Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
"Ah sudahlah, jangan banyak berinteraksi dengan istriku." Ucap Gian, tangannya menarik Nisa untuk tetap berada di pelukannya.
Walaupun awalnya hanya memperlakukan Nisa dengan baik atas permintaan orang tua Gian, seiring berjalannya waktu Hari bisa merasakan bahwa Nisa adalah orang yang tulus, tapi Hari tetap berada di koridornya yaitu untuk membuat Gian agar bisa menunjukkan rasa cinta pada Nisa, dan lebih menghargai istrinya.
Hari menghela nafasnya, jarinya menggaruk pelan dahinya sendiri, masih teringat saat-saat Gian tak mengakui bahwa Nisa adalah istrinya, tapi sekarang ... Nisa bagaikan harta Karun yang tak boleh di sentuh oleh sembarang orang.
"Baiklah baiklah. Oh ya Nis ... Kamu boleh pilih baju apapun yang kamu suka disini, tapi khusus kamu aja ya ... Suamimu suruh bayar." Kata Hari sambil melirik Gian.
Nisa tersenyum, "Terimakasih kak, model bajunya bagus semua ... Aku sampai bingung."
"Ambil satu persatu setiap model, jadi tidak usah bingung lagi."
"Aku bisa beli apapun yang kamu mau, jangan menerima barang gratisan, apalagi dari Hari." Gian menatap Hari dengan tajam, seperti seseorang yang sedang mengawasi lawannya.
"Hahaha ... Nisa, selamat ... Kamu sudah tertawan."
"Ah sudahlah, aku hanya ingin mengembalikan ponsel itu saja, tolong cari pasangan secepatnya, dan berhenti bersikap baik pada istriku." Gian semakin kesal dibuatnya, tapi Hari semakin terkekeh saat melihat sahabatnya itu kepanasan.
"Santai saja ya Nis, Aku dan Gian memang seperti ini ... Aslinya kita adalah sahabat yang tak bisa di pisahkan." Jelas Hari saat wajah Nisa sedikit khawatir melihat perdebatan kecil kedua pria yang ada di dekatnya.
Tak lama setelah sedikit mengobrol, akhirnya Nisa dan juga Gian keluar dari butik Hari.
*Di dalam mobil.
"Kenapa sinis sekali pada Hari? Padahal dia baik."
"Menikah denganku artinya kau telah seutuhnya menjadi milikku, aku tidak suka ada pria lain berkontribusi di dalamnya, entah apapun bentuknya." Kata Gian dengan tegas.
Nisa hanya tertunduk, wanita itu tak menjawab apapun.
Gian! Lagi-lagi aku membuatnya merasa takut ... Bagaimana aku bisa menyentuh hatinya jika seperti ini terus?
"Kita beli ponsel." Ucap Gian, dan itu membuat Nisa melihat ke arahnya dengan mata berbinar.
Yes! Pertama kalinya aku melihat dia tersenyum seperti itu padaku.
*Di mall.
"Mau yang mana?" Tunjuk Gian pada beberapa ponsel yang terpajang di sebuah toko.
Nisa mengetuk pelan dagunya sambil berfikir, "Ng ... Pink, aku suka pink." Tangannya menunjuk ponsel yang hanya satu-satunya terisa.
"Itu type lama, kenapa tidak seperti ini saja? Yang terbaru." Gian menunjukan ponselnya pada Nisa.
"Yasudah, kenapa kamu bertanya aku mau pilih yang mana." Kata Nisa dengan lirih.
Stop egomu Gian, berikan kebebasan untuknya.
Kali ini Gian memilih untuk mengikuti apa kata hatinya, dengan memberi kebebasan untuk Nisa.
"Mas ... Mau yang pink." kata Gian, dan itu membuat Nisa berusaha menahan senyumnya.
"Engga yang type baru aja pak? Ini type lama loh."
"Engga, istriku suka yang pink."
"Tapi pak ... Untuk fiturnya lebih bagus yang ... "
"Saya ... Mau ... Yang ... Pink! Tolong di bungkus." Ucap Gian tak ingin mendengar apapun lagi dari karyawan toko tersebut.
Karyawan toko itupun langsung melakukan apa yang Gian inginkan.
Keluar dari toko itu, Nisa terus memandang paper bag yang sedang dalam genggamannya, tanpa memperdulikan jaraknya dengan Gian. Gian sudah berjalan cukup jauh di depannya, sedangkan Nisa melangkah dengan perlahan.
Sampai suara Gian mengakhiri semuanya. "Nisa!"
