Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26:Perjalanan Kembali Yang Penuh Bahaya Dan Jebakan Pertama
Setelah mempersiapkan diri dengan matang dan mendapatkan restu serta bimbingan terakhir dari Eldric, Kaelen dan Lira pun akhirnya berangkat menuju benteng Malakar untuk pertarungan terakhir yang menentukan. Mereka tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Mereka tahu bahwa Malakar pasti sudah menunggu mereka, dan bahwa dia pasti sudah menyiapkan berbagai macam jebakan dan rintangan untuk menghalangi jalan mereka. Tapi mereka tidak takut. Mereka merasa siap. Mereka merasa kuat. Dan mereka yakin bahwa mereka akan bisa mengalahkan Malakar dan membawa kedamaian kembali ke dunia ini.
Perjalanan mereka dimulai pada pagi hari yang cerah. Matahari bersinar terang, dan langit berwarna biru cerah. Namun, meskipun pemandangan di sekitar mereka indah dan damai, Kaelen dan Lira tetap waspada. Mereka tahu bahwa bahaya bisa mengintai di mana saja, kapan saja. Mereka berjalan dengan hati-hati, selalu memperhatikan lingkungan di sekitar mereka, dan selalu siap untuk bertarung jika ada bahaya yang mengancam mereka.
Selama beberapa hari pertama perjalanan, mereka tidak menemui apa pun yang mencurigakan. Mereka berjalan melewati hutan yang rindang, melewati pegunungan yang tinggi, dan melewati sungai-sungai yang mengalir dengan air yang jernih. Semuanya tampak tenang dan damai. Tapi Kaelen dan Lira tahu bahwa ini hanyalah ketenangan sebelum badai. Mereka tahu bahwa Malakar tidak akan membiarkan mereka pergi ke bentengnya begitu saja tanpa memberikan perlawanan apa pun.
Dan dugaan mereka benar. Pada hari kelima perjalanan mereka, saat mereka sedang berjalan melewati sebuah hutan yang lebat dan gelap yang dikenal sebagai Hutan Bayangan, mereka akhirnya menemui bahaya pertama mereka.
Hutan Bayangan itu dikenal sebagai tempat yang sangat menakutkan dan berbahaya. Konon, di hutan itu, terdapat makhluk-makhluk gelap yang sangat kuat dan sangat kejam yang hidup di dalamnya. Dan juga, konon, siapa pun yang masuk ke dalam hutan itu akan merasa sangat takut dan sangat lemah karena aura gelap yang pekat yang ada di dalam hutan itu.
Saat Kaelen dan Lira masuk ke dalam hutan itu, mereka segera merasakan perubahan yang besar. Udara di dalam hutan itu terasa sangat berat dan dingin, seolah-olah dipenuhi dengan energi jahat yang nyata. Cahaya matahari hampir tidak bisa menembus dedaunan pohon yang lebat dan gelap, sehingga hutan itu terasa sangat gelap dan suram. Suara burung-burung yang berkicau riang yang biasa mereka dengar di hutan-hutan lain tidak terdengar di sini. Yang terdengar hanyalah suara angin yang berhembus dengan suara yang menderu dan menakutkan, dan suara ranting-ranting pohon yang bergerak-gerak sendiri seolah-olah ada kehidupan sendiri di dalamnya.
"Ini sangat menakutkan, Yang Mulia," bisik Lira pelan, sambil memeluk tubuh Kaelen dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Kaelen. "Saya merasa sangat takut dan sangat lemah di sini. Seolah-olah ada sesuatu yang sangat jahat yang sedang mengawasi kita dari dalam kegelapan."
Kaelen memeluk Lira dengan erat, mencium keningnya dengan lembut. "Aku juga merasakan hal yang sama, Lira. Tapi ingatlah apa yang diajarkan oleh Tuan Eldric kepada kita. Rasa takut itu hanyalah sebuah bayangan. Dan kita memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada rasa takut itu. Kita memiliki kekuatan cinta, kekuatan keberanian, dan kekuatan sihir yang hebat. Kita tidak akan membiarkan rasa takut itu menguasai kita. Kita akan terus berjalan maju, dan kita akan mengalahkan apa pun yang menghalangi jalan kita."
Lira mengangguk dengan tegas, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. "Benar, Yang Mulia. Kita tidak akan takut. Kita akan terus berjalan maju."
Mereka pun terus berjalan masuk lebih dalam ke dalam hutan itu. Semakin dalam mereka berjalan, semakin gelap dan semakin menakutkan hutan itu menjadi. Dan semakin dalam mereka berjalan, semakin kuat aura gelap yang mereka rasakan di sekitar mereka.
Akhirnya, setelah berjalan selama beberapa jam, mereka sampai di sebuah tempat yang luas dan terbuka di tengah hutan itu. Di tengah tempat itu, terdapat sebuah batu besar yang berbentuk seperti singgasana. Dan di atas batu singgasana itu, berdiri sebuah sosok yang membuat Kaelen dan Lira berhenti sejenak dengan terkejut dan takut.
