Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 33. Istri Sah Mencuri Start
"Huhuhu mas Krisna jahat Ma. Dia sudah tidak sayang lagi sama aku. Aku dibentak di depan umum!"
Dinda menangis tergugu di atas tempat tidur. Wanita itu menutupi wajahnya menggunakan bantal untuk meredam suara tangisnya. Namun tetap saja tangis wanita yang sedang hamil itu tak bisa teredam bahkan semakin keras terdengar.
Rika menatap kepulangan sang anak dalam keadaan seperti ini justru membuatnya bertanya-tanya akan apa yang terjadi. Padahal sebelumnya Dinda nampak begitu bahagia diajak oleh Krisna untuk jalan-jalan. Tapi ketika pulang, sang anak justru dalam keadaan kacau seperti ini.
"Din, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kamu bisa dibentak oleh Krisna di depan umum? Kesalahan apa yang kamu lakukan?"
"Aku tidak salah Ma... Aku tidak salah."
"Tidak salah apa maksudmu Din? Sudah jelas-jelas kamu mendorong anak itu. Kamu bilang tidak bersalah?"
Kedatangan Krisna membuat Dinda dan Rika sama-sama menautkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Terlihat Krisna masuk ke dalam kamar dengan air wajah yang berbeda. Lelaki itu nampak seperti seseorang yang tengah dirundung amarah, beda dari biasanya.
"Aku memang tidak bersalah. Anak itu yang mendekat ke arahku. Aku jijik sekali melihatnya yang kumal dan kotor itu Mas!" teriak Dinda membela diri. "Kamu kok gak ngerti-ngerti sih!"
"Apapun kondisi anak itu, tidak seharusnya kamu mendorongnya Din! Itu sudah termasuk perbuatan kriminal," seru Krisna tak kalah lantang dengan suara yang menggelegar. "Kamu itu sungguh berbeda dengan Ganis," sambung Krisna dengan suara lebih lirih namun tetap saja masih bisa terdengar di telinga Dinda dan Rika.
"Hah!! Apa kamu bilang Mas? Aku berbeda dengan mbak Ganis?" tanya Dinda dengan mata melotot. "Kamu sudah mulai banding-bandingin aku sama mbak Ganis?"
Dinda beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan dengan tergesa-gesa ke arah almari pakaian. Ia ambil koper dan ia masukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper itu.
Hah, Dinda apa-apaan? Kalau dia main minggat seperti ini bisa-bisa dibiarkan oleh Krisna. Jadi miskin lagi nanti aku.
Rika bermonolog dalam hati. Ia sedikit gemas melihat tingkah sang anak yang bahkan terlalu terburu-buru seperti itu. Karena sejatinya saat ini yang berada di posisi bersalah adalah Dinda sendiri.
"Aaargghh... Bukan begitu maksudku!" teriak Krisna.
Ia mendekat ke arah Dinda dan mencoba menghentikan niat istri keduanya itu. Ia tarik tubuh sang istri lalu ia bawa ke dalam pelukannya. Saat ini ia hanya khawatir dengan anak yang ada di dalam perut Dinda jika sampai ikut terkena imbas dari emosi Dinda yang meluap.
"Lalu maksudmu membanding-bandingkan aku dengan mbak Ganis Mas?"
"Aku tidak bermaksud membanding-bandingkan. Tapi kamu bisa belajar kepada Ganis tentang mengelola emosi. Sehingga kamu bisa selalu tenang."
"Aku tidak mau Mas. Sehebat apapun mbak Ganis bisa mengelola emosi, dia tetap tidak bisa menandingiku yang mengandung anakmu. Dia tetap tidak bisa mengalahkanku."
"Ckkkcckkk... Ini semua bukan tentang kalah dan menang. Bukan juga perkara bisa hamil atau tidak, tapi kamu harus bisa belajar mengelola emosi. Ingat, jika kamu terlalu emosi akan berdampak buruk untuk anak dalam kandunganmu."
"Tapi aku tidak suka dibanding-bandingkan Mas. Aku adalah aku. Tidak mau jika harus mencontoh orang lain."
Krisna membuang napas kasar. Ternyata istri keduanya ini keras kepala sekali. Apapun yang menjadi nasihat rasa-rasanya akan sangat percuma.
"Kris, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Dinda pulang dalam keadaan emosi seperti ini?"
"Harusnya yang emosi aku Ma. Gara-gara Dinda, malam ini aku kehilangan uang tiga puluh lima juta."
"Hah, memang apa yang sudah dilakukan Dinda, Kris?"
