NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Candu Bernama Selene

Pria yang biasanya hanya bisa ditenangkan oleh laporan angka dan grafik pertumbuhan perusahaan itu kini terjaga di tengah kemewahan kamarnya yang luas. Damian berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan tangan sebagai bantal, sementara senyum bodoh tak kunjung hilang dari wajahnya.

"Sial," umpatnya lirih, namun nada suaranya justru terdengar bahagia. "Kenapa baru sekarang aku bertemu dengannya?"

Logika Damian yang biasanya dingin kini seolah lumpuh. Ia tidak bisa berhenti memikirkan wangi cokelat yang menempel di indra penciumannya, atau bagaimana tangan lembut Selene terasa saat membungkam mulutnya. Ia merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta, padahal ia adalah pria yang ditakuti di dunia bisnis.

"Tuan muda?"

Suara ketukan di pintu membuat Damian tersentak. Itu Revan, asistennya yang setia (dan malang), yang membawa setumpuk dokumen yang harus ditandatangani segera.

"Masuk," perintah Damian, berusaha mengembalikan wajah datarnya meski gagal total.

Revan masuk dengan ragu. "Maaf mengganggu malam-malam, Tuan. Tapi ini dokumen pengalihan lahan panti asuhan yang diminta Ayah Anda. Beliau ingin Anda menandatanganinya sekarang agar alat berat bisa masuk lusa."

Damian bangkit dari tempat tidur, matanya langsung berubah tajam saat melihat dokumen itu.

"Taruh di meja. Dan Revan, kenapa kau melihatku begitu?"

"Maaf, Tuan... tapi, apa Anda baru saja tersenyum sendiri sebelum saya masuk?" tanya Revan hati-hati.

"Bukan urusanmu," jawab Damian cepat. "Sekarang katakan padaku, siapa sebenarnya Liora Selene? Aku ingin kau menyelidikinya, tapi secara rahasia. Jangan sampai Ayah atau Ibu tahu."

Revan mengerutkan kening. "Gadis yang di kedai bubur itu, Tuan?"

"Ya. Aku ingin tahu segalanya. Di mana dia sekolah dulu, apa hobinya, dan... kenapa dia begitu terobsesi pada panti itu."

"Baik, Tuan. Tapi soal dokumen panti ini..."

"Aku tidak akan menandatanganinya," potong Damian tegas.

"Tapi Tuan Besar akan marah besar. Ini proyek jutaan dolar," Revan memperingatkan.

Damian berjalan menuju jendela, menatap lampu kota yang berkelap-kelip. "Biarkan saja. Katakan pada Ayah bahwa ada masalah teknis dengan legalitas tanahnya. Aku yang akan menanganinya sendiri."

"Anda ingin melawannya demi gadis itu?"

Damian menoleh, sebuah seringai tipis muncul di wajahnya. "Aku tidak hanya melawannya, Revan. Aku akan memastikan siapa pun yang mencoba menyentuh panti itu akan berurusan langsung denganku. Selene adalah milikku sekarang, meskipun dia belum menyadarinya."

Revan bergidik ngeri. Ia tahu betul arti tatapan itu. Itu bukan sekadar rasa suka; itu adalah awal dari obsesi seorang Damian Nicholas.

"Satu lagi, Revan," panggil Damian saat asistennya hendak keluar.

"Ya, Tuan?"

"Besok belikan aku cokelat terbaik yang pernah ada. Yang paling mahal. Dan cari tahu merek sabun apa yang beraroma cokelat murni."

Revan terdiam sejenak, lalu membungkuk. "Baik, Tuan... Saya rasa saya harus mulai terbiasa dengan sisi 'aneh' Anda ini."

Setelah Revan pergi.

Damian mengumpat rendah saat merasakan denyutan di balik celana kainnya yang kini terasa begitu sempit dan menyesakkan. Bayangan tentang bagaimana Selene menempelkan tubuhnya di balik pohon, deru napas gadis itu di lehernya, dan wangi cokelat yang memabukkan ternyata telah memicu reaksi biologis yang tak terbendung.

Pusaka miliknya sudah bangun sepenuhnya—tegang, keras, dan menuntut pelepasan yang instan hanya karena imajinasi liar yang ia ciptakan sendiri.

"Sialan..." desis Damian sambil memejamkan mata rapat-rapat.

Tangannya mencengkeram pinggiran meja kerjanya hingga buku jarinya memutih. Ia mencoba mengatur napas, namun bayangan profil samping wajah Selene yang tersenyum di bawah sinar matahari justru semakin menguat di benaknya. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika tangan lembut yang membungkam mulutnya semalam bergerak turun ke dadanya, lalu lebih rendah lagi.

Ia bisa merasakan panas yang menjalar dari bawah perutnya ke seluruh tubuh. Selama ini, banyak wanita cantik—termasuk Clarissa—yang mencoba menggoda dan melemparkan diri ke arahnya, namun tak satu pun dari mereka yang mampu membuat Damian kehilangan kendali hanya dengan sebuah bayangan.

"Baru sehari, Selene... dan kau sudah membuatku menjadi gila seperti ini," gumamnya dengan suara serak yang berat.

Damian bangkit dengan langkah kaku, berusaha meredakan ketegangan yang menyiksa di bawah sana. Ia berjalan menuju kamar mandi luas di kamarnya, melepaskan pakaiannya satu per satu dengan gerakan kasar. Di depan cermin besar, ia melihat pantulan dirinya—seorang pria yang memiliki segalanya, namun kini tampak tak berdaya hanya karena memikirkan seorang gadis panti.

Ia menyalakan pancuran air, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya yang panas membara. Damian menyandarkan lengannya ke dinding keramik, menunduk saat air membasahi rambutnya.

"Aku harus memilikinya," bisiknya di sela deru air. "Apapun caranya, dia harus berada di bawah kendaliku."

Hasrat yang bangkit malam ini bukan lagi sekadar ketertarikan fisik biasa. Itu adalah tanda bahwa obsesi Damian telah mencapai titik di mana ia tidak akan bisa melepaskan Selene lagi. Baginya, Selene bukan lagi sekadar gadis yang ingin ia lindungi, melainkan candu yang harus ia konsumsi setiap hari.

Setelah beberapa menit di bawah guyuran air dingin, ketegangan di tubuhnya mulai sedikit mereda, meski pikiran tentang Selene tetap tertancap kuat di kepalanya. Damian keluar dengan hanya mengenakan handuk di pinggangnya, membiarkan butiran air jatuh ke lantai marmer.

Ia kembali ke tempat tidur, mengambil ponselnya, dan mengetik sebuah pesan singkat untuk Revan.

"Cari tahu semua jadwal Selene besok. Pastikan tidak ada satu pun pria yang mendekatinya di panti."

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!