NovelToon NovelToon
My Possessiv Damian

My Possessiv Damian

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!

Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Cahaya matahari pagi menyelinap di sela-sela gorden tebal, memaksa Valerie untuk mengerjapkan matanya. Ia merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku, namun saat kesadarannya pulih sepenuhnya, ia menebarkan pandangan ke sekeliling.

Dahinya berkerut dalam; langit-langit abu-abu tua dan aroma maskulin yang tertinggal di bantal segera menariknya kembali pada kenyataan pahit.

Ingatan tentang drama penculikan, ciuman panas, hingga identitas asli pria semalam menghantam otaknya seperti ombak besar. Valerie mendesah berat, menenggelamkan wajahnya di balik selimut sutra yang dingin.

Ia harus menghadapi kenyataan bahwa saat ini ia adalah seorang tawanan akibat kesepakatan "bodoh" yang ia buat dengan seorang pria berdarah dingin.

"Arghhh! Sial! Sial!"

Valerie mengacak rambutnya dengan kasar hingga berantakan. Ia mulai menendang-nendang kasur dengan kaki jenjangnya, meluapkan kekesalan yang membuncah di dadanya.

Rasa frustrasi karena terjepit di antara ancaman dan harga diri membuatnya ingin meledak. Dengan geram, ia menyambar guling besar di sampingnya, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan bersiap melemparnya ke arah pintu seolah benda itu adalah wajah Damian.

Namun, tepat sebelum guling itu meluncur dari tangannya, pintu besar kamar itu terbuka dengan suara klik yang tegas.

Tangan Valerie membeku di udara.

Di ambang pintu, berdiri sosok pria yang menjadi sumber kesialannya. Damian melangkah masuk dengan langkah tenang dan berwibawa.

Ia sudah mengenakan outfit kerjanya yang lengkap; kemeja putih bersih yang dipadukan dengan jas berwarna gelap yang dijahit sempurna mengikuti lekuk tubuh atletisnya, memberikan kesan kharisma yang begitu kuat dan mematikan.

Damian berhenti tepat di ujung tempat tidur, menatap Valerie yang masih dalam posisi konyol memegang guling dengan rambut yang acak-acakkan.

"Kau punya energi yang cukup besar untuk seseorang yang baru bangun tidur, Valerie," ucap Damian dengan suara beratnya yang khas, tanpa ada sisa-sisa kelembutan dari malam tadi.

Valerie segera menurunkan gulingnya dan merapatkan selimut ke dadanya, menatap Damian dengan tatapan tajam yang penuh permusuhan.

Valerie mendengus kesal, ia menyibakkan selimutnya dan duduk di tepi ranjang dengan wajah ditekuk. "Aku mau pulang sekarang. Aku harus ganti baju, sebentar lagi ada jadwal kuliah pagi," ucapnya ketus.

Mendengar tuntutan itu, Damian tidak langsung menjawab. Ia justru tampak sibuk dengan dunianya sendiri, mondar-mandir dengan tenang di depan cermin besar. Ia merapikan kerah kemejanya, lalu melangkah menuju lemari kaca khusus tempat ia menyimpan koleksi jam tangan mewahnya.

Damian menatap deretan jam itu satu per satu, seolah sedang menimbang-nimbang mana yang paling cocok untuk auranya hari ini.

Valerie yang merasa diabaikan seketika naik pitam. "Hey! Aku sedang bicara denganmu! Budek ya? Aku harus pulang sekarang juga!"

Setelah menemukan jam tangan yang diinginkannya, Damian akhirnya berbalik. Ia menghampiri Valerie dan berdiri tegap di depan gadis itu sambil mengancingkan strap jam tangannya dengan gerakan elegan. "Kau tidak perlu pulang," ucapnya santai tanpa beban. "Semua yang kau perlukan sudah ada di sini."

Dahi Valerie berkerut dalam. "Apa maksudmu?"

Damian hanya memberikan senyum misterius yang sulit diartikan. "Ikut aku," perintahnya singkat.

Damian berbalik dan berjalan menuju pintu keluar kamar. Meski diliputi rasa kesal, rasa penasaran Valerie jauh lebih besar. Ia bangkit dari kasur dan mengekor di belakang pria itu. Begitu keluar dari kamar, Valerie tertegun.