Sosok itu adalah seorang wanita yang memiliki rambut yang panjang dan hitam, dengan kulit yang berwarna pucat dan mata yang bersinar dengan cahaya hijau yang sangat terang dan menakutkan. Dia mengenakan gaun yang terbuat dari jaring-jaring laba-laba yang hitam dan berkilauan, dan di tangannya, dia memegang sebuah cambuk yang terbuat dari ular-ular hitam yang hidup dan bergerak-gerak dengan liar. Di sekitar kakinya, terdapat ribuan laba-laba hitam yang besar dan menakutkan yang merayap dengan liar.
Itu adalah Morgana, Ratu Laba-laba—salah satu bawahan Malakar yang paling kuat dan paling kejam. Konon, Morgana dulunya adalah seorang penyihir yang sangat cantik dan sangat berbakat, tapi dia dikutuk oleh seorang penyihir tua karena kesombongannya, dan sekarang dia menjadi makhluk yang setengah manusia dan setengah laba-laba yang sangat jahat dan sangat membenci semua makhluk yang hidup.
Morgana menatap Kaelen dan Lira dengan pandangan yang dingin dan penuh dengan kebencian. "Jadi, kalian adalah orang-orang yang berani masuk ke dalam wilayahku, Hutan Bayangan," kata Morgana, suaranya terdengar seperti suara desisan ular yang sangat tajam dan menakutkan. "Kalian benar-benar bodoh. Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berurusan. Aku adalah Morgana, Ratu Laba-laba. Dan siapa pun yang masuk ke dalam wilayahku tidak akan pernah bisa keluar dari sini hidup-hidup. Kalian akan menjadi makanan untuk laba-laba-laba-labaku, dan kemudian kalian akan menjadi bagian dari tubuhku selamanya."
Kaelen dan Lira segera mengeluarkan pedang es mereka, siap untuk bertarung. "Kami tidak takut padamu, Morgana," teriak Kaelen, suaranya tegas. "Kami datang untuk mengalahkan Malakar dan untuk membawa kedamaian kembali ke dunia ini. Dan jika kamu menghalangi jalan kami, kami tidak akan ragu untuk mengalahkanmu juga."
Morgana tertawa dengan suara yang keras dan mengerikan, yang membuat tanah di sekitarnya bergetar. "Mengalahkan saya? Kalian? Dua anak kecil yang baru saja belajar menggunakan kekuatan mereka? Itu adalah lelucon yang paling lucu yang pernah saya dengar. Kalian tidak tahu betapa kuatnya saya. Aku telah mengumpulkan kekuatan gelap selama ratusan tahun, dan aku telah memakan ribuan orang yang lebih kuat dan lebih berani daripada kalian. Dan hari ini, kalian akan menjadi korban berikutnya."
Tanpa peringatan apa pun, Morgana mengangkat cambuknya yang terbuat dari ular-ular hitam itu, dan dia mencambuknya ke arah Kaelen dan Lira dengan kecepatan yang luar biasa. Kaelen dan Lira sempat menghindar tepat waktu, tapi cambuk itu menghantam tanah di tempat mereka berdiri sebelumnya, membuat lubang yang besar dan debu yang beterbangan ke mana-mana.
"Awasi dirimu!" teriak Kaelen kepada Lira. "Dia sangat cepat dan sangat kuat. Jangan biarkan dia menyentuhmu."
"Baiklah, Yang Mulia!" jawab Lira.
Pertarungan pun dimulai. Morgana menyerang mereka dengan ganas dan tanpa henti. Dia mencambukkan cambuknya ke arah mereka berkali-kali, mencoba untuk memukul mereka dan untuk mengikat tubuh mereka. Dia juga melemparkan bola-bola racun hijau yang sangat berbahaya dari tangannya, yang meledak dengan kekuatan yang besar dan menyebarkan bau yang sangat busuk dan mematikan ke udara. Selain itu, dia juga memerintahkan ribuan laba-laba hitam yang ada di sekitarnya untuk menyerang Kaelen dan Lira, membuat mereka harus berhadapan dengan musuh yang sangat banyak dan sangat menjengkelkan.
Kaelen dan Lira bertarung dengan sekuat tenaga. Mereka menggunakan semua kekuatan dan keterampilan yang mereka pelajari dari Eldric. Kaelen menggunakan kekuatan esnya untuk membekukan cambuk Morgana, untuk membekukan laba-laba-laba-laba yang menyerang mereka, dan untuk menyerang Morgana dengan serangan-serangan es yang kuat dan tepat. Lira menggunakan kekuatan cahaya emasnya untuk menyerang Morgana, untuk menciptakan perisai cahaya untuk melindungi diri mereka dari serangan cambuk dan bola racun Morgana, dan untuk menyembuhkan luka-luka kecil yang mereka dapatkan selama pertarungan.
Mereka juga bekerja sama dengan sangat baik. Mereka saling melindungi, saling membantu, dan saling mendukung. Mereka menggunakan strategi yang tepat, mencari kelemahan Morgana, dan menyerang dia dengan cara yang paling efektif.
