NovelToon NovelToon
Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Pendamping Sakti / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
​Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
​Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
​Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
​Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: SANGKAR PERAK DAN RESONANSI DUA JIWA

​Gudang tua di pinggiran dermaga itu terasa lembap dan pengap. Cahaya rembulan hanya menyelinap tipis dari celah atap seng yang berkarat. Di tengah ruangan, sebuah sangkar besar yang terbuat dari jalinan perak murni berkilau pucat. Di dalamnya, Alurra meringkuk lemas. Jaring perak yang melilitnya tadi kini telah menyatu dengan jeruji sangkar, menciptakan medan energi yang terus-menerus menyedot kekuatan bidadarinya.

​"Ugh... bau tempat ini... benar-benar menghina hidungku," gumam Alurra parau. Bibirnya yang biasanya merah delima kini pecah-pecah dan pucat. Setiap kali ia menyentuh jeruji itu, percikan api hitam memercik, membakar ujung jemarinya.

​Jayden melangkah mendekat, memutar sebuah botol wiski di tangannya. Wajahnya tampak kacau, matanya liar. "Diamlah, Bidadari Jalang! Kau tahu berapa harga yang ditawarkan kolektor di luar sana untuk makhluk sepertimu? Cukup untuk membangun sepuluh Ryker Group yang baru!"

​Alurra mendongak, matanya yang ungu meredup namun tetap tajam. "Kau... manusia kecil yang menyedihkan. Kau pikir perak ini bisa mengurung cahaya selamanya? Kau hanya sedang menggali kuburanmu sendiri, Jayden."

​"Kuburanku?" Jayden tertawa histeris. "Nael sekarang sedang merangkak di aspal parkiran, menangis seperti bayi bisu! Dia tidak punya apa-apa lagi! Tanpamu, dia hanya sepotong daging tak berguna!"

​"Kau salah," bisik Alurra, sebuah senyum tipis yang menyakitkan muncul di bibirnya. "Kau baru saja membangunkan naga yang paling mengerikan. Nael tidak akan merangkak... dia akan datang untuk mencabut nyawamu."

...****************...

​DI DALAM MOBIL NAEL - TENGAH KOTA

​Nael mengemudikan sedan hitamnya dengan kecepatan gila-gilaan menembus kemacetan Jakarta. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol. Di telinganya, earpiece terus menyiarkan laporan dari tim keamanan bayangannya.

​"Tuan, mobil van hitam terpantau menuju arah dermaga utara. Kami sedang memblokade jalan tikus."

​Nael tidak menjawab. Matanya fokus ke depan, namun pikirannya berada di tempat lain. Tiba-tiba, kepalanya terasa berdenyut hebat. Sebuah suara lembut, namun penuh kesakitan, bergema langsung di dalam tempurung kepalanya.

​"Nael... kau mendengarku?"

​Nael tersentak hingga hampir kehilangan kendali kemudi. Itu suara Alurra. Bukan suara fisik, melainkan resonansi batin yang terhubung lewat kalung akar perak di lehernya.

​"Alurra?! Kau di mana?!" teriak Nael di dalam mobil yang sunyi. Suaranya pecah, penuh dengan ketakutan yang mencekam.

​"Jangan berteriak, Pangeran Bodoh... kepalaku sakit," suara Alurra terdengar melemah. "Aku ada di... tempat yang bau ikan busuk. Ada besi-besi dingin yang memakan cahayaku. Nael... sesak sekali di sini..."

​"Bertahanlah! Aku datang! Aku bersumpah akan membunuh mereka semua jika mereka menyentuhmu!" Nael mencengkeram kemudi hingga jemarinya memutih. "Alurra, tetaplah bicara padaku! Jangan biarkan matamu tertutup!"

​"Aku mencoba... tapi perak ini... dia benci padaku. Nael, jika aku tidak kuat... ingatlah suaramu. Jangan pernah biarkan dunia membungkammu lagi, oke?"

​"TIDAK! JANGAN BICARA SEPERTI ITU! KAU AKAN TETAP BERSAMAKU!"

...****************...

​PUNCAK LANGIT KE TUJUH

​Getaran rasa sakit Alurra yang terhubung dengan emosi Nael menciptakan gelombang energi yang tak kasat mata namun sangat dahsyat. Di dimensi cahaya, Dewa Langit yang sedang mengamati Bumi mendadak bangkit dari singgasananya.

​ZINGGG!

​Cahaya di langit surga mendadak berkedip merah. Sinyal darurat dari kalung akar perak Alurra memancar begitu kuat hingga menembus lapisan atmosfer.

​"Beraninya!" suara Dewa Langit menggelegar, membuat samudera di surga bergolak. "Mereka menggunakan perak kutukan gagak hitam untuk menyiksa putriku?! Manusia-manusia itu sudah bosan hidup!"