Ruangan di luar jauh lebih luas dan mewah dengan furnitur yang sangat mahal. Ini bukan sekadar apartemen biasa; ini adalah sebuah penthouse mewah di puncak gedung pencakar langit.

Valerie mengedarkan pandangannya, dalam hati ia harus mengakui bahwa selera pria ini sangat berkelas dalam memilih interior.

Damian berhenti di depan sebuah pintu ruangan tertutup yang letaknya bersebelahan dengan kamar utama tadi. Sepertinya itu adalah kamar tamu. Dengan satu gerakan, Damian membuka pintu itu dan memberi isyarat agar Valerie masuk.

Valerie menuruti perintah itu. Begitu melangkah masuk, ia terkejut. Suasana di dalam kamar ini sangat berbeda dengan kamar Damian yang maskulin.

Desainnya lebih lembut dengan sentuhan warna-warna pastel yang hangat, terlihat sangat nyaman untuk seorang gadis sepertinya.

"Pakai baju yang ada di lemari itu," kata Damian sambil menunjuk lemari besar di sudut ruangan.

"Mulai sekarang kau tidak perlu pulang ke apartemenmu lagi. Semua kebutuhanmu sudah aku siapkan di sini."

Valerie melangkah mendekati lemari besar itu dan membukanya. Matanya seketika menangkap deretan outfit yang terlihat sangat mahal, elegan, dan berkelas.

Ia tidak terlalu terkejut dengan kemewahan itu, namun yang membuatnya tercengang adalah fakta bahwa semua pakaian itu tampak seperti dipilih khusus untuknya—sesuai dengan selera dan ukurannya tanpa Damian perlu bertanya sepatah kata pun.

Rasa ingin tahunya menuntun Valerie untuk membuka pintu lemari yang satunya lagi. Detik itu juga, ia terbelalak.

Di sana, seragam kampusnya tergantung rapi. Tas dan buku-buku kuliahnya tersusun dengan sangat teratur di rak, seolah-olah dipindahkan langsung dari kamarnya.

Namun, yang paling membuat wajahnya terasa panas dan salah tingkah adalah saat ia melihat laci yang terbuka sedikit; pakaian dalam miliknya pun sudah tertata rapi di sana.

"Bagaimana bisa..." gumam Valerie pelan, suaranya tercekat.

Seketika ia menyadari satu hal yang mengerikan: menjadi "tawanan" Damian Callister bukanlah sekadar gertakan atau ucapan main-main. Pria ini bisa menjangkau kehidupan pribadinya hanya dalam waktu semalam.

Valerie berbalik dengan wajah merah padam, menatap Damian yang masih berdiri di ambang pintu dengan gaya angkuhnya. "Kenapa barang-barangku ada di sini?! Bagaimana bisa kau masuk ke apartemenku?!" cecar Valerie dengan nada tinggi. "Selama ini kau menguntitku, ya?!"

Damian tetap tenang, bahkan tidak berkedip menghadapi kemarahan Valerie. Ia merapikan jam tangannya sekali lagi sebelum menjawab dengan nada santai yang menyebalkan.

"Aku tidak melakukan itu semua sendiri," jawab Damian datar. "Aku hanya menyuruh anak buahku untuk memantau dan mengurus kepindahan barang-barangmu semalam."

Valerie mendengus kasar, ia menyilangkan tangan di dada dengan perasaan campur aduk antara kesal dan ngeri. "Itu sama saja kali! Kau benar-benar gila!"

Damian hanya mengangkat bahu sekilas, seolah invasi privasi yang ia lakukan adalah hal paling wajar di dunia.

"Mandilah. Sopirku akan mengantarmu ke kampus dalam tiga puluh menit. Dan ingat, Valerie... jangan mencoba melakukan hal konyol jika kau tidak ingin menyesalinya nanti." Kata Damian terdengar datar namun sarat akan ancaman.

Damian pun berlalu melangkah keluar kamar meninggalkan Valerie yang berdiri mematung.

1
@RearthaZ
lanjutin terus ceritanya kak
@RearthaZ
awalan cerita yang bagus kak
Raffa Ahmad
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!