NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: RAHASIA KEPALA KLAN

Pagi di Klan Namgung terasa berbeda setelah jamuan kemarin.

Para pelayan berbisik-bisik saat berpapasan. Pengawal menatapnya dengan pandangan baru—bukan lagi merendahkan, tapi penuh rasa ingin tahu dan sedikit takut. Namgung Jin berjalan melewati mereka tanpa menoleh, langkahnya mantap menuju paviliun utama.

Jubah biru jahitan ibunya masih ia kenakan. Meskipun sederhana, ia merasa nyaman. Lebih nyaman dari sutra mahal mana pun.

Di depan pintu paviliun utama, seorang pelayan membungkuk dalam.

"Tuan Muda Jin, Kepala Klan sudah menunggu."

Tuan Muda. Panggilan yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Biasanya mereka memanggilnya "anak selir" atau "bocah haram". Sekarang...

"Bawa aku ke dia."

---

Ruang kerja Kepala Klan terletak di lantai dua paviliun utama, menghadap ke timur—arah matahari terbit. Di sinilah Namgung Cheon menghabiskan sebagian besar waktunya, mengurus administrasi klan, membaca laporan, dan membuat keputusan penting.

Namgung Jin masuk, dan pintu tertutup di belakangnya.

Ruangan ini luas, tapi tidak mewah. Meja kayu besar dengan tumpukan dokumen. Rak buku di dinding. Beberapa kursi untuk tamu. Di dinding belakang, sebuah lukisan besar—naga perak terbang di atas gunung.

Namgung Cheon duduk di kursinya, menatap putranya dengan ekspresi rumit.

"Duduk."

Namgung Jin duduk di kursi tamu. Ia tidak banyak bicara, hanya menunggu.

Beberapa detik keheningan berlalu. Lalu Namgung Cheon berbicara.

"Kau tahu, selama enam belas tahun, aku hampir tidak pernah melihatmu. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena..." Ia berhenti, mencari kata. "...karena terlalu banyak yang harus kulakukan."

"Aku mengerti." Suara Namgung Jin datar.

"Kau mengerti?" Namgung Cheon tersenyum getir. "Anak-anak selalu bilang mengerti, padahal tidak. Tapi kau... kau berbeda."

Ia berdiri, berjalan ke jendela, membelakangi putranya.

"Aku tahu kau bukan anak biasa, Jin-ah."

Namgung Jin tidak bereaksi. Tapi di dalam, kewaspadaan meningkat.

"Apa maksud Ayah?"

"Sejak kecil, kau selalu mengamati. Bukan seperti anak lain yang bermain atau menangis. Kau duduk di sudut, mengamati orang, menghitung, menganalisis. Aku pikir itu hanya sifat pendiam. Tapi kemarin..." Ia menoleh. "...kemarin kau menunjukkan sesuatu yang tidak mungkin dipelajari sendiri."

Keheningan.

Namgung Cheon kembali ke kursinya, duduk, menatap putranya lekat-lekat.

"Siapa gurumu yang sebenarnya, Jin-ah?"

Ini pertanyaan berbahaya. Jika salah menjawab, kecurigaan akan semakin dalam. Tapi jika tidak menjawab, sama saja mengakui ada yang ganjil.

Namgung Jin memilih jalan tengah.

"Aku tidak punya guru. Tapi aku punya banyak buku."

"Buku?"

"Ayah lupa? Perpustakaan klan terbuka untuk semua anggota—setidaknya secara teori. Meskipun aku anak selir, tidak ada aturan tertulis yang melarangku masuk. Aku diam-diam membaca setiap malam selama bertahun-tahun."

Namgung Cheon mengerutkan kening. "Kau membaca semua buku di perpustakaan?"

"Semua yang bisa kubaca. Termasuk catatan-catatan lama, laporan-laporan, dan buku-buku sejarah yang tidak pernah dilihat orang."

"Dan dari buku-buku itu kau belajar teknik Samgyeolhyeol?"

"Samgyeolhyeol ada di buku catatan medis kuno, bukan buku ilmu pedang. Kebanyakan orang tidak membaca bagian itu."

Jawaban ini masuk akal. Cukup masuk akal untuk membuat Namgung Cheon berpikir.

Tapi pria itu masih belum sepenuhnya percaya.

"Baiklah, anggap saja kau belajar sendiri. Tapi ada satu hal yang tidak bisa kujelaskan." Ia mencondongkan tubuh. "Cara kau berbicara. Cara kau bergerak. Cara kau menatap orang. Itu bukan sesuatu yang bisa dipelajari dari buku."

Namgung Jin diam.

"Kau bicara seperti orang tua yang sudah hidup ratusan tahun. Kau bergerak seperti seseorang yang sudah ribuan kali bertarung. Dan kau menatap orang... seperti seorang kaisar menatap rakyatnya."