​Dewa Matahari muncul di sampingnya, wajahnya tertutup api kemarahan. "Tunggu, Saudaraku. Lihatlah manusia di Bumi itu. Lihat Nael."

​Mereka melihat ke bawah, pada sosok Nael yang sedang bertaruh nyawa di jalanan.

​"Pria itu... suaranya sudah kembali," gumam Dewa Matahari. "Dan ikatan mereka... ikatan itu sudah berubah menjadi Resonansi Jiwa. Jika kita turun sekarang dan menghancurkan Bumi, jiwa Alurra akan ikut hancur karena dia sudah memberikan separuh nyawanya pada pria itu."

​"Lalu apa? Kita biarkan dia membusuk di sangkar perak?!" geram Dewa Langit.

​"Tidak. Kita akan berikan Nael Satu Percikan. Biarkan cinta manusia itu yang membuktikan apakah dia layak menjadi pelindung abadi Alurra."

...****************...

​KEMBALI KE GUDANG DERMAGA

​Ki Gendeng sedang merapalkan mantra terakhir untuk menyegel sangkar itu selamanya, saat tiba-tiba pintu besi gudang tersebut meledak hancur berkeping-keping.

​DUAARRR!

​Sesosok pria melangkah masuk dari balik debu dan asap. Nael Ryker. Tapi dia tidak membawa senjata api. Di tangannya, hanya ada kemarahan yang meluap.

​"N-Nael?!" Jayden mundur selangkah, menjatuhkan botol wiskinya. "Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini secepat ini?!"

​Nael tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, dan setiap pijakan kakinya meninggalkan bekas retakan di lantai semen. Matanya yang tadi hitam kini memancarkan pendar perak yang dingin—percikan kekuatan dari langit yang merespons suaranya.

​"Lepaskan..." suara Nael keluar, kali ini bukan lagi sekadar suara manusia. Suaranya mengandung getaran yang membuat Ki Gendeng jatuh tersungkur memegangi telinganya.

​"LEPASKAN DIA SEKARANG, JAYDEN! SEBELUM AKU MEMBAKAR SELURUH TEMPAT INI DENGAN NAFASKU!"

​Alurra di dalam sangkar membuka matanya, ia melihat pangerannya berdiri di sana, dikelilingi oleh aura cahaya yang murni. "Nael..."

​"Hajar dia, Ki! Hajar!" teriak Jayden panik.

​Ki Gendeng mencoba mengayunkan keris hitamnya, namun Nael hanya menjangkau udara kosong dan tiba-tiba keris itu hancur menjadi debu di tangan sang dukun.

​"Cukup main-mainnya," Nael berdiri tepat di depan sangkar perak. Ia memegang jeruji yang seharusnya membakar tangan manusia mana pun. Namun, perak itu justru meleleh saat bersentuhan dengan tangan Nael.

​Nael merobek jeruji itu seolah-olah itu hanya terbuat dari kertas. Ia menarik Alurra ke dalam pelukannya, mendekap bidadari yang lemas itu dengan protektif.

​"Aku di sini," bisik Nael di telinga Alurra. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi."

​Alurra tersenyum lemah, menyandarkan kepalanya di dada Nael. "Suaramu... sekarang beraura emas, Nael. Kau keren sekali."

​Nael menoleh ke arah Jayden yang sudah terduduk lemas di pojok gudang, gemetar melihat kekuatan yang tidak masuk akal ini. Nael tidak membunuhnya. Kematian terlalu mudah bagi pengkhianat seperti Jayden.

​"Polisi ada di luar," ucap Nael dingin. "Tapi sebelum mereka membawamu, aku ingin kau tahu satu hal. Kau tidak pernah kalah oleh sihir Alurra. Kau kalah karena kau tidak pernah tahu apa artinya mencintai seseorang sampai berani melawan takdir."

​Langit di luar gudang mendadak cerah kembali, pendar merah menghilang, menyisakan bintang-bintang yang seolah tersenyum menatap dua jiwa yang baru saja memenangkan pertarungan melawan kegelapan.

...****************...

1
umie chaby_ba
mari kita coba
Ariska Kamisa
semoga kalian bisa menikmati nya juga...
Aldah Karisa
semangat thorr... aku suka gaya bahasamu. 👍
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
wow hebat jugaa
Aldah Karisa
termasuk cerita fiksi yang bikin kita membayangkan jauh ga sih... dengan adanya dewa matahari dewa langit... dan ini cinta dua dunia .. berharap happy ending yaaa... suka takut kalo cinta beda dunia... dan semoga Nael ini bisa sembuh dan mau bicara lagi....
aku suka namanya Nael ....
Aldah Karisa
bidadari genit parah
Aldah Karisa
kenapa nael bisa bisu
Aldah Karisa
ini bidadari nya ga pake selendang??? 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!