"Dinda mendorong seorang pengamen sampai kepalanya bocor terbentur aspal. Apesnya, pengamen itu anak dari salah seorang pejabat di kota ini yang sedang melakukan sosial eksperimen. Akhirnya aku harus ganti rugi tiga puluh lima juta dan menanggung seluruh biaya kontrol anak itu sampai sembuh."
Rika menampakkan ekspresi yang dipenuhi oleh keterkejutan. Kali ini ia membenarkan ucapan Krisna bahwa sikap sang anak sudah sangat melampaui batas. Hingga memunculkan sepercik rasa takut jika sampai sang anak tidak bisa merubah sikapnya ini.
Duh, duh kalau terus-terusan seperti ini bisa-bisa Krisna hilang respek ke Dinda. Kalau sudah hilang respek bisa jadi Dinda diceraikan Krisna. Aduuhh, aku tidak mau kalau sampai hal itu terjadi. Baru saja aku akan menjadi orang kaya masa tertunda.
****
Krisna menarik tuas pintu kamar Ganis dengan perlahan. Suasana di kamar ini nampak gelap. Hanya ada sebuah lampu tidur yang redup yang sedikit memberikan penerangan. Pandangan mata Krisna langsung tertuju pada sosok yang tengah tertidur pulas dan larut dalam buaian mimpi.
Krisna berjalan dengan berjinjit. Layaknya seorang pencuri yang sedang mengendap-endap masuk ke dalam rumah incarannya. Memastikan si pemilik kamar tidak terbangun meski saat ini ia sudah ikut menguasai kamar ini. Perlahan, Krisna ikut naik ke atas ranjang dan merengkuh tubuh Ganis untuk ia peluk erat.
"Mas...?" ucap Ganis seraya mengerjapkan mata. Ia yang dalam posisi memunggungi Krisna mencoba untuk mengubah posisinya namun seketika ditahan oleh Krisna.
"Ssttt... Lanjutkan tidurmu Sayang. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini."
Ganis semakin dibuat bertanya-tanya akan apa yang sedang dialami oleh sang suami. Karena tidak biasanya Krisna seperti ini. Sedangkan Krisna, ia hanya memeluk tubuh Ganis dari belakang sembari menyesap aroma wangi rambut sang istri.
Meskipun terasa begitu menenangkan namun dalam otak Krisna nampak begitu riuh dengan pikiran-pikirannya sendiri. Entah apa yang sedang ia pikirkan namun ucapan orang tua si pengamen ketika berada di IGD beberapa saat yang lalu sungguh mengusik pikirannya.
"Mas..."
"Ya Sayang?"
"Apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Ganis.
"Minta apa Sayang? Katakanlah. Jika aku mampu pasti akan aku penuhi."
"Mas, aku ingin rumah ini, rumah yang ada di Magelang, tiga bidang tanah yang ada di desa sebelah diatas namakan menjadi namaku."
Krisna sedikit terkejut mendengar permintaan Ganis yang tiba-tiba seperti ini. "Kok sangat mendadak Sayang?"
"Tidak mendadak Mas. Sejatinya ini sudah aku pikirkan sejak lama dan baru berani aku sampaikan sekarang. Aku merasa itu semua adalah kado yang paling spesial di usia pernikahan kita yang ke sepuluh. Tidak berlebihan kan Mas?"
Krisna seperti kesusahan untuk menelan salivanya. Ia sudah menjanjikan rumah yang ada di Magelang akan ia berikan kepada Dinda tapi saat ini malah diminta oleh istri pertamanya. Krisna mencoba untuk tenang agar tidak terlalu kentara jika saat ini ia tengah dilanda kebingungan.
"Tentu tidak Sayang," ucap Krisna. "Baiklah, akan aku turuti permintaanmu. Nanti akan aku urus semuanya. Namun untuk sementara yang bisa aku lakukan baru membalik nama rumah ini dan tiga bidang tanah yang ada di desa sebelah. Tidak apa-apa kan?"
"Kenapa rumah yang ada di Magelang tidak sekalian kamu balik nama menjadi namaku Mas?" tanya Ganis penasaran.
Hening... Tak ada jawaban dari Krisna. Hanya dengkuran halus yang terdengar di telinga Ganis. Ganis pun tersadar jika Krisna sudah tertidur.
Maafkan aku Sayang, aku harus pura-pura tertidur. Aku tidak bisa memberikan kepastian perihal rumah yang ada di Magelang karena rumah itu sudah aku janjikan lebih dulu kepada Dinda.
.
.
.