"Ah ... I-iya ... Mm-maaf." Nisa langsung berlari kecil menghampiri Gian.
"Gandeng tanganku." Kata Gian saat Nisa sudah berada di sampingnya.
"U-untuk apa?"
"Gandeng tanganku dan sandarkan kepalamu di bahuku, tidak usah banyak bertanya." Ucap Gian tegas.
Pemaksaan!
Gian berjalan dengan Nisa yang sangat kaku berjalan di sampingnya. "Nisa ... Ini berarti sekali, bisa lebih santai lagi tidak? Kamu tidak usah membebankan setengah berat badanmu di tubuhku." Oceh Gian.
Nisa dengan cepat langsung melepaskan gandengan tangannya dan memilih berjalan masing-masing, "Maksud nya aku berat?"
"Ya memang, terkecuali kamu anak kecil ... Mungkin aku bisa menggendongmu."
"Aku pernah melihat seorang suami menggendong istrinya di sinetron ... Ah ... Mungkin itu hanya pria dalam sinetron." Sindir Nisa.
Perkataan Nisa membuat Gian tertantang, karena maksud Gian bukanlah seperti itu. Tanpa aba-aba Gian langsung menggendong nIsa ala bridal style, Nisa reflek berteriak dan itu cukup membuat orang-orang disekitarnya melihat dan membicarakan mereka.
"Gian, malu ... ! Turunin!"
"Aku si pria sinetron itu, puas kamu?!"
"Iya oke ... Oke ... Pria dalam sinetron itu kamu, ayo turunin aku Gian."
Puas mendengar pengakuan Nisa, perlahan Gian menurunkan tubuh Nisa. "Tidak usah menantangku seperti itu lagi, itu baru 10% aku menunjukkan sisi kejantananku, sisanya 90% kamu belum merasakannya."
Apa sih maksudnya?! Mengerikan sekali!
Setelah mendengar penuturan Gian, Nisa langsung diam seribu bahasa ... Dia tak berani menjawab apapun, yang di fikirannya saat ini adalah untuk cepat sampai ke area mobil terparkir, karena Nisa sudah malu dengan kelakuan Gian.
"Hey ... Hey ... Buru-buru sekali." Ucap Gian dari belakang, tapi Nisa tak memperdulikan, dia tetap berjalan cepat meninggalkan Gian.
Kenapa aku selalu salah? Padahal aku hanya ingin membuktikan bahwa semua khayalan indahnya bisa aku lakukan. Batin Gian.
*Di dalam mobil.
Nisa masih memilih diam, excited nya pada ponsel barunya mendadak hilang.
"Kok diem? Ponsel barunya gak mau di buka? Perasaan tadi di pandangin terus."
Wajah Nisa perlahan menoleh ke arah Gian yang duduk di kursi kemudi, "Aku malu banget tadi!"
"Malu? Pas tadi aku gendong? Kamu tuh harusnya bangga ... Kamu punya suami ganteng kayak gini, kok malu?!"
Nisa reflek membuka mulutnya karena kaget, baru pertama kali dia mendengar Gian sangat percaya diri dengan fisiknya.
"A-apa ... Gg-ganteng?"
"Iyalah, apalagi? Gak mungkin cantik kan?"
Nisa menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu fokusnya di alihkan pada paper bag yang berisi ponsel barunya itu.
"SIM card ... Kita lupa beli SIM card!" Kata Nisa panik.
"Udah aku siapin." Gian merogoh celananya, dan mengeluarkan dompet tempat dirinya meletakan SIM card yang sebelumnya sudah di custom, nomor ponselnya dengan Nisa hanya berbeda 2 angka di bagian belakangnya."
"Aku hanya mengizinkan nomorku saja yang ada di ponsel itu."
"Hah? Kenapa begitu?"
"Aku juga punya mertua."
"Nanti aku fikirkan lagi, aku masih trauma ... Dengan semua rencana orang tuaku, seperti masalah kita kemarin."
"Jadi kamu menyesal sudah melalui itu semua?"
"T-tidak ... baiklah, orang tuaku boleh."
.
.
Malam harinya.
Nisa masih sibuk dengan beberapa aplikasi yang baru di install di ponselnya, Gian tidak mengizinkan sosmed, hanya beberapa game online saja, dan itupun sudah lebih dari cukup.
"Nisa ... Istriku ... Sudah lama aku di abaikan seperti ini." Ucap Gian yang tengah berbaring di tempat tidur, sedangkan posisi Nisa duduk di sofa dengan santainya.
"Sebentar."
"Ayolah ... "