Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ksatria dan Mage
Istana Rosemaline masih terlihat sama menakjubkannya seperti kemarin setiap kali Rhea memandangnya. Aroma bunga yang mewah masih tercium harum di udara.
Rhea diberitahu bahwa Putra Mahkota memiliki hobi yang terbilang aneh: mengoleksi bunga-bunga dengan wangi yang unik.
“Silakan ikuti saya, Nyonya.”
Sesuai jadwal Putra Mahkota, Rhea menemuinya tepat pukul delapan pagi. Kali ini bocah itu tidak berada di taman, melainkan di lapangan latihan berpedang di sebelah asrama para ksatria.
Melewati lorong demi lorong, Rhea semakin menyadari betapa luasnya istana ini. Kepala pelayan dan para ksatria berjalan mantap di depannya, sementara tubuh Rhea sudah basah kuyup oleh keringat.
Fisik bawaan para mage memang cenderung lemah. Bahkan ketika seseorang telah mencapai tingkat archmage, peningkatan fisik yang diperoleh hanya sedikit melebihi orang biasa.
Rhea, di sisi lain, hanyalah seorang gadis rapuh yang baru sadar dari pingsannya beberapa hari lalu. Beberapa jam sebelumnya, ia masih merasakan nyeri akibat kehabisan mana. Jadi wajar jika ia tidak sanggup berjalan terlalu jauh.
Meski sangat lelah, Rhea merasa dirinya masih mampu bertahan, sehingga ia tidak mengatakan apa pun kepada kepala pelayan maupun para ksatria yang bahkan tidak meliriknya sedikit pun.
Rhea kini sudah terbiasa dengan sikap acuh tak acuh para pria ini. Namun, sikap orang-orang di Istana Rosemaline masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Istana White Lotus, tempatnya tinggal.
Di sini, mereka memperlakukannya seolah ia tidak ada—tidak menyapa, tidak melakukan kontak mata sama sekali. Sementara di Istana White Lotus, setiap kali ia lewat, semua orang akan berhamburan pergi, seperti siswa nakal yang berpapasan dengan guru killer di koridor sekolah.
Karena hal itulah Rhea menjadi malas keluar kamar dan selalu makan di dalam. Sekarang, setelah ia mengetahui alasan di balik sikap mereka, Rhea tidak lagi ingin mengeluh atau bersikap manis demi memperbaiki keadaan.
Setidaknya John yang malang sudah berada di pihaknya. Lily, gadis pelayan baru itu, juga cukup berani dan ramah. Dan ada pula sang koki pembuat mi dengan bumbu kacang. Malam ini, ia pun akan menjadi salah satu orang yang berada di sisinya.
Tidak tahu berapa lama Rhea berjalan. Ketika punggung kepala pelayan berhenti, Rhea yang mengikuti di belakang juga berhenti.
Melihat ke depan, sebuah ruangan luas tampak dikelilingi barrier sihir kuat yang menempel di sekeliling dinding. Warna dindingnya sedikit kebiruan dan berkilau, menahan energi sihir dari kristal arcana yang menempel di langit-langit agar tidak keluar.
“Hu…” Rhea menghirup udara tajam. Kelelahan fisiknya sedikit berkurang karena energi sihir yang begitu melimpah.
Tanpa sadar, Rhea menatap langit-langit dan melihat kristal arcana dengan takjub.
“Itu Kristal Arcana, sumber daya paling berharga yang harus dimiliki sebuah kerajaan di Kekaisaran Arcana untuk meningkatkan jumlah kekuatan para mage dan ksatria.”
Suara kekanak-kanakan yang familiar terdengar di dekatnya. Ketika menunduk, Rhea bertatapan dengan mata ungu Putra Mahkota, Azz Romanov, yang sebening kristal.
Bocah itu terlihat baru saja berolahraga berat. Keringatnya bercucuran deras, napasnya kasar, dan pipinya merona.
“Semoga Arcana selalu menyertaimu dalam suka maupun duka!” Putra Mahkota memberi salam seperti biasa dan menyeka keringat di dahinya dengan lengannya.