Kata-kata itu menusuk.

Namgung Jin menyadari bahwa ia mungkin terlalu percaya diri. Di depan orang biasa, topengnya mungkin cukup. Tapi di depan pemimpin klan yang telah puluhan tahun membaca orang, ada celah.

"Ayah salah sangka." Suaranya tetap tenang. "Aku hanya banyak membaca dan sedikit berkhayal."

"Khayal?"

"Aku suka membayangkan diriku sebagai tokoh-tokoh dalam buku. Pangeran, pendekar, bahkan... iblis." Ia tersenyum tipis. "Mungkin itu yang Ayah lihat."

Namgung Cheon menatapnya lama. Lalu ia tertawa—tawa yang tidak jelas artinya.

"Kau bocah yang sangat pintar. Mungkin terlalu pintar."

Ia berdiri, kembali ke jendela.

"Aku tidak akan memaksa. Tapi ingat ini, Jin-ah. Apa pun rahasiamu, kau tetap darahku. Dan sebagai kepala klan, aku bertanggung jawab atas keselamatan setiap anggota."

"Terima kasih, Ayah."

"Tapi bukan itu alasan aku memanggilmu." Namgung Cheon berbalik. "Ada sesuatu yang harus kau ketahui. Tentang masa depan klan ini. Dan tentang..." Ia ragu. "...tentang ibumu."

Simma di dada Namgung Jin berdenyut.

"Ibu?"

"Duduklah. Ini cerita panjang."

---

Namgung Cheon mulai bercerita.

Dua puluh tiga tahun lalu, ia masih muda—baru tiga puluh tahun, baru setahun menjabat sebagai kepala klan. Saat itu, Klan Namgung sedang dalam masa sulit. Pesaing-pesaing bermunculan, dan mereka butuh sekutu kuat.

Klan Kim menawarkan aliansi. Tapi dengan syarat: pernikahan politik dengan putri mereka, Nyonya Kim.

"Aku terpaksa menerima. Bukan karena aku mencintainya, tapi karena klan butuh dukungan."

Pernikahan itu berlangsung. Setahun kemudian, Namgung So-ho lahir. Tapi pernikahan itu dingin—tanpa cinta, hanya kewajiban.

Lima tahun kemudian, saat sedang dalam perjalanan ke selatan, ia diserang musuh. Terluka parah, ia terdampar di sebuah desa kecil. Di sanalah ia bertemu Yoon Sun-nyeo—ibunya Namgung Jin.

"Ibumu saat itu adalah janda muda. Suaminya meninggal dalam kecelakaan setahun sebelumnya. Ia hidup sendiri, mengelola kebun kecil."

Namgung Cheon merawat luka-lukanya di rumah sederhana itu. Selama berminggu-minggu, ia tinggal di sana. Dan perlahan, ia jatuh cinta.

"Aku tahu itu salah. Aku sudah punya istri, punya kewajiban. Tapi... aku tidak bisa menahan perasaan."

Hubungan terlarang itu berlangsung singkat. Saat lukanya sembuh, ia harus kembali ke klan. Tapi sebelum pergi, Yoon Sun-nyeo memberitahu bahwa ia hamil.

"Aku ingin membawanya. Tapi ia menolak. Katanya, 'Aku tidak mau merepotkanmu. Aku akan membesarkan anak ini sendiri.'"

Namgung Cheon kembali ke klan dengan hati hancur. Tapi kewajiban memanggil. Ia harus melanjutkan hidup.

Enam tahun kemudian, saat mendengar bahwa Yoon Sun-nyeo jatuh sakit, ia datang kembali. Wanita itu telah membesarkan Namgung Jin sendirian, dalam kemiskinan. Ia lemah, kurus, dan sakit parah.

"Aku paksa ia ikut ke klan. Aku beri paviliun reot itu—bukan karena aku pelit, tapi karena jika terlalu mencolok, istriku akan curiga. Dan jika ia curiga, ia bisa menyakiti kalian."

"Jadi selama ini..." Namgung Jin bergumam.

"Ya. Aku sengaja menjauh. Aku sengaja pura-pura tidak peduli. Karena dengan begitu, kalian aman."

Simma di dada Namgung Jin berdenyut hebat—campuran antara pengertian, kesedihan, dan kekecewaan. Namgung Jin asli selama ini mengira ayahnya tidak peduli. Ternyata...

"Kenapa Ayah bilang ini sekarang?"

"Karena situasi berubah." Namgung Cheon menatapnya serius. "Istriku—Nyonya Kim—sudah curiga. Dengan penampilanmu kemarin, ia akan semakin waspada. Dan jika ia tahu bahwa kau adalah anak dari wanita yang kucintai..."

