucap pria itu dengan nada yang tenang namun sangat mengintimidasi. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti jeratan yang mencekik leher Tiana.
Tiana menggelengkan kepalanya dengan histeris, air matanya tumpah membasahi pipinya yang pucat. Ia merayap mundur sampai punggungnya menabrak kaki tempat tidur.
"Pergi! Pergi kamu hantuuu!" teriak Tiana dengan suara melengking, menutup matanya rapat-rapat karena tidak sanggup melihat sosok gelap di depannya. "Aku bukan wanita malam! Aku anak polos... aku anak baik-baik! Tolong lepasin aku!"
Pria bertopeng itu berhenti tepat di depan Tiana. Ia berjongkok, menyamakan tingginya dengan gadis yang sedang gemetar hebat itu. Jemarinya yang dingin menyentuh dagu Tiana, memaksa gadis itu untuk menatap matanya yang tajam di balik topeng.
"Anak polos?" Pria itu tersenyum miring, sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya. "Justru itu alasan kenapa kamu ada di sini, Tiana. Karena kepolosanmu adalah harga yang sangat mahal bagi musuh-musuh ayahmu."
Tiana tertegun. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat pria itu menyebut namanya. Bagaimana pria asing ini tahu siapa dia?
Tiana terbelalak, napasnya memburu saat pria itu membisikkan namanya dengan begitu tenang, seolah nama itu sudah lama terukir di lidahnya.
"Kenapa... kenapa kamu tahu namaku?" tanya Tiana dengan suara bergetar hebat. Ia mencoba menjauh, namun punggungnya sudah menempel di kaki tempat tidur yang dingin.
Pria bertopeng itu—Alex—mengikis jarak di antara mereka. Aroma maskulin yang mahal dan mengintimidasi kini memenuhi indra penciuman Tiana.
"Karena aku akan menjadi tuan barumu, Tiana," jawab Alex dengan nada bariton yang rendah dan mutlak. Tidak ada keraguan di sana, hanya ada otoritas yang menyesakkan.
Tiana mendongak, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa meski air matanya terus mengalir. "Jangan berbicara sembarangan! Aku bukan budak! Aku... aku putri mendiang Brandon Luxemburg Warming! Ayahku orang terpandang!"
Alex tertawa rendah, sebuah tawa kering yang terdengar sangat kejam di telinga Tiana. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan kuat kini membelai pipi Tiana yang basah, turun perlahan ke lehernya yang jenjang.
"Putri Brandon Luxemburg Warming?" Alex mendekatkan wajahnya ke telinga Tiana, membiarkan deru napasnya menyapu kulit gadis itu. "Kenapa kamu pikir saya takut dengan nama itu, Tiana? Ayahmu sudah membusuk di tanah, dan dia berhutang sesuatu yang sangat besar padaku."
Tiana tertegun, tubuhnya kaku seperti es. "Hutang? Ayahku tidak punya hutang!"
"Kesepakatan lama tidak pernah mati hanya karena seseorang tiada," ucap Alex dengan nada dingin yang menusuk tulang. Ia berdiri tegak, bayangannya jatuh menutupi tubuh Tiana yang gemetar di sudut ruangan. "Dan sekarang, tanggung jawab itu beralih kepadamu. Setiap janji yang belum terpenuhi harus dilunasi."
Tiana menggelengkan kepala, air mata kemarahan mulai menggantikan rasa takutnya. "Ini tidak masuk akal! Ayahku adalah orang yang terhormat. Siapa sebenarnya Anda untuk menuduhnya seperti itu?"
Alex terdiam sejenak, membiarkan keheningan yang mencekam memenuhi kamar tersebut. Ketegangan di antara mereka semakin memuncak saat Alex perlahan menggerakkan tangannya menuju topeng yang menutupi wajahnya.
"Kau tidak perlu tahu sekarang. Yang jelas, mulai detik ini kau harus ikut bersamaku!" suara Alex menggelegar, tidak menerima bantahan sedikit pun.
Tanpa aba-aba, Alex merengkuh pinggang mungil Tiana dengan satu tangan kekarnya. Dengan kekuatan yang sangat dominan, ia mengangkat tubuh gadis itu dan memanggulnya di bahu lebar layaknya memanggul sekarung beras.
"Lepaskan aku, Tuan! Lepaskan! Tolong!" teriak Tiana histeris. Kaki jenjangnya yang terbalut gaun merah minim itu menendang-nendang udara, sementara tangannya memukul-mukul punggung keras Alex yang terasa seperti dinding beton.
Alex melangkah keluar dari kamar VIP itu dengan angkuh. Mama Dom yang melihat pemandangan itu hanya bisa menunduk hormat, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun saat melihat tatapan membunuh dari pria itu.
"Terlambat, Baby... kau sudah masuk ke dalam sangkar Ferguson," bisik Alex dengan nada dingin yang langsung membekukan darah Tiana.
Tiana tertegun, nama itu... Ferguson. Nama yang selalu ayahnya bicarakan dengan nada waspada.
"Kau harus menerima penebusan dosa ayahmu pada mendiang ibuku. Dan aku sendiri yang akan memastikan kau membayar setiap tetes air mata yang ibuku jatuhkan dulu," lanjut Alex sambil terus melangkah menuju lift pribadi yang sudah disiapkan anak buahnya.
Tiana menangis sesenggukan dalam posisi terbalik di bahu Alex. Dunianya benar-benar runtuh. Jika di rumah dia disiksa oleh bibinya, kini dia jatuh ke tangan iblis yang jauh lebih mengerikan—pria yang menyimpan dendam darah pada keluarganya.