Setelah menjawab salam itu, Rhea mengerutkan kening ketika melihat pedang di tangan muridnya.
“Yang Mulia juga belajar ilmu pedang?” tanya Rhea dengan bingung.
Ia mengingat pengetahuan yang baru saja dipelajarinya tadi malam dengan hati-hati.
Sejauh yang diingatnya, ketika seseorang sudah menjadi mage, ia tidak bisa menjadi ksatria. Begitu pun sebaliknya. Hal ini didasarkan pada metode penyerapan energi sihir antara keduanya yang berbeda.
Para mage mengumpulkan energi ke jantung dan membentuk cincin energi yang melingkari jantung, sementara para ksatria menyerap energi itu ke seluruh tubuh dan mengubahnya menjadi kekuatan fisik. Saat energi melimpah, ksatria yang mahir dapat menyalurkannya ke senjata untuk memperkuat serangan.
Namun, melihat Putra Mahkota yang jelas-jelas seorang mage belajar ilmu pedang, Rhea mulai meragukan materi yang ia pelajari tadi malam.
“Ya,” jawab Putra Mahkota sambil memainkan pedang di tangannya. “Saya sebenarnya lebih tertarik menjadi ksatria daripada menjadi mage.”
“Sayangnya,” lanjut Putra Mahkota sambil memasukkan pedangnya ke sarung, “ksatria dipandang lebih rendah daripada mage.”
Rhea mengangguk, teringat hal yang ia pelajari kemarin.
“Bangsawan, apalagi anggota keluarga kerajaan, harus mencoba menjadi mage terlebih dahulu. Jika mereka tidak bisa menjadi mage dengan segala cara, barulah mereka beralih ke jalan ksatria.”
Fakta bahwa Kekaisaran Arcana memilih seorang kaisar dari salah satu raja kerajaan dengan lingkaran sihir terbanyak sudah menjelaskan betapa tingginya kedudukan para mage.
Rhea kemudian menjadi bingung. Pandangannya melirik tepat ke jantung Putra Mahkota yang jelas-jelas dikelilingi tiga lingkaran sihir. Ia jelas seorang mage.
Melihat kebingungan Rhea, Putra Mahkota Azz pun menjelaskannya.
“Saya memang seorang mage, tetapi juga seorang ksatria,” katanya, sedikit meninggikan suara seolah sedang pamer. “Mungkin tidak ada satu pun yang mencoba melakukan ini saat ini. Saya yang pertama.”
Meskipun Rhea tidak sepenuhnya mengerti, karena Putra Mahkota telah mencobanya dan berhasil, ia hanya bisa menerimanya.
“Itu penemuan yang luar biasa, Yang Mulia,” pujinya. “Tetapi… apakah Anda sudah merasakan efek sampingnya?”
Sejauh pemahamannya dari banyak cerita fantasi, selalu ada harga yang harus dibayar untuk kekuatan yang berada di luar jalur normal.
Menggabungkan kekuatan mage dan ksatria terdengar sangat kuat, tetapi pasti ada alasan mengapa orang-orang terdahulu tidak pernah mengemukakan ide ini selama beribu-ribu tahun Kekaisaran Arcana berdiri.
“Aku hanya mengingatkan. Sebelum Anda mendapat ide berani ini, para leluhur terdahulu pasti pernah mencobanya,” Rhea menasihati dengan lembut, karena ia juga merasa khawatir.
Senyum di bibir Azz menegang. Ia menatap Rhea tajam, mata ungunya menyipit.
“Bagaimana Anda bisa tahu bahwa ada leluhur yang pernah mencoba hal ini?” pekiknya dengan curiga.
“Eh?” Rhea terkejut dengan perubahan sikap Putra Mahkota yang mendadak waspada, seperti kucing yang terinjak ekornya.
“Hanya tebakan,” Rhea menyilangkan lengannya dan menekan intonasi suaranya. “Kenapa melotot? Tebakanku benar?”