Ia tidak melanjutkan, tapi Namgung Jin mengerti.

"Dia akan mencoba membunuh Ibu."

"Bukan hanya ibumu. Mungkin juga kau." Namgung Cheon menghela napas berat. "Aku tidak bisa selalu melindungi kalian. Tapi aku bisa memberimu satu hal."

Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil. Dari dalam, ia mengambil sebuah benda yang dibungkus kain sutra hitam.

"Ini."

Ia membuka kain itu. Di dalamnya, sebuah cincin giok hitam dengan ukiran naga kecil.

"Cincin ini adalah pusaka Klan Namgung. Tanda bahwa pemiliknya adalah pewaris sah."

Namgung Jin mengerutkan kening. "Tapi pewaris sah adalah So-ho."

"So-ho adalah pewaris menurut aturan. Tapi menurut darah... kau juga berhak." Namgung Cheon menyerahkan cincin itu. "Simpan ini. Jika terjadi sesuatu padaku, tunjukkan cincin ini pada Tetua Pyo. Ia akan tahu apa yang harus dilakukan."

Namgung Jin menerima cincin itu. Dingin di tangannya, tapi berat. Berat dengan makna.

"Ayah..."

"Jangan salah sangka." Namgung Cheon tersenyum getir. "Aku tidak memberimu ini karena aku sayang padamu—meskipun aku sayang. Tapi karena kau satu-satunya yang bisa melindungi klan ini jika aku jatuh."

Ia menatap putranya.

"Kau berbeda, Jin-ah. Aku tidak tahu dari mana kau mendapat kebijaksanaan itu. Tapi aku tahu, kau bisa membawa klan ini lebih jauh dari yang pernah aku bayangkan."

Simma di dada berdenyut—hangat, sedih, haru.

Namgung Jin—Cheon Ma-ryong—untuk pertama kalinya merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ada lebih banyak hal di dunia ini selain kekuasaan dan balas dendam.

---

Saat Namgung Jin keluar dari paviliun utama, matahari sudah tinggi.

Ia menggenggam cincin di dalam bajunya, rapat. Ini bukan sekadar pusaka. Ini adalah amanah. Bukan dari Namgung Cheon, tapi dari Namgung Jin asli—yang selama ini merindukan pengakuan ayahnya.

"Bocah sialan... kau dapat juga akhirnya."

Tapi kebahagiaan itu cepat berlalu. Di kejauhan, ia melihat Namgung So-ho sedang bicara dengan seseorang—seorang pria berjubah hitam yang tidak dikenalnya.

Pria itu tinggi, kurus, dengan wajah setengah tertutup topi. Dari postur dan caranya berdiri, jelas ia bukan orang biasa.

"Siapa itu?"

Ia mengamati dari balik tiang. Namgung So-ho tampak gugup, sering menunduk. Pria berjubah hitam itu bicara dengan nada rendah, sesekali menunjuk ke arah paviliun reot.

Ke arah rumahnya.

Ke arah ibunya.

Simma berdenyut—kali ini dingin, marah.

"Apa lagi yang kau rencanakan, So-ho-ya?"

---

Malam harinya, Namgung Jin mengunjungi Tetua Pyo di perpustakaannya.

"Kau perlu sesuatu?"

"Informasi tentang pria berjubah hitam yang ditemui Namgung So-ho hari ini."

Tetua Pyo mengerutkan kening. "Kau punya mata-mata sendiri?"

"Aku hanya kebetulan melihat."

"Hmm." Tetua Pyo menghela napas. "Aku sudah dengar. Namgung So-ho memang bertemu seseorang. Dan orang itu... dari Magyo."

Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa dingin.

"Magyo?"

"Sekte Iblis. Mereka muncul kembali setelah sekian lama. Dan jika Namgung So-ho berhubungan dengan mereka..." Tetua Pyo tidak melanjutkan.

Namgung Jin diam. Tapi di dalam hatinya, gelombang emosi campur aduk.

Magyo. Organisasi yang ia dirikan. Dan sekarang, keturunannya—atau mungkin pengkhianatnya—mulai bergerak.

"Ada apa?" Tetua Pyo melihat perubahan ekspresinya.

"Tidak ada." Ia berdiri. "Aku harus pergi."

"Tunggu! Kau tidak bisa—"

Tapi Namgung Jin sudah pergi.

---

Di luar, malam semakin larut. Namgung Jin berjalan cepat menuju paviliunnya. Pikirannya kacau.

Magyo. Namgung So-ho. Nyonya Kim. Semua mulai bergerak. Dan ia—dengan tubuh ringkih dan kekuatan baru setara anak lima belas tahun—harus menghadapi semua ini.

Tapi satu hal yang ia yakini.

"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh ibuku."

Simma berdenyut setuju.

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!