Namun, Morgana ternyata jauh lebih kuat dan lebih tangguh daripada yang mereka bayangkan. Setiap kali Kaelen membekukan cambuknya atau membekukan laba-laba-laba-laba, Morgana dengan mudah memecahkan es itu dengan kekuatannya yang besar. Dan setiap kali Lira menyerang dia dengan cahaya emasnya, serangan itu hanya membuat luka-luka kecil di tubuhnya, yang segera sembuh kembali berkat energi gelap yang ada di dalam dirinya.
"Sialan!" geram Kaelen, merasa frustrasi. "Dia sangat tangguh. Serangan kita hampir tidak berpengaruh padanya."
Lira juga merasa frustrasi. Dia sudah mengerahkan semua kekuatannya, tapi Morgana masih berdiri dengan tegap dan masih terus menyerang mereka dengan ganas. "Apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia? Dia tidak bisa mati!"
"Kita harus menemukan kelemahannya," jawab Kaelen, sambil menghindari serangan cambuk Morgana dan membalas dengan serangan es. "Setiap makhluk pasti memiliki kelemahan. Kita harus mencari tahu apa itu."
Mereka terus bertarung, sambil mencoba untuk mencari kelemahan Morgana. Mereka memperhatikan setiap gerakan Morgana, setiap serangan yang dia lakukan, dan setiap bagian tubuhnya. Akhirnya, Lira melihat sesuatu yang menarik.
Setiap kali Morgana melemparkan bola racun hijau atau mengerahkan kekuatannya yang besar, ada sebuah batu kecil berwarna hijau yang bersinar terang di dahinya, di tengah rambutnya yang hitam dan panjang. Itu pasti sumber energi yang memberinya kekuatan dan membuatnya bisa sembuh sendiri.
"Yang Mulia!" teriak Lira kepada Kaelen. "Lihatlah di dahinya! Ada batu hijau di sana. Itu pasti sumber energinya! Kita harus menghancurkan batu itu jika kita ingin mengalahkan dia!"
Kaelen melihat ke arah dahi Morgana, dan dia melihat batu hijau itu bersinar terang saat Morgana mengerahkan kekuatannya. "Benar! Itu dia! Lira, bantu saya! Kita harus mengalihkan perhatiannya, dan kemudian salah satu dari kita akan menyerang batu itu!"
"Baiklah, Yang Mulia!" jawab Lira.
Kaelen pun mulai menyerang Morgana dengan lebih agresif, mengalihkan perhatiannya sepenuhnya. Dia menciptakan badai es yang besar yang menghantam Morgana dari segala arah, membuat Morgana sibuk untuk melindungi dirinya dan untuk memecahkan es-es yang menutupi tubuhnya.
Sementara itu, Lira mengerahkan semua kekuatannya. Dia merasakan kekuatan es dan cahaya emas di dalam dirinya berkumpul menjadi satu, menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar dan kuat. Dia mengangkat tangannya, dan sebuah bola energi yang sangat besar—yang berwarna biru bercampur emas—terbentuk di telapak tangannya. Bola itu bersinar dengan cahaya yang sangat terang, yang membuat Morgana sedikit terganggu dan menoleh ke arah Lira.
"Terima ini!" teriak Lira, dan dengan sekuat tenaga, dia melemparkan bola energi itu ke arak batu hijau di dahi Morgana.
Morgana terkejut, dan dia mencoba untuk melindungi dahinya dengan tangannya. Tapi dia terlambat. Bola energi itu menghantam batu hijau itu dengan kekuatan yang besar.
Terdengar suara ledakan yang sangat keras dan mengerikan, dan cahaya yang terang menyelimuti seluruh tempat itu. Saat cahaya itu meredup, Morgana berdiri diam sejenak, matanya yang bersinar hijau mulai meredup. Dia mengeluarkan suara auman yang panjang dan menyakitkan, dan kemudian tubuhnya mulai hancur menjadi potongan-potongan kecil yang kemudian berubah menjadi asap hitam yang menghilang di udara. Ribuan laba-laba hitam yang ada di sekitarnya juga ikut hancur dan menghilang bersama dengan dia.
Tempat itu kembali sepi, hanya menyisakan suara napas Kaelen dan Lira yang terengah-engah dan suara angin yang berhembus melalui celah-celah pohon di hutan itu.
Kaelen dan Lira berdiri di sana, tubuh mereka lelah dan keringat mengalir di wajah mereka. Tapi mereka tersenyum bahagia dan lega. Mereka berhasil. Mereka berhasil mengalahkan Morgana, Ratu Laba-laba yang sangat kuat dan berbahaya itu.
"Kamu hebat, Lira," kata Kaelen, berjalan ke arah Lira dan memeluknya dengan erat. "Tanpa kamu, saya tidak akan bisa mengalahkan dia. Kamu benar-benar hebat."
Lira membalas pelukan Kaelen, merasakan kehangatan dan keamanan dalam pelukan itu. "Kita melakukannya bersama-sama, Yang Mulia. Kita adalah tim yang hebat."
Mereka melepaskan pelukan itu, dan mereka saling menatap dengan mata yang penuh dengan cinta dan kekaguman.