Putra Mahkota tampak terperangah, lalu memalingkan wajahnya.
“Saya juga tidak tahu!” Setelah berteriak, Azz tampak terkejut dengan sikapnya sendiri, lalu kembali menatap mata Rhea. “Kalau Guru khawatir ada efek samping, kemungkinan memang ada. Tetapi saya pasti bisa mengatasinya.”
Rhea tidak tahu dari mana kepercayaan diri Putra Mahkota berasal. Ia tampak mencurigakan, seolah menyembunyikan sesuatu.
“Baiklah… gurumu yang tidak tahu apa-apa ini hanya bisa mengawasimu.”
“Tentu saja.” Mata Azz kembali dingin, dan ia mengangguk acuh tak acuh.
Kemudian ia berbalik dan berlari menuju tengah lapangan, meninggalkan Rhea yang termenung.
Melihat punggung dan sikapnya yang tegap, Rhea kembali merasakan perasaan aneh.
Seperti sebelumnya, seolah ia merasa Putra Mahkota bukan bocah berusia sepuluh tahun. Namun perasaan itu kembali berlalu seketika. Saat melihat telinganya yang memerah, Rhea kembali merasakan sisi kekanak-kanakannya.
Merasa obrolan mereka telah membuang waktu dua jam pengajarannya, Rhea hendak melangkah menghampiri Putra Mahkota di tengah lapangan. Namun, pandangannya tiba-tiba menggelap.
Saat kesadarannya kembali, ia berada dalam pelukan seorang pria kekar dengan baju zirah yang tampak indah. Pria itu menopang tubuhnya dengan satu lengan.
“Rhea? Kamu baik-baik saja?” tanyanya penuh kekhawatiran. Mata zamrudnya menatap Rhea dengan cemas.
Sesaat Rhea membeku. Ketika pikirannya kembali, ia buru-buru melepaskan diri dari pelukan itu dan meminta maaf.
“Maaf, tiba-tiba saya merasa pusing," ucap Rhea dengan tulus.
“Hei, tidak perlu minta maaf, haha. Ini malah jadi aneh,” pria itu menggaruk rambut pirangnya dengan malu-malu.
Setelah itu, ia menatap Rhea dari atas ke bawah, lalu mengelus dagunya. “Jadi kau benar-benar kehilangan ingatanmu. Temanmu ini juga sudah kau lupakan?”
“Teman?” Rhea memegangi kepalanya yang berdenyut dan menatap pria itu dengan curiga.
Pemilik tubuh ini memiliki teman pria? Di istana ini? Setelah semua kejadian itu? Rhea merasa hal itu sulit dipercaya.
“Rhea! Dari tatapanmu itu… apa kau tidak percaya kita berteman?” Pria kekar itu mengusap air mata yang tidak ada di pelupuk matanya.
“Aku sedih sekali…”
Rhea tercengang, tidak tahu harus merasa jijik atau kasihan pada pria kekar yang pura-pura menangis itu.
“Ini salahku. Bolehkah aku tahu namamu?” Rhea mengulurkan tangannya perlahan.
Pria kekar itu menghentikan akting sedihnya dan memasang ekspresi serius. Ia tersenyum dan hendak menerima jabat tangan Rhea ketika sebuah tangan kecil menepisnya dengan keras.
“Aduh… aduh! Yang Mulia, kenapa Anda memukul saya!”
Rhea merasakan tangan kecil yang hangat menggenggam telapak tangannya. Ia menunduk dan mendapati rambut hitam legam Putra Mahkota berjarak tidak lebih dari lima belas sentimeter dari matanya.
“Pria aneh itu adalah Louise Harden, Komandan Ksatria Kedua Kerajaan Romanov.”
Suara Putra Mahkota terdengar keras karena Rhea berdiri tepat di sampingnya. Setelah terkejut dengan tindakannya, Rhea segera teringat bahwa ia pernah mendengar nama itu tadi malam.
“Komandan ksatria yang mendobrak pintu saat aku diracun itu…?”